TAKDIR

TAKDIR
Jingga yang Hilang


__ADS_3

            Aku ingin menjadi cahaya jingga di ufuk barat mencari sesuatu yang


meredupkan masalah-masalah yang menggerayangi otakku,


aku belum sedewasa itu untuk mengerti pikiran orang


dewasa..... sungguh aku tidak mengerti.


        Sore itu seperti biasa aku pulang tak ada yang menyambutku karena


semenjak kecelakaan itu statusku menjadi anak tunggal dari pasangan bapak Arwan


yutiar dan Wisma Aurata. Mereka sibuk masing-masing dengan pekerjaannya iya


bapakku seorang kantoran yang produksi bahan tokoh bangun dan ibuku seorang guru


SD sekaligus guru privat umum bahasa inggris jadi jelas mereka akan pulang


nanti jam 8 sampai jam 10. Aku ada pembantu tapi hanya pagi hari karena tidak


banyak yang akan di urus terutama aku sudah 17 tahun, yang di urus hanya


mencuci baju, menyeterika, memasak dan menyapu setelah itu dia pulang. Orangku


menganggap aku sudah dewasa bisa menghadapi hari-hariku yang seperti ini sampai


saat ini padahal jujur aku sangat takut dan sangat terpukul karena kehilangan


dia yang sudah aku anggap sebagai malaikat pelindungku tapi aku tau ini bukan


lah kuasaku tapi kehendak sang pencipta. Dengan muka murung aku melangka ke


meja makan bertujuan untuk makan, suasana sunyi aku duduk sendiri sambil


memakan makanan yang sudah aku ambil. Aku melihat ruang kosong dan luas, ini


barang tak ada yang berpindah dari hari ke hari dan dari pagi sampai bertemu


lagi di pagi, jam menunjukan jam 7:30 tapi aku merasa waktu seakan sudah jam 10


malam, aku terus menginginkan hari esok cepat datang itu lebih baik dari tempat


kosong ini. Setelah makan aku langsung ke kamar dan langsung belajar ke meja


belajar sesaat aku membenahkan tasku untuk memeriksa apakah ada pekerjaan rumah


yang harus aku selesaikan tapi ujung-ujungnya malah ngerjai catatan karangan


novel rancanganku. Namun rasa bosan menghampiriku, dikarenakan itu aku putuskan


untuk tidur, aku yakin meraka walaupun sudah pulang pasti sibuk masing-masing


lalu setelah itu tidur tanpa tau keadaan anaknya ini, bagaimana setelah di


pulang ? mungkin jika aku hilang pasti meraka tidak mencari dan pasti baru


sadar esok pagi ahhhh sudah lah jangan berharap jadi puteri manja nom meskipun


aku disini anak satu-satunya sekarang tapi tak dapat merubah suasana rumah yang


sekarang sepi menjadi penuh ke harmonisan.


          Ibu mana mbok, kok gak kelihatan ( mengarah ke


mbok Susi yang sedang memasak) belom pulang den, aden lapar? Perlu mbok siapkan


makan soalnya kata ibu makan ajah duluan soalnya ibu masih lama, ada masalah di


kantor pusat perpajakan, oh iya den kata Warno aden tadi pergi gak tau kemana


pas Om Warto jemput aden. Oh itu mbok ,,,,, aku tadi coba jalan-jalan di


sekolah sama sekitar sini kan tempat ini masih rasanya agak asing jadi perlu


adaptasi, ya udah mbok ke kamar dulu aku juga gak lapar jadi mbok ajah yang


makan ( berlalu pergi menuju kamar) aku sangat menghargai mbok Susi sudah aku


anggap nenek sendiri karena dia yang mengasuh aku di Jakarta sebelum aku pindak


ke Amerika dan aku memutuskan tinggal disini itu juga karena aku tinggal dengan


Mbok Susi yang tinggal sendiri di sini dan tak mempunyai keluarga. Di kamar aku


memeriksa tasku dan sejenak aku termenung dengan foto yang terpajang di depan


hadapanku dan ini membuat aku sedih dan takut, jujur juga aku sangat-sangat


rindu dengan dia. Iya dulu saat aku di Jakarta aku mempunyai dua sahabat namun


aku paling dekat dengan Dika Oktara kami bertiga masuk dalam satu


ekstrakulikuler olaraga yaitu basket karena itu kami cukup populer tapi itu


semua yang menghancurkan persahabatan kami dan membuat aku harus pindah dan


mencoba melupakan masa SMA bersama mereka. Emmmh uhhhh lebih baik aku tidur.


