TAKDIR

TAKDIR
Bab 73


__ADS_3

Dika pulang ke kampung halamannya untuk merayakan hari raya Idul Fitri bersama keluarganya. Sebelum ia pulang aku memintanya untuk mampir sebentar ke rumahku agar bisa mengambil air minuman yang mau kuberikan kepada kedua orang tuanya sebagai THR.


***


"Cinta aku sudah tiba di rumah" Ujar nya memberi pesan kepada ku.


"Alhamdulillah jika sudah tiba. Aku jadi senang mendengar nya" Balas ku.


"Iya cinta, kamu baik-baik di sana ya. Jaga mata, jaga hati untuk ku. Tunggu aku kembali ya cinta" Ucap nya lagi.


"Iya" Jawab ku singkat.


"Jelas aku bisa menjaga mata dan hati ku untuk mu. Nah kamu? Gak bisa menjaga mata dan hati mu untuk ku. Secara sudah ada dia yang di sana bersama mu. Malam ini pasti kalian berdua akan menghabiskan waktu bersama" Batin ku sedih.


Aku hanya bisa menghela napas berat ku untuk menghilangkan rasa gundah di hati ini. Yah gundah karena memikirkan Dika yang di sana bersama Fida.


Pasti malam takbiran mereka akan bersama, melihat pawai takbir raya di daerah mereka. Padahal impian ku dari dulu ingin melihat malam takbir bersama kekasih hati. Namun, tidak kesampaian juga di tahun ini.


"Padahal aku berharap Dika pulang nya nanti setelah pawai takbir selesai. Tapi nyatanya dia pulang secepat ini" Batin ku lagi. Yah apa lah daya ku Dika nya mau pulang sekarang. Tidak mungkin aku menahan nya untuk berkumpul bersama keluarga nya di malam raya ini. Jelas setiap anak rantauan sangat ingin berkumpul di malam raya bersama keluarga tercinta.


"Mah, bantuin ibu untuk mengisi kue di toples" Teriak ibu ku kepada ku.


"Iya buk" Jawab ku langsung melaksanakan apa yang diperintahkan oleh ibuku. Jika aku terlambat sedikit saja, maka ocehan ibuku akan menjadi takbir ku di malam ini.


Meski tubuh ku berada di rumah ku saat ini, namun pikiran ku hanya tertuju pada Dika yang jauh di sana.


"Sekarang dia lagi ngapain ya? Pasti dia lagi asyik-asyikan sama pacar nya itu" Batin ku.


"Tuh kan jika sudah berada di tempat nya pasti dia lupa sama aku. Dari tadi pesan ku tak di balas nya" Tambah ku lagi sambil melihat ponsel ku yang belum juga ada tanda-tanda pesan yang masuk dari Dika


"Aduh, dari tadi kerja nya hanya ngisi kue di toples lama sekali" Tegur ibu ku membuyar kan lamunan ku.


"Cepat dong isi nya, bantuin ibu juga tuh keluarin piring-piring serta sendok dari gudang dan tolong kamu cuci ya" Ucap ibu ku lagi.


"Iya buk" Dengan cepat aku pun mengisi kue di toples dengan berbagai jenis. Setelah itu aku beralih ke dapur untuk melakukan perintah ibu ku yang ke dua.


Yah aku harus melaksanakan dengan cepat agar ocehan nya tidak berkumandang lagi.


"Aduh Ramah, sudah-sudah jangan terlalu di pikirkan si Dika itu. Dia di sana asyik-asyikan kamu yang gila karena memikirkan nya" Batin ku menyadarkan diri ini agar tidak begitu fokus ke Dika.


Aku berusaha untuk mengalihkan pikiran ku dan fokus pada pekerjaan ku saat ini.


***


Suara takbir berkumandang saat ini. Yah terdengar nyanyian takbir menyebut nama Ilahi dari setiap mushola serta masjid yang ada di setiap daerah tanda hari kemenangan telah tiba di depan mata.


"Dari pada aku galau-galau, mendingan aku pergi jalan-jalan sama Uti. Yah ini kan ada pawai takbir pakai motor. Untuk pertama kali nya mari kita ikut" Batin ku berkata kepada diri ku sendiri.


"Uti" Terik ku kepada keponakan ku yang tinggal di samping rumah.


"Iya Usu"


"Jalan yuk malam ini. Temenin beli tisu sekalian kita ikut takbiran" Ajak ku. Yah karena keponakan itu rata-rata orang nya suka jalan. Jelas dia sangat senang di ajak seperti itu. Apa lagi saat itu aku sudah bekerja dan ada penghasilan sendiri. Jelas aku tidak akan membuat mereka kelaparan. Pasti ada saja makanan yang aku belikan serta minuman untuk mereka yang menemaniku jalan-jalan.


"Ayo, sebentar ya Su uti ganti baju dulu" Ujar nya langsung bersiap-siap. Tentu saja aku ikut bersiap-siap untuk pergi bersama Uti. Ini adalah kali Pertamaku ikut pawai takbir di malam raya. Yah karena baru hari raya ini lah aku memiliki motor sendiri sehingga aku bisa mengikuti pawai tersebut menggunakan motorku.


