
Aku ingin menjadi cahaya jingga di ufuk barat mencari sesuatu yang
meredupkan masalah-masalah yang menggerayangi otakku,
aku belum sedewasa itu untuk mengerti pikiran orang
dewasa..... sungguh aku tidak mengerti.
Sore itu seperti biasa aku pulang tak ada yang menyambutku karena
semenjak kecelakaan itu statusku menjadi anak tunggal dari pasangan bapak Arwan
yutiar dan Wisma Aurata. Mereka sibuk masing-masing dengan pekerjaannya iya
bapakku seorang kantoran yang produksi bahan tokoh bangun dan ibuku seorang guru
SD sekaligus guru privat umum bahasa inggris jadi jelas mereka akan pulang
nanti jam 8 sampai jam 10. Aku ada pembantu tapi hanya pagi hari karena tidak
banyak yang akan di urus terutama aku sudah 17 tahun, yang di urus hanya
mencuci baju, menyeterika, memasak dan menyapu setelah itu dia pulang. Orangku
menganggap aku sudah dewasa bisa menghadapi hari-hariku yang seperti ini sampai
saat ini padahal jujur aku sangat takut dan sangat terpukul karena kehilangan
dia yang sudah aku anggap sebagai malaikat pelindungku tapi aku tau ini bukan
lah kuasaku tapi kehendak sang pencipta. Dengan muka murung aku melangka ke
meja makan bertujuan untuk makan, suasana sunyi aku duduk sendiri sambil
memakan makanan yang sudah aku ambil. Aku melihat ruang kosong dan luas, ini
barang tak ada yang berpindah dari hari ke hari dan dari pagi sampai bertemu
lagi di pagi, jam menunjukan jam 7:30 tapi aku merasa waktu seakan sudah jam 10
malam, aku terus menginginkan hari esok cepat datang itu lebih baik dari tempat
kosong ini. Setelah makan aku langsung ke kamar dan langsung belajar ke meja
belajar sesaat aku membenahkan tasku untuk memeriksa apakah ada pekerjaan rumah
yang harus aku selesaikan tapi ujung-ujungnya malah ngerjai catatan karangan
novel rancanganku. Namun rasa bosan menghampiriku, dikarenakan itu aku putuskan
untuk tidur, aku yakin meraka walaupun sudah pulang pasti sibuk masing-masing
lalu setelah itu tidur tanpa tau keadaan anaknya ini, bagaimana setelah di
pulang ? mungkin jika aku hilang pasti meraka tidak mencari dan pasti baru
sadar esok pagi ahhhh sudah lah jangan berharap jadi puteri manja nom meskipun
aku disini anak satu-satunya sekarang tapi tak dapat merubah suasana rumah yang
sekarang sepi menjadi penuh ke harmonisan.
Ibu mana mbok, kok gak kelihatan ( mengarah ke
mbok Susi yang sedang memasak) belom pulang den, aden lapar? Perlu mbok siapkan
makan soalnya kata ibu makan ajah duluan soalnya ibu masih lama, ada masalah di
kantor pusat perpajakan, oh iya den kata Warno aden tadi pergi gak tau kemana
pas Om Warto jemput aden. Oh itu mbok ,,,,, aku tadi coba jalan-jalan di
sekolah sama sekitar sini kan tempat ini masih rasanya agak asing jadi perlu
adaptasi, ya udah mbok ke kamar dulu aku juga gak lapar jadi mbok ajah yang
makan ( berlalu pergi menuju kamar) aku sangat menghargai mbok Susi sudah aku
anggap nenek sendiri karena dia yang mengasuh aku di Jakarta sebelum aku pindak
ke Amerika dan aku memutuskan tinggal disini itu juga karena aku tinggal dengan
Mbok Susi yang tinggal sendiri di sini dan tak mempunyai keluarga. Di kamar aku
memeriksa tasku dan sejenak aku termenung dengan foto yang terpajang di depan
hadapanku dan ini membuat aku sedih dan takut, jujur juga aku sangat-sangat
rindu dengan dia. Iya dulu saat aku di Jakarta aku mempunyai dua sahabat namun
aku paling dekat dengan Dika Oktara kami bertiga masuk dalam satu
ekstrakulikuler olaraga yaitu basket karena itu kami cukup populer tapi itu
semua yang menghancurkan persahabatan kami dan membuat aku harus pindah dan
mencoba melupakan masa SMA bersama mereka. Emmmh uhhhh lebih baik aku tidur.
