Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan

Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan
TPBK 170


__ADS_3

"iya boleh, ini.."


jawab Asti memberikan selembar kartu namanya yang disana tertera nomor Asti.


"kau bisa telpon dari nomor itu, karena yang ngurus semua jadwal ku adalah asisten ku. jadi kau bisa janjian dengannya agar jadwalku bisa diurus dengannya"


ucap Asti lagi lanjut.


ya, sejak ia memiliki asisten pribadi Asti memang tidak pernah membagikan kontak nomor pribadinya kepada rekan bisnisnya atau rekan kerjanya, hanya beberapa orang saja yang menurut Asti itu nomor penting. ia selalu memberikan nomor yang dipegang oleh asisten nya itu kepada rekan dan temannya.


"apa kau sudah memiliki pacar?"


pertanyaan David kali ini membuat Asti syok bukan main. kata 'pacar' masih membuat Asti trauma. seakan semua kenangan nya kini berputar seperti kaset di otaknya.


"kenapa kau menanyakan itu?"


tanya Asti balik yang sedikit merasa tidak nyaman.


"aku hanya ingin kenal lebih dekat dengan mu. sejak saat aku melihat foto mu, aku sangat tertarik dengan mu"


jawab David yang jujur.


"foto?"


tanya Asti tak paham.


"iya, Jaka mengirimkan foto mu kepada ku. dia bilang dia butuh seorang adik ipar yang bisa menyayangi adiknya. ia menawarkan mu karena, aku juga mencari seorang istri"


jawab David santai.


Asti semakin tidak paham dengan semuanya


"tunggu tunggu!! gimana tadi Abang jaka ngirim kan foto ku kepada mu?"


David mengangguk.


dan benar sejak awal dugaannya tak pernah salah. kini kemarahan besar membendung di lubuk hati Asti.


••••••••••••••••••••••


"pagi ibu dokter"


sapa resepsionis rumah sakit.


Asti pun tersenyum tanpa menjawabnya lalu berjalan terus menuju ruangannya.


"Apri!! cari tau keberadaan pak direktur dimana? hari ini aku ada janji dengannya untuk bertemu dengan orang penting dirumah sakit ini. jadi kau cancel lah semua jadwalku siang ini"


ucap Asti memberikan perintah pada saat sudah sampai di ruangannya itu.


"permisi Bu, saya ingin menyerahkan berkas berkas riwayat pasien"


ucap ana yang membawa setumpuk berkas itu.


"iya, letakkan saja di lemari ku itu, susun lah dengan benar!"

__ADS_1


perintah Asti.


"Bu, apa ibu tau semalam orang penting itu Dateng ke rumah sakit"


ucap ana yang memulai cerita.


Asti pun memancingnya, menurutnya sebelum bertemu ia harus sedikit tau tentang orang penting itu, mengapa ia sangat penting Dimata direktur tertinggi sekali pun.


"lalu?"


"ternyata Bu, orang penting itu masih muda Bu. bahkan dia belum menikah sama sekali. dia tampan, sopan, pokoknya gak sombong lah Bu. yang lebih hebatnya lagi dia di dampingi oleh bodyguard dimana mana seperti ibu yang didampingi asisten ibu dan beberapa bodyguard"


"kau tau alasan kenapa dia tamu spesial?"


tanya Asti memancing lagi.


"iya Bu aku tau, dia tamu spesial karena hampir 60% saham rumah sakit ini miliknya. wah, kaya banget berarti kan Bu? enggak itu aja Bu, gosip yang beredar sih Bu, dia jarang berkunjung karena rumahnya bukan disini. melainkan di luar negeri Bu"


"kau tau siapa namanya?"


ana pun mencoba mengingatnya


"namanya.. ke.. ke.."


ucapan ana yang masih sepotong-potong itu membuat Asti berdegup dengan kencang. karena pikirannya kini tertuju pada Kevin. kini secercah harapan pun mulai datang menghiasi pikiran Asti tapi, Asti berusaha berfikir dengan logika, bahwa itu tak mungkin Kevin.


jika itu Kevin, mana mungkin. soalnya Kevin menghilang selama empat tahun lamanya. tidak mungkin Kevin kembali dengan tiba tiba.