"Ayo Su kita berangkat" Ajak. Uti setelah selesai bersiap-siap. Kami berbentuk pergi ke sebuah minimarket untuk membeli tisu terlebih dahulu kemudian mengikuti pawai takbir tersebut. tapi kami tidak mengikuti pawai tersebut hingga selesai. Kami hanya mengikuti pawai tersebut separuh jalan saja. Karena takut akan terjadi kecelakaan dikarenakan terlalu padat dengan orang-orang yang ikut di acara pawai tersebut.

__ADS_1


"Udah Ti kita pulang saja. Menyeramkan melihat para orang-orang ini mengeraskan kenalpot nya. Sakit kuping ku mendengar nya" Ujar ku.


"Iya Su, kita pulang saja ya. Ini sih bukan takbir nama nya, bunyi knalpot mereka saja yang terlalu keras sehingga tidak suara takbir tidak terdengar" Ujar Uti kepada ku.


Kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidak mengikuti takbir itu lagi.


***


"Masih tidak ada kabar dari Dika" Batin ku lagi terus melihat ponselku yang masih tidak ada tanda-tanda pesan masuk dari Dika.


Ku lirik jam yang ada di ponselku untuk melihat Pukul berapa saat ini.


"Sudah pukul sepuluh juga masih belum ada kabar dari nya" Batin ku lagi.


"Sudah lah jangan kamu mengotak-atik ponsel mu itu lagi. lebih baik saat ini kamu tidur! Karena besok subuh-subuh kamu sudah harus membantu ibu untuk mempersiapkan menu hidangan yang akan disajikan bagi para tamu yang hadir di rumah kita" Ucap ibu ku.


"Belum ngantuk buk" Jawab ku.


"Belum ngantuk, belum ngantuk. Bagaimana mau ngantuk coba mata kamu itu hanya tertuju kepada ponselmu itu. Jelas gak ngantuk jadi nya. Kamu taruh ponselmu jauh-jauh dari kamu setelah itu kamu pejamkan aja matamu. Nanti juga bakalan tidur dengan sendirinya" Ujar ibu ku terdengar memaksa.


Aku hanya bisa menghalang napas beratku mendengar ucapan ibuku itu. Memang ibuku itu bermaksud hanya ingin membuat aku tidur tepat waktu karena dia takut nantinya aku akan sakit jika terus-terusan bergadang. Tapi saat ini aku benar-benar belum mengantuk dan aku tidak bisa memaksakan mataku untuk tidur karena pikiranku saat ini masih kacau dan masih memikirkan Dika yang berada di seberang sana. Mungkin jika pesan Dika masuk sekali saja di ponselku, hal itu akan mengobati rasa kekacauan di hati ini dan tentunya aku bisa tidur dengan tenang.


"Aduh, Dika kemana sih kamu? Dari tadi aku tungguin juga" Ujar ku dalam hati.


Ting...


Ponselku berbunyi tanda pesan seseorang masuk. Dengan perasaan bahagia dan penuh harapan aku mengambil ponselku itu dan membaca dari Siapakah pesan itu berasal.


Seakan aku berada di pelangi yang indah melihat nama yang tertera di ponselku itu yang telah memberikan pesan singkat kepadaku.


"Belum baru juga mau tidur. Kemana saja kamu baru memberi kabar jam segini" Ujar ku.


"Maaf cinta, tadi aku lagi melihat takbiran terus ngumpul-ngumpul sama teman-temanku di sini karena kamu sudah lama tidak mengumpul bersama"


"Melihat takbiran dengan kekasihmu?" Tanya ku menyelidiki.


"Gak juga sih cinta, aku pergi nya sama Rio tadi"


"Tapi ada kekasih mu kan?" Tanya ku lagi. Yah emang dia pergi dengan Rio. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa kekasihnya itu juga tidak ikut. Tidak mungkin kekasihnya itu tidak datang di saat dia tahu bahwa Dika sudah pulang di sana. Secara dia sejak berani menyeberang lautan hanya untuk bertemu Dika di kantor nya. Apalagi saat ini Dika sudah berada di satu daratan bersamanya.


"Gak cinta. Kamu lagi ngapain cinta. Gak melihat pawai takbir di daerah mu?" Tanya Dika kepada ku mencoba mengalihkan pembicaraan nya. Yah aku tahu dia berbohong. Dia melakukan hal itu karena tidak mau aku sakit hati nanti nya mendengar kenyataan bahwa memang dia sedang bersama kekasihnya saat itu.


"Mau tidur. Kamu jika sudah pulang ke kampung halamanmu itu pasti kamu lupa denganku yang ada di sini. Secara dari tadi aku menunggu pesan darimu, jam segini kamu baru ingat sama aku. Itupun karena kamu sudah pulang ke rumah dan tidak ada temannya. Jadi kamu baru teringat sama aku yang ada di seberang sini" Ucap ku.


"Gak begitu juga sih cinta aku selalu ingat kok sama kamu. Hanya saja tadi aku sedang melihat takbir dan juga berkumpul sama temen-temenku. Jadi nggak sempat untuk memberikan kabar kepada kamu" Dika memberi alasan kepada ku.


