
Devan tersenyum bahagia mendengar jawaban Renata. Pria itu sungguh tidak menduga kalau kali ini ternyata benar-benar menerimanya. Wanita itu menerima lamarannya.
"Ren, kamu sungguh-sungguh bukan?" Devan menatap wanita itu dengan kedua mata berembun.
"Pa, Ma! Papa sama Mama juga denger 'kan? Renata menerima lamaranku, Ma!" Devan menatap sang mama juga papanya.
"Iya, Sayang, papa dan mama mendengarnya." Iren menatap putra satu-satunya itu dengan terharu. Kedua matanya berkaca-kaca. Rasa bahagia membuncah.
"Terima kasih, Sayang, kamu sudah mau menerima Devan. Terima kasih sudah mewujudkan impian mama dan papa. Mama bahagia sekali karena akhirnya kamu menjadi menantu mama." Iren memeluk Renata. Sebentar lagi keinginannya untuk menjadikan Renata sebagai menantu akan terwujud.
Iren sungguh tidak sabar untuk memberitahukan pada semua orang kalau Devan akan menikah sebentar lagi.
"Terima kasih, Renata. Terima kasih karena kamu mau menerima Devan sebagai suamimu. Devan sangat mencintaimu. Papa yakin, dia pasti akan membahagiakan kamu." Dika menatap Renata dengan penuh kasih sayang. Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu sangat bahagia karena cintanya Devan akhirnya bersambut.
Sudah lama sekali Dika menginginkan Devan menikah. Namun, pria itu tidak mau menikah selain dengan Renata.
Bagi Devan, menikah itu harus didasari dengan cinta. Kalau tidak, pernikahan itu bisa saja hancur sama seperti yang pernah dialami oleh Renata dan Bima.
__ADS_1
Devan tidak mau itu terjadi dalam hidupnya. Oleh karena itu, Devan lebih memilih sendiri daripada harus menikah dengan orang lain yang tidak dicintainya.
Lalu, bagaimana dengan Renata sendiri? Bukankah dia juga tidak mencintai Devan?
"Kamu hanya cukup menerima. Biarkan aku yang memberikan seluruh hatiku padamu. Kamu tak perlu bersusah payah dan memaksa hatimu untuk mencintaiku," ucap Devan lembut.
Rasa cintanya pada Renata membuat dirinya ingin berkorban apa saja. Termasuk perasaan cintanya.
"Tidak akan sulit bagiku untuk jatuh cinta pada orang seperti kamu. Jika aku hanya menerima saja, jelas itu tidak akan adil untukmu." Renata tersenyum menatap Devan.
Wanita itu sudah memutuskan untuk menerima Devan sebagai pendamping hidupnya. Bukan hanya menerima, tetapi, Renata juga akan mencoba untuk mencintai pria baik itu.
Cintamu pada Bima hanyalah kenangan. Kamu tidak mungkin kembali pada pria itu karena dia adalah seseorang yang telah menghancurkan hidupmu hingga sampai titik terendah.
Lagipula, bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu tidak mungkin bersama orang yang dengan hanya melihatnya saja sudah membuat hatimu sakit bukan*?
Renata menghela napas panjang. Menetralkan detak jantungnya. Setiap kali mengingat tentang Bima, jantungnya berdetak dengan kencang seiring rasa sakit yang menyelinap ke sudut hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
Aku mencintainya sekaligus sangat membencinya. Bagaimana aku bisa hidup bersama orang yang membuat perasaanku jungkir balik tak tentu arah?
"Aku akan menunggumu sampai kamu siap. Maksudku, aku tidak akan terburu-buru untuk menikahimu kalau kamu memang belum siap." Devan berucap dengan gugup.
Renata tersenyum menatap pria tampan di depannya. Pria baik yang selama beberapa tahun menjaganya. Menjaganya dari Bima yang saat itu tetap bersikeras mengejarnya. Pria yang berperan penting pada kesembuhannya.
Bima. Sekelebat bayangan wajah tampan pria yang pernah menjadi suaminya itu tiba-tiba mampir di benaknya. Kedua mata Renata terpejam. Kata-kata Aldrian di telepon kemarin, kembali terngiang di indera pendengarannya.
"Bima sudah menikah. Dia terpaksa menikahi gadis yang telah ditabraknya, sesaat, setelah mobilnya keluar dari Bandara saat mengantarkan kepergianmu."
"Gadis itu adalah gadis yatim piatu yang selalu ditindas oleh paman dan keluarganya. Demi menolong gadis itu untuk mendapatkan semua hak yang seharusnya menjadi miliknya, Bima terpaksa menikahinya."
"Berbahagialah bersama Devan, Renata, seperti Bima yang kini juga sedang berjuang untuk mendapatkan kebahagiaannya."
Renata berkali-kali menetralkan perasaannya saat rasa sakit menghujam hatinya.
Benar kata Aldrian, aku juga harus berjuang untuk meraih kebahagiaanku, seperti dia yang kini juga sedang berjuang meraih kebahagiaannya.
__ADS_1
"Aku siap, kapanpun kamu akan menikahiku, Devan."
BERSAMBUNG ....