
Tahun baru telah tiba. Yah meski tahun baru liburan, aku mendapat tugas untuk piket di kantor. Maklum saja lah mak aku kerja nya di instansi pemerintahan di bagian perkapalan begitu. Setiap hari ada aja kapal yang berangkat dan hilir mudik di laut tempat perbatasan wilayah kerja ku. Jadi aku harus desposisi surat-surat kapal itu untuk memberi izin mereka untuk berlayar. Aku hanya mencatat nya saja sih mak. Setelah di catat dan ku berikan kepada atasan ku untuk di tanda tangani sebagai persetujuan
Rencana nya sih aku mau pergi ke Bengkalis ya untuk bertemu dengan Dodi. Orang yang paling aku rindui. Namun karena ada tugas negara yah terpaksa deh tidak jadi.
"Kemana sih Dodi, sama sekali tidak ada kabar nya" Batin ku bertanya-tanya. Feeling ku semakin tidak enak kepada nya. Sudah dia berubah akhir-akhir ini, sekarang malah langsung tidak ada berita. Bahkan saat aku mengirim pesan kepadanya dan mencoba untuk menelponnya tetap saja dia tidak merespon pesan dan telepon dariku.
"Kenapa ya dia malah gak ada kabar berita nya. Sedang apa sih dia sebenar nya?" Batin ku terus gelisah. Sungguh di kantor itu aku merasa sangat gelisah karena terus saja memikirkan dia. Bisa di katakan raga ku di kantor tapi hati dan pikiran ku melayang entah kemana.
"Kenapa firasat aku mengatakan kalau dia sedang bersama gadis lain ya?" Batin ku lagi bertanya-tanya.
Aku pun membuka sosial media ku berupa facebook menggunakan laptop kantor. Ku buka profil facebook Dodi. Mata ku membulat ketika aku melihat hal itu. Betapa sakit nya hati aku. Foto nya bersama mantan kekasih nya yang kata nya sudah putus itu. Ternyata mereka sedang liburan di istana Siak Sriindrapura.
Beberapa air bening kini mengalir di pipi ku. Sungguh hati ini terluka ketika melihat foto mereka.
"Ternyata ini alasan kamu berubah Dodi. Ternyata ini sebab nya kamu tidak memberikan kabar kepada ku. Sungguh tega diri mu kepada ku Dodi. Kau permainkan perasaan ku" Batin ku mengusap air mata yang sempat mengalir.
Begini kah resiko nya menjadi orang ketiga selalu terluka, selalu menangis mengeluarkan air mata. Tapi bukankah kata nya mereka sudah putus. Karena itu aku mau menjadi kekasih hati nya.
Dinding kepercayaan yang telah ku bangun begitu kokok nya kini telah hancur seketika melihat foto itu di status facebook Dodi.
Aku menutup kembali facebook itu. Tidak bisa aku melihat foto mereka dalam waktu yang lama. Semakin lama, semakin sakit rasa nya hati ini.
***
Sepulang dari kantor aku pergi mencari udara segar bersama keponakan ku Raihan anak bungsu kakak ku.
"Kemana usu?" Tanya nya.
"Jalan-jalan aja. Mencari udara segar. Nanti kita beli jajanan ya" Ucap ku lagi. Yah aku memang dekat dengan anak bungsu kakak ku itu. Secara dari bayi aku merawat nya. Ketika kakak ku pergi ikut pengajian, dia tinggal bersama ku. Pernah sekali dia tinggal bersama ku selama dua hari karena abang nya waktu itu masuk di Rumah sakit Bengkalis dan harus di rawat. Untung saja dia minum susu formula jadi nya yah tidak terlalu pusing aku merawat nya. Dia juga anak nya tidak rewel. Jadi yah aku gampang merawat nya. Sepuluh pun anak bayi seperti dia aku sanggup merawat nya. Secara rewel nya hanya haus, ketika dia buang besar itu saja. Setelah di kasih minum atau aku bersihkan kotoran nya, dia kembali tertidur.
