
Damar menghentikan gerakan tangannya di udara saat terdengar suara bernada ancaman menggema dalam ruangan.
Dua orang pria berwajah tampan berdiri di belakang para bodyguard Damar yang saat ini sedang memegangi kedua tangan Karina. Kedua mata pria itu menatap tajam ke arah Damar dan empat orang yang sedang menahan Karina agar gadis itu tidak kabur.
"Dasar tua bangka! Bisa-bisanya kau menyiksa keponakanmu sendiri," ucap salah satu dari pria itu dengan senyum mengejek.
"Kau!" Damar menunjuk pria itu dengan marah. Keempat bodyguard itu pun menarik tubuh Karina. Netra mereka berempat mengikuti arah pandang bos mereka.
Begitupun Karina. Wajah gadis itu tampak terkejut saat melihat siapa yang datang.
"Bima," ucap Karina lirih. Manik matanya yang berembun menatap Bima dengan tatapan tak percaya.
Karina sungguh tidak percaya kalau laki-laki itu datang ke rumah pamannya. Dari mana laki-laki itu tahu kalau dirinya sekarang berada di rumah sang paman?
Karina menatap satu lagi pria yang berada di dekat Bima. Pria yang sama-sama tampan dan berkharisma.
"Mau apa kamu datang ke sini, hah?" Damar yang masih mengenali wajah Bima kembali berteriak marah. Laki-laki paruh baya sangat marah karena pria muda yang pernah menolong Karina itu kembali ikut campur urusannya.
"Kamu pasti sudah tahu apa maksud kedatanganku ke sini, Damar." Bima berucap datar. Dia bahkan memanggil Damar yang usianya separuh dari usianya itu hanya dengan nama saja. Bima sudah kehilangan kesabaran pada pria tua itu hingga dirinya merasa tidak perlu menghormati orang seperti Damar.
"Dasar tidak sopan santun! Kau pikir siapa dirimu sampai-sampai kau bersikap tidak sopan padaku?" Kedua mata Damar melotot, merasa tidak terima dengan sikap Bima yang hanya memanggil namanya tanpa embel-embel di depannya.
"Orang seperti dirimu tidak pantas untuk dihormati. Kelakuanmu itu membuatmu tidak layak menerima penghormatan dari siapapun!" Bima berkata dengan dingin. Kedua matanya menyiratkan kemarahan sekaligus kebencian pada lelaki tua itu.
Kedua tangan Damar terkepal, giginya bergemeletuk menahan amarah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh pria muda di depannya itu.
__ADS_1
Aldrian yang berada di samping Bima merasa takjub melihat bagaimana Bima menjatuhkan pria tua tidak tahu diri di hadapannya. Sudah lama sekali Aldrian tidak pernah melihat Bima yang seperti ini.
Laki-laki itu berubah lemah semenjak Renata memutuskan untuk meninggalkannya. Namun, belum genap satu bulan mantan istrinya itu pergi meninggalkannya ke luar negeri, Bima sudah kembali seperti Bima di masa lalu, sebelum pria itu mengakui kalau dirinya sudah jatuh cinta pada Renata.
Renata—gadis cantik mantan asisten rumah tangganya yang memutuskan mengakhiri pernikahannya dengan Bima. Membuat laki-laki itu patah hati dan hampir mati karena rasa penyesalan.
"Mau apa kalian kemari?"
"Setelah apa yang kamu lakukan pada Karina, kau bertanya apa mau kami?" Bima masih menatap tajam ke arah Damar yang juga masih menatapnya dengan penuh amarah.
"Lepaskan dia!" Bima berteriak tegas.
Mendengar teriakan Bima, Damar tertawa terbahak-bahak.
"Lepaskan dia? Kau pikir siapa dirimu menyuruhku melepaskan dia? Aku sudah mencarinya kemana-mana, dan sekarang dia sudah kutemukan. Aku tidak akan mungkin melepaskan dia!" Damar berbicara panjang lebar dengan tersenyum sinis.
Gadis itu terlihat menangis. Wajahnya terlihat membengkak karena luka lebam akibat tamparan Damar. Sementara bibirnya mengeluarkan darah karena luka robek.
Dasar gadis bodoh!
Kedua tangan Bima kembali mengepal. Manik matanya penuh amarah menyorot tajam ke arah empat pria bertubuh kekar yang sedari tadi memegangi tangan dan tubuh Karina agar gadis itu tidak kabur.
"Dasar banci! Beraninya hanya sama perempuan!" Kata-kata yang keluar dari mulut Bima membuat keempat pria berwajah sangar itu meradang.
"Dasar brengsek!" Salah seorang dari mereka merasa tidak terima. Pria itu berniat maju untuk menyerang Bima. Namun, Damar segera menghentikannya.
__ADS_1
"Karina adalah keponakanku. Apapun yang dia lakukan adalah tanggung jawabku. Aku membawanya kemari karena aku ingin menikahkan dia. Karina akan menikah besok pagi dengan pria baik-baik yang akan membuatnya bahagia."
"Aku tidak akan menikah! Sudah berulang kali aku mengatakan padamu kalau aku tidak akan menikah. Kenapa kau terus saja memaksaku?" Mendengar ucapan sang paman membuat Karina yang sedari terdiam kembali berteriak.
"Aku tidak peduli dengan penolakanmu, Karina. Besok pagi, aku akan tetap menikahkan kamu!"
"Tidak! Aku tidak mau menikah dengan tua bangka seperti dia!" Karina kembali berteriak. Gadis itu merasa panik. Ia terus meronta agar keempat pria itu melepaskannya.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau menikah! Aku tidak mau menikah dengannya! Lepas!" Karina berteriak sambil terus meronta.
"Lepaskan dia!" Bima menyorot tajam ke arah Damar dan anak buahnya. Seperti terhipnotis, keempat pria itu melepaskan Karina.
Sementara Damar, lelaki tua itu menatap Bima dengan penuh amarah.
"Aku akan menikahinya!"
BERSAMBUNG ....
Buat teman-teman semua, harap bersabar ya, karena novel ini menceritakan kehidupan Bima dan Renata setelah mereka berpisah, jadi mohon kalian bersabar mengikuti ceritanya ya 🙏🙏🙏
Terima kasih yang sudah membaca dan selalu mengikuti cerita ini setiap babnya. Lope-lope sekebon buat kalian ❤️❤️❤️❤️
Seperti biasa, sambil nunggu Author update, kalian bisa mampir dulu ke karya temen Author yang nggak kalah keren nih! Yuk, merapaattt ....
__ADS_1
Qari tidak menyangka pertemuanya dengan pria misterius di atas gedung, membawa dia ke masalah yang runyam. Deon yang sejak lama menyimpan dendam dengan keluarganya, memanfaatkan gadis itu untuk membalas dendam atas kematian kakak dan juga papahnya. Laki-laki itu dengan sengaja mencampurkan obat perangsang ke minuman Qari. Sehingga Qari yang tengah pergi dari rumahnya, menghabiskan malam penuh dosa dengan laki-laki yang baru dikenalnya.
Alzam pria yang selama ini dicintai oleh Qari, akhirnya menikahi wanita itu untuk menyelamatkan nama baik keluarga Qari. Masalah bertubi-tubi kembali datang, setelah Deon tahu bahwa Qari hamil atas perbuatanya. Terlebih setelah Dion sadar bahwa ia sudah terjerat cinta dengan anak dari musuhnya. Bagaimanakah perjuangan Qari mengahdapi hidupnya yang semakin rumit? Siapa laki-laki yang akan menjadi pendamping sungguhanya?