TAKDIR

TAKDIR
Bab 61


__ADS_3

Aku memberikan plastik yang berisi bakso bakar yang kami beli tadi untuk kedua orang tua ku kepada ibu ku yang duduk di depan tv.


"Jangan repot-repot gak perlu seperti ini. Lebih baik uang nya kamu simpan untuk kebutuhan kamu sehari-hari" Ujar ibu ku.


"Gak apa-apa buk. Lagian hanya sekali-kali kok bukan setiap hari"


"Makasih ya"


"Iya buk sama-sama. Jika begitu saya permisi pulang dulu" Ujar Dika mencium punggung tangan ibu ku dan pergi keluar dari rumah ku.


"Iya, hati-hati ya" Jawab ibu ku lagi.


Aku mengantar kepulangan Dika hingga di depan pintu rumah ku.


"Hati-hati di jalan" Ujar ku.


"Iya cinta. Terima kasih untuk malam ini" Ucap nya.


"Iya sama-sama" Ujar ku tersenyum.


Dika pun melaju dengan sepeda motor nya untuk kembali ke kantor nya.


"Dia itu pacar mu Mah?" Tanya ibu ku ketika aku masuk ke rumah kami.


"Gak kok buk cuma teman aja"


"Teman, teman, teman apa pakai panggil cinta-cinta begitu" Ujar ibu ku.


"Iya buk, cuma temanan aja kok buk. Di sini dia tidak ada teman nya. Cuma aku teman dia di sini yang dia kenal"


"Lo kata nya kan dulu satu kursus sama kamu. Berarti satu kursus juga dong sama Yus dan Rizen"


"Iya buk memang satu kursus juga sama mereka"


"Nah jelas dia kenal juga sama mereka. Kenapa kamu bilang hanya kenal nya sama kamu?" Tanya ibu ku.


"Gak dekat mereka sama Dia buk" Ucap ku lagi.


***


Sudah sebulan Dika kerja di kantor tempat nya bekerja itu. Dan selama itu juga lah aku sering menemani nya di kantor nya. Jika malam aku keluar bersama nya untuk makan malam. Terkadang dia juga datang ke rumah ku untuk yah sekedar ngobrol ringan lah masalah kerja kami di kantor. Saling curhat kami nya.


"Oh ya, tadi ibu ku buat bubur kacang hijau campur durian. Enak banget, sebentar ya aku ambilin" Ujar ku langsung masuk ke rumah untuk mengambil bubur kacang hijau buatan. Dika menunggu ku di depan teras rumah abang ku. Yah rumah abang ku di samping rumah ku. Di depan nya ada teras dan juga kursi serta meja di mana abang ku membuka warung kelontong kecil-kecilan.


"Ini dia bubur kacang nya semoga sesuai dengan selera mu" Ucap ku.


"Di mana beli durian?"


"Itu aku beli di pinggir jalan ketika aku pulang dari kantor tadi. Kamu suka durian kan?"


"Suka dong durian nya aja yang tidak ada" Ujar Dika lagi.


"Ya sudah kalau gitu makan lah, dan coba komen gimana rasa masakan ibu ku" Ujar ku. Dika pun langsung mencoba bubur kacang hijau ini buatkan oleh ibuku.


"Enak, manisnya pas duriannya juga enak. Apalagi bubur kacangnya kental seperti ini sangat membuat ketagihan memakannya" Komentar Dika mengenai masakan ibuku.


"Iya dong, masakan ibu ke itu memang tiada duanya. Pasti semua anak juga memikirkan hal yang sama seperti apa yang aku katakan ini. Pasti ibunya itu adalah chef yang paling terkenal di dalam kehidupannya dan tidak ada yang bisa menandingi masakan dari seorang ibu. Begitu juga dengan kamu kan pasti kamu juga berpikir bahwa ibumu lah paling enak masakannya" Ujar ku dengan tersenyum.


Dika hanya menjawab pertanyaanku itu dengan senyuman.


***


Hari minggu telah tiba. Aku memutuskan untuk pergi ke kantor Dika menemaninya di kantor bersama adik sepupu ku Siti.


Tak lupa sebelum kami tiba di kantor Dika, kami mampir di sebuah minimarket untuk membeli beberapa cemilan. Yah aku memang suka ngemil daripada memakan makanan berat.