Kami mengukur jalan menggunakan motor ku bersama Raihan. Bocah yang berusia lima tahun itu selalu bersama ku. Saat kami mau pulang betapa kaget nya aku melihat laki-laki yang sangat aku kenali berboncengan menggunakan motor sang cewek nya. Yah mereka Dodi dan Fida mereka seperti nya baru pulang dari Siak. Di mana jika kita mau menuju ke kota Siak dari Bengkalis, maka harus melewati Sungai Pakning terlebih dahulu.
Aku membulatkan mataku melihat mereka lewat di depanku. Namun mereka berdua tidak menyadari keberadaan ku karena aku yakin mereka sedang mengejar kapal peri untuk menyeberang ke kota asal mereka yaitu Bengkalis.
"Ya ampun ternyata mereka baru pulang?" Batin ku. Hati ku terasa teriris melihat mereka berdua. aku mencoba untuk mengejar mereka. Namun tidak bisa karena aku takut untuk mengebut motorku.
"Raihan kita pulang saja ya" Ujar ku dengan lemah.
"Tapi kita belum beli jajanan" Jawab bocah itu cemberut.
"Ya sudah kita beli jajan dulu ya setelah itu kita pulang" Ujar ku lagi membawa Raihan ke sebuah warung untuk membelikan jajanan yang dia minta.
Seketika aku kehilangan semangat untuk apa pun. Mau ngapa-ngapain sudah tidak ada semangat nya.
***
"Cinta, lagi ngapain?" Pesan dari Dodi masuk ke dalam ponsel ku.
"Emang nya penting aku lagi ngapain?" Balas ku dengan kesal.
"Kok gitu sih jawab nya cinta?" Seperti orang tidak bersalah saja ini bocil. Yah tentu saja dia bocil dia muda dua tahun dari ku. Karena dia terlalu cepat masuk sekolah, maka nya kami bisa bertemu di tempat kursus yang sama.
"Dari mana saja seharian ini?"
"Ada kok cinta. Gak kemana-kemana"
"Jangan berbohong. Jangan pinter bersilat lidah nanti tergigit lidah nya putus lo"
"Beneran cinta aku ada kok di sini"
"Enak jalan-jalan ke siak nya bersama sang mantan? Eh mungkin sudah balikan kali ya, atau gak pernah putus" Ujar ku lagi.
"Kenapa ngomong nya gitu sih cinta?"
"Masih gak mau mengaku? Di facebook itu foto siapa ya?"
"Oh itu bukan aku lo cinta yang memajang foto nya di status facebook nya"
"Tapi itu jelas di status mu. Nggak ada yang menandai di fb mu itu mau bohong sama aku ya? Kamu pikir aku bodoh apa?"
"Udahlah ngaku aja! Kamu masih sama dia kan?" Tambah ku lagi.
"Dia hanya meminta aku untuk menemaninya jalan ke Siak" Ujarnya.
"Terus kalau dia memintamu untuk balikan sama dia gimana? Kamu mau juga?"
"Kalau kamu bukan yang memasang foto itu, lebih baik kamu hapus foto itu" Ujar ku.
Bukan nya menjawab apa yang aku pinta, Dodi malah mengirimkan screenshot chat nya bersama Fida.
Ini bukti nya dia memintaku untuk menemaninya ke Siak karena dia takut mau pergi ke sana sendirian untuk mengambil barang.
Aku bukan memperhatikan isi chat mereka melainkan aku memperhatikan foto wallpaper di balik chat mereka tersebut. Di mana foto itu adalah foto Fida yang memakai baju berwarna pink dan dirias sepertinya foto itu diambil saat ia akan menampilkan tariannya.
"Wah, masih memakai wallpaper sang mantan? Berarti nggak pernah putus dong selama ini? Itu artinya kamu bohong dong selama ini sama aku?" Tanya ku.
