TAKDIR

TAKDIR
PART 34


__ADS_3

Renata menangis haru. Begitupun dengan Iren. Kedua perempuan beda generasi itu saling berpelukan. Sementara Devan, menatap pemandangan di depannya dengan kedua mata berkaca-kaca.


Setelah berbulan-bulan, wanita yang sangat dicintainya itu akhirnya kembali berjalan. Sungguh! Hal ini adalah suatu keajaiban.


Selama ini, Devan dan dokter lain yang menangani Renata selalu memprediksi kalau wanita itu akan kembali berjalan setelah dua tahun masa terapi.


Namun, prediksi mereka ternyata salah. Renata bisa kembali berjalan setelah hampir satu tahun melakukan terapi. Sungguh benar-benar keajaiban Tuhan.


"Devan ...." Dengan langkah pelan, Renata mendekati laki-laki yang teramat berjasa padanya itu.


Renata menghambur ke pelukan Devan. Wanita cantik itu menangis dalam dekapan lelaki yang pernah mengungkapkan cinta padanya.


"Terima kasih. Berkat kamu, sekarang aku kembali bisa berjalan." Renata terisak. Rasanya, ia masih tidak percaya kalau saat ini dirinya sudah bisa kembali berjalan meskipun masih dengan pelan.


"Bukan karena aku. Tapi karena kerja keras kamu yang pantang menyerah," jawab Devan membalas pelukan wanita yang sangat dicintainya itu.


"Mama akan merayakan kebahagiaan ini bersama papa."


"Papa?" Devan melepaskan pelukannya pada Renata.


"Papa sedang dalam perjalanan ke sini."


"Benarkah?" Renata menatap tak percaya pada Iren.


"Benar, Sayang. Papanya Devan ikut merasa bahagia karena sekarang kamu sudah bisa kembali berjalan."


Renata tersenyum dengan penuh haru. Wanita cantik itu sungguh sangat bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang baik seperti keluarga Devan.


"Terima kasih karena sudah begitu baik padaku." Renata kembali menangis.


"Sayang, kamu ini bicara apa? Kami semua menyayangimu. Kamu adalah wanita yang baik. Mama sangat berharap, suatu saat kamu benar-benar akan menjadi anak Mama." Iren memeluk Renata.


Sementara Renata hanya terdiam. Ia sangat tahu dengan apa yang dimaksud Iren. Benar-benar menjadi anaknya. Itu berarti Renata harus menikah dengan Devan.


Devan, lelaki baik yang sangat berjasa dalam hidupnya. Lelaki yang telah membantunya dengan tulus. Dia tidak pernah lelah berjuang menyemangatinya. Renata sungguh tidak tahu bagaimana caranya ia berterima kasih pada dokter tampan itu.


"Kamu bisa pikirkan baik-baik tawaran Mama, Ren. Cobalah lihat Devan. Dia benar-benar tulus mencintaimu." Iren mengusap kepala Renata. Merapikan rambut yang berantakan dan menyelipkan rambut Renata ke belakang telinga.


"Mama tidak memaksa. Hanya saja, Mama benar-benar tidak mau kehilangan wanita baik seperti kamu."

__ADS_1


"Aku tidak akan kemana-mana, Ma."


"Aku hanya sedang membayangkan seandainya kamu menikah dan menjadi menantu orang lain. Rasanya mama tidak sanggup."


"Mama. Mama ini bicara apa?"


Renata kembali memeluk tubuh perempuan yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.


"Menikahlah dengan Devan."


"Mama."


***


Di tempat lain, Karina saat ini sedang berada di dalam kamar bersama Bima. Wanita itu terlelap dalam pelukan suaminya.


Semenjak malam itu, di mana Bima menjelaskan tentang statusnya dan siapa wanita dalam foto itu, Karina akhirnya memilih berjuang untuk mendapatkan cinta suaminya.


