TAKDIR

TAKDIR
Bab 71


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama di bulan suci ramadhan. Seluruh umat islam menjalankan puasa di bulan ini menahan lapar dan dahaga. Tak ketinggalan aku dan juga Dika. Kami menjalan kan ibadah puasa kami bersama.


"Ramah, bangun nak sudah waktu nya sahur" Ujar ibu ku membangunkan ku dari tidur lelap ku di subuh hari.


"Aduh buk, aku masih ngantuk" Jawab ku semakin memeluk bantal guling ku.


"Aduh, sudah pukul berapa ini. Bangun cepat! Nanti malah keburu imsak" Celoteh ibu ku sambil memukul-mukul pelan punggung ku.


"Cepat Ramah! Bantuin ibu di dapur masakin mie instan cepat" Perintah nya lagi dan langsung pergi meninggalkan aku yang masih setengah sadar.


Aku bangun dari tidur ku dan duduk di atas kasur untuk mengumpulkan nyawa yang belum seratus persen. Aku menggosok-gosok mata ku yang masih terasa berat agar bisa terbuka dengan sempurna.


"Cepat Ramah bangun" Terdengar suara lantang dari ibuku yang berasal dari dapur.


"Sekalian kamu bangunin ayah mu" Tambah nya lagi.


"Iya buk" Jawab ku. Dengan langkah yang masih berat dan aku nya juga masih dalam setengah sadar keluar dari kamar dan pergi menuju ayah ku untuk ku bangunkan.


"Yah, bangun yah waktu nya sahur" Ucap ku. Ayah ku pun langsung bangun dari tidur nya tampa ku bangunin untuk yang ke dua kali nya.


"Tolong kamu masakin mie instan nya ya. Setelah itu kamu goreng telur ini. Ibu mau buang air besar sebentar" Ujar ibu ku.


"Hmm.... " Jawab ku masih menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal karena rasa ngantuk masih menghantuiku saat ini.


"Ha ho ha ho. Cepat kerja kan. Cuci muka mu dulu sana biar ngantuk nya hilang dan nyawa mu kembali terkumpul" Ucap ibu ku lagi.


Aku pun mengikuti apa yang dikatakan oleh ibuku. Karena jika aku terlambat lagi bisa-bisa di buku akan mengamuk.


"Ha sudah selesai pun" Ujar ibu ku setelah ia kembali dari toilet dan melihat mie instan dan juga telur sudah tertata rapi di atas meja makan.


Kami pun langsung menyantuni dengan sederhana itu sebagai menu sahur kami di subuh ini. Tak lupa gulai ayam kampung yang sangat lezat pun juga terhidang di atas meja. Yah ibu mempunyai ternak ayam kampung yang cukup banyak. Jika bulan puasa datang ataupun bulan syawal menjelma menu andalan kami adalah gulai ayam kampung dari ibuku yang lezatnya tidak ada duanya.


"Masyaallah, enak sekali gulai ayam kampung yang dimasak oleh ibuku ini. Aku mau tambah lagi ah nasinya" Ujar ku sambil menyendok nasi lagi ke dalam piringku. Ibu yang juga ayahku menatap heran kepadaku yang begitu nafsu makan. Di mana sebagian orang termasuk mereka tidak mempunyai nafsu untuk makan di subuh hari seperti ini. Sedangkan aku masih mempunyai selera yang cukup untuk menambah makanan yang akan masuk ke dalam perutku di subuh ini.


"Ternyata nafsu juga dia makan nya ya buk" Ujar ayah ku.


"Iya, kita aja gak ada nafsu makan seperti dia"


"Biar kuat aku menjalan kan ibadah puasa nya. Lagian yang membuat aku nafsu makan di subuh ini karena masakan ibu ini lo gulai ayam yang sangat enak jadinya aku selera makan seperti ini" Jelas ku lagi sambil menggigit sepotong daging ayam yang merupakan bagian paha sebagai favoritku. Ya setiap kali ibuku memotong ayam, aku pasti akan meminta bagian paha untukku. Meskipun aku ini sudah besar, namun perangai ku seperti anak kecil saja yang menginginkan paha ayam sebagai bagian favoritku.


