
Aku keluar dari ruangan bang Adi setelah memberikan dokumen yang dia minta tadi.
Tak begitu lama, Dika pun tiba di kantor ku. Dia menatap ku dengan tersenyum manis ke arah ku dari balik kaca. Laki-laki itu memakai pakaian rapi dengan baju kemeja putih dan celana kain berwarna hitam menunjang penampilan nya. Tak lupa sepatu berwarna hitam pun turut ia kenakan selayaknya orang kantor pada umum nya.
Jelas dong aku membalas senyuman itu. Seketika rasa marah ku kemarin hilang mendapati senyuman nya itu. Entahlah aku juga tidak tahu kenapa aku tidak bisa marah lama-lama dengan nya. Jika jauhan, kami selalu bertengkar. Tapi setelah dekat dan bertatap muka, rasa marah itu hilang seketika.
"Aduh Dika kemana aja sih kamu, saya dari tadi menghubungi kamu tapi gak di angkat-angkat telfon nya" Celoteh pak Barat kepada Dika saat lelaki paruh baya itu melihat Dika duduk di ruangan tunggu.
"Maaf pak saya kesiangan karena tadi malam tidak bisa tidur dengan tenang" Jawab nya dengan jujur.
"Ya sudah, itu pak kepala kantor nya sudah tiba di ruangan nya. Ayo ikut saya ke dalam" Ajak pak barat lagi.
Dika pun mengikuti jejak langkah pak Barat dari belakang.
Melihat itu aku mengusap dada ku merasa lega karena pak Barat tidak mengomeli Dika panjang lebar. Secara jika mengomeli Dika di kantor itu, pasti akan membuat aku tidak enak hati. Secara dia adalah orang yang ku cari untuk bekerja bersama pak Barat.
***
"Kak, akhir-akhir ini Rio kok seperti berubah ya sama aku" Ujar Siti sore hari nya ketika aku pulang kerja dan berkunjung ke rumah nya.
"Berubah bagaimana?"
"Ya berubah kak. Kurang perhatian sama aku tidak seperti dulu waktu pertama bertemu. Yah Siti dan Rio memang sudah beberapa bulan pacaran. Aku pun sedikit banyak nya tahu sifat Rio yang tak jauh berbeda dari Dika. Yah mereka sama-sama playboy. Di sana, jelas Rio juga mempunyai kekasih lain juga.
"Sebaik nya aku meminta Siti untuk mengakhiri hubungan nya bersama Rio. Yah karena aku tidak mau adik sepupu ku ini sakit hati nanti nya. Adik sepupu ku itu masih suci, dia bisa bebas memilih dan masih kembang dengan harum nya. Tidak seperti diri ku. Lagian aku juga tidak suka sebenar nya mereka ada hubungan. Di depan ku saja Rio berani mencium kening adik ku seperti itu. Apa lagi sewaktu mereka berduaan, tentu saja aku tidak mau adik ku itu di rusak oleh laki-laki yang tidak bermoral seperti itu.. Yah seharus nya Rio itu bisa menahan diri untuk tidak bertingkah seperti itu. Secara aku ini kakak nya Siti.
"Dek, sebaik nya kamu lupakan saja Rio. Putus saja dengan nya. Rio bukan laki-laki yang baik untukmu. Sebelum rasa semakin dalam dengannya, lebih baik kamu akhiri sejauh mungkin ini. karena di sana dia juga mempunyai kekasih lain" Ujar ku.
"Sebagai kakakmu jelas aku tidak mau melihat kamu sakit hati nantinya. lebih baik kamu mencari laki-laki yang lain yang lebih baik darinya" Tambah ku lagi.
"Yang benar kak?"
"Iya dek, lupakan saja dia. Aku tidak mau kamu nanti nya akan mengalami hal yang sama dengan ku di mana kamu di dua kan. Namun, kamu tidak bisa untuk lepas dari nya karena rasa sayang mu kepada nya sudah terlalu dalam" Jelas ku lagi.
Siti tampak berpikir dengan ucapan ku barusan. Aku sebagai kakak mu hanya menasehati kamu saja. Dari pada nanti nya kamu tersakiti seperti kakak. Mau pergi tapi terlalu sayang kepada nya. Dan di tambah lagi saat ini dia bekerja di tempat ku. Tentu saja aku menjadi serba salah di buat nya ketika mau melupakan dia. Yah aku yang sudah menarik nya ke sini malah aku yang meninggalkan nya.
***
Sudah beberapa hari ini aku merasa tidak enak badan, yah badan ku terasa pegal-pegal yang aku pun tidak tahu apa hal penyebab nya.
"Cinta lagi ngapain?" Pesan nya kepada ku.
"Lagi gak enak badan ini. Pegal-pegal semua badan ku"
"Jangan-jangan kamu mau demam gak?" Tanya Dika lagi.
"Aku juga gak tahu sih. Tapi yang jelas seperti itu lah keadaan ku saat ini. Aku mau ke dokter sebentar ya" Ujar ku lagi.
"Sama siapa?"
