TAKDIR

TAKDIR
Ban 69


__ADS_3

Kali ini aku pergi ke kantor Dika tampa di temani oleh adik sepupu ku mau pun keponakan ku. Yah hal itu di karena kan aku terlalu fokus memikirkan Dika yang sedang sakit perut di sana.


"Baru saja niat hati ingin pergi dari hidup nya. Ada aja masalah yang membuat aku menjadi khawatir kepada nya seperti ini" Batin ku.


Aku mengajak Dika untuk keluar dari ruang tidur nya dan duduk di ruang depan agar nanti nya tidak di pikir bukan-bukan oleh warga sekitar.


"Ini makan dulu setelah itu kamu minum obat ini" Ujar ku membuka nasi bungkus yang ku beli tadi dan ku serah kan kepada Dika.


"Aduh cinta aku lagi gak ada nafsu mau makan ini"


"Makan saja sedikit dulu untuk mengganjal perut agar bisa minum obat" Perintah ku.


"Ini ambil sedikit saja, nanti kalau mau lagi, baru ambil tambahan nya" Ucap ku lagi menyendok sedikit nasi bungkus tadi ke dalam tempat lain untuk Dika.


"Iya cinta" Ujar nya lagi mengambil nasi yang ku berikan tadi. Entah lah betapa aku merasa kasihan kepada Dika yang tinggal sendirian seperti itu. Apa lagi dia sakit, pasti kekhawatiran ku semakin bertambah kepada nya.


"Ini obat nya" Ucap ku memberikan obat yang ku beli tadi kepada Dika. Dika pun meminum obat tersebut..


"Buka baju mu, aku mau oleskan balsem ini agar sakti nya terasa berkurang" Ujar ku lagi mulai mengoles balsem di perut Dika. Tak lupa di belakang dan di kami nya pun ku oles kan sambil ku pijit agar angin nya keluar.


"Sudah, semoga cepat sehat ya kamu. Ya sudah kamu istirahat saja jika begitu" Ujar ku lagi setelah merasa cukup memijit bocil itu.


"Aku harus buat surat jalan dulu cinta untuk agen kapal yang mau berangkat malam ini" Ucap Dika kembali membuka komputer nya.


"Nanti saja. Kan masih ada waktu"


"Gak apa-apa kok cinta. Aku sudah mendingan terima kasih ya cinta kamu sudah menolong ku" Ujar nya.


"Iya sama-sama" Jawab ku. Dika pun terlihat sibuk dengan komputer nya.


"Ya ampun tas ku ketinggalan lagi di ruang tidur nya Dika" Batin ku masuk ke ruang tidur Dika untuk mengambil tas kerja ku yang tertinggal.


Saat hendak kembali keluar, tanpa sengaja pandangan ku teralihkan melihat ponsel Dika menyala karena ada pesan masuk.


Dengan rasa penasaran di hati, aku pun membuka ponsel Dika yang memang tidak menggunakan pola atau kode pin sehingga membuat aku mudah untuk mengakses nya.


Aku membaca isi pesan yang sangat membuat hati ku terluka, yah begitu romantis dan penuh perhatian Dika kepada kekasih nya itu. Sambil aku berusaha tersenyum meski hati terluka membaca pesan demi pesan yang mereka lakukan. Dan di sana juga Fida mengirimkan foto dirinya dengan boneka beruang dimana boneka itu di pakainya jaket Dika yang berwarna biru yang pernah ia kenakan waktu itu dan sempat meminta ku untuk membawa nya saat aku dan uti kehujanan.


"Terima kasih atas usaha nya untuk membahagia kan ku sayang. Aku suka boneka nya. Jika lagi kangen sama kamu pasti boneka ini selalu menjadi teman ku sebagai pengganti kamu di sisi ku. Aku sayang kamu, aku selalu memeluk boneka nya agar bisa membayang kan diri mu di sisi ku" Ujar Fida melalui pesan nya.


"Enak nya jadi boneka itu, bisa di peluk terus dan di sayang terus sama kamu nta. Aku jadi iri sama boneka nya yang selalu berada di sisi kamu" Jawab Dika pula.


"Boneka? Ternyata Dika membelikan boneka beruang berwarna pink sebagai kado ulang tahun kekasih nya" Batin ku.


"Astaghfirullahaladzim, sadar ramah, kamu di butuhkan di sini hanya sebatas di daerah mu saja karena dia sendirian dan tidak ada yang menemani nya di sini" Batin ku menyadarkan diri ku sendiri.


"Jangan terlalu berharap kepada nya. Ucapan nya itu dan janji nya kepada mu tidak bisa ia tepati" Batin ku lagi.


"Sadar, sadar" Ujar ku lagi menyadarkan diri ku.


Aku meletakkan kembali ponsel Dika di atas tempat tidurnya. Dan beberapa kali aku mencoba untuk menghala napas berat ku untuk menenangkan hatiku yang terasa sakit dan nyeri ini.


Mood yang baik tadi ku rasakan kini berubah menjadi bad mood. Aku benar-benar kehilangan semangatku membaca semua pesan yang mereka lakukan berdua.


