
Sejujur nya aku sangat bahagia jika Dika memang bisa menerima ku apa ada nya seperti ini. Dia memilih bertahan saat ini kepada ku. Itu lah yang aku harapkan selama ini. Tapi di satu sisi aku tidak mau merebut nya dari kekasih nya itu. Aku bagaikan si buah simalakama saat itu.
Aku hanya bisa mengikuti alur cerita yang di tuliskan untuk ku dan Dika. Jika kami berjodoh ya alhamdulillah. Jika tidak, ya tidak masalah.. Secara takdir kehidupan kami sudah di tulis kan oleh sang pencipta.
***
"Ramah" Panggil pak Barat kepada ku kembali mengaget kan ku.
"Ya Allah orang tua ini, selalu saja memanggil ku seperti itu. Bikin orang kaget aja. Untung aku gak jantungan" Batin ku sambil mengudap dada ku.
"Ada apa pak?" Tanya ku.
"Kamu tahu Dika sekarang di mana?"
"Aduh bapak, jelas Dika di kantor nya dong pak. Bapak selalu tanya kepada ku. Aku bukan istri nya pak, kami juga gak tinggal serumah" Ujar ku.
"Hehehe" Laki-laki paruh baya itu hanya nyengir.
"Nomor nya gak bisa di hubungin. Kemana ya dia?"
"Ha serius bapak? Tadi malam masih bisa di hubungi kok" Ujar ku gak percaya.
"Itu kan tadi malam, sekarang kan sudah pagi"
"Iya sih pak. Mungkin ponsel nya lowbat" Jawab ku.
"Aduh, gimana ini. Ini ada agen kapal yang mau meminta surat jalan ke kantor nya. Dia malah susah di hubungin. Masih tidur apa?" Keluh pak Barat lagi.
Sontak mendengar setiap pak Barat mengeluh,. membuat aku menjadi tidak enak hati. Yah secara aku tidak memberikan orang yang bisa bekerja dengan baik terhadap laki-laki paruh baya itu.
"Ya sudah, bapak mau ke ruangan dulu. Tolong kamu hubungi dia terus sebelum agen kapalnya datang ke kantor untuk meminta surat jalan" Perintah pak Barat kepadaku.
"Iya pak" Jawabku langsung mengambil ponsel yang ada dalam tas kerjaku dan mencoba untuk menghubungi Dika.
"Iya, gak aktif nomor nya. Kemana sih dia?" Batin ku merasa cemas karena tidak ada kabar sama sekali dari Dika pagi ini. Yah memang sedari pagi aku belum ada menghubunginya seperti biasanya. Karena pagi ini aku sedikit bangun terlambat sehingga aku tidak sempat untuk menghubunginya terlebih dahulu.
Aku kembali mencoba untuk menghubungi Dika. Namun hasilnya tetap sama nomornya masih tidak bisa dihubungi.
Pikiranku sudah melayang kemana-mana. Di mana aku berpikir bahwa terjadi sesuatu kepada Dika. Entah dia dibunuh atau lain sebagainya. Karena kita kan tidak tahu hati seseorang. Siapa tahu ada yang iri kepadanya sehingga membunuhnya atau menyakitinya.
"Aduh, ke mana sih Dika? Buat orang khawatir aja deh" Batinku kembali terasa gelisah.
Rasa sayangku kepada Dika mungkin terlalu besar Jika dia sendirian di sana, aku sangat cemas takut terjadi apa-apa kepadanya dan aku ingin sekali untuk melindunginya. entahlah aku juga tidak tahu dengan perasaanku saat ini. Aku sangat menginginkan Dika berada di tempatku ini. Tapi aku juga selalu khawatir karena dia tinggal sendirian di kantornya itu. Sedangkan ketika dia berada di Bengkalis, aku sama sekali tidak merasa khawatir akan terjadi hal-hal buruk kepadanya karena di sana ada keluarganya. Tapi aku sangat bimbang karena di sana dia pasti akan bertemu dengan kekasihnya atau bahkan cewek lain. Ya kalian tahu sendiri bukan bahwa dia itu biawak lopak juga.
