TAKDIR

TAKDIR
Bab 65


__ADS_3

Aku memutuskan untuk jujur terhadap Dika tentang keadaanku saat ini. Aku tidak mau lagi menyembunyikan keadaanku saat ini kepada Dika. Aku hanya ingin melihat ketulusannya kepadaku. Jika dia benar-benar mencintaiku jelas dia bisa menerimaku apa adanya bukan ada apanya.


"Aku sudah tidak suci lagi, lebih baik kamu mencari gadis yang baik dari pada aku. Kembalilah bersama nya. Maaf kan aku yang telah hadir di antara kalian" Ujar ku.


Aku yakin di sana, Dika kaget setengah mati mendengar kejujuran ku ini. Aku juga tidak tahu kenapa aku harus menceritakan aib ku sendiri kepada Dika yang jelas-jelas belum tentu menjadi suami ku kelak. Tapi aku hanya ingin orang yang sedang dekat dengan ku itu tahu yang sebenar nya lebih awal seperti ini. Bagaimana pun keputusan nya aku akan terima. Toh aku memang tidak layak untuk di pertahan kan.


"Aku tidak akan melarang mu untuk pergi meninggalkanku. Aku sadar aku siapa dan bagaimana saat ini. Aku bukan orang yang pantas untuk kamu pertahankan karena itu kembalilah bersamanya" Ujarku lagi melalui pesan singkat ku.


Lama aku menunggu balasan dari Dika, tapi tidak ada balasan dari nya.


"Mungkin dia tidak bisa menerima ku dalam keadaan seperti ini. Laki-laki mana yang mau sama sisa orang lain" Batin ku.


"Ya sudah dek, ayo kita pulang. Tidak ada guna nya lagi kita di sini. Hari juga sudah semakin larut" Ujar ku mengajak adik sepupu itu untuk pulang ke rumah.


"Oke kak"


***


"Assalamualaikum" Ucap salam ku ketika masuk ke rumah. Aku menghempas kan itu buku di atas kursi yang berada di dapur rumahku ketika aku selesai memasukkan motorku ke dalam rumah.


Aku melamun memikirkan keadaanku saat ini. hati ini kembali merasa kosong dan dunia ini kembali merasa suram. Semua warna di dalam kehidupanku ini telah menjadi gelap.


Untuk beberapa kali aku menghela nafas perutku. Pikiranku benar-benar mumet saat ini. Yang bisa mengobati keadaanku saat ini hanyalah pesan dari Dika walaupun itu hanya satu kata. Namun yang kutunggu-tunggu tak kunjung tiba hingga membuat diri ini semakin gelisah terlebih aja kekasihnya yang datang dan menginap di sana.


Sontak aku kembali membayangkan bahwa Dika dan juga kekasihnya beserta ibunya Dika sedang tertawa bercanda ria di kantor itu menikmati kebersamaan mereka di malam ini.


"Ya Allah kuatkanlah hati ini dengan menghadapi segala cobaan yang telah Engkau berikan kepadaku. Jika memang dia bukan ditakdirkan untukku tolong ikhlaskan hati ini dan relakan dia bersama orang yang baik untuknya" Batin ku berdoa sambil memejamkan kedua mataku. Tak terasa beberapa air bening kini mengalir di pipiku.


Yah bagiku satu-satunya pengobat hati yang gelisah saat ini adalah dengan menangis. Setelah selesai menangis pas nantinya Hati ini terasa tenang dan lega.


"Bukan nya berganti pakaian dan tidur malah melamun di sini" Tegur ibu ku yang mau ke kamar mandi untuk membuang air kecil.


Cepat-cepat aku menghapus air mata yang mengalir tadi di pipi agar ibuku tidak mengetahui bahwa aku sedang menangis meratapi nasibku yang malang ini.


"Ganti baju, cuci tangan, cuci kaki gosok gigi dan tidur lebih enak dari pada kamu melamun di sini" Celoteh ibuku lagi setelah keluar dari kamar mandi.


Kembali aku menghela napas beratku. Aku bangun dari kursi yang ku duduki tadi menuju kamar untuk menggantikan pakaianku dan bersiap-siap untuk tidur sesuai apa yang di katakan ibu ku.


Aku merebahkan tubuh ku dengan perlahan. Ku lirik lagi ponsel ku dengan penuh harapan bahwa Dika akan menghubungi ku dengan memberikan pesan singkat kepada ku. Tapi nyatanya harapan ku kini sia-sia. Kembali napas berat ku hembuskan lagi.


"Kenapa sih kamu? Dari tadi menghela napas terus?" Tanya ibu ku yang sedang berbaring untuk tidur di samping ku.


"Gak ada apa-apa buk, hanya lelah saja" Bohong ku.


Ting...


Tiba-tiba ponsel ku berdering pertanda pesan masuk. Dengan cepat dan penuh harapan aku mengambil ponsel yang tergeletak di samping ku itu.


"Sudah tidur cinta? Semoga mimpi indah ya. Besok aku mau kamu menceritakan semua kejadian masa lalu mu agar di antara kita tidak ada yang di tutupi" Ucap nya kepada ku melalui pesan singkat nya.


