
Suara tamparan kembali terdengar dalam ruangan itu. Karina kembali meringis. Tubuhnya bergetar saat rasa sakit menjalar di pipinya. Namun, rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit dalam hatinya.
Netranya yang berkaca menatap laki-laki di depannya itu penuh amarah. Rasa sesal menjalar karena pernah menganggap laki-laki itu sebagai malaikat penolong setelah kedua orang tuanya meninggal.
Selama ini, meskipun seringkali perlakuan mereka tidak adil, Karina selalu mengalah. Kenapa dia selalu mengalah? Jawabannya tentu saja karena Karina merasa harus berterima kasih karena paman dan bibinya telah bersedia merawat dan memberinya tempat tinggal.
Karina merasa selama ini telah menjadi benalu bagi keluarga sang paman. Gadis itu bahkan seringkali meminta maaf pada paman dan bibinya sekaligus berterima kasih karena selama ini sudah berbaik hati merawatnya.
Namun, Karina sungguh tidak menyangka setelah usianya hampir menginjak dua puluh tahun, sandiwara antara paman dan bibinya akhirnya terbongkar.
Karina mengetahui kalau ternyata rumah beserta isinya juga aset-aset yang dimiliki oleh sang paman ternyata adalah milik orang tuanya. Harta warisan yang seharusnya adalah miliknya.
Karina juga baru mengetahui kalau perusahaan yang dipimpin oleh sang paman adalah perusahaan milik orang tuanya sebelum kedua mereka berdua meninggal.
Perusahaan itu akan menjadi milik Karina setelah gadis itu menikah. Oleh karena itulah, sang paman akhirnya memutuskan untuk menikahkan Karina secara paksa. Laki-laki tua itu ingin menguasai perusahaan dan aset lainnya yang telah diwariskan untuk Karina.
Benar-benar serakah!
Sang paman bahkan sudah memilih pria yang akan menjadi calon suami Karina. Lelaki paruh baya yang sudah membayarnya mahal untuk mendapatkan keperawanan Karina.
"Aku tidak mau menikah! Sampai kapanpun aku tidak akan menikah dengan lelaki tua itu!" Karina berteriak di depan Damar. Wanita itu bahkan tidak merasa takut sama sekali jika sang paman kembali marah dan menamparnya.
__ADS_1
"Aku tahu, paman menikahkanku dengan pria itu agar perusahaan dan semua aset milik papaku jatuh ke tangan paman bukan?" Karina menatap sinis ke arah sang paman yang terlihat sangat terkejut.
"Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kamu bohongi seenaknya, Paman. Aku bukan lagi gadis kecil yang seringkali merasa bersalah dan selalu mengalah pada kalian saat kalian semua selalu menyudutkanku dengan alasan merawatku!" Karina masih menatap tajam pada Darma.
"Dulu aku mengira kalau kalian tulus menyayangiku. Kini, aku tahu kalau kalian hanya memanfaatkan aku agar kalian bisa mendapatkan apa yang kalian inginkan!"
"Karina!" Damar membentak Karina. Meskipun semua yang dikatakan oleh Karina adalah benar, tetapi pria paruh baya itu tetap tidak terima.
"Kenapa? Bukankah apa yang aku katakan benar, Paman? Selama ini Paman merawatku karena Paman ingin menguasai harta kedua orang tuaku!" Karina kembali berteriak di depan Damar.
"Cukup, Karina! Semua yang kamu katakan memang benar. Aku ingin merebut semuanya darimu! Semua harta yang dimiliki orang tuamu seharusnya adalah milikku bukan milikmu!" Suara Damar menggema.
"Namun, biar bagaimanapun, papamu adalah kakakku. Meskipun kami tidak sedarah, tetapi seharusnya papamu memberikan semua harta yang dia milikinya itu untukku, bukan untukmu! Seorang gadis kecil yang bahkan tidak pernah melakukan apa pun untuknya!" Damar menyorot tajam ke arah Karina.
Sementara itu, Karina terkekeh mendengar penuturan Darma.
"Paman ini aneh. Aku adalah anak papaku, tentu saja semua harta papaku akan jatuh ke tanganku karena aku adalah pewarisnya. Putri satu-satunya papaku!"
"Aku tidak akan pernah memberikannya padamu sepeser pun karena semua itu adalah milikku, Karin!" Damar bersikeras, sedangkan Karina semakin tertawa.
"Paman benar-benar sudah dibutakan oleh harta."
__ADS_1
"Terserah apa katamu, Karina, yang jelas, kamu harus segera menikah dengan lelaki pilihan paman."
"Aku tidak akan menikah!"
"Kamu tidak punya pilihan, Karina. Suka atau tidak, besok pagi kamu harus menikah!"
"Sudah aku bilang, aku tidak akan menikah!"
"Kau!" Tangan Damar kembali terangkat ingin menampar Karina, tetapi, suara seseorang dari luar membuat tangan Damar terhenti di udara.
"Hentikan! Sekali lagi kau menyentuhnya, aku tidak akan segan mematahkan tanganmu!"
BERSAMBUNG ....
Sambil nunggu Author update lagi, yuk mampir di cerita punya temen Author.
Menikah dan membangun rumah tangga harmonis hingga maut memisahkan merupakan impian setiap orang. Begitu pun dengan Tsamara Asyifa Gibran. Namun, bagaimana jadinya bila sang suami tidak pernah sekalipun mencintai wanita itu dan belum bisa move on dari mantan kekasih?
Akankah Tsamara terus mempertahankan rumah tangganya bersama Bimantara atau malah membuka hatinya untuk Yudistira?
__ADS_1