
"ma.. Asti berangkat dulu ya ma.. buru buru nih ma mau berangkat!!"
teriak Asti sembari memakan selembar roti dengan selai, yang berlari keluar.
"Asti!! bontot mu sayang!!!"
teriak mama dari dapur.
namun karena terburu-buru Asti sudah berangkat meninggalkan rumah dan hanya menyisakan jejak mobilnya saja.
ya, pagi ini Asti lumayan terburu buru karena dia sudah telat. bukan telat, namun sangat telat. tadi pagi ia sedikit bangun kesiangan karena merasa akhir akhir ini tubuhnya sangat capek.
hari ini adalah hari pertama nya magang, namun yang ia lakukan di hari pertama adalah kesalahan yang sangat fatal menurut nya.
"Asti!!!! dasar, sudah tau magang! kenapa bangun kesiangan sih!! ini pasti gara gara tadi malam"
gerutu Asti pada dirinya sendiri sembari fokus pada jalanan nya.
flashback on
"ma mulai besok Asti akan magang ma"
ucap Asti memberitahu kedua orang tuanya, saat makan malam bersama.
"oh ya, wah kalau begitu besok jangan sampai telat ya sayang?"
jawab mama dengan bahagia.
"iya ma, itu pasti"
ucap Asti ssambil tersenyum dan menikmati makanan nya.
"ingat as!! karena besok kamu magang. kamu tuh harus jaga sikap dan perilaku mu!! jangan egois, paham!"
ayah menasehati Asti.
"iya ayah paham"
jawab asti sembari menekankan nada nya di setiap kata.
saat selesai makan malam, Asti pun beranjak dari makannya dan segera masuk ke dalam kamar. ia pun memutuskan untuk membunyikan musik dan membaca buku pelajaran, padahal ia sudah membacanya. namun, Asti masih saja baca karena ia takut ia akan lupa.
apalagi besok adalah hari pertama magangnya dia ingin memberikan yang terbaik. namun, entah mengapa Asti ingin sekali menonton film kesukaan nya yaitu horor.
dia pun mematikan lagunya dan mulai menonton film horor. film horor pertama yang dia tonton sudah selesai. sebelum ia melanjutkan film horor selanjutnya dia pun melihat jam. namun jam masih menunjukkan pukul sembilan kurang.
dia pun memutuskan untuk satu kali lagi menonton film, hingga akhirnya ia benar benar tertidur dengan film yang masih menyala di sana.
Flashback off
pagi yang indah namun tidak mendukung Asti kali ini, itulah yang bisa Asti katakan di pagi ini.sudah telat pergi magang, kini dia harus dihadapi dengan hal hal yang biasa terjadi yaitu kemacetan.
kemacetan sontak membuat Asti tambah jengkel, seketika udara di dalam mobilnya menjadi panas. merasa AC yang hidup pun tidak berguna. Asti menghidupkan klakson nya berulang ulang kali membuat keramaian di jalan di tengah tengah kemacetan.
namun, apa yang bisa Asti lakukan? karena ini adalah jalan satu satunya menuju ke rumah sakit tempat ia magang.
sementara itu hp nya terus saja berdering membuat Asti kesal dan mengangkat nya.
"gue lagi dijalan"
"gue lagi kena macet!! tolong sampaikan kepada dokternya, satu jam lagi gue janji bakal nyampai"
Asti mematikan telpon.
••••••••
tak lama kemudian, Asti sampai pada area parkir mobil. dia pun turun dari mobil dan segera bergegas untuk masuk.
disana sudah terlihat ke tiga temannya yang sedang mendengarkan peraturan rumah sakit yang di jelaskan oleh seorang laki laki.
"maaf pak, saya telat"
ucap Asti menundukkan kepala.
"kamu tau kan, bahwa seorang dokter itu harus cekatan dan tepat waktu?"
ucap laki laki tersebut.
Asti mengangguk.
"jadi kenapa kamu bisa terlamba?"
tanya laki laki itu.
"saya tadi...
ingin mengatakan sejujurnya namun Asti takut itu akan mempermalukan nya.
"saya tadi kejebak kemacetan pak. maaf"
jawab Asti singkat.
"baiklah, karena kamu sadar dengan kesalahan mu saya maaf kan. tapi lain kali ingatlah! bahwa kemacetan bukan menjadi alasan untuk menjadi seorang dokter"
ucap laki laki itu jelas.
Asti mengangguk kan kepala.
"oke, karena kamu terlambat! kamu bisa tanyakan kepada mereka"
ucap laki laki itu, dan pergi meninggalkan ruangan.
saat laki laki itu sudah keluar dari pintu, Asti pun mengeluarkan nafas dengan lega.
"as, loh kok bisa terlambat sih? padahal kan kamu mahasiswa teladan? memalukan!"
ucap Jefri cetus.
"diam lah!! baru sekali melakukan ke salahan saja aku sudah di bilang memalukan! bagaimana dengan mu yang hampir tiap hari telat?"
jawab Asti cetus, tak mau kalah.
walaupun disini posisinya memang Asti lah yang salah.