        Ahhhhh.......(Panca dan Nom terbangun secara bersamaan) mimpi


tadi,,,ah...mmhhh.... mimpi yang terasa nyata tapi gak masuk akal gak mungkin


aku berlari tanpa tau di depan ku jurang, setelah itu aku mati gitu. (melihat


jam dinding yang menunjukan pukul 6 :45) ya ampu udah jam segini ajah lebih


baik aku mandi dan bersiap-siap. ( di tempat Nom) itu mimpi kok serem


banget...itu anak gila...sampai-sampai masuk mimpiku. Ahhhh...... ini yang


lebih gila udah jam segini apa cukup untuk mandi dan siap-siap ya ampun, telat


nih nanti aku ( 30 menit kemudian ) udah gak ada waktu, seadanya deh aku dandan


dan gak akan sempat sarapan (dek gak makan dulu seru mbg Yani pembantu yang


hanya ada di pagi hari) udah gak sempen mbg duluan iya, letakan ajah kunci di

__ADS_1


tempat biasa aku pergi ya mbg. Untung ajah gerbang belum di tutup kalau enggak


bakal ribet harus menghadap guru dan di kasih tugas, mungkin kali ini


keberuntungan ada padaku. ( berjalan menuju kelas) itu kan anak sombong itu tapi


di mimpiku di gak kelihatan sombong melainkan rapuh,,,,,ahhhh cukup Nom,,,, itu


kan Cuma mimpi kalau kata orang itu hanya bunga tidur jadi jangan


sangkut-sangkutkan dengan kisahnya ahhh malah kebawak imajenasiku ( berpikir)


maklum pemikiran calon seorang penulis fiksi (ngoceh sendiri).Saat di kelas aku


terus memerhatikan dia, aku tak tau tapi pandanganku tersita olehnya


seakan-akan kalau mimpi itu benar. Freda .....Freda ( suara keras) iya bu ada


apa ? kamu dari tadi tidak memperhatikan saya malah melamun ajah, perhatikan


kalau tidak saya suruh keluar, kamu mengerti ? iya bu jawabku lirih. Istirahat


itu aku keluar kelas bersama Ani teman sebangkuku dengan muka kusam tanpa


senyuman hanya berjalan perlahan, udah lah Nom jangan sedih lagi biasa di marah


guru ( memegang pundakku dan menyemangatiku dengan senyumnya itu) oke  Ani, ya udah kita kanti yok ( di kolidor  kelas menuju kantin) itu Panca mau kemana kok arah tangga menuju ke atap gedung


sih? Aku harus ngikuti dia ( ada dalam pikiran ) Ani aku ada sesuatu yang aku


lupa bawak, kamu duluan ke kantinnya nanti aku susul kalau terlalu lama aku ke


sana makan ajah duluan oke, aku pergi dulu iya. Oke aku kantin dulu (


melanjutkan perjalannya ke kantin ). Aku pun mengikuti Panca sesampai di sana


aku tidak melihat satu orangpun apa di bunuh diri seperti ada dalam mimpiku


untuk memastikannya aku memeriksa tempat bawah dasar dari atas gedung ini dan


hasilnya nihil, apa mungkin aku salah lihat ya sudah lah aku lebih baik kembali


saat aku berbalik menuju tangga untuk turun tiba-tiba dia muncul membuat aku sangat


kaget seperti melihat hantu . ,,,,ahhhhh,,,ya ampun kamu  kok bisa tiba-tiba muncul sih ( muka espresi