"Oh ya lah kalau begitu" Ucap ku dengan cuek.


"Cinta, jangan cuek seperti itu dong kepadaku. Aku minta maaf ya, jika aku salah. Mohon maaf lahir dan batin ya cinta atas semua kesalahan ku baik di sengaja maupun tidak. Masa malam raya seperti ini kamu ngambek sih sama aku. Harusnya kan kita itu saling bermaaf-maafan menyambut hari kemenangan" Ucap Dika lagi.


Aku menghela napas beratku dan mencoba untuk membuang semua pikiran buruk ku terhadap Dika mendengar apa yang ia katakan tadi. Bahwa malam ini adalah malam raya. Seharusnya kita saling bermaaf-maafan bukan saling bermusuhan seperti ini.


"Iya, aku juga minta maaf ya jika aku ada salah sama kamu. Baik di sengaja mau pun tidak" Balas ku lagi.


"Gak cinta kamu gak ada salah sama aku. Aku yang selalu menyakiti hati mu. Maafkan aku cinta" Ucap nya lagi.


"Ya sudah lah jangan di bahas lagi. Lebih baik sekarang kita tidur! Karena besok kita akan subuh-subuh bangun dan akan jalan ke rumah sanak saudara untuk bersilaturahmi" Ujar ku lagi.

__ADS_1


"Oke cinta. Selamat malam cinta hadir kan aku di dalam mimpi indah mu ya" Ujar nya.


"Iya" Jawab ku singkat.


"Love you cinta"


"Iya, terima kasih" Balas ku.


"Kok gak di balas sih cinta love you nya"


"Iya, love you" Balas ku lagi.


"Gitu dong cinta. Baru bisa aku tidur dengan tenang seperti ini"


"Iya" Jawab ku. Mengakhiri pesan singkat kami berdua di malam itu.


"Masih juga belum tidur ya. Laju jari kamu mengetik ponsel nya itu. Di suruh tidur juga dari tadi masih saja melek. Besok malah telat bangun nya" Ujar ibu ku yang baru saja masuk kembali ke kamar.


"Iya buk ini juga mau tidur" Jawab ku.


"Awas ya kamu, jika kamu bangun nya telat nanti, ibu siram kamu dengan air. Biar bangun subuh-subuh untuk membantu ibu di dapur mempersiapkan segala sesuatunya"


"Aduh, ibu ku ini kejam sekali mau menyiram ku pakai air untuk membangunkan ku"


"Habis nya kamu itu yang membuat ibu kesal. Di suruh tidur juga dari tadi masih juga sibuk dengan ponsel nya"


"Iya ibu ku sayang ini aku sudah mau tidur. Ini ya aku taruh ponsel ku jauh-jauh dan ku coba untuk memejamkan mata ku" Ujar ku lagi.


"Dari tadi kek seperti itu. Heran deh sama anak sekarang ini. Suka sekali bergadang dengan ponsel nya. Besok di bangunin malah sulit" Ocehan ibu ku mengiringi malam takbir ku.


***


"Buk, maaf kan aku ya. Maaf kan semua kesalahan ku baik di sengaja atau pun tidak. Aku selalu saja membuat ibu marah kepada ku. Tapi ketahuilah buk aku sangat sayang sama ibu" Ujar ku sungkeman di pagi raya bersama saudara-saudara ku.


"Iya, sebelum kamu minta maaf sama ibu ibu sudah memaafkan kamu kok nak. Maafkan juga ya jika Ibu terkadang berkata kasar kepada kamu"


Yah, memang Ibuku terdengar kasar jika dalam berbicara tapi ketahuilah hatinya tidak seperti itu. Hatinya sangat lembut.


"Ayah, maafkan aku ya yah jika ada salah sama ayah baik disengaja maupun tidak" Ucap ku kepada ayah ku pula sambil mencium punggung tangan ayahku.


"Iya nak, ayah juga minta maaf ya Jika ada salah sama kamu"


"Usu... Mana THR nya" Ucap keponakan-keponakan ku menyerbu ku di pagi itu.


"Ya Allah kalian ini, bukan nya mau sungkeman dulu malah tanya tentang THR. Sungkeman dulu sana sama nenek dan atok nya" Ujar ku.


Dengan antusias para keponakanku itu berbaris untuk sungkeman kepada kepala suku kami di rumah itu yaitu ayahku dan istrinya ibuku. Mereka saling berebutan untuk Kemen terlebih dahulu kepada sepasang suami istri itu agar mendapatkan THR terlebih dahulu dariku.


"Aku dulu" Kata yang satu.


"Aku dulu" Balas yang lain.


"Ya Allah, Sungkeman saja berebutan berbaris yang bener dong. Jika kalian tidak berbaris dengan rapi, Aku nggak jadi ya ngasih kalian THR" Ancam ku.


Mendengar itu, mereka pun langsung berbaris dengan rapi dan tertib untuk sungkeman kepada kedua orang tua ku.


"Nah gitu dong, kan rapi" Ujar ku.

__ADS_1


__ADS_2