
Asti dan Kevin telah sampai pada tujuan mereka. sebenarnya bukan tujuan mereka melainkan tujuan Kevin sendiri.
Asti kaget ketika kevin mengajaknya pergi ke rumahnya.
"Vin kenapa kita pergi ke rumah kamu?"
tanya Asti pada Kevin.
namun Kevin tidak meresponnya, dia berjalan meninggalkan Asti yang masih terpaku disana.
"mau tetap disitu, apa masuk"
ucap Kevin cetus, tak menoleh sama sekali ke arah Asti.
Asti pun segera masuk.
"sebenarnya, kenapa sih sama Kevin!!"
Asti pun berjalan dengan kesal dan berat hati. namun rasa itu hilang ketika keluarga Kevin menyambut ke datengan Asti.
"kakak"
Keysa memeluk Asti, Asti pun membalasnya kembali.
"lama sekali kakak tidak main kesini, Keysa kangen?"
lirih Keysa, sembari menunduk.
Asti tau Keysa sedang sedih dan kecewa padanya
"Keysa, maaf ya. kakak akhir akhir ini sibuk dengan tugas kakak. tapi sebentar lagi kakak gak akan sibuk kok. Keysa doakan saja ya biar, tugas Kakak cepat selesai"
Keysa pun mengangguk paham.
lalu tak lupa Asti menyalami kedua orang tuanya Kevin.
"Asti? kok kamu gak pernah main kemari sih? apa kamu tidak kangen dengan Tante?"
tanya mama Kevin memeluk Asti lalu menatap Asti.
"maaf Tan, Asti kan lagi sibuk. lagian kan Asti sama kevin udah janji gak akan ketemuan sampai skripsi Kevin benar benar siap"
mendengar jawaban dari Asti, membuat mama Kevin tersenyum manis padanya.
"makasih ya, karena sudah mu mengabulkan permintaan Kevin. dan mau bersabar"
"yaudah yuk masuk, mau sampai kapan kita diluar sini. didalam juga ada orang kan?"
ajak Zain.
mereka pun masuk ke meja makan.
"eh, ada neng cantik"
goda bibi saat melihat Asti.
seketika mata kedua orang tersebut langsung mengikuti arah mata bibi yang menatap. betapa kagetnya mereka berdua ada Asti disana.
Asti yang merasa malu, hanya tersenyum.
"ah, bibi bisa saja. selalu saja menggodaku seperti ini"
__ADS_1
"sudah sudah bibi, jangan mengganggu putri tersayang ku ini. dia memang cantik bibi"
tambah mama Kevin.
kini mereka sudah duduk di meja makan yang penuh dengan makanan dari ujung meja sampai ujung meja.
Asti merasa canggung dengan keadaan ini, karena kedua orang tersebut. ya tentu saja itu adalah pak Alex dan adiknya Lulu.
Kevin melihat kecanggungan yang dirasakan Asti.
Kevin pun diam diam memegang tangan Asti sebelah kanan dengan erat, pegangan itu tidak luput dari tatapan mereka berdua.
"Asti apakah benar kamu dan pak Alex sudah kenal?"
tanya mama Kevin.
"sudah Tan, kebetulan beliau adalah pemilik dari rumah sakit yang Asti magangi saat ini"
jawab Asti ragu, sembari menatap mereka berdua secara bergantian.
"lalu, kamu kenal sama Lulu dari mana as?"
tanya Alex tiba tiba.
"emang kamu kenal sama Lulu?"
tanya mama Kevin lagi.
"kenal Tan, saat kami pergi liburan yang nginap itu Tan. sama Kevin juga kok?"
Asti menatap Kevin.
"iya ma, kemarin gak sengaja ketemu sama Lulu saat liburan"
"Asti, saya kira kamu dekat sama Kevin hanya sebatas teman. ternyata lebih dari itu..
ucap Alex menatap Asti sangat intens, membuat Asti sedikit tidak nyaman.
"iya kak. kami hanya teman di dalam kampus, tapi diluar kami sepasang kekasih yang akan serius dengan hubungan ini"
jawab Kevin, menatap Asti. Asti pun membalas tatapan tersebut.
jujur Kevin sangat tidak suka dengan tatapan Alex kepada Asti. sebagai nurani seorang laki laki entah kenapa dia merasa sangat risih dengan tatapan Alex kepada kekasihnya Asti.
sedangkan Lulu yang mendengarnya tampak sedang menahan emosinya. sembari melirik Asti dengan tatapan kejamnya. emosi nya dia tahan karena ada mama dan papa nya Kevin.
