
Bima duduk di tepi ranjang. Netranya menatap Karina yang terlihat gugup di hadapannya.
"Apa aku harus tidur di sini juga?" Suara Karina terdengar. Wanita itu meremas ujung bajunya untuk menetralkan perasaannya yang tiba-tiba seolah tidak berkutik saat berhadapan dengan Bima.
"Menurutmu?" Bima bertanya dengan raut wajah datar. Kedua matanya masih memindai wajah cantik Karina.
Sementara Karina justru menunduk karena jantungnya berdetak dengan kencang saat berhadapan dengan pria yang sudah sah menjadi suaminya.
"Mm–maksudku–"
"Aku memang memberikan surat perjanjian pernikahan padamu. Akan tetapi, bukan berarti kita tidur dalam kamar yang terpisah. Bukankah tidur bersama juga merupakan poin yang tertulis dalam surat perjanjian itu?" Bima menatap Karina yang tampak terkejut. Namun detik berikutnya, wanita itu terlihat cemberut.
"Tidurlah!"
"Ta–tapi–"
"Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan apa yang kini ada di kepalamu." Bima merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kamu bisa tidur di sini." Bima menepuk ranjang di sebelahnya yang sudah tersusun guling sebagai penghalang.
"Aku ...." Karina memindai sebuah foto besar yang tertempel di dinding kamar Bima.
Sedangkan Bima mengikuti arah pandang Karina. Lelaki itu kemudian menepuk keningnya. Bagaimana dia bisa lupa untuk menurunkan foto Renata yang terpajang di sana?
Bima tahu, pernikahannya dengan Karina memang hanya sementara. Akan tetapi, bukankah dia harus tetap menghormati Karina sebagai istrinya?
"Maaf, aku lupa untuk menurunkannya. Besok aku akan menurunkan foto itu. Sekarang, bisakah kita tidur dulu? Aku sudah mengantuk." Bima kemudian mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur."
Sementara Karina masih terdiam. Masih bingung untuk mencerna sesuatu yang terjadi dalam hidupnya hari ini.
Tiba-tiba menikah dengan orang yang menabraknya kemudian berakhir tidur di dalam kamar yang jelas-jelas terdapat jejak masa lalu pria itu bersama istrinya.
__ADS_1
Ya, Tuhan ... sepertinya sebentar lagi aku akan menjadi gila.
Malam itu, malam yang seharusnya menjadi malam pengantin Karina dan Bima justru berubah menjadi malam yang tak berarti apa-apa.
Tidak ada malam pertama yang biasa dilakukan oleh pengantin baru pada umumnya.
***
Aldrian baru saja sampai di restoran. Pria itu memenuhi permintaan Bima yang mengatakan ingin makan siang bersama sekaligus ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh pria yang status dudanya sudah berganti dengan menikah.
"Sori, telat dikit." Aldrian melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan kalau dirinya sudah terlambat selama sepuluh menit. Laki-laki itu langsung menarik kursi di hadapan Bima.
"Tidak apa-apa. Aku juga baru sampai lima menit yang lalu." Bima tersenyum menyambut kedatangan sepupunya.
Semenjak perpisahan nya dengan Renata, Bima sekarang sudah kembali dekat dengan Aldrian. Pria itu bahkan tanpa ragu menceritakan semua masalahnya pada sang sepupu.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang penting karena itu kamu menyuruhku kemari?" Aldrian meraih cangkir berisi kopi miliknya yang sudah dipesankan oleh Bima sebelum dirinya datang.
"Tentang Karina," ucap Bima tanpa basa-basi.
Sementara Bima berdecak kesal. Jangankan melakukan ritual pertama, menyentuh Karina pun tidak.
Bima bahkan sengaja menjaga jarak dengan wanita yang telah menjadi istrinya itu. Bukannya Bima tidak ingin melakukan ritual malam pertama, hanya saja, Bima belum bisa. Bayangan Renata memenuhi pikirannya.