"ke.. Kelvin kayaknya Bu. iya Kelvin. tapi aku gak tau kepanjangan nya siapa, yang jelas awalannya k e"


mendengar jawaban itu Asti sedikit kecewa


namun tak masalah baginya, karena sekarang Kevin bukan lah siapa siapa lagi baginya.


"permisi non, pak direktur sudah menunggu anda di restoran biasa"


ucap Apri yang entah sejak kapan berdiri di samping Asti.


"oh, yaudah kita kesana. gak enak jika mereka menunggu kedatangan ku"


Jawab Asti yang melangkah keluar di ikuti dengan ana dan Apri disana.


••••••••


sepanjang perjalanan Asti terus mengingat kejadian dimana ia merasakan nyawanya kembali, detak jantung yang selama ini berhenti sesaat ia merasakan detak jantung nya berfungsi kembali.


"as, kamu kenapa? seperti sedang memikirkan sesuatu?"


tanya Apri yang cemas dengan kondisi bos nya itu.


"aaa tidak, aku baik baik saja".


jawab Asti yang langsung sadar dari lamunannya.


"dimana mereka?"

__ADS_1


tanya Asti pada Apri asisten pribadi nya itu.


"ha, itu mereka mereka ada di sudut sana!"


tunjuk Asti pada meja yang disana terdapat empat orang, dua berdiri dan duanya lagi duduk. dari jauh Asti tampak tanda dengan wajah direktur nya setelah tadi Apri tunjukkan dimana tempatnya.


dengan antusias Asti pun mendekati meja tersebut berjalan dengan anggun.


sementara itu di meja makan terdapat seorang paruh baya dan pemuda yang sedang berbincang-bincang, sembari menikmati makanan yang telah di sugu kan.


"pak, saya permisi sebentar ke toilet"


ucap pemuda itu dengan sopan.


"silahkan pak, silahkan"


jawab laki laki paruh baya itu dengan hormat, lalu pemuda itu segera pergi ke toilet.


"pak!!"


sapa Asti saat tiba, namun disana Asti tak melihat sosok pemuda itu.


"eh Asti, saya kira kamu akan Dateng lama. oh iya Asti perkenalkan dulu ini asisten pribadi nya namanya tuan Joan"


balas direktur itu sembari memperkenalkan asisten pribadi milik orang penting itu.


"Asti, senang bertemu dengan anda"


ucap Asti memperkenalkan diri kepada Joan, tanpa salaman sama sekali.


Joan terdiam sesaat karena kaget, wajah yang tak asing dimatanya. ya, Joan tau bagaiman bentuk wanita yang dicintai oleh bosnya itu. ia tak menyangka bahwa ia akan bertemu dengan masa lalu bos nya itu secepat ini.


"hei!!"


ucap Asti sembari berdada dada di depan mata Joan.


"maaf maaf nona, saya Joan senang bertemu dengan anda juga"


jawab Joan singkat.


"bagaimana Kevin bisa melupakan nya, dilihat dari penampilan nya ia begitu sopan menunjukkan attitude yang baik, dan cantiknya juga gak kalah. bahkan Andara saja kalah dengan nya jika dibandingkan"


ucap Joan dalam hati memuji selera tuannya itu.


"kali ini aku memuji selera mu boss"


ucap Joan lagi dalam hati.


"maaf pak saya lama Dateng dari toiletnya"


ucap pemuda itu sebelum duduk.


posisi Asti yang membelakanginya itu sontak membuat Asti terkejut saat mendengar suaranya. ya, suara yang tak akan pernah asing baginya. suara yang hilang sejak empat tahun yang lalu, suara dimana itu adalah kenangan yang tak akan mungkin ia lupakan. suara dimana ia selalu merindukan pemiliknya, suara yang hilang tanpa jejak.


"iya pak, gak masalah. ayo duduk, kita nikmati lagi makanannya"

__ADS_1


perintah pak direktur dengan rasa hormat.


__ADS_2