***


"Buk, Dika mengajak ku untuk menemani nya berbuka puasa di luar buk. Apa boleh?" Tanya ku meminta izin kepada wanita paruh baya itu.


"Aduh baru puasa pertama saja sudah mengajak berbuka nya di luar" Jawab ibu ku.


"Ya gimana lah buk, dia itu sendirian di sini. Jadi gak ada teman lain selain aku di sini buk" Jawab ku lagi.


"Iya ibu sudah dengar alasan mu itu. Sudah banyak kali kamu mengatakan hal itu" Ujar ibu ku lagi.


"Ya sudah jangan pulang nya malam-malam ya"


"Pulang nya besok pagi aja buk?" Tanya ku sedikit bercanda.


"Jika seperti itu, Kamu nggak usah pulang lagi ke rumah" Ujar ibu ku kesal. Aku tertawa mendengar ibuku kesal seperti itu. Aku memang suka membuat ibuku kesal seperti itu. Karena suatu saat nanti aku pasti akan merindukan dirinya sebagai wanita hebat di dalam hidupku. Dan saat bersamaannya seperti ini, aku memanfaatkan waktuku untuk bercanda dan bergurau dengan ibuku.


Yah mungkin kalian heran jika aku ke mana-mana aku pasti meminta izin kepada ibu. Hal itu karena ibuku terlalu posisi terhadap anak-anaknya sedangkan ayahku Ia hanya cuek saja. Ayahku tidak mengambil pusing terlalu berat tentang urusanku dan juga saudara-saudaraku sedari dulu. Terserah kami mau pulang ataupun seperti apa, ayahku tidak terlalu peduli. Yang penting kami tidak melakukan hal yang menyeleweng. Sedangkan ibuku memang selalu over protektif terhadap kami dan selalu mengambil berat tentang kami. Karena itulah jika mau kemana-mana aku selalu meminta izin terlebih dahulu kepada Ibuku karena dialah yang selalu berada di rumah. Sedangkan ayahku selalu keluar untuk berkumpul dengan teman-temannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Di mana sebentar lagi akan segera berbuka puasa bagi umat muslim yang menjalaninya.

__ADS_1


"Assalamualaikum" Terdengar suara seseorang mengucapkan salam di pintu depan rumahku. Jelas aja aku sangat mengenal suara itu adalah suara siapa.


"Waalaikumsalam" Jawabku bergegas membuka pintu. Emang sih dari tadi aku sudah bersiap-siap dan menunggu Dika menjemput ku. Sambil menunggu aku pun membantu ibuku untuk menghidangkan makanan berbuka puasa.


Aku menyambut kedatangan Dika dengan senyuman yang terukir di bibirku.


"Sudah siap ternyata" Ujar Dika melihatku yang sudah rapi seperti ini.


"Sudah kok"


"Mana ibu mu?"


"Ada di belakang"


"Ya sudah aku minta izin dulu ya sama ibu mu" Ucap nya langsung masuk ke dalam rumahku menuju dapur untuk meminta izin kepada ibuku.


"Ayo, kita berangkat" Ajak nya. kami pun pergi menuju warung favorit kami yaitu ayam penyet yang tak jauh dari rumah Siti adik sepupuku.


***


"Ayo foto" Ujar Dika mengajakku untuk berfoto di ponselnya.


Aku pun menyetujuinya dan berpose untuk berfoto bersama dia sebagai kenang-kenangan kami nantinya di saat kami tidak lagi bersama.


"Terima kasih" Ujar ku saat pemilik warung ayam penyet itu menghidangkan makanan yang kami pesan di atas meja.


Kami pun menunggu Bunyi bedug untuk berbuka puasa di puasa pertama kami ini.