Ahhhhh.......(Panca dan Nom terbangun secara bersamaan) mimpi
tadi,,,ah...mmhhh.... mimpi yang terasa nyata tapi gak masuk akal gak mungkin
aku berlari tanpa tau di depan ku jurang, setelah itu aku mati gitu. (melihat
jam dinding yang menunjukan pukul 6 :45) ya ampu udah jam segini ajah lebih
baik aku mandi dan bersiap-siap. ( di tempat Nom) itu mimpi kok serem
banget...itu anak gila...sampai-sampai masuk mimpiku. Ahhhh...... ini yang
lebih gila udah jam segini apa cukup untuk mandi dan siap-siap ya ampun, telat
nih nanti aku ( 30 menit kemudian ) udah gak ada waktu, seadanya deh aku dandan
dan gak akan sempat sarapan (dek gak makan dulu seru mbg Yani pembantu yang
hanya ada di pagi hari) udah gak sempen mbg duluan iya, letakan ajah kunci di
__ADS_1
tempat biasa aku pergi ya mbg. Untung ajah gerbang belum di tutup kalau enggak
bakal ribet harus menghadap guru dan di kasih tugas, mungkin kali ini
keberuntungan ada padaku. ( berjalan menuju kelas) itu kan anak sombong itu tapi
di mimpiku di gak kelihatan sombong melainkan rapuh,,,,,ahhhh cukup Nom,,,, itu
kan Cuma mimpi kalau kata orang itu hanya bunga tidur jadi jangan
sangkut-sangkutkan dengan kisahnya ahhh malah kebawak imajenasiku ( berpikir)
maklum pemikiran calon seorang penulis fiksi (ngoceh sendiri).Saat di kelas aku
terus memerhatikan dia, aku tak tau tapi pandanganku tersita olehnya
seakan-akan kalau mimpi itu benar. Freda .....Freda ( suara keras) iya bu ada
apa ? kamu dari tadi tidak memperhatikan saya malah melamun ajah, perhatikan
kalau tidak saya suruh keluar, kamu mengerti ? iya bu jawabku lirih. Istirahat
itu aku keluar kelas bersama Ani teman sebangkuku dengan muka kusam tanpa
senyuman hanya berjalan perlahan, udah lah Nom jangan sedih lagi biasa di marah
guru ( memegang pundakku dan menyemangatiku dengan senyumnya itu) oke Ani, ya udah kita kanti yok ( di kolidor kelas menuju kantin) itu Panca mau kemana kok arah tangga menuju ke atap gedung
sih? Aku harus ngikuti dia ( ada dalam pikiran ) Ani aku ada sesuatu yang aku
lupa bawak, kamu duluan ke kantinnya nanti aku susul kalau terlalu lama aku ke
sana makan ajah duluan oke, aku pergi dulu iya. Oke aku kantin dulu (
melanjutkan perjalannya ke kantin ). Aku pun mengikuti Panca sesampai di sana
aku tidak melihat satu orangpun apa di bunuh diri seperti ada dalam mimpiku
untuk memastikannya aku memeriksa tempat bawah dasar dari atas gedung ini dan
hasilnya nihil, apa mungkin aku salah lihat ya sudah lah aku lebih baik kembali
saat aku berbalik menuju tangga untuk turun tiba-tiba dia muncul membuat aku sangat
kaget seperti melihat hantu . ,,,,ahhhhh,,,ya ampun kamu kok bisa tiba-tiba muncul sih ( muka espresi
kaget ). Hahaha....kok malah kamu yang nanya seharusnya aku yang tanya
pertanyaan itu kenapa kamu dari tadi pagi selalu memperhatikan aku sampai-sampai
aku merasa seperti di intai sama seorang penguntit ( melangka perlahan-lahan
menujuku ) kenapa diam, gak bisa jawab padahal kalau aku ingat baru kemaren aku
kenal sama bertemu denganmu tidak mungkinkan dalam sehari kau langsung dendam
padaku (aku terpepet ke dinding tangga dan di hadapanku mukanya seakan begitu
mengerikan seperti hantu gentayangan dan aku hanya bisa terdiam menstabilakan
perlahan mendekat denganku alangka terkejutnya aku sampai menutup mata, aku
sangat takut kalau dia akan berbuat yang tidak bermoral di sekolah ini ( berbisik ke dekat telinga ) kau suka padaku iya (menjauh dariku sambil tersenyum tipis lalu melangka ke bawah tangga )
perasaan aneh apa ini ? kenapa rasanya aku seperti di permalukan, ihhhh dasar cowok sombong aku bener-bener gak terima, aduh gimana nih mau di taruh nama mukaku saat ketemu dia nanti di
kelas.