"Putri, keponakan ku" Ujar ku lagi. Putri atau di kenal dengan panggilan Uti adalah keponakan ku. Di mana dia adalah anak dari abang ku yang tinggal di sebelah rumah ku ini.
Aku pun pergi ke dokter yang tak jauh dari rumah ku bersama Uti.. Sengaja aku membawa teman karena takut terjadi apa-apa nanti nya kepada ku.
"Ini kamu hanya terlalu lelah, dan seperti nya masuk angin. Ini obat nya harap di habis kan ya" Ujar dokter selesai memeriksa ku.
"Ayo Ti kita beli bakso dulu yuk. Usu lagi gak ada nafsu mau makan nasi. Jadi kita beli bakso bungkus saja" Ujar ku kepada keponakan ku itu.
Kami pun pergi ke warung bakso yang tak jauh dari rumah Siti.
"Terima kasih" Ujar ku setelah bakso pesanan ku selesai di bungkus.
Kring....
__ADS_1
Ponsel ku berdering.
"Hallo ada apa dek?" Jawab ku saat menjawab telfon dari Siti.
"Kakak di mana?" Tanya nya dengan nada yang panik.
"Ini lagi beli bakso"
"Beli bakso? Jadi kakak gak keluar sama bang Dika?"
"Ya gak lah dek, kakak saja gak enak badan. Gimana mau keluar sama dia. Ini saja kakak baru pulang berobat" Jelas ku tersenyum.
"Jadi cewek yang jalan sama bang Dika itu siapa?"
"Ha? Maksud kamu" Aku kaget.
Terasa petir di siang bolong hati ini mendengar penjelasan dari Siti tadi.
"Iya kak, tadi aku jalan sama angga teman ku, tak sengaja aku melihat bang Dika berboncengan sama cewek lain.. Kirain kakak. Tapi setelah di perhatikan dengan benar ternyata bukan" Jelas Siti.
"Sekarang mereka ke mana?"
"Ke arah Dompas kak, seperti nya mau pulang ke kantor deh" Ujar Siti lagi.
"Oke terima kasih info nya" Aku langsung menutup ponsel ku.
"Mana kunci motor Uti? Biar usu yang nyetir" Ujar ku mengambil kunci motor yang ada di tangan Uti.
"Tapi kan Usu lagi nggak enak badan"
"Udah nggak apa-apa. Ayo naik cepat"
Aku pun langsung melaju dengan motorku untuk mengejar Dika. Yah sepanjang perjalanan hati ini gelisah. Hati ini terasa perih karena teriris-iris oleh sikap Dika itu.. Tidak mungkin kekasih nya datang ke sini untuk menemani nya bukan? Secara ini sudah malam.
Aku memperlambat motor ku setelah berhasil mengejar Dika dan cewek yang bersama nya tadi. Melihat ada yang mengikuti nya dari belakang, Dika pun menoleh.
"Dari mana kalian?" Tanya ku dengan nada yang tidak bersahabat.
"Kak jangan salah paham dulu.. Aku hanya minta Dika mengantar ku untuk pergi ke rumah saudara ku" Ujar cewek itu yang merupakan keponakan karyawan kantor yang tak jauh dari kantor Dika tempati itu. Dia tahu bahwa aku adalah pacar nya Dika. Aku dan dia juga sering bertukar pesan waktu itu karena selalu menghubungi Dika. Sedang kan menghubungi Dika saja aku tidak suka, apa lagi keluar bersama nya.
"Oh gitu, emang nya gak bisa apa pergi sendirian? Selama ini tidak ada Dika kamu bisa hidup dan pergi ke mana-mana sendiri. Sudah lah sama aja kalian kegatelan nya" Ucap ku dengan penuh emosi di hati.. Aku memutar balik motor ku untuk pulang. Sedangkan mereka terus melaju untuk pulang ke tempat mereka yaitu di Lubuk Muda.
"Ini Uti bakso mu. Terima kasih ya sudah menemani ku" Ujar ku dengan menahan rasa sakit di hati dan di badan ku.
"Iya Usu sama-sama. Yang sabar ya Usu. Uti pulang dulu" Ujar nya langsung pulang ke rumah nya.
Aku pergi ke dapur untuk menyantap bakso yang ku beli tadi karena aku mau minum obat.
"Buk" Teriak ku.
"Iya ada apa?"
"Ini ada bakso, makan yuk" Ajak ku kepada ibu ku yang masih asyik dengan tv nya.
Ibu ku pun datang dan mengambil bakso yang ku belikan tadi.. Jangan tanya soal ayah ku. Dia selalu pergi keluar untuk bermain Domino dengan teman-teman nya di warung pojok sana.
"Apa kata dokter?" Tanya ibu ku.
"Hanya kelelahan dan masukkan saja bu" Jawab ku.
"Makanya jangan begadang lagi. Kamu sih selalu bergadang jadinya seperti ini kan" Ujar ibu ku lagi.
