TAKDIR

TAKDIR
Bab 52


__ADS_3

Pagi itu dengan senyum merekah aku bangkit dari tidur ku. Yah ini adalah hari kedua aku dan Dodi jadian.


Betapa senang nya hati ini. Meski pun kami cinta jarak jauh yang di halangi oleh lautan, tapi tetap saja itu membuat ku bahagia. Untuk saat ini hati ku kembali percaya kepada nya bahwa aku lah satu-satu nya cinta yang ada di dalam hati nya. Dengan semangat empat lima aku berangkat ke kantor tempat ku bekerja.


Oh ya, aku belum menceritakan bahwa Yus sahabat ku itu tidak memiliki nasib seberuntung aku. Dia sama sekali tidak di tarik kerja di tempat nya magang. Hanya bang Rizen saja yang di tarik kerja di sana. Karen tempat itu mayoritas nya laki-laki.


"Siang saya akan traktir kalian makan semua. Jadi kalian tidak perlu pulang" Ujar salah satu pak kepala ruangan di kantor itu.


"Serius pak?" Tanya ibu nya Nindi.


"Iya, kita cari tempat makan yang enak. Di mana enak nya?" Tanya bapak tadi lagi.


"Di pangkalan jambi pak, ada itu rumah makan yang baru di buka. Kata nya di sana enak pak" Saran dari salah satu pegawai di sana yang bernama pak Andi.

__ADS_1


"Boleh, boleh. Kita ke sana pakai mobil ya, tapi saya mau duduk nya di samping Ramah" Ujar bapak itu lagi.


"Waduh" Ujar ku kaget.


"Kenapa kaget Ramah, apa salah nya kita duduk berdampingan"


Aku hanya tersenyum kecut mendengar perkataan dari bapak tadi.


"Sebentar pak, saya ambil mobil nya dulu" Ujar pak Andi tadi langsung keluar untuk mengambil mobil nya.


"Ya ampun Ramah, ngapain kamu kamu pakai sepatu seperti itu? Seperti orang mau silat saja kamu" Tegur nya saat itu.


"Cuma sepatu ini yang saya punya saat ini pak. Besok kalau sudah gajian baru saya beli sepatu baru" Jawab ku.

__ADS_1


"Gak, gak, gak bisa. Pokok nya kamu harus mendapatkan sepatu kerja secepat nya. Berapa ukuran kaki mu mau saya belikan" Ujar nya kepada ku.


"Tiga puluh sembilan pak" Jawab ku.


"Oke saya akan belikan nanti"


"Lo,. Pak hanya Ramah aja yang di belikan sepatu nya? Kami juga mau lo pak. Gak adil dong jika begitu" Ucap salah satu karyawan yang satu ruangan dengan ku yang bernama kak Wati.


"Ya udah kalau gitu. Catat semua ukuran sepatu perempuan di kantor ini. Nanti saya belikan" Ucap nya lagi.


Dengan semangat empat puluh lima ibu nya Nindi mencatat ukuran sepatu semua perempuan yang ada di kantor itu.


Dan sekarang dia malah mengajak kami makan siang bersama. Yah memang hal itu sering ia lakukan. Mungkin karena istri dan keluarga nya jauh dan dia kesepian jika makan sendirian. Karena itu ia meminta selalu di temani.

__ADS_1


Kami pun pergi ke rumah makan yang ada di Pangkalan Jambi dengan menggunakan mobil pak Andi.


__ADS_2