Dasar cewek aneh (tersenyum saat turun tangga ) ekspresinya seakan aku
zombie yang siap untuk memangsa dia, salahnya dari tadi pagi memperhatikanku
dengan tatapan anehnya aku kerjai lah dia, aku yakin ada yang menggagu dia
namun karena belum dekat dia tidak berani menanyakannya secara langsung, tapi
apa yang barusan terjadi padaku aku tersenyum dengan leluasa tanpa
berpura-pura, dan rasa tenang apa ini yang kudapatkan seperti saat aku
memenangkan turnamen basket bersama Dika dan Ando namun setelah itu sudah lama aku tidak merasakan itu, menarik sekali ku tunggu hadiah apa lagi yang akan aku dapatkan setelah bertemu dengan
dirimu Freda.Aku melihat dia sedang memalingkan muka tapi aku tak tau itu
karena di marah dan kesal denganku atau malah malu. Setelah selesai jam sekolah
aku tidak berniat langsung pulang karena percuma juga di rumah pasti hanya mbok
Susi yang usianya saja sudah cukup tua mana nyambung aku ajah ngobrol apalagi
masalah sekolah, langkah kakiku menuju lapangan basket dan sebelum arah ke
lapangan basket aku melewati aulah, tanpa aku sadari aku penasaran dengan cewek
itu, aku melihat dia menari terlihat cantik dan sangat mempesona astaga apa yang sedang aku pikirkan (
geleng-geleng). Kekecewaan menghampirku karena saat sampai di lapangan basket
ternyata sudah di pakai untuk latihan, yang membuat aku tertarik ada cowok yang
di sukai cewek itu sebenarnya dia itu bertugas sebagai apa sih? Kalau memang
dia ikut bertanding mengapa dia tidak ikut kelapangan ? (dalam pikiranku )
permisi ! cowok yang ada di situ (menunju) apakah dia juga termaksud anggota
basket ? ( bertanya dengan seorang penonton yang duduk di sebelahku ). “ kamu
gak tau dia siapa? (tersenyum untuk ramah tama ) dia itu panitia dari
organisasi OSIS jadi dia yang akan mengawasi semua kegiatan untuk mempersiapan
lomba, jadi dia termaksud peran yang penting untuk menertipkan jadwal latihan
dan pendaftaran sekaligus dana yang akan di ajukan ke sekolah untuk kepentingan
lomba dan jika menang 30 % itu akan masuk dalam kas organisasi OSIS. Dia sangat
__ADS_1
terkenal apa lagi di kaum hawa tapi bukan karena pekerjaannya itu tapi karena
dia juga baik, ramah dan royal, kamu pasti anak baru iya baru tahu, Aku pun
membalas (anggukan). Waktu seakan cepat berlalu awan di langit mulai meredup
dan menandakan ku harus pulang kembali ke rumah itu. Di perjalanan ku melihat
Freda ada di depanku ini bukan kebetulan karena rute jalan kami memang searah
jadi tak heran aku bertemu dia saat berjalan pulang tapi herannya dia berbelok
ke arah bukit yang arahnya berlawanan ke arah kami pulang karena penasarannya
aku mengikutinya setelah sampai di puncak bukit kecil itu aku melihat
pemandangan indah dan membuat aku sekejab terpesona dan sejuk. Namun aku merasa
hawa-hawa aneh dan benar dia sedang menatap aneh padaku dan mulailah dia
mengoceh hal yang membuataku memutar otakku untuk mencari jawaban hasil
pertanyaan yang sudah bisa aku tebak. “ kau !!!! ( muka heran ) kenapa kau ada
di sini, kau mengikutiku ?” akupun menjawab, tidak !! apa untungnya aku
mengikutimu sekarang aku hanya ingin melihat matahari terbenam di dekat sini
tapi terlihat jelas ( menunjuk matahari yang mulai terbenam ).
