
"Hah...!!!" seketika Wisely sadar hingga membungkam mulutnya dengan cara menempelkan di kulit leher Moses. Dia kaget dengan ucapannya sendiri, tentu saja rasa malu begitu besar. Dia tahu bahwa sekarang wajahnya bersemu merah.
Moses tersenyum lebar sembari memejamkan mata. Sentuhan itu membuat sebagian tubuhnya menegang.
"Apakah kita akan tidur dengan posisi seperti ini?" karena sudah tidak tahan lagi dengan hawa panas, Moses berusaha melepaskan diri. Bagaimanapun dia adalah lelaki normal jika sedang bersentuhan begitu intim dengan lawan jenisnya, apa lagi sosok itu adalah wanita yang selama ini penghuni hatinya.
Glek!
Wisely menelan ludah, bisikan dengan suara parau itu membuatnya semakin malu. Spontan saja dia melepaskan pelukan erat, kemudian beranjak menjauh.
"Kau sangat lucu. Segeralah tidur, aku ada sedikit pekerjaan. Aku akan kembali setelah selesai," ujar Moses tidak fokus.
"Apa kamu membutuhkan kopi atau teh hangat?" tawar Wisely dengan jantung masih berdebar-debar. Dalam hati dia mengutuk kebodohannya, rasa malu cukup merendahkan harga dirinya akibat kecerobohannya sendiri.
Moses menggeleng. "Tidak, aku tak biasa minum sudah larut malam. Tidurlah!"
Wisely mengangguk, Moses pun keluar menuju kamar miliknya. Untuk beberapa menit bahkan jam dia akan menenangkan dirinya dengan segala macam untuk menuntaskan.
*
Keesokan harinya
Ternyata baik Moses maupun Wisely masih terlelap dengan posisi hubungan suami-istri karena pagi-pagi baik Ozora maupun Azura telah bangun dan meninggalkan kedua orang tua mereka, sengaja tidak membangunkan.
Oleh karena itu posisi mereka seperti bantal dengan guling.
Sementara di bawah sana, seusai jalan pagi-pagi di taman. Ozora maupun Azura memutuskan untuk kembali ke kamar, untuk membersihkan diri mereka.
__ADS_1
Mereka masuk secara bersamaan, pemandangan yang tidak biasa mereka pandang membuat keduanya malu.
Keduanya menutup mata dengan tangan masing-masing sembari mengomel tidak jelas.
"Kakak, tolong bangunkan Daddy sama Mommy," pinta Azura tidak berani memandang ke arah tempat tidur.
"Kamu saja!" jawab Ozora dengan cuek, lalu beranjak ke arah sofa panjang. Duduk dengan santai namun tentu saja menghadap ke arah lain.
"Orang dewasa memang bandel," celoteh Azura dengan bibir mengerucut.
Sementara orang yang di semprot masih terlelap tanpa merasa terusik sama sekali.
Azura menarik nafas dalam-dalam, kemudian memantapkan diri untuk membangunkan kedua orang tua mereka yang begitu lengket.
"Daddy, Mommy. Bangun.....!" teriak Azura dengan suara melengking, namun usahanya itu tidak membuahkan hasil.
Karena sudah leleh, Azura memilih duduk diam di tepi kasur. Sementara Ozora sibuk dengan Ipad-nya yang tentunya tentang pelajaran, seakan dia tidak peduli dengan sang Adik yang berusaha membangunkan kedua orang tua mereka.
"Bukankah sarapan sudah terhidang di meja makan? Kalau lapar makan saja," ucap Ozora, dia cepat merespon ketika mendengar keluhan sang Adik tercinta.
"Tapi aku ingin menunggu Dad maupun Mom." sembari menoleh ke arah kedua orang tua mereka.
Tak kunjung juga bangun, Ozora pun memutuskan untuk membangunkan kedua orang tua mereka.
"Mom, bangunlah!" Ozora berseru sembari menepuk punggung sang Mommy yang kondisinya berada dalam pelukan sang Daddy.
Dua kali mencoba akhirnya terdengar lenguhan dari keduanya. Keduanya menggeliatkan tubuh yang terasa kram akibat posisi tidur.
__ADS_1
Wisely berusaha membuka matanya perlahan, namun pandangan pertama adalah wajah tampan mantan suaminya yang begitu dekat hingga hembusan nafas menerpa wajahnya.
Seketika itu juga Wisely terbelalak kaget mendapati posisi mereka seperti pasangan suami-isteri.
Bukan hanya Wisely, Moses juga kaget namun rasanya enggan untuk menyudahi.
Tatapan intens mereka saling menyambut. Sangat jelas dari raut wajah Wisely, wanita itu kaget, bersemu merah.
"Selamat pagi," bukannya segera melepaskan pelukannya, Moses malah menyapa disertai senyuman.
Wisely menelan ludah, berusaha menertawakan dirinya. Dimana posisinya berada dalam pelukan, dengan kepala beralaskan tangan kekar itu.
Mereka sama sekali belum menyadari dua bocah yang sejak sedari tadi memperhatikan.
"Dad, Mom. Aku lapar!" Azura sengaja bersuara melengking hingga kedua orang tua mereka sontak kaget.
Dengan spontan Wisely mendorong tubuh Moses, melepaskan diri.
"Sayang, kalian sudah bangun?" dengan suara gugup Wisely bertanya.
"Dari jam enam," sahut Azura dengan wajah cemberut.
Wisely sontak kaget, di tambah lagi ujung matanya melirik jam dinding.
"Kenapa Mom tidak dibangunkan?"
"Mom sama Dad, saja tidak mau bangun," protes Azura. "Bahkan sepertinya sulit untuk memisahkan. Bagai lem dengan perangko saja!"
__ADS_1
Hah....
Baik Moses maupun Wisely menganga, saling menatap.