
Kami berencana untuk kembali bersilaturahmi ke rumah teman-teman kursus yang satu kelas kami dulu.
Tiba lah hari raya idul fitri. Aku di minta kakak ku untuk mengambil pesanan sate di samping rumah bang Dodi. Yah bibi bang Dodi itu memang jualan sate dan menerima pesanan sate untuk hari raya. Aku dan keponakan ku bernama Dina pun pergi mengambil sate tersebut dengan menggunakan sepeda motor milik nya.
Tampa sengaja aku melihat adik bang Dodi menggendong seorang anak perempuan. Terlihat usia anak itu masih balita sekitar berumur tiga atau empat bulan.
"Ha? Itu anak bang Dodi? Bukan kan dia menikah kemarin blm sampai satu tahun ya. Kok anak nya sudah sebesar itu?" Batin ku kaget.
"Ah terserah lah, yang jelas aku tidak mau ambil tahu dengan nya lagi"
Pernah juga aku mendengar kabar angin bahwa bang Dodi pernah masuk penjara setelah beberapa bulan menikah dengan Yuni. Hal itu di sebab kan karna tertangkap memakai barang terlarang. Namun pada akhir nya dia bebas. Aku pun tidak tahu bagaimana dia bisa bebas. Setelah bebas itu lah dia berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.
Di mana dia selalu pergi ke mesjid untuk melakukan kewajiban sebagai seorang muslim bersama ayah nya.
"Dek, tuh sekarang mantan pacar mu itu kelihatan nya sudah bertobat. Abang sering bertemu dengan nya di mesjid" Ujar abang ke lima ku yang sering pergi ke mesjid untuk melakukan solat berjamaah di sana.
"Bertobat bagaimana pun dia tetap tidak akan aku maafkan dan aku lupa kan apa yang pernah dia lakukan kepada ku. Aku tidak bisa mengikhlas kan semua nya begitu saja" Batin ku.
"Bagus lah jika begitu" Ujar ku kesal.
Terkadang, aku juga sering bertemu dengan nya di pas-pasan jalan. Namun aku selalu mengabaikan nya. Hati ku terasa sakit bila melihat wajah nya. Dulu, bang Dodi pernah juga kerja sebagai penjaga toko obat yang ada daerah ku. Setelah itu dia juga bekerja sebagai kuli bangunan untuk menghidupi keluarga kecil nya.
Pernah sekali saat aku lewat di depan rumah tempat dia bekerja. Di mana saat itu dia sedang menyekop pasir di masukan ke dalam gerobak untuk di bawa ke rumah itu. Dia dan teman nya menatap ku dari kejauhan di mana aku semakin dekat menuju mereka menggunakan sepeda motor. Entah apa yang dia katakan kepada teman nya itu. Tapi aku hanya bisa mendengar saat aku benar-benar sudah dekat dengan mereka.
"Cantik juga mantan mu. Bodoh kenapa kamu putusin dia" Ujar teman nya itu. Aku berpura-pura tidak tahu dan tidak dengar percakapan mereka.
Kembali ke masa kini di mana hari raya pertama yang penuh kemaafan.
"Kak, tadi aku lihat adik bang Dodi lo. Dia menggendong balita seperti nya usia anak itu sekitar tiga atau empat bulan. Apa itu anak bang Dodi ya? Menikah juga belum sampai setahun anak nya sudah sebesar itu?" Cerita ku kepada kakak ku.
"Hus.. Kamu jangan menceritakan hal yang bukan-bukan seperti itu. Nanti timbul fitnah" Ujar kakak ku lagi.
"Benar lo kak, aku melihat nya sendiri. Tuh tanya aja sama Dina"
"Udah lah biarin aja, itu kan kehidupan dia. Mau anak nya sudah langsung masuk SMA pun gak ada urusan sama kita" Ucap kakak ku.
"Ya sudah aku mau pulang dulu. Mau siap-siap untuk solat ied"
***
"Selamat hari raya cinta, mohon maaf lahir dan batin. Ku tunggu kedatangan mu di sini" Pesan Dodi di pagi hari raya membuat ku tersenyum senang.