Dika tersenyum melihat kedatanganku dan Siti yang baru saja tiba di kantornya. Tentu saja dia senang melihat kedatangan kamu karena dia mendapat teman dan tidak sendirian di kantor itu.


"Wah, kebetulan kalian datang. Aku boring di sini" Ujar nya lagi.


"Kamu udah makan siang?" Tanyaku dengan menenteng cemilan yang Kubelikan tadi bersama Siti sebelum tiba di kantornya dan masuk ke dalam kantor tempat Dika bekerja itu.


"Belum"


"Ini aku bawain cemilan untuk mengganjal perut yang lapar"


"Oh ya jika kamu lapar kamu beli makanannya di mana?"


"Itu di warung depan itu ada tersedia makanan dan juga minuman di situ" Ujar Dika sambil menunjuk ke arah warung yang ada di depan kantor yang sedikit masuk ke dalam gang rumah warga di sekitar sana.


"Oh situ"


"Iya cinta, sih makan di situ ngebon nanti setelah akhir bulan ataupun awal bulan baru dibayar" Jelas Dika lagi.


Ponsel Dika bergetar di atas meja aku mengkerut kan kening ku saat ku baca chat BBM dari Joleh di sana.


"Joleh? Siapa Joleh?" Batin ku bertanya-tanya. Ku lihat Dika kembali sibuk dengan komputer nya.


Ku ambil ponsel Dika itu. Siti yang sibuk menyantap cemilan nya pun berhenti ketika aku mengambil ponsel Dika.


"Siapa kak?" Tanya Siti dengan berbisik kepadaku.


"Gak tahu, tapi di sini tulis nama nya Joleh"


"Joleh?" Tanya Siti heran.

__ADS_1


Aku membuka ponsel Dika yang tidak di kunci dengan pola atau pun kata sandi. Sehingga membuat aku mudah untuk mengotak atik ponsel nya itu.


"Ya sayang, hati-hati di sana ya. Love you sayang" Bunyi pesan itu.


"Nta? Apa ini nomor Fida ya?" Batin ku. Yah semenjak aku bertengkar dengan Dika tempo dulu aku memang menghapus semua yang bersangkutan dengan Fida dan juga Dika.


Hanya saja Dika kembali menghubungi ku waktu itu dan kembali membuat hati ini berbunga-bunga membuat aku kembali menyimpan nomor mau pun pin BBM nya.


Aku membuka foto profil nya. Yah ternyata benar itu adalah nomor Fida.


Aku membuka pesan dari Fida dan Dika dari awal. Yah aku mau mengetahui apa-apa saja yang mereka bahas.


"Cinta kangen" Pesan dari Dika.


"Iya sayang., nta juga kangen sama sayang"


"Cinta lagi ngapain?"


"Lagi mikirin dan lagi kangen sama sayang" Balas Fida yang di tulis nama ponsel nya dengan sebutan Joleh.


Aku juga tidak tahu kenapa Dika bisa membuat nama Fida dengan sebutan nama Joleh. padahal Joleh itu dalam bahasa melayu diartikan dengan kegatelan. Yang ku tahu hanya satu, dia ada sebutan nama sayang kepada kekasih nya itu.


Sedang kan aku, hanya di tulis dengan nama Ramah saja tidak ada spesial nya sama sekali.


"Sama dong, kangen juga sama kamu nta. Pengen pulang, pengen sama-sama dengan mu" Balas Dika lagi.


"Maka nya cepat pulang dong sayang agar kita bisa bersama lagi"


"Pengen nya sih gitu ya nta. Tapi apa lah daya nta saat ini aku sedang bekerja" Pesan dari Dika lagi.


"Oh ya sayang, saat ini nta sedang berada di rumahmu tadi nta jalan ke rumah untuk melihat keadaan kedua orang tuamu. Alhamdulillah mereka baik-baik saja" Ujar nya.


"Iya nta makasih ya sudah mempedulikan kedua orang tuaku. Tolong jaga mereka ya nta. Hanya nta yang bisa diharapkan lagi karena nta di sana sedangkan aku di sini tidak bisa memantau keadaan mereka" Pesan Dika lagi.