Kembali aku menghela napas beratku. Dengan perasaan yang tidak karuan aku melangkah keluar dari ruang tempat tidur Dika.


"Cinta, Terima kasih ya karena kamu sudah membantuku hari ini terasa sakit di perutku sudah mulai hilang" Ujar jika saat melihat aku kembali ke ruangan depan.


"Iya, sama-sama" Jawabku dengan tersenyum kecut.


"Dika, aku pulang dulu ya, hari juga sudah mulai sore. Gak enak juga jika aku lama-lama di sini" Ujar ku kepada Dika.


"Lo kok buru-buru sih.. Baru juga pukul tiga sore"

__ADS_1


"Gak enak saja, secara aku sendirian datang ke sini dan aku lupa membawa keponakanku ataupun adik sepupuku. Aku takut nanti para warga di sini malah berpikirin bukan bukan kepada kita yang tinggal berduaan di dalam kantor ini" Ujar ku dengan nada bicara datar.


Ting....


"Mah lagi di mana?" Tanya Yus melalui pesan nya kepada ku.


"Di kantor nya Dika"


"Aku ke sana ya?"


"Sama siapa?"


"Bang Rizen"


"Oke datang aja gak masalah bagi ku" Jawab ku.


"Share lokasi" Pinta Yus. Dengan cepat aku pun share lokasi tempat ku berada saat ini.


Terdengar suara motor berhenti di halaman kantor Dika.


"Wah, baru di share lokasi sudah tiba saja" Batin ku berlari menyambut kedatangan ke dua teman ku itu. Dengan berlari kecil aku menuju pintu kantor untuk memastikan siapa yang datang.


"Baru juga di share sudah ti... " Ujar ku menghentikan ucapan ku melihat siapa yang datang. Senyuman kebahagiaan yang aku pancar kan kini berubah menjadi muram. Orang tadi yang baru tiba pun ikut tersenyum kecut kepada ku.


"Ngapain juga dia datang ke sini?" Batin ku tersenyum kecut menyambut kehadiran nya.


Dengan langkah santai, orang tadi yang tak lain adalah kekasih nya Dika itu masuk ke dalam kantor nya.


"Eh, kapan tiba nya?" Tanya Dika kaget melihat kekasih nya tiba-tiba datang tampa memberitahu nya terlebih dahulu.


Dika menatapku dengan tatapan yang serba salah. Mungkin dia juga tidak enak hati melihat ada aku dan Fida di situ karena takut nantinya akan menyakiti perasaan kami berdua.


Fida datang mendekati Dika. Gadis itu mencium punggung tangan laki-laki itu di hadapanku. Terlihat sekali mereka seperti pasangan yang serasi ketika melakukan adegan itu. Aku hanya mengukir sedikit senyumanku melihat mereka seperti sepasang suami istri.


"Kata nya sakit perut" Tanya Fida duduk di samping Dika yang berada di hadapan komputer nya itu.


"Iya, tadi masih sakit. Tapi sekarang sudah mendingan kok" Jawab Dika.


"Sudah minum obat"


"Sudah, karena itu sakit nya hilang" Ujar Dika lagi terus saja menatap ku. Aku yang jauh duduk dari mereka menyibukkan diri dengan ponsel ku untuk menghilangkan rasa sakit di hati ini. Entah apa yang aku cari Aku pun tidak tahu dari tadi aku hanya men-scroll scroll ponselku keluar masuk galeri melihat foto-foto, terus melihat nomor ponsel orang-orang yang tersimpan di ponsel ku ini. Itu lah yang aku lakukan hingga kedua teman ku tiba.


"Mah, ternyata di sini kantor nya dari tadi kami nya.... Sar" Yus yang baru tiba di kantor Dika itu pun tidak melanjutkan perkataannya karena melihat cinta segitiga di antara kami bertiga.


"Kenapa dia ada di sini?" Tanya Yus kepadaku melalui isyaratnya.


"Gak tahu" Jawabku dengan isyarat juga.


"Mana bang Rizen?" Tanya ku kepada Yus saat melihat Yus sendirian masuk ke kantor Dika itu.


"Ada di depan lagi telfonan sama pacar nya" Ujar Yus.


"Arini?" Tanya ku.


"Iya"


"Sudah jadian mereka?" Tanya ku kaget.


"Sudah sih katanya"


"Wah, hebat putus sama Nilam langsung dapat pengganti baru ya"


"Bang Rizen itu sama seperti mu. Di tinggal nikah sama pacar nya" Ujar Yus.

__ADS_1


"Arini lah yang datang dan mengobati luka di hati bang Rizen itu"


Oh begitu ya cerita nya. Yah semenjak Dika bekerja di tempat ini, aku memang selalu menghabiskan waktu bersamanya laki-laki yang sudah memiliki kekasih itu.. Aku pun jarang berkomunikasi dengan Yus dan bang Rizen seperti dulu karena kesibukan ku ini. Sehingga aku banyak Ketinggalan berita tentang sahabatku itu.