"Selamat hari raya juga my boy. Mohon maaf lahir dan batin juga ya" Balas ku.
"Masih juga main hp. Gak lepas-lepas tangan nya dari hp itu. Ayo cepat sudah pukul berapa ini nanti kita telat solat ied nya" Celoteh ibu ku membuat ku kaget.
"Ya Allah buk, bikin kaget aja. Ayo kita pergi" Ujar ku lagi.
"Salam dulu buk. Aku minta maaf ya dengan semua kesalahan ku selama ini. Baik di sengaja mau pun tidak" Ujar ku mencium punggung tangan ibu ku.
"Ayah mana ya buk?"
"Ada di kamar mungkin, ibu sibuk di dapur tadi gak tahu di mana ayah mu"
Aku pun pergi ke kamar mencari keberadaan ayah ku. Terlihat laki-laki paruh baya itu sedang memakai kopiah nya.
"Wah, gagah sekali ayah ku. Mohon maaf lahir batin ya yah. Maaf kan semua segala kesalahan ku baik di sengaja mau pun tidak" Ujar ku mencium punggung tangan ayah ku.
"Iya nak. Ayah juga ya"
***
"Mah, jadi kan besok kita ke Selat baru?" Tanya Fia kakak sepupu ku datang ke rumah ku.
"Jadi dong, Tapi aku di jemput ya di sana. Aku gak mau menunggu" Ujar ku lagi.
"Iya gak masalah bagi ku" Ujar Fia.
Ting...
Ponsel ku berdering tanda pesan singkat masuk ke dalam ponsel ku. Aku tersenyum saat mengetahui dari siapa pesan itu.
"Siapa? Pacar mu?" Tanya Fia.
"Hmm... Gimana ya? Di katakan pacaran gak sih. Dan di katakan gak pacaran tapi seperti pacaran. Aku juga bingung hubungan kami ini apa" Ujar ku sambil nyengir.
"Lo, kok gitu. Kenapa bisa begitu?"
Aku menghela napas berat.
"Dia itu tidak pernah mengungkapkan perasaan nya kepada ku. Tapi jika aku atau dia dekat dengan orang lain lawan jenis kami ya kami saling cemburu" Ujar ku lagi.
"Rumit juga ya hubungan kalian"
__ADS_1
"Iya memang rumit. Hingga saat ini aku masih menunggu ungkapan perasaan nya kepada ku" Ujar ku lagi.
"Lagian dia masih ada kekasih hati di sana. Tidak mungkin aku meminta nya untuk memutuskan ikatan cinta yang telah lama mereka jalin selama ini. Jika aku dan dia berjodoh, pasti kami akan bertemu juga. Aku sadar siapa lah aku ini. Dia lebih berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dan sempurna dari pada aku yang status tak jelas ini" Batin ku.
"Aku ini hanya menumpang kebahagiaan dan kenyamanan kepada kekasih orang" Tambah ku dalam hati.
***
"Dimana teman mu itu Mah?" Tanya Fia saat kapal peri sudah merapat di Bengkalis.
"Kata nya sih di depan. Motor gak bisa masuk karena ramai para pemudik" Ujar ku.
"Gak apa-apa aku jalan kaki saja hingga di depan" Ujar ku lagi.
Yah karena aku jalan kaki dan gerbang kapal peri terbuka, aku pun langsung pergi keluar dengan berjalan kaki ke depan untuk menunggu Dodi di sana.
Hingga pada akhir nya aku sudah keluar dari peri. Aku tunggu di pertiga jalan.
"Mah, di mana sih teman mu itu"
"Lagi otw ke sini"
"Lah, kirain dia sudah berada di sini"
"Yah begitu lah dia. Susah mau ku jelas kan" Ujar ku.
Hampir lima belas menit aku menunggu kedatangan Dodi bersama Fia dan pacar nya. Hingga terlihat dia dari jauh bersama teman nya Rio.
"Ngapain juga mengajak Rio?" Batin ku mengerutu.