Mulutku bisa saja berkata rela bahwa dia berhak memilih gadis mana yang kelak akan menjadi pendamping hidupnya. Tapi di hati ini tetap saja tidak bisa menerima akan hal itu.
Ku lirik jam yang ada di ponselku untuk melihat pukul berapa saat ini. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.
"Tidak biasa nya Dika bangun sesiang ini. Biasa nya paling lama juga pukul sembilan atau delapan" Batin ku merasa ada yang tidak beres yang terjadi kepada Dika.
Aku jadi ketika seorang warga yang tinggal tak jauh dari rumahku mati terbunuh di pondok yang berada di kebun sawit. Di mana ia bertugas untuk menjaga kebun tersebut. Ada orang yang tinggal di sekitar tempat kebun sawit nya itu meminta tolong kepadanya dan mau menginap di pondok nya itu. Karena dia orang yang baik, dia pun mengizinkan orang tadi untuk menginap di pondoknya itu. Namun ternyata orang yang ditolong tadi mempunyai maksud tertentu. Ketika orang yang tinggal di kebun sawit ini tidur, orang yang ditolongnya tadi langsung membunuh si penjaga sawit itu dan mengambil motor yang di pakai oleh si penjaga sawit. Sontak cerita itu kembali bermain di ingatanku membayangkan bahwa Dika mempunyai nasib yang sama dengan si penjaga sawit itu.
Jika hal itu terjadi, aku harus berkata apa kepada kedua orang tua Dika. Karena akulah yang mengajak jika untuk bekerja di sini.
Dengan perasaan yang masih gelisah dan juga rasa khawatir yang menjelma di hati ini, aku pun permisi untuk keluar sebentar dari kantor. Aku mengendarai sepeda motorku menuju ke kantor Dika untuk melihat keadaannya dan memastikan bahwa apa yang aku pikirkan ini salah.
"Ya Allah semoga saja Dika baik-baik saja di sana. Dan semoga apa yang aku pikirkan ini salah. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Dika di sana Ya Allah tolong lindungi dia" Doaku di sepanjang jalan menuju ke kantor Dika.
***
Aku menghentikan sepeda motorku dan mematikannya di halaman kantor Dika. Ku lihat pintu kantor tersebut sudah terbuka.
"Ya Allah pintu kantormu juga sudah terbuka apa benar yang aku pikirkan ini" Batinku semakin gundah karena melihat tidak ada siapapun di kantor itu.
__ADS_1
Dengan bergegas aku pun langsung masuk ke dalam kantor menuju ruangan yang tempat biasanya Dika tidur. Ku lihat laki-laki itu terbaring lemah di atas tempat tidurnya.
"Astaghfirullahaladzim" Aku berlari mendekati laki-laki itu.
"Dika, bangun" Ujarku membangunkan.
"Cinta kamu ngapain di sini" Tanya Dika melihat aku berada di hadapannya saat itu.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Ya nggak apa-apa lah cinta aku hanya tertidur tadi"
"Terus pintu kantor kenapa terbuka?"
"Tadi aku sudah bangun cinta dan menyelesaikan surat jalan dari agen kapal. Setelah itu aku baring di sini sehingga membuat aku terlelap kembali" Jelaskan dengan suara beratnya karena baru bangun tidur.
"Ya ampun Dika kamu ini bikin aku khawatir saja. Terus kenapa nomor ponsel tidak bisa dihubungi? Dari tadi pak Barat menghubungi kamu berkali-kali. Tapi tidak bisa dihubungi sama sekali. Itulah yang membuat aku datang ke sini agar aku bisa melihat keadaan kamu apakah baik-baik aja atau tidak. Habisnya ponsel kamu sama sekali tidak bisa dihubungi"
"Maaf cinta ponselku rusak. Itu sebab nya aku gak bisa di hubung" Jelas Dika tadi kepada ku.