__ADS_1
Aku pun mengirim screenshot yang udah dikirim tadi kepadaku dengan Fida.
"Masih bersama Dodi dek? Ternyata Dodi sayang banget ya sama kamu sampai-sampai dia memasang wallpaper chatnya foto kamu" Pesan ku kepada Fida.
"Kami gak pernah putus kok kak. Kemaren hanya bertengkar sebentar karena ada masalah sedikit" Ujar nya lagi.
"Oh gitu, bagus deh jika begitu. Dia sayang sama kamu, dan kamu juga begitu. Semoga langgeng" Ujar ku pada akhir nya.
Ting....
Pesan Dodi kembali masuk ke ponsel ku.
"Ngapain kamu kirim screenshot chat yang aku kirim ke kamu tadi kepada Fida?"
"Lo kenapa. Aku hanya ingin dia tahu bahwa kamu memang sayang kepada nya. Terbukti wallpaper chatnya itu foto dia" Jawab ku.
"Aku dan dia jadi kembali bertengkar"
"Lo bukan nya kamu bilang kalian sudah putus ya? Terus apa yang kamu takuti?"
"Sudah ya, aku dan dia masih bersama. Sekarang antara kita tidak ada apa-apa lagi" Ujar nya membuat aku tersentak.
Aku tersenyum membaca pesan itu.
"Ternyata kamu sudah mengakui nya. Selama ini kamu telah mempermainkan perasaan ku. Baik lah, tidak masalah. Aku akan menjauh dari mu" Batin ku.
"Maaf aku akan melakukan apa yang kamu minta. Jelas aku tidak akan menganggu kamu dan dia lagi" Balas ku.
Dengan deraian air mata aku hapus semua yang menyangkut dengan nya. Nomor ponsel nya, pin BBM nya pun aku hapus. Sungguh aku mempunyai tekat untuk melupakan nya. Karena selama ini aku sudah tersakiti dan di bohongi.
***
Hari demi hari berlalu meski hati ini terasa kosong dan sepi, namun aku melalui dengan sangat baik. Aku mencari kesibukan ku sendiri. Sepulang dari kerja, terkadang aku jalan-jalan dulu mencari angin. Maklum hati ini lagi galau jadi jika di rumah, akan semakin galau di buat nya. Malam nya aku di sibukkan dengan mengajarkan Dina dan teman-teman nya latihan drama.
"Yus, kamu di Pakning?" Tanya ku kepada sahabat ku itu melalui pesan singkat ku setelah sekian lama kami tidak bertemu.
"Iya, ngumpul yuk, sudah lama gak ngumpul kita" Ajak Yus.
"Yuk, kebetulan hari minggu ini. Kita cari pakis yuk buat sempolet" Ajak ku.
Sempolet itu makanan yang terbuat dari tepung sagu. Bentuk nya seperti papeda juga hanya saja dia di masak langsung dengan kuah nya dan menggunakan sayuran berupa pakis atau kangkung terus di beri ikan teri atau ebi sebagai perencah nya.
"Ayo, ayo. Ajak adek Siti"
***
"Semua bahan sudah tersedia sekarang mari kita memulai membuat nya" Ujar Yus.
"Oke, kita bagi tugas"
"Yus tolong haluskan cabe nya. Siti saring kan tepung sagu nya dan aku yang akan memasak nya" Ujar ku.
"Oke" Jawab mereka serentak.
Kami pun melaksanakan tugas kami masing-masing. Sudah hampir dua minggu aku dan Dodi sama sekali tidak ada saling memberi kabar. Aku lakukan sama ini karena aku mengabulkan permintaannya untuk tidak mengganggu kehidupannya dan juga pacarnya itu.
"Aku gak menyangka Dodi membohongiku selama ini" Cerita ku kepada Yus dan Siti setelah kamu selesai menyantap sempolet yang kamu buat tadi hingga ludes.
"Emang apa yang dia lakukan" Tanya Yus.