Setelah beberapa menit bedug sebagai tanda bolehnya berbuka puasa pun berbunyi.


"Alhamdulillah" Ujar kamu saat mendengar bedug itu berbunyi.


"Allahumma Lakasumna Wabika Aamanna Wa’alaa Rizqika Afthorna Birohmatika Yaa Arhamar Roohimiin" Doa berbuka puasa di bacakan oleh Dika. Kami langsung menyantap makanan yang dihidangkan oleh si pemilik warung tersebut dengan lahap karena telah seharian menahan lapar dahaga. Tapi minuman dingin dan manis berupa teh es yang menjadi andalan kami saat itu. Karena jika menjalankan ibadah puasa ini hanya haus saja yang dirasa sedangkan lapar sama sekali tidak bisa dirasakan.


***


"Ibu ke mushollah dulu ya"


"Ya buk, oh ya ayah sudah pergi?"


"Sudah, dari juga dia sudah pergi"


Aku hanya mengangguk mendengar ucapan dari ibuku itu.


"Kamu gak salat tarawih?" Tanya ku kepada Dika saat melihat ibuku sudah jauh dari pandangan kami.


"Gak, besok aja" Ujar ibu ku.


Aku dan Dika duduk di depan teras rumah ku.


"Oh ya, ini aku mau bayar uang yang aku pinjam kemarin saat membeli ponsel baru ku" Ujar nya menyerahkan beberapa uang berwarna merah kepadaku.


"Wah, sudah gajian? Baru juga tanggal berapa sudah gajian ya" Ujar ku.


"Gak kok, ini aku mendapatkan tips dari agen kantor dan juga pak Barat"


"Oh gitu ya" Jawab ku mengambil uang yang diberikan Dika tadi.


Dika pun menyalakan rokoknya. Karena sedari tadi saat kami selesai makan di warung ayam penyet tersebut dia belum sama sekali merokok.

__ADS_1


"Apa sih enaknya merokok. Emang nggak bisa apa kamu berhenti merokok?" Tanya ku.


"Jika tidak ada rokok, dunia ini seakan-akan berhenti berputar. Dan pikiranku mumet bingung harus melakukan apa" Jelas Dika kepadaku.


"Jadi sulit dong untuk berhenti merokok"


"Gak juga sih, Mungkin awal-awalnya memang sulit tapi nanti sudah lama-lama pasti kebiasaan dan bisa untuk berhenti merokok"


"Jika begitu kamu harus mencoba untuk berhenti merokok. Boleh nggak aku minta kamu untuk berhenti merokok?"


"Boleh, tapi gak sekarang ya. Aku akan berhenti merokok jika aku sudah menikah nantinya"


"Oke, itu sudah nazar mu ya. Aku akan memegang nya. Jika kamu menikah dengan gadis lain aku tidak akan mempermasalahkannya karena mereka tidak tahu nazarmu seperti apa. Tapi nanti jika kamu menikah denganku aku pasti akan menuntutnya" Ucapku kepada Dika. Meski aku tahu dia tidak begitu serius dengan ucapannya tadi.


"Iya cinta, doain saja semoga aku bisa melaksanakan Nazar ku. Meskipun nanti sulit untuk menjalaninya tapi menambahkan aku bisa. Namun jika nanti aku tidak bisa kamu harap maklum saja" Ucap nya lagi.


"Itu arti nya kamu gak ikhlas dan gak serius dong"


"Doain saja semoga aku bisa cinta" Ucap nya lagi.


"Aamiin. Aku pasti selalu mendoakan terbaik untukmu. Doaku selalu menyertai setiap langkahmu" Ucap ku penuh keyakinan.


"Terima kasih cinta" Ujar nya lagi.


"Ya sudah aku pamit pulang dulu ya. Gak enak juga lama-lama di sini. Secara tidak ada orang tua di rumah mu. Nanti malah di pikir bukan-bukan lagi" Ujar Dika.


