
hari semakin berjalan cepat, tak terasa waktu sudah dekat dengan berakhirnya Kevin sebagai ketua BEM kampus.
"as,, apa keputusan mu?"
tanya Kevin.
"keputusan apa?"
tanya Asti polos yang tidak menyadari masa jabatan Kevin akan berakhir.
"kamu lupa ya,, apa keputusan kamu? apakah kamu akan ambil jabatan tersebut atau tidak?"
Asti yang mendengar pertanyaan dari kekasihnya tersebut, hanya terdiam. pasalnya, dia baru menyadari bahwa sebentar lagi akan berakhir masa jabatan Kevin.
"aku gak tau"
ucap Asti dengan wajah datarnya.
"kok gak tau? dua hari lagi loh?"
"udah lah kev,, jangan bahas itu.. aku pusing nih kalau bahas itu"
ucap Asti kesal.
Kevin pun terdiam saat Asti tidak ingin membahas tentang jabatan tersebut.
hari ini adalah hari dimana Kevin akan menyerahkan jabatan nya kepada Asti di depan lapangan kampus.
saat Kevin di persilahkan naik untuk mengucapkan satu dua kata, Kevin pun naik dengan berwibawa.
sorakan dari mahasiswi mahasiswi pun terus menerus terdengar dengan kuat.
saat sampai Kevin tersenyum terlebih dahulu.
lalu di cek nya mikrofon dulu dan mulai berbicara.
"assalamualaikum warahmatullahi wabarahkatu"
semua menjawab salam dari Kevin.
"waalaikumsalam warahmatullahi wabarahkatu"
Kevin menarik nafas dalam dalam.
"sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kerja sama nya selama saya menjabat menjadi ketua BEM dalam dua periode ini.
terima kasih teman teman, ibu bapak dosen, dan untuk tim organisasi BEM kampus. yang sudah bekerja keras dan menuangkan tenaga dan pikirannya demi kampus ini tanpa kalian semua misi dan visi yang saya buat tidak akan pernah tercapai".
Kevin berhenti sesaat, menarik nafasnya.
"baiklah dengan berakhirnya saya menjabat sebagai ketua BEM, maka langsung saja. saya akan serahkan jabatan ketua saya kepada Asti Ayunda Sari. kepada Asti Ayunda Sari saya persilahkan naik"
Asti pun naik saat nama nya dipanggil. dalam hati Kevin dia merasa senang karena dia tidak salah pilih dalam hal ini.
dia tersenyum dengan bahagia, namun Asti membalasnya dengan senyuman terpaksa.
saat Kevin hendak memakai kan Asti sebuah selempang di bahu nya dengan bacaan ketua BEM kampus favorit, tiba tiba Asti mengambil mikrofon dan menolak selempang tersebut.
Kevin yang melihat tingkah Asti merasa heran, apa yang ingin dilakukan Asti?
"kenapa as?"
tanya Kevin berbisik, karena Asti sudah siap untuk berbicara.
Asti memberi kode agar Kevin diam.
"sebelumnya, saya minta maaf. saya menolak untuk menjadi ketua BEM kampus favorit ini!!"
ucap Asti tegas.
__ADS_1
semua mahasiswa dan mahasiswi kaget mendengar pernyataan Asti. kalau tadi hanya Kevin yang penasaran, kali ini semua masyarakat kampus bertanya tanya.
"ada apa dengan Asti?"
"kenapa dia mengundurkan diri?"
"yah,, caper tuh caper"
"kalau gak sanggup dari awal, mending gak usah nyalon sebagai wakil ketua!"
"kenapa dengan Asti? bukannya dia seharusnya senang ya?"
semua komentar di ucapkan di tengah lapangan yang penuh dengan ribuan orang.
Asti pun sejenak menarik nafasnya, mengatur nafasnya, perlahan.
"saya tau kalau dalam benak kalian pasti pada bertanya tanya kenapa saya mengundurkan diri?"
semua mahasiswa terdiam mendengar Asti berbicara.
"karena saya merasa belum pantas untuk menjadi ketua. saya merasa saya tidak bisa memimpin sebuah organisasi, jadi saya pikir dari pada saya membuat organisasi ini yang sudah bagus lalu saya ancur kan lebih baik saya mengundurkan diri dari jabatan ini.
sebelum, saya berterima kasih atas kepercayaan teman teman kepada saya, tapi saya mohon maaf karena sudah mengecewakan kalian. terima kasih"
Asti pun meletakkan mikrofon nya di tempat mikrofon lalu Asti turun dan pergi meninggalkan lapangan.