kaget ). Hahaha....kok malah kamu yang nanya seharusnya aku yang tanya


pertanyaan itu kenapa kamu dari tadi pagi selalu memperhatikan aku sampai-sampai


aku merasa seperti di intai sama seorang penguntit ( melangka perlahan-lahan


menujuku ) kenapa diam, gak bisa jawab padahal kalau aku ingat baru kemaren aku


kenal sama bertemu denganmu tidak mungkinkan dalam sehari kau langsung dendam


padaku (aku terpepet ke dinding tangga dan di hadapanku mukanya seakan begitu


mengerikan seperti hantu gentayangan dan aku hanya bisa terdiam menstabilakan


perlahan mendekat denganku alangka terkejutnya aku sampai menutup mata, aku


sangat takut kalau dia akan berbuat yang tidak bermoral di sekolah ini  ( berbisik ke dekat telinga ) kau suka padaku iya (menjauh dariku sambil tersenyum tipis lalu melangka ke bawah tangga )


perasaan aneh apa ini ? kenapa rasanya aku seperti di permalukan,  ihhhh dasar cowok sombong aku bener-bener gak terima, aduh gimana nih mau di taruh nama mukaku saat ketemu dia nanti di


kelas.


    Dasar cewek aneh (tersenyum saat turun tangga ) ekspresinya seakan aku


zombie yang siap untuk memangsa dia, salahnya dari tadi pagi memperhatikanku


dengan tatapan anehnya aku kerjai lah dia, aku yakin ada yang menggagu dia


namun karena belum dekat dia tidak berani menanyakannya secara langsung, tapi


apa yang barusan terjadi padaku aku tersenyum dengan leluasa tanpa


berpura-pura, dan rasa tenang apa ini yang kudapatkan seperti saat aku


memenangkan turnamen basket bersama Dika dan Ando namun setelah itu  sudah lama aku tidak merasakan itu, menarik sekali ku tunggu hadiah apa lagi yang akan aku dapatkan setelah bertemu dengan


dirimu Freda.Aku melihat dia sedang memalingkan muka tapi aku tak tau itu


karena di marah dan kesal denganku atau malah malu. Setelah selesai jam sekolah


aku tidak berniat langsung pulang karena percuma juga di rumah pasti hanya mbok


Susi yang usianya saja sudah cukup tua mana nyambung aku ajah ngobrol apalagi


masalah sekolah, langkah kakiku menuju lapangan basket dan sebelum arah ke


lapangan basket aku melewati aulah, tanpa aku sadari aku penasaran dengan cewek


itu, aku melihat dia menari terlihat cantik dan sangat mempesona  astaga apa yang sedang aku pikirkan (


geleng-geleng). Kekecewaan menghampirku karena saat sampai di lapangan basket


ternyata sudah di pakai untuk latihan, yang membuat aku tertarik ada cowok yang


di sukai cewek itu sebenarnya dia itu bertugas sebagai apa sih? Kalau memang


dia ikut bertanding mengapa dia tidak ikut kelapangan ? (dalam pikiranku )


permisi ! cowok yang ada di situ (menunju) apakah dia juga termaksud anggota


basket ? ( bertanya dengan seorang penonton yang duduk di sebelahku ). “ kamu


gak tau dia siapa? (tersenyum untuk ramah tama ) dia itu panitia dari


organisasi OSIS jadi dia yang akan mengawasi semua kegiatan untuk mempersiapan


lomba, jadi dia termaksud peran yang penting untuk menertipkan jadwal latihan


dan pendaftaran sekaligus dana yang akan di ajukan ke sekolah untuk kepentingan


lomba dan jika menang 30 % itu akan masuk dalam kas organisasi OSIS. Dia sangat

__ADS_1


terkenal apa lagi di kaum hawa tapi bukan karena pekerjaannya itu tapi karena


dia juga baik, ramah dan royal, kamu pasti anak baru iya baru tahu, Aku pun


membalas (anggukan). Waktu seakan cepat berlalu awan di langit mulai meredup


dan menandakan ku harus pulang kembali ke rumah itu. Di perjalanan ku melihat


Freda ada di depanku ini bukan kebetulan karena rute jalan kami memang searah


jadi tak heran aku bertemu dia saat berjalan pulang tapi herannya dia berbelok


ke arah bukit yang arahnya berlawanan ke arah kami pulang karena penasarannya


aku mengikutinya setelah sampai di puncak bukit kecil itu aku melihat


pemandangan indah dan membuat aku sekejab terpesona dan sejuk. Namun aku merasa


hawa-hawa aneh dan benar dia sedang menatap aneh padaku dan mulailah dia


mengoceh hal yang membuataku memutar otakku untuk mencari jawaban hasil


pertanyaan yang sudah bisa aku tebak. “ kau !!!! ( muka heran ) kenapa kau ada


di sini, kau mengikutiku ?” akupun menjawab, tidak !! apa untungnya aku


mengikutimu sekarang aku hanya ingin melihat matahari terbenam di dekat sini


tapi terlihat jelas ( menunjuk matahari yang mulai terbenam ).