Meskipun sampai saat ini perjuangannya belum membuahkan hasil, tetapi, Karina tetap merasa bersyukur. Paling tidak, Bima bersikap baik padanya.


Laki-laki itu benar-benar menepati janjinya. Dia berhasil mengambil alih perusahaan orang tuanya yang selama ini dikuasai oleh sang paman.


Kini, perusahaan dan semua aset, harta peninggalan dari kedua orang tuanya telah menjadi milik Karina sepenuhnya.


Bima mengecup lembut bibir Karina. Laki-laki itu merengkuh tubuh polos istrinya kemudian mendekapnya erat.


Semenjak dirinya mengatakan kalau Karina adalah istri satu-satunya, lelaki itu memutuskan untuk bersama dengan wanita itu. Entah karena dasar apa kebersamaan itu, yang jelas, ucapan Aldrian saat itu terus terngiang membuat Bima akhirnya mengambil sebuah keputusan.


Tetap bersama Karina meskipun dia tidak mencintainya.


Bima hanya tidak ingin, penyesalan yang dulu pernah ia alami saat bersama Renata kembali terulang.


Dengan alasan tidak mencintai, kemudian Bima memperlakukan Renata dengan buruk. Sampai saat di mana perpisahan dengan wanita itu tiba, Bima baru menyesali dan menyadari kalau dirinya begitu mencintai perempuan yang sedari awal tidak pernah diinginkannya.


*Penyesalan selalu datang terlambat, dan aku tidak menyukainya Karin, karena rasanya begitu menyakitkan.


Aku harap, kamu tetap berada di sisiku meskipun aku sadar, cinta itu belum hadir di antara kita*.


Bima melonggarkan pelukannya saat perempuan dalam dekapannya itu menggeliat. Kedua matanya terbuka perlahan.

__ADS_1


"Kamu belum tidur?" Karina menatap manik mata pria yang beberapa saat lalu membuatnya kelelahan.


"Aku tidak bisa tidur." Bima mengecup bibir merah itu sekilas.


"Kenapa? Apa kau sedang memikirkannya?" Karina mengusap rambut Bima. Kepala pria itu kini menelusup di ceruk lehernya.


"Kenapa aku harus memikirkannya?" Lidah Bima menari pada leher jenjang Karina dan meninggalkan beberapa tanda di sana. Bukan meninggalkan, lebih tepatnya adalah menambah deretan warna merah yang tercetak jelas pada leher istrinya.


"Bukankah biasanya seperti itu? Aku hanya bertanya." Karina meremas rambut Bima kala indera perasa lelaki itu menjamah bagian atas tubuhnya.


"Saat bersamamu, aku tidak ada waktu untuk memikirkannya." Bima melanjutkan aksinya membuat Karina memejamkan mata saat rasa nikmat mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Aku menginginkanmu lagi," bisik Bima. Lelaki itu menatap Karina dengan penuh damba, seiring hasrat yang kembali menguasai diri.


Tanpa disadari, pria itu mulai candu dengan tubuh istrinya.


BERSAMBUNG ....


Sambil nunggu Author update, yuk, baca juga karya temen Author yang satu ini.



Menelan pil pahit bukanlah suatu keinginan tapi mungkin sudah keharusan dan takdir.


harus dijalani itu yang pasti.


Rumah tangga Nadira harus kandas ditengah jalan karena perbedaan prinsip dan tersandung kasus lain yang menyebabkan mereka harus berpisah.


Dan kali kedua ini ataukah masih hidup bersama pria yang diinginkan nadira.


"Ceraikan aku" tangis Nadira.


"Sampai kapan pun aku takkan pernah meninggalkanmu atau pun berpisah. Aku tak ingin itu terjadi"


"Tapi ini. Adalah kenyataan bahwa kau" .


Kawal sampai end ya..


follow ig otor Zafa_milea

__ADS_1


follow fb otor zafa milea sanders


__ADS_2