
pagi yang indah kini menyambut Asti penuh dengan cahaya yang sangat bersahabat. di temani juga dengan kicauan burung yang bertengger di setiap pepohonan yang berada di tepi jalan. lalu di tambah lagi dengan senyuman seseorang yang berada di samping nya. membuat pagi ini serasa sangat bersahabat dengannya. ya siapa lagi kalau bukan Kevin di sampingnya.
"oh iya jangan lupa kabarin aku kalau kamu mau pulang. ingat!!"
Kevin mengingatkan Asti saat Asti hendak turun dari mobil.
"iya aku gak lupa Vin. kamu juga harus stand by ya kalau aku suruh jemput? aku gak mau nunggu lama"
balas Asti, lalu turun dari mobil.
"ya"
jawab Kevin singkat.
setelah itu Kevin menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan Asti yang masih berdiri disana. sedangkan Asti, melambaikan tangan tanda perpisahan. hingga mobil tersebut lenyap dari mata nya lalu ia pergi kembali ke rumah sakit menyiapkan apa yang diperlukan untuk kebutuhan skripsi nya.
"hai Asti"
sapa resepsionis yang melihat Asti berjalan di depannya.
Asti membalas dengan anggukan dan senyuman, lalu berdiri tepat di hadapan resepsionis tersebut.
"oh iya apakah pak Alex masuk hari ini?"
tanya Asti.
"iya, kenapa Asti?"
tanya balik resepsionis tersebut.
"o,, tidak aku hanya ada perlu sebentar sama beliau. ada beberapa berkas yang perlu ditanda tangani beliau untuk tugas kuliah ku"
jawab Asti dengan hati hati, takut resepsionis tersebut berfikir yang tidak tidak antara dia dan pak Alex.
resepsionis tersebut pun mengangguk kan kepala nya mendengar jawaban Asti.
"yaudah ya, kalau gitu aku ke ruangan beliau. soalnya aku dikejar waktu nih"
ucap Asti dan segera meninggalkan resepsionis tersebut.
berjalan menaiki lift menekan tombol lift, tak lama kemudian pintu lift terbuka membawa Asti pergi kelantai atas tempat dimana Alex bekerja.
"assalamualaikum pak permisi"
ucap Asti sembari mengetuk pintu ruangan.
Alex yang tadinya fokus dengan berkas berkas menengadah menatap Asti yang berdiri di ambang pintu. ia pun gelagapan dan mulai membersihkan berkas berkas yang di meja nya. lalu mempersilahkan Asti masuk.
"ada apa as?"
tanya Alex dingin.
Asti segera menjawabnya
"saya kesini ingin meminta tanda tangan bapak untuk kebutuhan tugas saya pak"
Asti menyodorkan beberapa berkas penting yang harus terdapat tanda tangan seorang Alex disana.
Alex pun segera meraih lembaran berkas tersebut. dan mulai menanda tangani berkas berkas tersebut satu persatu.
__ADS_1
"pak"
panggil Asti yang tampak ragu.
"ada apa as?"
tanya Alex lagi.
"saya, sekalian, mau pamit pak. magang saya sudah berakhir"
jawab Asti yang sedikit terbata bata.
ya alasan Asti menjawab dengan terbata bata itu karena Asti tau tentang perasaan Alex, yang sebenarnya terhadap dirinya walaupun Alex tidak mengatakannya secara langsung. tapi di satu sisi Alex adalah atasannya. ia harus profesional dalam hal ini. sudah sepatutnya karyawan pamit kepada atasannya sebelum berhenti bekerja. itulah yang saat ini dipikiran Asti.
"lah, emang kamu udah siap magangnya?"
tanya Alex yang baru menyadarinya.
Asti mengangguk.
Alex menarik nafas panjangnya
"Asti, saya punya tawaran untuk kamu"
ucap Alex setengah, membuat Asti menaikkan alis sebelah kanannya merasa heran.
"bagaimana jika kamu bekerja di rumah sakit ini. kamu akan saya buat kan kontrak disini, jadi setelah tamat kamu bisa langsung dapat kerjaan tanpa harus mencari pekerjaan lain disana"
lanjut Alex, yang mengerti kebingungan Asti.
"maksud pak Alex gimana?"
"maksud saya, saya ingin kamu bekerja disini karena banyak perawat, dokter dan pasien yang sangat suka dengan ke pribadian mu yang baik. jadi kamu tetap bekerja disini walaupun magang mu telah selesai"
jawab Alex.
"jika kamu bekerja disini, saya akan beri jam kerja kamu siang setelah pulang dari kampus. hingga malam jam sembilan"
lanjut Alex lagi.
Asti masih terdiam. sebenarnya tawaran yang diajukan Alex sangat lah bagus, namun sifat ke waspadaan Asti muncul di saat itu. ia tidak ingin terkecoh dengan tawaran Alex, yang mungkin ini adalah salah satu caranya menghancurkan hubungan nya dengan Kevin.