"Kalian tahu, selama ini Dodi dan Fida tidak pernah putus. Mereka masih mempunyai hubungan. Dodi telah membohongiku katanya mereka sudah putus ternyata tidak" Cerita ku dengan sedih.
"Ya ampun gak menyangka aku bang Dodi bisa setega itu" Jawab Siti.
"Ternyata, wajah polos tidak berdosa seperti itu tidak menjamin kebaikannya ya" Tambahnya lagi.
"Aku juga tidak menyangka dia seperti itu kepadaku. Padahal dia lah yang selama ini mengobati hatiku yang sedang hancur karena dikhianati oleh pacar lamaku itu dan ditinggal nikah olehnya. Bukannya dia tidak tahu betapa hancurnya hati ini perlahan dia mengobati lukaku ini. Tapi setelah luka ini mulai sembuh, malah dia yang menggoreskan kembali luka di hati dengan kebohongannya. Aku sangat kecewa kepada dia" Ujar ku dengan menitikkan air mata ku.
"Sudah jangan terlalu di pikirkan. Masih ada kami kok di sini yang selalu ada untuk mu kak" Ujar Siti memberi semangat.
"Terima kasih ya, kalian begitu baik kepadaku dan tolong Doakan aku supaya aku bisa melupakannya secepat nya"
"Itu lah nama nya sahabat selalu ada di saat terluka" Ujar Yus.
Kami bertiga saling berpelukan penuh kehangatan.
"Ini anak-anak, ngapain juga berpelukan seperti ini?" Ujar ibu ku tiba-tiba mengejutkan kami yang sedang saling memberi semangat.
Yah kami memasak sempolet itu di rumah ku. Tentu saja ada ibu ku di rumah ku itu.
"Ibu, ngagetin aja" Ujar ku melepaskan pelukan kami.
"Ngapain sih pakai acara peluk-pelukan seperti itu?"
"Kami sedang melepaskan rindu bu, sudah lama kami tidak bertemu" Jawabku kepada Ibuku itu.
__ADS_1
"Lo, katanya Kalian mau buat sempolet mana dia? Sudah habis?"
"Oh masih ada kok buk di dalam wajan itu. Ibu mau? Aku ambilkan ya" Jawab ku.
"Boleh, boleh" Jawab ibu ku.
Aku mengambil sepiring sempolet untuk ibuku dan ku berikan kepada wanita paruh baya itu.
Ibu ku langsung mencicipi sempolet yang kami buat tadi.
"Ya Allah, berapa kilo kalian menaruh cabe di dalam sempolet ini"
"Kenapa buk?" Tanya Yus.
"Sangat pedas, perutku jadi perih lantaran mau makan sempolet kalian. Baru satu suap saja sudah seperti ini apalagi mau menghabiskan satu piring ini" Keluh ibu ku lagi.
"Ini, ini ambil balik nak. Ibu tak mau sempolet pedas seperti ini" Ujar ibu ku lagi.
"Aduh, aduh mana air... Pedas sekali" Ujar ibu mu mencari air putih untuk di minum.
"Ini nama nya sempolet untuk membunuh ni" Ujar ibu ku lagi setelah selesai meneguk air putih.
"Ya ampun buk, tidak lah pedas banget sempolet nya" Jawab Siti.
"Kamu yang suka pedas itu iya lah merasa gak pedas. Bagi ibu ini sudah sangat pedas. Berasap telinga ibu memakan nya" Ujar Ibuku meninggalkan kami yang masih berada di dapur dan kembali menuju ruang tv untuk menonton film kegemarannya.
Kami bertiga hanya tersenyum mendengar ocehan ibu ku. Yah karena ibu ku memang sudah lama mengidap sakit magh jadi dia memang tidak bisa makan yang pedas-pedas karena itu akan membuat sakit magh nya kembali kambuh.
"Kamu lama di sini nya Yus" Tanya ku.
"Iya, Kebetulan aku mendapatkan pekerjaan sebagai penitipan anak"
"Dimana?"