"ahh,, kamu bisa saja Vin"
sahut mama mendengar suara anaknya yang lantang, seperti memang ingin serius.
"Halah, mama juga kepengennya gitu kan?"
sambar kakak Kevin.
mama Kevin hanya menatap anaknya perempuan dengan tatapan yang malu.
sedangkan Lulu yang mendengarnya merasakan panas, seketika darahnya sudah mendidih.
"tidak disangka, ternyata keluarga Kevin sangat menyukai Asti. baiklah Asti, permainan akan di mulai, aku akan merebut apa yang menjadi hak ku dari dulu"
ucap Lulu penuh dengan dendam.
__ADS_1
••••••••
setelah acara selesai, mereka pun pulang dengan segera. karena tiba tiba Alex dapat telpon dari rumah sakit. padahal, alasan tersebut hanya alasan embel embel semata.
karena jujur Alex tidak tahan lagi dengan rasa cemburunya, tidak Alex saja Lulu pun juga merasakan hal yang sama. lebih baik Alex menghindar dari pada dia mempermalukan dirinya sendiri.
saat ini tinggallah Kevin dan Asti yang duduk di ayunan belakang.
"Vin, ayo pulang?"
ajak Asti.
Kevin menarik tangan Asti yang hendak melangkah.
"aku ingin bicara"
Asti menoleh dan menatap Kevin.
"bicara lah"
"siapa laki laki yang sedang dekta dengan mu sekarang"
tanya Kevin datar.
Asti berpikir sejenak, pasalnya memang dalam akhir akhir ini banyak yang mendekati.
"siapa? aku gak tau. soalnya akhir akhir ini aku sering berinteraksi dengan banyak orang"
jawab Asti santai.
Kevin pun mengacak rambutnya dengan kasar.
"Dia, yang kemarin dekat dengan kamu. yang jemput kamu!!"
ucap Kevin mulai kesal.
Asti bisa melihat dengan jelas ke kesalan nya di wajah Kevin.
"Vin tenanglah. aku akan jelaskan padamu"
Asti pun menceritakan semua nya dnegan detail kepada Kevin tanpa satu pun yang ketinggalan.
"kenapa kamu tidak bilang sama aku? kenapa kamu gak nolak aja tawaran pak Adi? itukan bersifat pribadi diluar dari kampus!"
tanya Kevin pada Asti, yang kesal menerima tawaran pak Adi.
"Vin, aku terima tawaran nya karena cerita pak Adi. kasian dia Vin, pak Adi saja sudah tidak kuat menghadapinya. mungkin denganku dia bisa sedikit berubah, setidaknya dia bisa lebih memaknai hidup. kamu gak kasian sama pak Adi? dia sudah sendirian gak punya istri, dan sekarang dia harus ngadapi keponakan nya yang seperti itu. yang ada repotasi pak Adi di kampus akan jatuh Vin"
jelas Asti.
"Vin, aku cuma mau mengubahnya sedikit. setidaknya dia bisa lebih memaknai hidup. saat ini aku sedang mengajaknya utnuk emlihat kebawah. aku ingin dia menjadi orang yang bersyukur dulu, dengan dia bersyukur dia pasti akan bisa menghargai hidup dan orang lain. dan ya, aku gak bilang sama kau, karena itu terbatas oleh janji kita. aku takut dengan aku bilang itu akan membuatmu tidak fokus"
jawab Asti lagi, kali ini dia menatap mata Kevin dalam dalam.
"percaya lah Vin, aku akan selalu jadi milikmu. aku sudah yakin dengan semua pengorbanan mu untuk ku. kau sangat tulus mencintaiku, aku gak akan kemana mana, aku janji"
ucap Asti lagi.
Kevin pun mencium telapak tangan Asti berulang ulang kali, karena dia merasa bahagia. mendengar ucapan Asti lagi.
"baiklah kalau kayak gitu kita akan pulang. kamu pasti besok akan Dateng pagi kan? aku gak mau sampai Asti kuterlambat"
__ADS_1
mereka pun segera pamitan dengan kedua orang tua Asti dan pergi meninggalkan rumah Asti.