"Besok malam aku menjemput mu ya" Tambah nya lagi dengan mengirim kan emod love kepada ku.


"Oke" Jawab ku sambil tersenyum. Baru lah rasa gundah di hati hilang. Dan warna hidup ku yang suram tadi kembali memancarkan pelangi.


Aku pun langsung memejamkan mata ku dengan perasaan yang tenang. Aku pikir Dika tidak mau menghubungi ku lagi. Tapi ternyata aku salah. Semoga saja setelah semua yang terjadi kepada ku yang nantinya aku menceritakan kepada Dika dia tetap bisa menerima aku.


***


Aku menggosok-gosokkan mataku yang masih terasa berat karena baru bangun tidur.


Kuraih ponselku untuk melihat apakah masih ada pesan baru yang masuk. Namun ternyata harapanku itu sia-sia.

__ADS_1


"Ha bangun pun, kirain masih ngorok. Cepat mandi nanti telat lagi ke kantor nya" Ocehan ibu ku di pagi ini.


"Iya buk" Jawab ku.


"Bangun tidur hp aja di lihat nya. Mandi cepat" Titah nya lagi.


"Masih pagi sudah di omelin" Batin ku. Yah begitu lah ibu ku. Paling anti sama orang yang bangun kesiangan dan juga tidur kemaleman. Setiap pagi pasti nyanyian ocehan nya menyambut ku di pagi hari. Tapi jika suara nya tidak ku, ku pastikan aku akan merindukan nya.


"Apa Dika sudah bangun ya? Atau dia masih ngorok? Ah gak mungkin pasti dia sudah bangun karena hari ini kan ibu dan kekasih nya ada di sana. Pasti mereka membangun kan nya" Batin ku lagi.


"Ya sudah lah lebih baik aku berangkat saja ke kantor. Dari pada nanti aku terlambat" Batin ku lagi mengambil tas kerja ku dan pergi ke kantor dengan menggunakan motor ku.


***


Kembali aku di sibuk kan dengan nota-nota yang harus ku input di laptop ku dan tentu saja sambil mendengar lagu-lagu untuk menghilangkan pikiran ku yang mumet.


Sekilas terbayang wajah Dika dan kekasih nya tadi malam di pikiran ku. Hal itu tentu saja membuat aku merasa hilang semangat. Apa lagi Dika pagi ini sama sekali belum menghubungi ku.


Lagi-lagi Aku hanya bisa menghela nafas beratku.


"Apa aku harus menghubungi nya ya?" Batin ku lagi merasa bimbang.


"Apa ibu dan kekasih nya sudah pulang ya?" Lagi-lagi aku bertanya di dalam hati.


Ingin rasa nya aku menghubungi Dika pagi ini. Tapi aku urung kan niat ku karena ungkapan ku tadi malam. Jika benar dia menerima ku, pasti dia lah yang menghubungi ku saat ini.


"Dek" Tegur kak Rika.


"Iya kak"


"Ada yang mau kakak sampai kan kepada kamu?" Ujar kak Rika duduk di samping ku.


"Apa kak?"


"Jadi kamulah yang mengajari dia apa-apa saja pekerjaan yang harus dikerjakan"


"Aduh kak, aku juga masih belajar kak dan belum terlalu paham dengan pekerjaan ini"


"Iya nanti jika ada yang belum kamu pahami kamu bisa tanya sama kakak dan kakak kamu bantu kamu kan kakak masih di kantor ini" Ujar kak Rika lagi memberikan kepercayaan kepadaku sepenuhnya.


Meskipun hati ini terasa berat, tapi aku harus bagaimana? Mau tidak mau aku pun menerimanya dan itu sudah menjadi keputusan kak Rika.


Ini aku kembali harus beradaptasi dengan atasanku yang baru. Tentu saja aku kenal dengan bang Ijon. Secara dia masih karyawan kantor itu. Dia orang nya humoris dan juga baik. Tapi bagaimana pun aku juga sungkan kepada nya. Secara dia laki-laki dan aku perempuan.


***


Aku dan Dika pergi ke warung ayam penyet tempat langganan kami biasa nya. Malam ini kami sudah berjanji untuk bertemu dan aku harus menceritakan kebenarannya ada pada diriku.


Selesai makan kamu pergi ke turap yang tak jauh dari pelabuhan penyeberangan. Aku dan Dika sengaja memilih tempat itu karena di sana mendukung suasana Keadaanku saat ini karena tidak terlalu ramai orang dan bisa menikmati angin laut yang bertiup sepoi-sepoi.


"Jadi bagaimana? Apa maksud dari ucapan mu tadi malam?" Tanya nya memulai pembicaraan kami.


Lagi-lagi aku menghela nafas beratku untuk memulai cerita yang membuat hatiku kembali hancur dan kecewa mengingat masa lalu yang menyakitkan itu.


"Aku mempunyai masa lalu yang suram. Aku bukan gadis yang baik untuk mu" Ujar ku lagi memulai cerita ku. Aku pun menceritakan semua kejadian yang aku alami saat itu tampa ada yang aku sembunyikan.