__ADS_1
"sudah sudah!! katakan kenapa kau bisa telat"
ucap Sindi mengakhiri semua.
"aku terlambat karena tadi malam maraton film..
Asti cengengesan di akhir kalimat.
Sindi yang tau Asti habis maraton film apa, pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. ya, dia akan kalah jika dengan film kesukaan nya yang berbau mistis.
"laki laki tadi itu siapa?"
tanya Asti saat mereka berjalan.
"laki laki itu adalah pemilik rumah sakit ini namanya pak Alex. dia yang akan turun tangan langsung untuk magang kita kali ini. karena katanya kita kita ini merupakan mahasiswa kebanggaan dosennya. jadi dia tertantang seberapa bisa kita di andalkan? dan seberapa jauh kemampuan kita hingga dibanggakan oleh para dosen"
jawab Julia.
"ngeri sekali? aku rasa ini akan menjadi tantangan tersendiri sih bagi ku!"
ucap Asti merasa tertantang juga.
pak Alex kemudian memperkenalkan mereka kepada dokter dokter yang ada dirumah sakit ini.
"baiklah para dokter dokter ku. perkenalan kan ini adalah mahasiswa magang dari universitas favorit. mereka akan magang disini selama beberapa bulan, jadi saya harapkan kerja samanya. saya harapkan juga, agar kalian bisa membantu mereka. dan ya, perintahkan saja mereka jika kalian kesulitan atau butuh bantuan. tapi, tetap dalam pengawasan kalian"
ucap Alex di depan semua para dokter.
"ayo perkenalkan nama kalian kepada para dokter"
perintah Alex.
"halo dokter, perkenalkan nama saya Sindi"
ucap Sindi memperkenalkan diri dengan senyuman yang bahagia.
"hai, dokter! perkenalkan saya Julia"
ucap Julia melambaikan tangan.
"perkenalan nama saya Jefri"
ucap Jefri dengan gaya cool nya.
"hai. semua dokter! salam kenal dari saya. semoga ke depannya para dokter semua bisa membimbing saya dengan baik dan benar. perkenalkan nama saya Asti Ayunda Sari"
ucap Asti sembari tersenyum tipis.
"baiklah karena kalian masih baru, jadi tugas pertama kalian adalah mengenal lingkungan rumah sakit ini"
ucap Alex.
Asti, Jefri, Sindi dan Julia pun menganggukkan kepala.
"saya akan pergi. dokter kembali lah ke pekerjaan kalian!"
laki laki itu melangkah keluar untuk pergi. sedangkan para dokter pun berbubaran, mereka kembali pada pekerjaan mereka masing masing.
sedangkan Asti dan teman temannya mematung tidak tau harus ngapain, ketika semua dokter bubar kembali ke pekerjaan nya masing masing.
tanya Sindi cingungan.
Julia mengangkat bahu.
Asti pun mulai pergi berjalan, meninggalkan mereka bertiga.
"as lhu mau kemana?"
•••••••••
Asti berjalan memperhatikan setiap sudut rumah sakit. membaca setiap ruangan rumah sakit dan memperhatikan suster yang sednag memberi obat, atau sedang memaksa pasien untuk makan.
dan tak jarang juga Asti melihat dokter yang memeriksa keadaan pasien nya. ini seperti harapan nya, ya harapan yang sebentar lagi akan menjadi nyata baginya. ini semua seperti apa yang ia pikirkan. senang rasa nya melihat hal hal seperti ini, sesuai harapan nya.
Asti masih terus menyelusuri setiap ruangan di rumah sakit ini. bahkan dia tak jarang senyum dengan perawat yang lewat lalu lalang di lorong. sedangkan, ketiga temannya terus membuntuti Asti seperti ekor.
selesai mengelilingi setiap sudut dan lorongnya Asti pun ke taman. disana dia melihat beberapa orang yang sakit menggunakan kursi roda di temani dengan suster.
ada pasien yang duduk di kursi sendirian, namun amaih di jaga oleh perawat dari Jaka yang cukup jauh, ada yang pasien berjalan dengan tongkatnya.
sampai mata Asti terbelalak besar ketika melihat perawat yang menyulangi seorang nenek nenek yang menolak untuk makan.
Asti pun menghampiri nya sendiri tanpa ketiga temannya.
"hai, suster? apakah aku boleh membantumu?"
Asti menawarkan diri.
suster ini merasa ragu.
"tenang lah, percaya padaku. aku akan berusaha membuatnya makan"
ucap Asti meyakinkan suster tersebut.
akhirnya suster ini pun menyodorkan piring yang berisi nasi kepada Asti, Asti menerima nya dengan senang hati.
dia perlahan duduk di samping kursi roda nenek tersebut.
"halo nek?"
sapa Asti sembari tersenyum.
"nek, kenali aku Asti. nenek namanya siapa? Asti kan sudah memperkenalkan diri"
ucap Asti memainkan ekspresi wajahnya
nenek itu masih menatap Asti merasa heran.