"Oke, kamu hati-hati di jalan ya" Jawab ku.


"Iya" Jawab dengan singkat langsung melaju dengan sepeda motornya.


***


Hampir setiap berbuka puasa di bulan itu aku menemani Dika untuk berbuka bersama nya. Terkadang aku membeli lauk saja berupa pecal lele atau ayam penyet. Sedangkan di kantor, Dika sudah memasak nasi untuk bukaan kami nanti tak lupa teh es pun ikut serta sebagai menu kami di setiap berbuka. Dan tentu saja aku sering mengajak adik sepupu ku untuk menemani ku di kantor itu. Maklum takut di pikir melakukan hal yang bukan-bukan. Nama nya juga hati manusia siapa yang tahu bukan?


"Kalian makan saja duluan. Aku nanti menyusul" Ujar ku menawarkan Siti dan Dika untuk makan duluan. Secara hari itu aku gak puasa karena mendapat tamu bulanan. Jadi nya yah aku suruh lah mereka untuk berbuka duluan. Lagian perut ku merasa tidak enak karena hal itu. Maklum sudah menjadi kebiasaan ku di setiap bulan jika sedang halangan seperti ini perut ku terasa sangat nyeri. Kata orang melayu sih nama nya sengugut (sakit perut yang di rasakan pada wanita yang sedang berhalangan yang sangat berlebihan. Bahkan terkadang sampai bolak-balik berkali-kali ke toilet Karena rasa mules seperti mau buang air besar tapi nyatanya tidak).


Aku memutuskan untuk berbaring sebentar di tempat tidur yang berada di ruangan tidurnya Dika agar rasa nyeri di perutku hilang ataupun sedikit berkurang.


"Masih sakit cinta?" Tanya Dika penuh perhatian kepadaku saat melihat aku kesakitan seperti itu ketika mereka sudah selesai berbuka bersama.


"Iya, ini hari kedua aku halangan, lagi banjir-banjir nya. Jadi seperti inilah rasanya kalau aku sedang banjir" Jelas ku kepada Dika.


"Apa yang bisa ku bantu untuk mengurangi rasa sakit mu"


"Gak ada Dika, nanti juga dia pasti akan hilang sendiri"


"Aduh aku jadi nggak tega melihat kamu kesakitan seperti ini"


"Nama nya juga perempuan Dika, hal ini sudah biasa bagiku. Setiap bulan aku mengalami hal yang sama. Jadi kamu jangan khawatir kepadaku seperti itu"


"Aduh, so sweet nya kalian berdua. Aku selalu saja jadi obat nyamuk di antara kalian ya" Protes Siti.


"Maaf ya dek, sebenar nya juga gak enak mengajak mu terus-terusan seperti ini. Kasihan kamu nya yang selalu menjadi obat nyamuk. Tapi harus bagaimana lagi. Dari pada nanti kami di grebek kata nya kumpul kebo gimana? Kasihan Dika nya juga sih yang sebagai pendatang di sini" Jelas ku.


"Iya gak apa-apa kok kak. Aku ngerti kok. Aku hanya becanda. Dan aku senang jika di ajak terus-terusan sama kakak. Aku dapat memakan makanan enak seperti ini terus-terusan" Ujar Siti lagi.


"Cinta, aku ambilin makanannya ya untuk kamu. Dari tadi kan kamu belum makan. nanti malah bertambah sakit perut kamu karena masuk angin. Aku suapin ya"


"Aa.... Jadi iri" Celoteh Siti lagi.

__ADS_1


Aku dan Dika hanya tersenyum melihat perangai adik sepupu itu.


"Gak perlu. Aku belum laper. Terima kasih ya atas perhatian kamu kepadaku. Aku sangat tersentuh akan hal itu" Ucap ku dengan raut wajah yang bahagia. Karena laki-laki yang ada di hadapanku itu begitu perhatian kepadaku.


__ADS_2