"Merusak suasana saja. Jadi obat nyamuk lah kamu Rio" Batin ku lagi.
"Lama banget sih? Begal kaki ku menunggu mu" Celoteh ku kepada Dodi yang baru saja tiba.
"Ya maaf tadi ada hal sedikit jadi nya terlambat menjemput mu" Ujar nya.
"Ini kenalin kakak sepupu ku nama nya Fia dan ini pacar nya" Ujar ku memperkenal kan mereka.
"Fia ini Dodi dan ini teman nya Rio" Tambah ku lagi.
Mereka hanya menyapa saling tersenyum tampa berjabat tangan.
"Udah ayo kita berangkat. Nanti malah kesiangan" Ujar ku lagi.
Kami pun langsung menuju ke pantai Selat baru. Di sana kami pun saling berfoto bersama. Sedang kan Rio hanya jadi obat nyamuk dan tukan fotografi kami karena dia tidak mempunyai pasangan.
"Oke, kalian hati-hati ya"
"Kamu gak pulang dulu?"
"Sebentar lagi"
"Mau singgah ke rumah calon mertua dulu" Bisik ku kepada Fia.
Fia hanya tersenyum mendengar bisikan ku tadi.
"Ya sudah, kami duluan ya"
"Oke"
***
Besok nya pukul enam pagi aku telah bangun dari tidur ku. Aku siap-siap untuk pergi bersilaturahmi ke rumah teman-teman ku di Bengkalis sesuai dengan rencana kami.
"Ayo Yus kita berangkat" Ucap ku saat Yus telah tiba di rumah ku.
Yah aku seperti biasa kemana-mana aku selalu bersama Yus karena aku tidak mempunyai kendaraan sendiri. Dan karena aku nebeng jadi nya aku lah yang mengisi minyak motor Yus. Gak mungkin kan sudah nebeng tapi gak juga mau isi minyak nya.
"Isi minyak motor mu dulu ya biar penuh"
"Oke jawab Yus.
***
Rumah pertama yang kami kunjungi adalah rumah Dodi. Yah jelas rumah dia karena rumah nya dekat dengan pelabuhan penyebrangan. Jadi kami janji ngumpul nya di rumah dia.
"Assalamualaikum" Ujar ku lagi ketika sudah tiba di rumah Dodi.
"Waalaikumsalam. Ayo masuk" Ujar Dodi mempersilahkan aku dan Yus masuk.
"Silahkan di makan kue mue nya" Tawar Dodi.
"Gak ada minuman yang aku suka itu?"
__ADS_1
"Oh ada, ini dia" Ujar Dodi memberikan minuman bersoda berwarna gold itu.
"Terima kasih" Ucap ku lagi.
"Di mana mereka?" Tanya Yus kepada ku karena teman-teman ku belum juga kelihatan.
"Lagi di perjalanan kata nya"
"Assalamualaikum" Terdengar seseorang langsung masuk ke rumah Dodi.
"Rio lagi, emang ini anak kemana-mana selalu ada" Batin ku.
"Akhir nya kalian tiba juga" Ujar ku melihat teman-teman kursus ku baru tiba tidak lama setelah Rio tiba.
"Ayo duduk dulu, makan dan minum dulu ya" Ucap ku berlaga seperti tuan rumah saja.
"Oke atur rute perjalanan kita"
"Oke, karena kita sudah berada di sini, kita pergi ke rumah Sumira, selanjutnya Sabrina dan Auri, setelah itu kita pergi ke rumah ibu Ita, setelah itu kita pergi ke rumah Hambali. Baru kita ke jangkang rumah nya Jasmitaria, Siti Fateha, Nilam, dan Aswat. Bagaimana setuju?" Tanya ku.
"Iya setuju. Ayo kita berangkat" Ucap mereka serentak.
Kami pun pergi ke rumah teman-teman sesuai rute yang telah kami sepakati.
Setiba nya di daerah Ketam putih tepat nya di rumah Hambali, Yah masih ingat kan Hambali mempunyai perasaan kepada ku. Jelas perasaan itu masih ada untuk ku. Dia menyambut kedatangan ku dengan senyuman nya.
