
"Istri di luar negeri?" Bima mengerutkan kening.
"Iya. Foto itu. Itu foto istri kamu yang ada di luar negeri bukan?" teriak Karina kesal.
Dirinya memang menikah dengan Bima karena terpaksa dan ada surat perjanjian di dalamnya. Akan tetapi, bukan berarti ia akan diam saja saat Bima menyakitinya.
Kalau pun pria itu tidak menyukainya, pria itu tidak bisa bersikap seenaknya. Apalagi sampai menindas dirinya. Sudah pasti ia tidak akan diam saja.
Bima menatap Karina dengan bingung. "Apa maksudmu dengan istri di luar negeri?" tanya Bima sambil menatap Karina tak mengerti.
Karina melepaskan cekalan tangan Bima dari lengannya.
"Tidak usah berpura-pura bodoh, Bima. Kamu sangat tahu apa yang aku maksud." Karina masih menatap tajam ke arah Bima.
Rasanya, ia ingin sekali mengumpat pria itu karena berpura-pura tidak mengerti dengan ucapannya.
Bukankah dia sendiri yang mengatakan kalau wanita itu adalah istrinya? Lalu, kenapa sekarang ia berpura-pura bodoh?
Karina menatap pria di depannya dengan napas naik turun karena kesal.
"Aku tidak tahu apa yang kamu maksud. Istri di luar negeri apa?" Bima masih belum menyadari arah pembicaraan Karina.
Sementara Karina mendengus kesal. Bisa-bisanya laki-laki itu masih pura-pura tidak mengerti.
"Itu. Wanita dalam foto itu. Bukankah kamu bilang, dia adalah istrimu yang berada di luar negeri?" Karina memperjelas ucapannya.
__ADS_1
"Apa maksudmu mengatakan kalau dia adalah istriku yang berada di luar negeri? Lagipula, kapan aku mengatakannya?" Bima masih belum mengerti dengan ucapan Karina.
Mendengar ucapan Bima, Karina semakin kesal. Perempuan itu kemudian tanpa basa-basi keluar dari kamar Bima. Berdebat dengan Bima hanya membuang-buang waktu dan berpotensi menaikkan tensi darahnya.
Dia sendiri yang ngomong, dia sendiri pula yang tidak mengakui. Dasar pria plin-plan!
Karina menggerutu kesal. Wanita itu dengan cepat melangkah meninggalkan kamar. Kaki jenjangnya menuruni tangga dengan cepat.
Karina bermaksud tidur di kamar tamu. Kamar yang ia tempati sebelum menikah dengan Bima.
Bima yang masih belum bisa mencerna apa maksud Karina ikut keluar kamar mengejar Karina.
"Karina, tunggu!"
Bagaimana mungkin pria itu berpikir dirinya akan menuruti keinginannya lagi? Semalam, ia sudah menahan diri dan tetap tidur di sana meskipun dengan tidak enak hati. Akan tetapi, untuk malam ini ia tidak mungkin kembali menuruti keinginan Bima.
Bima yang merasa diabaikan melangkah lebar mengejar Karina. Laki-laki itu kemudian tanpa basa-basi mengangkat tubuh Karina kemudian menggendongnya.
Karina memekik kaget. Perempuan itu terus meronta agar Bima mau melepaskannya. Namun, Bima seolah tidak peduli. Laki-laki itu tetap menggendong tubuh mungil istrinya. Mulut Karina tidak berhenti mengomel, tetapi, Bima tidak peduli.
Pria itu bahkan tampak tidak tersinggung dengan kata-kata pedas Karina. Tubuh Bima sudah lelah, begitupun pikirannya. Laki-laki itu hanya ingin beristirahat dengan tenang. Akan tetapi, perempuan dalam gendongannya itu justru membuat masalah.
Tak bisakah perempuan itu menurut saja? Bima hanya ingin istirahat dan tidur.
Bima melempar tubuh Karina di atas ranjang. Laki-laki itu berjalan ke arah pintu kemudian menguncinya. Setelah itu ia mengantongi kunci itu di saku piyama tidurnya.
__ADS_1
"Aku ingin tidur di kamar tamu. Kenapa kamu melarangku?" Karina berteriak kesal. Wanita itu bangkit dari tempat tidur. Namun, Bima langsung menahannya.
"Diamlah! Aku hanya ingin beristirahat! Aku lelah." Bima naik ke atas tempat tidur.
"Kalau kamu memang ingin tidur, tidur saja. Kenapa kamu repot ngurusin aku?"
Bima tidak menjawab. Pria itu berbaring di sebelah Karina yang masih dalam posisi duduk. Melihat itu, tangan besar Bima meraih pinggang gadis itu dan memaksanya untuk berbaring.
Setelah itu, tubuh mungil Karina seketika berada dalam pelukannya.
"Diam dan tidurlah!"
Tubuh Karina menegang saat laki-laki itu kembali menarik tubuhnya dan memeluknya dari belakang.
"Aku sungguh lelah dan ingin tidur. Pekerjaanku hari ini sangat menyita waktu, Karin." Suara Bima terdengar pelan di telinga Karina.
Suara berat Bima membuat tubuh Karina kembali menegang. Wanita itu terdiam seiring detak jantung dan debaran di dadanya yang menggila.
"Kamu adalah istriku. Tidak ada istri lain selain kamu."
BERSAMBUNG ....
Sambil nunggu update, kepoin novel Author yang lain yuk!
__ADS_1