"Jangan bilang kalau kamu belum menyentuhnya?" Aldrian menatap Bima dengan penuh selidik. Sementara itu, yang ditatap justru memejamkan mata.
"Bagaimana aku mau menyentuhnya kalau dalam otakku hanya memikirkan dia?" Bima menyugar rambutnya sambil menghela napas panjang.
"Jangan keterlaluan, Bim. Jangan melakukan hal yang sama yang pernah kamu lakukan pada Renata. Karina tidak bersalah. Kamu sendiri yang menyeretnya dalam pernikahan konyol. Kamu pikir menikah itu main-main?" Aldrian berbicara panjang lebar membuat Bima langsung terdiam.
"Karina tidak bersalah. Mungkin benar, kamu menikahi dia karena ingin menolongnya. Tapi bukan berarti kamu mengorbankan perasaan Karina dan perasaanmu sendiri," lanjut Aldrian sambil terus menatap Bima dengan lekat.
__ADS_1
"Jangan ulangi kesalahan yang sama seperti saat kau bersama dia dulu. Posisi Karina saat ini hampir sama seperti posisi Renata dulu, Bim. Bedanya, dulu Renata mencintaimu diam-diam sehingga apa yang kamu lakukan bersama wanitamu yang lain membuat Renata terluka." Aldrian menatap Bima yang tampak terkejut.
"Belajarlah mencintai istrimu, Bim. Kamu sudah memilih dia sebagai istrimu, jadi kamu harus bertanggung jawab dengan keputusanmu menikahi dia."
Bima menggeleng pelan. "Mana bisa aku mencintainya, Al? Sementara aku saja baru bertemu beberapa kali dengan dia?" protes Bima karena tidak terima dengan ucapan Aldrian yang terkesan memojokkannya.
"Kalau kamu tidak bisa mencintainya, lalu kenapa kamu menikahinya?" sungut Aldrian kesal. Mode keras kepala Bima kembali kambuh.
"Pernikahan itu bukan main-main, Bim. Kamu sudah pernah merasakannya. Kamu bahkan sampai sekarang masih menyesali karena dulu kamu pernah menyia-nyiakan wanita yang kamu nikahi tanpa cinta."
Bima memejamkan mata saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Aldrian.
"Jangan sampai kamu jatuh ke dalam lubang yang sama, Bim. Ingat, cinta itu datang tanpa kita duga. Sekarang kamu biss mengatakan kalau kamu tidak mencintainya. Tapi nanti, siapa yang tahu?" Bima kembali mengingatkan. Sebagai seorang sahabat sekaligus saudara sepupu Bima, Aldrian rasanya perlu mengingatkan Bima.
Dulu, Bima juga mengatakan kalau dirinya tidak pernah mencintai Renata. Namun, setelah beberapa waktu berlalu, pria itu baru menyadari rasa cintanya pada Renata. Sayangnya cinta Bima datang setelah semuanya terlambat.
"Pikirkan ucapanku baik-baik, Bima."
BERSAMBUNG ....
Halooo ... Author bawa lagi cerita keren punya temen Author nih, yuk, kepoin sekarang!
*Between qatar and jogja*
Burlb :
Aurel adalah seorang wanita muda yang berpredikat janda dengan dua anak balita, tanpa pengalaman mengelola perusahaan yang ditinggal oleh almarhum suaminya.
Sedang dia sendiri mempunyai 4 toko kue.
__ADS_1
Rajev seorang duda asal India yang bekerja di Qatar, memang sudah mencintai Aurel sejak Aurel masih gadis. Ditambah pula dia mengemban amanat almarhum suami Aurel untuk menjaga istri dan anak-anaknya.
Mampukah kekuatan cinta mereka menghadapi percobaan perebutan perusahaan hingga pembunuhan yang pelakunya adalah paman almarhum Radit?