Kevin yang melihatnya, rasa nya ingin mengejar Asti dan membuat Asti menarik ucapan nya tadi.
namun, karena dilapangan sudah mulai terjadi ricuh akhirnya Kevin pun memutuskan untuk menenangkan lapangan tersebut.
•••
setelah acara selesai, Kevin pun segera ke parkiran dan masuk ke dalam.
di dalam mobil terlihat Asti yang sedang sedih.
"kenapa?"
tanya Asti perlahan menahan air matanya.
Kevin masih terdiam
"ada apa kev? ayo kita pulang?"
"seharusnya aku yang bertanya Asti, ada apa?"
pertanyaan Kevin langsung membuat Asti terdiam kaku.
"aku sudah jelas kan semuanya di hadapan mereka. aku harap kamu tidak mengungkit lagi masalah ini, ini adalah keputusan ku!"
ucap Asti tegas yang tak ingin membahas hal ini.
"lalu kenapa kamu menangis!"
tanya Kevin dengan nada sedikit meninggi.
"aku gak menangis, aku aku cuma ngantuk. mata ku sudah tidak tahan"
Asti berbohong.
"aku tau kamu berbohong. kamu nangis karena kamu juga merasa bersalah bukan? mengecewakan hati semua orang yang sudah berharap pada mu, berharap.."
"stop!! kev,, ini sudah keputusan ku! aku tidak akan mengubah keputusan ku. bukan kah kau bilang bahwa apapun keputusan ku kau akan dukung!!"
Asti menghentikan ucapan Kevin, yang menurutnya itu sudah menyakiti hati nya.
"kev,, aku mohon kita pulang. aku sangat capek, aku ingin beristirahat"
pinta Asti.
__ADS_1
Kevin pun memutuskan menghidupkan mesin mobil dan pergi pulang. karena Kevin tidak mau jika nanti nya hanya karena masalah ini hubungan dia dan Asti menjadi renggang.
•••••
hari ini rasa nya Asti malas sekali untuk pulang. bahkan hari ini dia tidak ingin dijemput oleh Kevin, kekasih nya itu.
sesampainya di ruangan kelas.
"Asti,, kenapa?"
tanya Sindi menghampiri Asti.
Asti yang mengerti maksud dan tujuan dari Sindi hanya terdiam. rasa nya dia tidak ingin membicarakan hal tersebut.
"as,, loh kenapa sih gak ambil jabatan itu?"
"iya menurut ku, alasan kamu itu tidak masuk akal,,"
Asti masih terdiam.
"as,, jawab dong??"
rengek Sindi.
"aku gapapa Sin, keputusan ku sudah bulat. alasan ku yang seperti sudah ku bilang di lapangan kemarin"
jawab Asti memalas.
tiba tiba Jerry Dateng memanggil Asti, Asti yang merasa terpanggil mencari sumber suara tersebut.
"as,, di panggil pak Adi tuh diruangan nya!! suruh sekarang ke sana!"
Asti pun merasa takut, dan was was. dia menatap Sindi, Sindi yang merasa tau apa tujuan asti menggelengkan kepala.
"udah sana sendiri aja,, kan kamu yang dipanggil, gih cepat sana!!"
ucap Sindi.
Asti pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan kelas.
Asti berjalan melewati lorong, sepanjang lorong Asti mendengar bahwa mereka semua sedang membicarakan diri nya.
rasanya, Asti sudah ingin di terkam oleh buaya buaya yang kelaparan.
sesampainya di ruangan pak Adi.
Asti mengetuk pintu ruangan, sampai ada suara orang yang menyahuti dari dalam barulah Asti masuk.
perlahan Asti membuka pintu ruangan dan duduk di depan meja pak Adi.
"ada apa yang pak, bapak panggil saya"
"saya cuma mau bertanya, kenapa kamu mengambil keputusan seperti itu semalam? apakah kamu tidak kasihan kepada mereka yang sudah berharap pada kamu? termaksud saya"
jawab pak Adi yang merasa kecewa atas keputusan Asti yang tidak bijak.
"pak maaf sebelumnya saya membuat bapak kecewa. namun, saat ini menurut saya ini sudah keputusan yang tepat. ketimbang saya menghancurkan nama baik sekolah, alangkah lebih baiknya saya tidak mengambil jabatan ini"
ucap Asti jelas.
"tapi kenapa? gitu kok bisa terlintas di otak mu? kamu tau kan, gara gara ini kamu jadi bahan cerita di kampus! dan saya tau saat ini kamu down banget kan!"
ucap pak Adi tegas.
"iya pak saya tau, tapi ini sudah resiko dari keputusan saya. dan saya terima itu"
ucap Asti pasrah, karena apa yang dikatakan pak Adi itu benar.
saat ini dia sedang merasa down secara mental.
__ADS_1