"Iya buk"
__ADS_1
"Ya sudah Ibu ke depan dulu mau nonton kamu setelah makan, minum obat terus istirahat ya" Titah wanita paruh baya itu membawa semangkuk bakso yang aku belikan tadi ke depan rumahku untuk menonton TV.
Aku beberapa kali menghela napas berat ku. Mencoba untuk menenangkan hati ku yang terasa sakit bagaikan di tusuk sembilu berbisa.
Aku memijit kepalaku yang terasa pusing karena memikirkan masalah ini. Tidak kusangka Dika bisa berbuat seperti itu. Secara ini adalah tempatku seharusnya dia bisa menjaga perasaanku bukan malah seperti ini. Bahkan di saat aku sakit dia malah enak-enakan berjalan bersama gadis lain.
Padahal aku berharap dia datang menjengukku di saat aku sakit seperti ini bukan malah keluar bersama gadis lain.
Ting...
Pesan dari Dika masuk di ponsel ku yang berbarengan dengan pesan dari gadis yang bersama dia tadi.
"Kak, jangan marah ya. Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi. Aku hanya meminta Dika untuk menemaniku" Pesan nya kepada ku.
"Aku tahu kamu suka sama dia. Dari caramu aku mengetahui hal itu. Secara aku selalu memperhatikan gerak-gerak saat aku berada di kantor Dika kamu yang selalu tebar persona dengannya" Pesan ku lagi.
"Maaf kak, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud melukai hati kakak"
"Sudah lah semua nya sudah terjadi.. Dan hati ku juga telah terluka. Kalian berdua sama saja" Ujar ku. Yah aku tidak mau memperpanjang masalah ini. Aku lelah dengan semua ini terlebih saat ini aku sedang tidak begitu sehat.
"Maaf ya kak, aku benar-benar minta maaf" Ucap Fitri lagi.
Aku tidak membalas pesan dari Fitri yang merupakan keponakan dari karyawan kantor itu.
"Cinta, sudah tiba di rumah?" Pesan dari Dika pula.
"Gak perlu kamu tahu, apa peduli mu" Balas ku dengan ketus.
"Kok gitu sih cinta? Salah jika aku perhatian sama pacarku sendiri"
"Perhatian bagaimana maksud kamu? Perhatian yang membuat hati aku terluka?" Tanya ku dengan emosi.
"Maaf cinta, tadi itu Fitri memintaku untuk datang di warung tak jauh dari kantorku ini. Dia ajak nanti mau ngumpul bareng di sana bersama teman-teman laki-lakinya. Setelah aku tiba di sana tiba-tiba saja dia naik motorku dan meminta ku untuk mengantarkannya ke rumah saudaranya. Katanya ada hal yang penting" Jelas Dika.
"Oh gitu, jadi kamu mau? Aku sedang sakit-sakit di sini bukan nya kamu datang untuk menjengukku malah kamu pergi mengantarkan gadis lain" Ujar ku lagi.
"Cinta tolong jangan marah. Aku tidak enak untuk menolaknya"
"Terus, Jika dia meminta mu untuk jadi pacarnya kamu mau?"
"Kok gitu sih ngomong nya"
"Sudah lah Dika aku lelah.. Lelah dengan semua ini. Aku bisa memaklumi jika masih ada Fida dalam hidup mu. Tapi tidak dengan gadis lain. Meski maksud kamu hanya mengantarkan atau apa lah itu tetap saja aku tidak suka dan sakit hati. Jika di balikan kamu menjadi aku, bagaimana perasaan mu?"
"Iya aku minta maaf cinta. Aku benar-benar khilaf. Aku tidak akan mengulangi nya lagi" Jelas Dika lagi.
"Entah lah, aku tidak tahu isi hati orang" Sindir ku lagi.
"Beneran cinta"
"Terserah. Aku mau istirahat aku lelah dengan semua ini. Dasar biawak lopak" Ujar ku lagi. Kembali kata panggilan ku semat kan ke Dika. Dulu panggilan itu untuk bang Dodi. Tapi sekarang untuk Dika.
"Maksud nya?"
"Ya biawak lopak kamu itu. Semua bangkai kamu hembat. Begitu pun dengan seorang gadis semua kamu telan" Ujar ku dengan penuh rasa emosi di hati.
"Terserah cinta kamu mau mengatakan apa tentang ku. Aku tahu aku salah dan tidak akan membela diri. Aku terima semua marah mu kepada ku itu. Ya sudah, istirahat lah cinta. Maaf kan aku ya. Aku janji tidak akan mengulangi hal ini lagi. Aku sayang sama kamu cinta" Ujar nya lagi.
"Aku butuh bukti bukan janji" Balas ku singkat padat dan jelas.
"Ya cinta aku akan membuktikan hal itu. Ini yang pertama dan yang terakhir kali nya" Ujar Dika lagi.
"Jangan hanya omongan doang. Aku gak butuh itu"
__ADS_1
"Iya cinta aku akan membuktikan nya"
"Lihat saja nanti. Aku mau istirahat dulu. Aku lagi gak enak badan dan mau istirahat cepat" Ujar ku mengakhiri pesan ku.