"maaf pak. tapi untuk saat ini saya masih ingin fokus kuliah, saya belum ke pikiran buat kerja sampingan ditengah tengah kesibukan kuliah saya. mungkin saya bisa pertimbangkan lagi setelah saya tamat nanti"
tolak Asti dengan sopan.
"apa alasan kamu menolak as? kamu meragukan apa as? saya jarang loh membuat kontrak kerja dengan mahasiswa magang. jika kamu di tawarkan itu artinya kamu memiliki sesuatu yang tidak dipunyai oleh orang orang yang bekerja di rumah sakit ini. apa karena masalah gaji Asti?"
tanya ale saat mendengar penolakan dari seorang Asti.
Asti menggelengkan kepalanya.
"lalu?"
"karena saya tidak nyaman bekerja disini pak"
jawab Asti singkat.
ya, akhirnya unek unek yang telah ia sembunyikan saat kejadian dimana Alex selalu berusaha menjebaknya dan membuat hubungan mereka hancur kini terucap dengan singkat di mulut manis Asti.
__ADS_1
"kenapa tidak nyaman? bukan kah..."
"bapak tanya kenapa saya tidak nyaman? baiklah saya akan jawab. sebenarnya satau tahu apa yang bapak lakukan terhadap saya di belakang saya. saya tau bapak ingin menghancurkan hubungan saya dengan Kevin kan pak? saya tau setiap tindakan bapak untuk menghancurkan hubungan kami!! itu yang membuat saya tidak nyaman"
jelas Asti yang sedikit demi sedikit memancarkan amarahnya.
"as,, dengerin saya.."
balas Alex yang sudah terpegoki, namun Asti memotongnya.
"apa yang harus saya dengarkan dari bapak!! saya tau alasan bapak melakukan ini karena adik bapak kan? saya sudah tau pak hubungan Kevin dengan adik bapak seperti apa. tapi tolong maaf kan Kevin yang gak bisa ngasih hatinya buat adik bapak. atas nama KEVIN aku minta maaf"
tegas Asti, sembari mengangkat kedua tangannya dan menyatukannya di depan wajahnya.
"enggak gitu as"
"lalu apa pak?"
"as,, saya melakukannya iya. iya dulu aku ingin merusak hubungan kalian karena ingin membalas dendam atas nama adikku. tapi.."
"tapi apa"
tanya Asti dengan wajah datar.
"tapi sekarang aku benar benar mencintai mu as"
lanjut Alex dengan ragu. untuk pertama kalinya ia menyatakan perasaannya kepada seorang wanita yang ia sukai.
Asti yang mendengarnya terkejut bukan main.
"ya, sejak saat saya mengajak mu pergi makan bareng. saya mulai mengenal kepribadian mu yang membuat saya sedikit terpesona, hingga entah kapan rasa ini muncul dibenak saya"
lanjut Alex.
"saya terus terusan mencari kesempatan agar kau mau bersama ku. agar kau selalu berada disisi ku. aku gak mau cinta ku dimiliki orang lain"
jelas Alex lagi.
lagi lagi Asti terkejut melihat atasannya.
"maaf pak, Asti tidak bisa menerima rasa bapak. saya menganggap bapak hanya sebagai atasan tidak lebih. jika saya memperlakukan bapak dengan lebih sehingga membuat bapak sedikit ikut membawa perasaan saya minta maaf. tapi saya tetap dengan pendirian saya"
jawab Asti yang kini sudah mulai mengalir air mata di pipi mulusnya.
entah lah air mata apa yang jatuh disana. namun perkataan Alex itu mampu membuat air mata itu jatuh mulus di sana.
"kenapa kau masih memilih dia Asti?ada aku yang setia? apa yang kau banggakan darinya as? apa? aku kaya, aku bisa memenuhi semua keinginan mu!!"
tanya Alex yang menggebu-gebu.
Asti tersenyum dan meraih berkas
"bapak jelas jauh beda dengan Kevin saya. Kevin mampu menjaga saya seorang diri dengan baik, bahkan lebih baik dari seorang bodyguard. dan yang mungkin memang benar Kevin tidak kaya, tapi saya juga tidak butuh kekayaan. mungkin kaya anda benar, akan memenuhi kebutuhan saya. tapi itu bukan sebuah kebahagiaan bagi saya. kebahagiaan saya adalah saat saya bersama dengan orang orang yang saya sayangi"
jelas Asti kemudian berdiri dan melangkah keluar.
saat sampai di ambang pintu Asti membalikkan badan dan menasehati Alex.
"pak Alex. saya saran kan jauhilah sifat itu, itu tidak bagus bagi kesehatan jiwa anda. dan ya jika adiknya salah, jangan lagi membantu adiknya untuk terus kejalan yang salah. seharusnya sebagai seorang kakak, pak Alex lebih tegas membawa nya kejalan yang benar. setau saya tidak ada seorang kakak yang ingin melihat adiknya terjerumus semakin dalam jika ia melakukan kesalahan"
__ADS_1
Asti pun meninggalkan ruangan, sedang Alex masih diam terpaku. cintanya kini harus kandas bertepuk sebelah tangan.