"Iya sayang, kamu tenang aja aku akan selalu menjaga mereka untukmu. Karena mereka adalah calon mertuaku" Balas Fida dengan emod love.


Dengan cepat Siti langsung mengambil ponsel Dika yang ku baca pesan dari Joleh itu.


Sontak hal itu membuat aku kaget. Dengan cepat Siti langsung mematikan layar ponsel tersebut dan meletakkannya kembali di atas meja.


"Apa sih dek?" Tanya ku.


"Itu bang Dika nya ke sini" Ujar Siti menunjuk ke arah Dika dengan mulutnya.


"Sedang apa kalian? Ayo?" Tanya Dika menghampiri kami dengan senyuman nya.


"Tuh ada pesan dari si Joleh" Ujar ku.


"Ha? Mana?" Tanya nya langsung mengambil ponsel nya.


"Dek, pulang yuk" Ucap ku dengan adik sepupu ku itu.


"Lo, kok cepat banget sih pulang nya. Baru juga pukul berapa" Ujar Dika.


"Mau ke pasar sebentar ada barang yang mau di beli sama kakak ku yang di titipkan kepada ku" Jelas ku berbohong.


Mungkin Dika bisa mengerti bahwa saat ini aku sedang cemburu kepadanya. Karena membaca pesan dari kekasihnya yang ada di seberang sana.


Dika menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.


"Apa sih menatap ku seperti itu?"


"Marah? Cemburu?"


"Gak, biasa aja. Siapa lah aku ini hanya kue Hatari yang di celup dengan air hancur" Sindir ku.


"Udah ah kami pulang dulu" Ujar ku lagi.


"Ayo dek"


"Ya sudah hati-hati ya" Jawab nya pada akhir nya.


Biasa nya aku pulang dengan menatap bola mata nya, tapi kini aku malah berbicara dengan nya pun tidak mau menatap bola mata nya itu.


Sekilas aku melihat nya, dia menatap ku dengan raut wajah yang sedih. Namun ku alihkan tatapan ku itu. Saat ini aku hanya ingin menenangkan hati ku yang sedang kacau.


"Entah sampai kapan aku harus bertahan dalam keadaan seperti ini? Rasa nya sakit sekali ya Allah. Apa ini memang takdir ku? Dulu di tinggal nikah sama bang Dodi, sekarang aku di duakan oleh nya. Kenapa hati ini memilih orang yang selalu menyakiti ku? Kenapa rasa ini begitu dalam kepada nya? Padahal banyak laki-laki mencoba mendekati ku. Tapi kenapa hati ini tidak bisa menerima mereka" Batin ku menatap ke depan dengan tatapan kosong.


Yah aku hanya diam di bonceng sama Siti. Aku sibuk dengan pikiran ku sendiri. Pikiran ku menerawang entah kemana-mana.


***


"Selamat malam cinta. Jangan marah kepada ku ya" Ujar nya memberikan pesan singkat kepada ku.


"Sudah lupakan saja. Kamu baik-baik di sana dan jangan lupa makan ya. Aku mau sendiri dulu" Ujar ku lagi.


"Cinta, ada nomor baru masuk ke dalam ponsel ku. Dia seorang gadis yang tinggal di sekitar sini juga. Dia keponakan nya salah satu karyawan yang ada di kantor mu kak Yeni" Ucap nya.


"Ini nomor nya" Ujar nya lagi.


"Ngapain memberikan nomor nya kepada ku?"


"Ya agar tidak ada dusta di antara kita cinta. Di tempat ini hanya kamu satu-satu nya wanita di hati ku" Jelas nya lagi.


"Iya di sini, tapi ketika di tempat mu? Ada kekasih hati mu yang sedang sedang menunggu kepulangan mu" Batin ku.

__ADS_1


"Oke" Balas pesan ku.


"Dia tahu kok bahwa aku sudah mempunyai kekasih ya itu kamu"


"Oh iya, bagus lah"


"Cuek banget sih cinta"


"Lagi capek aja menata hati tapi kini berantakan lagi" Ujar ku.


"Maksud nya?"