"Asek, sudah dapat yang baru ni ye" Ujar ku saat melihat bang Rizen masuk. Yah aku menyibukkan diri dengan kedua temanku yang baru saja datang itu dan mengabaikan Dika bersama Fida yang ada di sana.


Seperti biasa jika kami bertiga sudah bertemu dunia ini seolah-olah kami yang punya. Kami bercanda tertawa bersama tampa menghiraukan kedua sosok yang ada tak jauh dari kami. Sebenarnya aku juga gak enak mengabaikan Dika. Tapi yah untuk menghilangkan rasa sakit di hati aku harus terlihat bahagia di hadapan nya. Aku harus terlihat baik-baik saja meski hati terluka.


Sesekali ku lirik mereka berdua. Mereka pun tampak sedang ngobrol sambil tertawa di sana. Yah semakin sakit lah hati ini melihat hal itu.


"Ayo kita pulang. Sudah sore juga" Ucap ku kepada Yus dan bang Rizen.


"Ayo" Jawab kedua nya serentak.


"Dek, jika nanti mau datang ke kantor Dika, sebaik nya ajak teman ya. Atau jika datang nya sendiri jangan berduaan di kantor. Nanti malah terjadi fitnah diantara kalian berdua oleh warga sekitar sini. Kasihan Dika nya Dia seorang pendatang di sini" Nasehat ku.


Bisa ku lihat tatapan sinis terpancar di mata gadis itu mendengar nasehat ku. Mungkin dia berpikir bahwa aku ini pinter ngomong saja tapi nyatanya aku juga datang sendirian di sini tadi. Padahal aku datang sendirian tadi karena keadaan yang mendesak membuat aku lupa mengajak teman untuk menemaniku di kantor Dika.


"Dika kami pulang dulu" Ujar ku lagi.


Dika hanya tersenyum mengangguk mengizin kan. Tampa melihat nya untuk yang kedua kalinya aku pun langsung keluar dari kantor tersebut dan meninggalkan kantor tersebut dengan perasaan yang sakit di hati.


Untuk beberapa kali aku kembali menghela napas beratku.


"Yang sabar ya sayang" Ujar Yus menepuk-nepuk pundak ku untuk memberikan semangat kepadaku.


Yah tadi pergi ke kantor Yus berboncengan dengan bang Rizen. Sedang kan dalam perjalanan pulang Yus berboncengan denganku.


"Oh ya Yus, bagaimana pekerjaan mu? Lancar?" Tanya ku lagi.


"Gak sih, tempat aku bekerja kemarin sudah tutup karena tidak terlalu banyak anak yang dititipkan di sana" Jelas Yus.


"Ha? Jadi sekarang kamu kerja apa?"


"Dek, abang duluan ya ada teman abang yang datang ke rumah" Ucap bang Rizen melaju dengan motor nya. Kami pun hanya mengangguk sebagai respon dari ucapannya itu.


"Aku sekarang kerja di paud yang ada di jalan kelapa" Sambung Yus lagi dengan cerita yang sempat tertunda karena bang Rizen berpamitan untuk pulang duluan.


"Di Sejangat juga kan tempat nya" Ujar ku.


"Iya, Alhamdulillah kamu mendapatkan pekerjaan lain sebagai pengganti pekerjaan kamu yang lama" Ujar ku merasa senang karena sahabatku itu sudah mendapatkan pekerjaan baru.


"Di sana kamu ngajar anak-anak dong"


"Gak juga sih. Aku sebagai operator di sana. Tapi sesekali ada juga aku menggantikan guru lain mengajar"


"Aduh pasti pusing tujuh keliling itu mengajar anak-anak di sana. Apa lagi masih paud seperti ini" Ujar ku.


"Gak juga sih Mah, enak kok ngajarin anak-anak nya"


"Iya, itu karena kamu suka dengan anak-anak. Jika aku, ya pasti dua hari sudah berhenti. Secara aku gak suka anak-anak" Jawab ku dengan jujur.


"Itu kan tergantung orang sih Mah, aku menikmati pekerjaan ku ini" Ujar Yus lagi.


"Semoga pekerjaan mu lancar ya sayang"


"Aamiin, makasih ya Mah sudah memberikan semangat kepada ku"


"Iya sama-sama, sebagai sahabat, wajar dong jika aku memberikan semangat kepada kamu" Ujar ku tersenyum senang.


"Iya, aku juga doain kamu semoga cinta segitiga yang kamu jalani saat ini akan cepat menemukan titik terang"


"Iya semoga saja" Jawab ku singkat.

__ADS_1


"Entah lah Yus. Aku tidak tahu alur cerita cinta ku ini membawa kisah kami ke mana? Yang jelas aku hanya mengikuti saja jalan cerita ini. Aku tidak mau memaksa nya untuk memilih ku karena aku tahu siapa lah aku ini. Aku bukan gadis yang pantas untuk nya. Aku hanya sisa" Ucap ku dalam hati sambil menghela napas berat ku.


__ADS_2