"Digawar-gawar"
"Alhamdulillah kalau kamu sudah mendapatkan pekerjaan. Dengan begitu, kita akan sering dong ngumpul bersama lagi" Ujar ku senang.
"Iya, alhamdulillah. Tempat penitipan anaknya juga baru buka sih beberapa waktu yang lalu. Jadi belum terlalu ramai anak di sana. Kami menjaganya hanya dua orang saja"
"Gak apa-apa. lama-kelamaan juga pasti akan ramai yang menitipkan anaknya di san kalau mereka sudah mengetahui tempat tersebut. Ini kan baru buka jadi wajarlah baru sedikit" Ujar ku.
"Iya benar tu kak. Yang penting saat ini kakak Yus harus bersabar dan kami doakan semoga tempat penitipan tersebut pada akhirnya akan ramai anak-anak yang dititipkan di sana" Ujar Siti pula.
"Aamiin" Ujar kami bertiga serentak.
"Malam ini apa Dina dan teman-teman nya latihan drama?" Tanya Siti.
"Iya hari ini jadwal mereka latihan"
"Malam nanti kita ngumpul lagi yuk. Suntuk sih gak ada kalian" Ujar ku.
"Boleh, boleh" Jawab mereka serentak.
***
Aku memperhatikan drama yang Dina dan teman-temannya sajikan. Mereka menampilkan drama yang berjudul Dedap Durhaka tapi versi komedi. Cerita dedak durhaka ini sama seperti cerita legenda Malin Kundang. hanya saja tidak durhaka ini masih memiliki ayah dan ibu. Dan di mana ayah dan ibunya itu berubah menjadi mangga atau bahasa daerahnya mempelam yang satunya berbuah manis dan yang satunya lagi berbuah masam. konon katanya yang berbuah masam itu adalah ayahnya yang tidak mau memaafkan kesalahan di mana Dedap tidak mau mengakui kedua orang tuanya yang miskin itu adalah orang tua kandungnya. sedangkan mempelai yang manis itu adalah ibunya yang telah memaafkan kesalahan putranya itu.
"Dek, beli cemilan yuk. Dari pada kita duduk kosong seperti ini gak ada cemilan" Ujar ku setelah para anak didik ku pulang ke rumah mereka masing-masing. Dan yabg tersisa hanya aku, Siti dan Yus saja. Yah seperti biasa nya kami duduk di depan teras rumah ku. Biasalah namanya juga anak muda mau kali curhat-curhatan.
"Oke" Ujar Siti yang memang rajin jika di suruh ini itu.
"Ini uang nya. Terserah mau beli apa. Yang penting banyak dan mengenyangkan" Ujar ku memberikan uang dua puluh ribu kepada Siti.
"Beli keripik yang harga nya seribuan dan lima ratusan aja dek. Bisa dapat banyak itu" Ujar Yus.
"Jangan kamu beli keripik aja, minuman juga"
"Iya, iya aman" Jawab Siti langsung menancapkan sepeda motor ku untuk menuju warung yang tak jauh dari rumahku.
"Ini dia cemilannya sudah tiba" Ujar Siti menenteng plastik cemilan yang dibelinya tadi setelah Ia kembali ke rumahku.
"Wah, ayo-ayo di makan" Tawar ku kepada Yus dan Siti.
"Eh, ternyata masih ada acara nya lagi ya" Ujar Ibu ku yang tiba tiba nongol dari pintu depan rumahku.
"Iya buk ini acara makan memakan. Ibu mau?" Tanya ku kepada ibu ku.
"Mana, mana?"
"Eh ternyata dia mau juga" Canda ku kepada ibu ku.
"Ya mau lah, rejeki jangan di tolak musuh jangan di cari" Ujar ibu ku.
"Ini pilih aja ibu mau yang mana" Ujar ku lagi. Ibu ku pun mengambil beberapa cemilan yang ku belikan tadi dan kembali masuk ke dalam rumah ku.
__ADS_1