"Ya Allah, kamu ini bikin aku khawatir saja. Aku pikir terjadi sesuatu yang buruk sama kamu" Ujar ku.
"Terus sekarang bagaimana? Ponsel mu rusak seperti ini akan mempersulit untuk menghubungi kamu terutama nanti pada agen kapal yang menelepon mu ataupun pak Barat"
"Ya aku juga nggak tahu sih cinta harus bagaimana. Mungkin seperti inilah sekarang ini. Yah jika aku mau membeli ponsel baru ku pun aku harus menunggu bulan depan gajiku sudah keluar" Jelas Dika lagi.
Aku hanya bisa terdiam dan berpikir jalan keluar untuk masak ini. Saat ini ponsel sangat diperlukan dan dibutuhkan oleh Dika. Yah secara dia selalu dihubungi oleh agen kapal dan pak Barat. Aku juga selalu menghubunginya untuk mengetahui keadaannya. Bahkan aku juga berpikir bahwa orang tuanya nanti pasti akan merasa khawatir dengan keadaan putranya. Karena tidak ada kabar sama sekali darinya disebabkan karena ponsel tidak rusak.
"Ya sudahlah nanti kita akan mencari jalan keluarnya. Aku harus kembali ke kantor kamu sudah lama juga aku keluar dari kantor sebelum waktu istirahat" Ujar ku lagi.
"Ya sudah kamu hati-hati ya cinta" Jawab nya.
Aku pun pergi keluar untuk mengendarai sepeda motorku dan kembali ke kantorku.
"Cinta" Panggilnya menggantikan langkahku.
Aku hanya tersenyum dengan perkataan Dika tadi kepadaku.
"Aku pergi dulu" Ucap ku lagi.
"Hati-hati cinta. Love you" Ucap nya.
Kembali hanya senyuman yang aku perlihatkan kepadanya. Aku pun langsung mengendarai sepeda motorku menuju ke kantor ku.
***
Aku pun kembali menyibukkan diriku dengan pekerjaanku yang menumpuk yang berada di atas meja kerjaku yang telah kutinggalkan tadi.
"Ramah" Tegur pak Barat lagi.
"Sudah tahu kenapa Dika tidak bisa dihubungi?"
"Ponsel nya rusak pak"
"Wah, pantesan saja dia tidak bisa dihubungi" Ucapan baru tadi langsung keluar dari ruanganku dan kembali ke ruangannya.
"Orang tua ini sepatunya tahu saja dia bawa aku baru saja pulang dari kantornya Dika untuk melihat keadaan Dika" Batin ku. Aku pun kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.
***
Aku menjemput Dika ke kantornya untuk mengajaknya makan malam di luar.
"Oh ya, sekarang kamu coba deh hubungi kedua orang tuamu dan katakan kepada mereka bahwa ponselmu rusak agar mereka tidak khawatir kenapa kamu tidak bisa dihubungi" Saran ku.
__ADS_1
"Ini kamu telepon saja pakai ponselku. Kamu ingatkan nomor bapakmu?"
"Iya aku ingat" Ucap nya lagi. Dika pun langsung mengambil ponselku dan menekan nomor ponsel ayahnya untuk mengabari bahwa keadaannya di sini baik-baik saja.
"Ini terima kasih ya cinta" Ucapnya mengembalikan ponselku setelah ia selesai menghubungi ayahnya.
"Oke sama-sama" Jawab ku. Setelah makan malam bersama aku pun pulang ke rumahku.
***
Besok malamnya aku pun kembali mengajak Dika untuk makan malam bersama. Aku dan Dika pergi ke warung pecel lele yang tidak jauh dari kantor Dika itu. Sedangkan salah satu honorer kantor yang merupakan keponakan dari salah satu karyawan kantor tersebut berada di kantor Dika untuk curhat kepada Dika karena dia telah melakukan sesuatu yang membuat Kepala Kantor wilkernya marah besar. Karena kami mau makan malam bersama sehingga kami ikut meninggalkannya sebentar di kantor Dika.