            Setelah aku selesai latihan, bergegaslah melangkah menujuh sepedahku


karena aku ingin sekali melihat matahari terbenam di tempat biasanya aku


kunjungi kalau aku sedang ingin dan sedang sedih, beberapa saat mendayung


sepedaku akhirnya aku sampai di dekat bukit itu namun untuk mencapai puncaknya


aku harus sedikt melangkah “ Akhirnya sampai juga dan belum telat karena


matahari terlihat belum terbenam terasa sejuk dan damai angin terus menerpaku


tapi aku mendengar suara, anehnya dibelakangku sudah ada sosok yang membuat aku


bingung “ kau !!!! kenapa kau ada di sini, kau mengikutiku ? tapi dugaanku


salah dia juga ingin melihat matahari terbenam kerena itu aku diam saja, aku


duduk di sebuah batu besar yang memang berbentuk seperti kursi panjang. Panca !


tidak mau duduk, bukannya lebih nyaman kalau kau nikmati matahari terbenamnya


saat duduk ( duduk di batu ) diapun mendekat dan duduk di sampingku namun masih


ada jarak yang tersisa dari posisiku duduk dan posisinya saat ku melihat warna


jingga yang memancarkan membayangi angan-angan dan warna yang membuat aku


tenang perlahan memudar, akupun teringat dengan percakapan yang tak sengaja aku


dengar dari kantor sekolah yang mendebatkan tentang debut internasional


perlombaan balerina “ Ibu Askar ! apa ibu benar-benar akan membuat murid-murid


berlomba balerina! Ibukan dengar juga kalau ada murid berbakat dari indonesia


yang meninggal saat perlombaan Internasional di Amerika, meskipun itu bukan


murid dari sekolah kita setidaknya itu jadi pelajaran untuk sekolah kita tapi


kenapa Ibu membuat murid berlomba Baletrina ini.Maaf pak kepala sekolah saya sebagai


guru ingin murid-murid saya berprestasi dan bisa mengembangkan bakatnya dalam


bidang balet, soal balet yang berbakat itu bukannya itu karena murni kecelakaan


ini semua tidak adil dengan satu kali gagal bapak akan menghancurkan bakat dan


keinginan murid-murid yang ingin berkembang menjadi bintang yang bisa bersinar


di langit yang sangat luas ini maaf kan saya pak kepala sekolah tapi saya akan


mengurus pertandingan balerina  samapai


Internasional. Karena perkataan itu aku teringat oleh kakak yang selalu aku


sayangi, sangat-sangat membuat perasaanku menjadi campur aduk antara sedih,


takut dan penasaran.Tapi tekatku masih sama aku akan berjuang sampai


Internasional dan mencari tahu tentang kakakku dengan senjata tarian balet yang


aku pelajari darimu saatku kecil. Aku mendengar suara yang mengusikku dan


perlahan aku kembali dari pikiranku yang begitu rumit aku melihat bayangan


hitam namun bayangan itu memanggiku ( akupun tersadar kalau dia ada di depanku


berdiri tegap menutupi warna jingga yang tersisa ) Freda... hei Freda apa kau


akan duduk di sini sampai malam, ternyata kau melamun aku merasa bingung di


sini kau mau melihat matahari terbenam atau malah menghabiskan waktu hanya


dengan melamunn seru  Panca (menghadapku


dan menatapku ), tidak ! Aku berdiri dari tempat duduk ku dan berjalan menuruni


bukit tanpa berkata sepata kata apapun hingga Panca sampai gangnya kami hanya


diam.


 


 


__ADS_1


__ADS_2