Setelah aku selesai latihan, bergegaslah melangkah menujuh sepedahku
karena aku ingin sekali melihat matahari terbenam di tempat biasanya aku
kunjungi kalau aku sedang ingin dan sedang sedih, beberapa saat mendayung
sepedaku akhirnya aku sampai di dekat bukit itu namun untuk mencapai puncaknya
aku harus sedikt melangkah “ Akhirnya sampai juga dan belum telat karena
matahari terlihat belum terbenam terasa sejuk dan damai angin terus menerpaku
tapi aku mendengar suara, anehnya dibelakangku sudah ada sosok yang membuat aku
bingung “ kau !!!! kenapa kau ada di sini, kau mengikutiku ? tapi dugaanku
salah dia juga ingin melihat matahari terbenam kerena itu aku diam saja, aku
duduk di sebuah batu besar yang memang berbentuk seperti kursi panjang. Panca !
tidak mau duduk, bukannya lebih nyaman kalau kau nikmati matahari terbenamnya
saat duduk ( duduk di batu ) diapun mendekat dan duduk di sampingku namun masih
ada jarak yang tersisa dari posisiku duduk dan posisinya saat ku melihat warna
jingga yang memancarkan membayangi angan-angan dan warna yang membuat aku
tenang perlahan memudar, akupun teringat dengan percakapan yang tak sengaja aku
dengar dari kantor sekolah yang mendebatkan tentang debut internasional
perlombaan balerina “ Ibu Askar ! apa ibu benar-benar akan membuat murid-murid
berlomba balerina! Ibukan dengar juga kalau ada murid berbakat dari indonesia
yang meninggal saat perlombaan Internasional di Amerika, meskipun itu bukan
murid dari sekolah kita setidaknya itu jadi pelajaran untuk sekolah kita tapi
kenapa Ibu membuat murid berlomba Baletrina ini.Maaf pak kepala sekolah saya sebagai
guru ingin murid-murid saya berprestasi dan bisa mengembangkan bakatnya dalam
bidang balet, soal balet yang berbakat itu bukannya itu karena murni kecelakaan
ini semua tidak adil dengan satu kali gagal bapak akan menghancurkan bakat dan
keinginan murid-murid yang ingin berkembang menjadi bintang yang bisa bersinar
di langit yang sangat luas ini maaf kan saya pak kepala sekolah tapi saya akan
mengurus pertandingan balerina samapai
Internasional. Karena perkataan itu aku teringat oleh kakak yang selalu aku
sayangi, sangat-sangat membuat perasaanku menjadi campur aduk antara sedih,
takut dan penasaran.Tapi tekatku masih sama aku akan berjuang sampai
Internasional dan mencari tahu tentang kakakku dengan senjata tarian balet yang
aku pelajari darimu saatku kecil. Aku mendengar suara yang mengusikku dan
perlahan aku kembali dari pikiranku yang begitu rumit aku melihat bayangan
hitam namun bayangan itu memanggiku ( akupun tersadar kalau dia ada di depanku
berdiri tegap menutupi warna jingga yang tersisa ) Freda... hei Freda apa kau
akan duduk di sini sampai malam, ternyata kau melamun aku merasa bingung di
sini kau mau melihat matahari terbenam atau malah menghabiskan waktu hanya
dengan melamunn seru Panca (menghadapku
dan menatapku ), tidak ! Aku berdiri dari tempat duduk ku dan berjalan menuruni
bukit tanpa berkata sepata kata apapun hingga Panca sampai gangnya kami hanya
diam.
__ADS_1