Dika hanya memberikan ekpresi wajah yang sulit ku artikan. Entah dia percaya atau tidak kepada ku. Yang jelas aku sudah jujur kepada nya agar tidak ada dusta di antara hubungan kami. Jika nanti nya dia memang jodoh ku, kelak di malam pertama dia tidak menuntut hal itu secara aku sudah jujur pada nya.


"Terserah kamu mau percaya sama aku atau tidak. Terserah juga kamu mau tetap menerima ku atau memilih untuk pergi. Aku tidak akan menahan mu. Aku sudah jujur kepada mu. Karena itu aku tidak mau menuntut mu untuk putus dari pacar mu itu. Aku rela menjadi yang kedua karena aku hanya lah sisa. Tapi itu berlaku saat kita pacaran saja ya. Jika nanti kita sudah menikah, aku tidak mau hidup di madu" Ujar ku lagi.


Ku lihat Dika hanya tersenyum kecut kepada ku. Seperti nya dia tidak bisa menerima keadaan ku lagi.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu kamu banggakan dari ku Dika" Ucap ku.


"Kamu tahu, aku juga pernah melakukan kesalahan. Aku pernah khilaf dengan pacar ku yang ini. Karena itu aku tidak bisa pergi dari nya. Bagaimana pun, aku harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada nya"


Deg...


Sontak aku pun kaget mendengar ucapan dari Dika barusan. Yah mungkin itu sebab nya juga pacarnya itu rela di selingkuhi berkali-kali dengan Dika karena dia sama seperti ku.


Aku terdiam dan masih syok mendengar Dika berkata seperti itu. Sungguh aku tidak menyangka dengan ucapan nya harusan.


"Jika dia pernah melakukan hal yang sama?" Batin ku.


"Itu arti nya kami sama? Tapi meski bagaimana pun, dia laki-laki tidak ada yang tahu jika dia masih perjaka atau tidak nya. Tapi aku... " Batin ku lagi.


"Sekarang aku bingung harus bagaimana. Kamu sudah tahu apa sebab nya aku tidak bisa pergi dari kehidupan nya. Tapi aku juga tidak mau kamu pergi dari kehidupan ku"


"Jika begitu, kamu sama dia saja kamu yang merenggut kesucian nya. Jadi ya kamu harus menikahi nya" Ujar ku.


"Aku gak bisa memilih di antara kalian berdua. Aku sayang sama kalian berdua" Ujar nya lagi.


"Biarkan kita menjalani hubungan ini hingga takdir yang menentukan ke depan nya seperti apa" Tambah nya lagi.


Aku hanya bisa setuju dengan apa yang di katakan Dika barusan. Meski bagaimana pun, aku tidak bisa kehilangan laki-laki itu. Aku terlalu bucin kepada nya. Dia sudah seperti pahlawan bagi ku datang di saat aku terpuruk dan berputus asa.


"Hari sudah larut. Ayo kita pulang" Ajak nya.


***


"Kak, apa Dika bersama kakak?" Tanya Fida menghubungi ku saat aku sudah tiba di rumah.


"Iya dek sekarang dia sudah pulang" Jawab ku.


"Pantas saja dia tidak bisa di hubungi"


"Dek, boleh aku bertanya?"


"Apa kak?"


"Kenapa masih bertahan sama Dika meski terus tersakiti?"


Lama gadis itu terdiam untuk memberikan jawaban kepada ku. Dan aku masih setia menunggu jawaban dari nya.


"Ada sesuatu hal yang tidak bisa aku ceritain kak"


"Sesuatu hal yang fatal? Kakak tahu semua nya dek. Pertahan kan lah Dika untuk menjadi suami mu. Di sini aku hanya sebagai teman nya saja dan jelas aku tidak akan meminta kalian putus"


"Terus kakak kenapa mau sama Dika?"


"Dia hadir saat aku terpuruk. Dia yang mengobati luka ku di saat luka ini berdarah. Semenjak itu aku dan dia dekat. Dan hingga saat ini. Aku hanya menikmati kedekatan ini hingga nanti takdir yang menentukan siapa jodoh nya" Ujar ku.


"Oh ya kak, aku juga seperti itu. Oh ya apa Dika ada panggilan sayang sama kakak"


"Gak ada" Jawab ku singkat. Yah tentu saja tidak ada, secara dia memanggil ku dengan sebutan cinta itu tidak hanya di peruntukkan kepada ku. Semua gadis yang dekat dengan nya di panggil dengan sebutan itu.


"Kalau aku ada kak. Kedang di panggil cinta, kedang di panggil joleh" Jawab nya lagi.


"Oh bagus deh kalau gitu. Itu arti nya dia sayang sama kamu" Ujar ku.


"Sudah dulu ya dek. Aku mau tidur ngatuk" Jawab ku mengakhiri percakapan kami di telfon.


Yah aku mencoba untuk menghindar dari percakapan itu karena semakin aku menggali apa-apa saja antara hubungan Dika dan Fida itu akan membuat hatiku semakin sakit.

__ADS_1


__ADS_2