"Masuk-masuk Ay" Ujar nya kepada ku.
"Lagi-lagi hanya Ramah yang di tawar kan" Protes Siti Fateha.
"Iya, iya ayo kalian juga masuk"
Hambali langsung mengandeng tangan ku untuk masuk ke rumah nya. Sontak aku yang sedang ngobrol bersama Yus jadi kaget tiba-tiba aku di seret seperti itu. Aku hanya mengikuti langkah Hambali tampa menolak nya karena aku takut dia tersinggung jika aku tolak di depan teman-teman ku.
Bisa ku lihat raut wajah Dodi yang tadi nya tersenyum kini berubah menjadi murung. Tampak raut wajah cemburu terukir di wajah nya.
"Waduh, akan terjadi perang dunia ketiga ini" Ujar Yus dan Rio serentak. Yah hanya mereka berdua lah yang tahu kedekatan kami.
"Hambali apa buah rambutan mu ada buah nya?"
"Gak ada Ay. Belum musim nya" Ujar Hambali.
"Orang tua mu kemana Hambali. Kok sepi di rumah mu" Tanya Nilam.
"Mereka lagi rombongan. Jadi yah tinggal aku sendiri di rumah ini" Ucap Hambali.
Aku bisa mengerti bahwa Dodi saat ini memang sedang cemburu kepada ku. Tapi aku bersikap biasa saja agar teman-teman ku tidak tahu kedekatan kami. Memang sewaktu pergi tadi aku berboncengan dengan Yus dan Dodi dengan Rio. Namun kami bersaingan pergi nya.
Sepulang nya dari rumah Hambali, Dodi dan Rio tidak bersaingan bersama aku dan Yus. Yah karena dia cemburu kepada aku dan Hambali. Dia pergi meninggalkan ku dan Yus begitu saja bersama teman-teman ku.
Karena Rio ikut, jadi nya kami memutuskan untuk mampir juga ke rumah Rio. Aku merasa pusing ketika tiba di rumah Rio. Yah karena hari panas dan perjalanan kami jauh di tambah aku sama sekali tidak memakai helm. Hal itu membuat ku merasa pusing dan mata ku perih.
"Pusing Yus" Ujar ku kepada Yus.
"Ha kenapa?"
"Kamu seperti tidak tahu saja penyakit ku" Ujar ku.
Aku mengeluarkan obat pusing dari tas ku yang selalu ku bawa kemana-mana. Dan ku minum, ku tatap wajah Dodi yang masih marah kepada ku namun mu abaikan karena aku lebih memikirkan kepala ku yang pusing ini.
"Sebentar lagi ya kita melanjutkan perjalanan nya ke jangkang. Aku pusing, Yus juga gak bisa bawain motor nya kerena tangan nya sakit. Perjalanan kita kan jauh gak bisa Yus nya. Kalau dekat sih bisa dia nya" Jelas ku lagi.
"Iya istirahat saja dulu kamu Mah"
Aku berbaring di Sofa rumah Rio. Dodi datang mendekati ku.
"Masih pusing?" Tanya nya kepada ku.
Aku mengangguk pelan. Dodi memegang kepala ku dan memijit kepala ku yang terasa pusing. Aku tersenyum mendapat perlakuan itu.
Dalam sikap cuek nya tadi kepada ku ternyata masih ada sisi perhatian nya kepada ku.
"Ehemm... Ehemm" Goda Yus dan Rio.
Teman-teman ku yang lain melihat kami dengan heran.
"Kalian pacaran?" Tanya Siti Fateha.
"Ha? Teman" Jawab ku singkat.
Kembali Dodi menatap kesal kepada ku. Namun masih memijit kepala ku.
"Kenapa? Bukan nya benar itu? Kamu gak ada mengungkap kan perasaan mu kepada ku" Kata ku pelan.
__ADS_1
"Kejam, kejam sekali kamu kepada ku" Ujar nya lagi.
Aku hanya menangapi nya dengan tersenyum.