"Ri, kami tinggal sebentar ya. Kamu gak masalah kan kami tinggalin" Ujar Dika.
"Ya gak apa-apa. Kalian pergi saja"
"Siapa tadi di kantor mu" Tanya ku kepada Dika saat kami menuju ke warung pecal lele itu.
"Ari, keponakan nya pak Kisnar. Dia juga bekerja di wilker tapi di daerah Sungai Apit"
"Kamu kenal dia dari mana?"
"Kemarin dia pernah datang ke sini bersama pak kisnar. Dari situlah aku kenal sama dia dan saat ini dia sedang ada masalah sama kepala wilker di Sungai Apit"
"Terus ngapain dia ke sini"
"Ya mau curhat aja sama aku sekalian katanya mau nginep di kantor"
"Oh gitu, terus dia memiliki masalah apa di kantor?"
"Ya Aku juga nggak tahu sih masalah apa yang iya alami saat ini dia belum bercerita"
"Sudah lah biarin aja. Apa permasalahannya pasti dia juga tidak akan keluar dari kantornya itu karena dia merupakan keponakan orang dalam. Jadi sebesar apapun masalahnya pasti bisa diatasi sama pamannya itu" Jelas Dika lagi. Yang benar apa ada nya.
"Sedangkan kita yang memiliki sedikit masalah saja pasti akan langsung ditendang karena kita tidak ada orang yang membela kita" Jelas Dika tadi.
"Iya kamu benar ini saja kita sudah bersyukur sekali ya karena kita mudah mendapatkan pekerjaan ini tanpa ada orang dalam. Semoga saja kita tidak membuat kesalahan nantinya mengakibatkan kita rugi karena kehilangan pekerjaan ini. Secara sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan seperti ini apalagi kita tidak mempunyai titel sarjana" Jelas ku lagi.
"Ya Aamiin" Ucap Dika.
Kami menghentikan sepeda motor saat kami sudah tiba di warung pecel lele yang berada tidak jauh dari kantor Dika itu.
Kami pun memesan makanan kamu masing-masing dan seperti biasanya Dika lah yang traktir ku makan di malam itu. Yah dia memang sering mengajakku makan di luar karena dia tidak enak jika makan sendirian dan lebih senang jika mempunyai teman makan bersama kamu.
Setelah kami kembali dari kantor betapa kagetnya kami berdua melihat Fida yang tiba-tiba datang dan menunggu Dika di dalam kantor tersebut. Dika pun langsung menghampirinya.
"Dengan siapa kamu ke sini? Ngapain juga ke sini?" Tanya Dika tersenyum. Sedangkan aku hanya menyaksikan mereka dari kejauhan.
"Sendirian, ponsel mu gak bisa di hubungi. Orang tua mu meminta ku untuk melihat keadaan mu" Jawab nya.
"Gak mungkin lah orang tua ku meminta mu melakukan hal seperti itu. Secara kamu cewek jauh lagi ke sini" Ujar Dika.
"Siapa dia Dika?" Tanya honorer tadi yang bernama Ari.
"Kata nya sepupu mu" Ujar nya lagi.
"Bukan dia pacar ku" Ucap Dika.
Deg...
Perih, yah sangat perih. Begitu gampang nya dia mengakui bahwa Fida itu adalah kekasih nya kepada orang lain. Sedangkan aku tidak pernah di akui nya.
"Ha? Pacar mu, terus Ramah?" Tanya Ari merasa heran.
__ADS_1
"Teman" Jawab ku singkat.
"Ya sudah aku pulang dulu ya" Ucap ku langsung menancap kan gas sepeda motor ku tampa menunggu jawaban dari Dika.