"oh iya nek, cuaca hari ini sangat bagus ya? tapi.. percuma cuaca bagus jika keadaan nenek kurang baik. gak ada artinya ya kan nek?"
nenek itu menatap Asti lagi.
"iya gak ada artinya, lalu untuk apa nenek dirawat? Jika di rawat pun nenek gak mau berjuang untuk sembuh. mending...
__ADS_1
"kamu ini cerewet sekali"
ucap nenek itu membuka suara.
Asti tertawa, rencana nya berhasil.
"maklum nek, kalau nenek tau orang tua saya. bahkan dia lebih cerewet dari saya"
"oh ya? apakah kau tidak bising dengan suaranya?"
perlahan Asti pun menyuapkan makanan tersebut kepada nenek itu, sembari bercerita nenek itu sembari disuapin makan oleh Asti, hingga tidak terasa nasi yang berada di piringnya habis.
seuster yang melihatnya sangat tercengang, karena belum ada yang bisa membuat nenek ini makan hingga habis.
hanya dalam beberapa menit astid an nenek itu menjadi dekat, tak jarang juga mereka tertawa membuat suster yang melihatnya merasa senang.
••••••••••••••••
"makasih ya, telah membantu saya"
ucap suster tersebut.
Asti tersenyum mengangguk.
"oh iya ngomong ngomong kamu siapa? saya baru pertama kali melihat kamu disini?"
tanya suster tersebut.
"perkenalan saya adalah Asti. saya adalah mahasiswa magang dari universitas favorit"
jawab Asti sembari tersenyum.
"nama mbak siapa?"
tanya Asti balik.
"nama saya Ria"
"oo,, saya harap kedepannya kita dapat bekerjasama dengan baik ya mbak. jangan sungkan-sungkan jika mbaknya membutuhkan bantuan saya"
ucap Asti sembari tersenyum lebar.
mereka pun berjalan hingga terasa mereka harus berpisah. Asti pun mencoba melihat keadaan di sekitar nya. dia melihat seorang anak kecil yang menangis. Asti mendekati anak tersebut, dilahatnya tak ada orang yang menemaninya.
"kamu kenapa nangis sayang?"
tanya Asti sembari menenangkan anak kecil tersebut.
"aku berpisah dari mama ku kak"
rengek anak kecil tersebut.
"baiklah, ayo ikut kakak. kau mau kakak belikan sesuatu?"
tanya asti kepada anak kecil tersebut.
seketika anak kecil itu pun langsung diam, nangisnya seketika mereda.
"tapi.. gimana sama mama kakak?"
"tenang saja, setelah ini kakak janji kita akan cari mama bersama sama"
ucap Asti mengelus ujung kepala rambut anak kecil tersebut.
anak kecil tersebut pun mengangguk.
sembari mereka berjalan, Asti pun sembari bertanya kepada anak kecil tersebut.
"oh iya, kakak lupa siapa nama adik?"
"nama saya Zusi kak"
"em,, ya sudah pilih lah apa yang ingin kamu beli"
Zusi pun memilih makanan yang diinginkannya lalu Asti membayarnya. setelah membayarnya, Asti melihat anak itu ingin segera memakannya. Asti pun menduduki dia di salah satu meja kantin.
lalu memulai pembicaraan lagi.
"kamu, ngapain kesini?"
"saya kesini karena kawan mama ada yang sakit kakak"
jawab Zusi dengan wajah lugunya.
"kamu tidak takut dengan jarum suntik?"
tanya Asti penasaran, dia mulai bersikap seperti anak anak.
Zusi menggeleng.
mereka pun berbicara banyak. setelah dia merasa Zusi sudah tidak ingin memakannya dia pun membawanya ke ruang resepsionis.
menaruhkan nya di ruang resepsionis, dan menanyakan kepada resepsionis. lalu resepsionis pun segera menghubungi pihak keamanan. setelah itu pihak keamanan mencari tau orang tua anak kecil ini, dan ternyata ibu anak kecil ini juga mencarinya.
dikejarnya wanita tersebut agar bisa memberitahu keberadaan anaknya, tak lama kemudian anak dan ibu ini saling berpelukan.
"terima kasih ya pak, saya ucapkan"
ucap ibu itu.
"tidak buk, jangan berterima kasih kepada saya. tetapi kepada pihak resepsionis"
saat ibu itu hendak berterima kasih kepada resepsionis, resepsionis itu pun langsung menunjuk Asti yang sedang berdiri di belakang anak tersebut.
ibu itu pun langsung paham.
"makasih ya nak, karena sudah menemukan anak saya. jika tidak ditemukan saya tidak tau apa yang akan terjadi dengan saya"
Asti pun tersenyum memegang ujung kepala Zusi
"sama sama bu, lain kali jika bawa anak. perhatikan dia, jangan ditinggal sendiri"
asti pun mencubit pipi Zusi yang merasa gemas dengan Zusi yang polos.
__ADS_1
ibu tersebut mengangguk dan berpamitan pergi meninggalkan rumah sakit.