"Pikirkan saja ya. Ya sudah aku mau tidur dulu"


"Lo, baru juga pukul segini sudah mau tidur" Ujar Dika yang memang waktu menunjukkan pukul delapan malam. Biasa nya kami saling bertukar pesan hingga tengah malam. Tapi sekarang aku malah mau tidur.


"Sudah ku katakan, aku lelah menata hati ku" Ulang ku lagi.


"Ya sudah, selamat malam cinta. Hadir kan aku di dalam mimpi indah mu"


"Iya terima kasih" Balas ku mengakhiri bertukar pesan kami.


Aku berbaring di atas kasur ku. Ku tatap foto Dika yang ada di ponsel ku.


"Kenapa kamu begitu tega kepada ku. Kenapa hati ini tidak bisa lepas dari mu. Meski aku tahu, aku akan selalu tersakiti dan terluka seperti ini. Tapi kenapa hati ini masih memilih untuk bertahan kepada kamu. Apa sih yang kamu lakukan kepadaku sehingga aku tidak bisa terlepas dari kamu?" Ucap ku seolah-olah berbicara kepada diriku sendiri. Tak terasa beberapa air bening mengalir di pipiku. ingin rasanya aku cuek kepada laki-laki itu dan mengabaikannya. Tapi perasaan tiba melihat raut wajahnya tadi menatap kepulanganku dan Siti membuat aku tidak tega melakukan hal itu.


Itulah yang aku rasakan pergejolakkan batin yang membuat aku tidak tahu harus bagaimana saat ini.


Untuk beberapa kali aku menghela nafas beratku. Agar hati ini terasa tenang dan kesedihan ini cepat berlalu. Aku mencoba untuk menutup mataku. Tapi bayangan Dika selalu bermain di ingatanku.


Ting....


Pesan berupa voice di kirim Dika kepada ku. Aku mengkerutkan keningku melihat pesan itu masuk.


"Nyanyian pengantar tidur buat kekasih hati ku. Bahtera cinta-roma irama"


"Beredar sang bumi


Mengitari matahari


Merangkaikan waktu


Tahun-tahun berlalu


Namun cintaku


Takkan pernah berubah


Masa demi masa


Kita berdua


Takkan pernah berpisah


Baur dalam cinta


Berlayar bahtera


Mengharungi samudra


Mencapai tujuan


Nun di pantai harapan


Badai dan gelombang


Yang datang melintang


Takkan merubah


Haluan cita-cita


Padamu nahkoda


Ku tambat kan cinta


Bawalah daku


Ke pulau bahagia" Satu voice lagu di kirimkan kepada ku membuat aku tersenyum senang. Yah lagu ini memang pernah kami bawa kan saat pelantikan kami dulu di LPK Wiyatamandala di mana saat itu aku lagi sedang patah hati nya karena di tinggal oleh kekasih ku menikah dengan gadis lain. Dan dia lah datang mengobati luka ku itu hingga mulai sembuh dan bisa melupakan kesedihan itu.


"Terima kasih atas hiburan nya" Balas ku.


"Jangan bersedih cinta. Percaya lah aku akan selalu ada untuk mu. Tuhan telah mempertemukan kita dengan cara yang unik. Aku yakin kita akan bisa bersama dengan cara yang unik pula. Maaf kan aku jika aku telah mengecewakan mu. Tapi tiada maksud ku untuk melakukan hal itu. Aku tidak bisa memilih antara kamu dan dia" Pesan nya lagi.


"Nikmati bagai air yang mengalir. Aku tidak memaksa mu untuk memilih karena aku tahu aku seperti apa" Balas ku lagi.


"Apa pun kamu, dan bagaimanapun keadaanmu aku akan tetap menerima kamu apa adanya" Pesan Dika lagi.


"Terima kasih, semoga saja apa yang kamu katakan itu akan kamu lakukan setelah kamu mengetahui segalanya" Ujar ku lagi.


"Karena itu coba lah untuk bercerita kepada ku. Aku mau hubungan kita terbuka dan tidak ada yang di tutupi"


"Nanti, suatu hari nanti pasti akan aku ceritakan segala nya ketika waktu nya sudah tepat" Balas ku.


"Ya sudah, aku mau tidur dulu. Selamat malam"

__ADS_1


"Oke cinta, selamat malam untuk mu kekasih hati" Balas Dika dengan emod love.


__ADS_2