
"assalamualaikum"
Asti memberikan salam saat melihat sahabat-sahabat nya dari jarak satu meter.
sontak semua sahabat nya menoleh ke arah Asti, anak anak kecil segera mengerubungi Asti saat melihat Asti yang berjalan menuju meja yang mereka pesan.
"waalaikumsalam"
jawab semua nya dengan kompak, termaksud anak anak kecil yang menjawabnya dengan antusias.
"hai, sayang! anak anak bunda sehat?"
tanya Asti mensejajarkan diri nya dengan tinggi anak anak tersebut.
"sehat bunda"
jawab anak anak itu dengan suara ciri khas nya masing masing.
"udah makan?"
tanya Asti lagi.
"udaah, tadi bayu aja siap makan. kan ma?"
jawab anaknya Dewi.
Dewi pun mengangguk.
"sekarang anak anak bunda mau kemana?"
tanya Asti kepada anak anak tersebut.
"mau main!!"
jawab anak anak itu dengan kompak.
"oo yaudah kalau begitu kalian hati hati ya? jangan main jauh jauh, paham?"
balas Asti yang merasa khawatir dengan anak anak tersebut.
"suap bunda.. bye!!"
sahut semua anak anak itu dengan kompak sembari berlari meninggalkan Asti yang masih berdiri mensejajarkan tinggi nya tadi.
menatap punggung anak anak tersebut hingga hilang, Asti pun bangkit dan berjalan menghampiri sahabat sahabat nya itu. ia pun memeluk Vivi dan Dewi melepaskan rasa rindu yang sudah lama tak berjumpa.
"apa kabar as?"
tanya Reza saat melihat Asti yang hendak duduk.
"Alhamdulillah baik"
jawab Asti seadanya.
"wah, ada yang mulai sombong nih seperti nya? sampai sampai harus mengatur jadwal jumpa dengan sahabat sahabat nya?"
__ADS_1
sindir Hendrik.
"enggak, gak sombong kok. cuma ya memang sibuk karena kerjaan yang gak ada habisnya"
balas Asti.
"iya iya ibu dokter"
sambar Dewi, membuat gelak tawa.
"wah, siapa nih yang mesen makanan dan minuman ku? kebetulan banget aku lagi kepengen pesan menu ini"
tanya Asti yang kaget karena pesanan nya telah di pesan dan sesuai dengan keinginan nya.
"siapa lagi kalau bukan Reza"
jawab Vivi yang memang dari dulu Reza selalu paham menu makanan yang akan dipesan.
"wah, masih gak berubah ya za! bangga gue jadi sahabat Lo.. tapi istri Lo gak marah kan?"
balas Asti yang bermaksud menggoda istri Reza, yang baru beberapa bulan yang lalu dinikahi Reza.
sontak istri Reza tersebut langsung malu malu, membuat Asti sangat puas.
Asti pun menikmati pesanan yang dipesan tadi sembari berbincang-bincang. dalam perbincangan tersebut lebih banyak bercanda.
di tengah tengah perbincangan tiba tiba Dewi bertanya pada Asti
"as, Lo kayak nya senang banget sama anak kecil?"
sambar Vivi tak mau kalah.
Asti pun merasa bingung dengan pertanyaan kedua sahabat nya itu, itu terlihat dari raut wajah Asti.
"maksud ku, kamu apa gak mau punya keluarga kecil seperti kami?"
jelas Vivi.
Asti tersenyum dan menjawab
"siapa sih yang gak mau memiliki keluarga kecil sendiri? aku mau, tapi.. masalahnya jodoh ku belum dateng Vi"
"dia belum dateng itu karena kau tidak berusaha untuk mencarinya"
sahut Dewi.
"ya, betul kata Dewi kau tidak mencarinya. Asti ingat, kalau kita gak nyari bagaimana jodohmu bisa dateng? kapan kau akan menikah as? apa kau tidak merasa sepi hidup sendirian? pikirkan masa depan mu as?"
tanya Vivi yang berusaha membuka pikiran sahabat nya itu.
"Vi, aku gak tau kapan aku nikah. yang pasti aku akan nikah disaat dan diwaktu yang tepat dengan orang yang tepat juga. soal masa depan saat ini aku hanya ingin mengejar karir ku sampai dia dateng dan melamar ku"
jawab Asti yang berusaha memberi pemahaman kepada sahabat nya itu.
"kapan waktu yang tepat itu?"
__ADS_1
tanya Dewi menatap Asti penuh.
Asti yang ditatap hanya mengangkat bahu nya, karena dia sendiripun tidak tau kapan jodohnya akan menjemput nya.
"kau gak tau kan?! as, dengerin aku. kami semua kayak gini sama kamu karena kami semua perduli sama mu. menikah lah as, setidaknya demi orang tua mu. kebahagiaan mereka bukan terletak pada harta yang kau miliki? tapi saat kau melepaskan masa lajang mu, itu lah kebahagiaan mereka"
ucap Dewi yang mulai emosi.
"iya as, ini sudah empat tahun as. usia mu tidak muda lagi, usia mu sudah dua puluh enam tahun as. itu bukan lah usia yang muda bagi seorang wanita. sudah empat tahun juga dia pergi tanpa kabar?"
sambar Vivi
"maksud mu aku seperti ini karena Kevin? gitu?"
tanya Asti yang tau maksud Vivi sahabat nya.
"aku begini bukan karena Kevin!! aku begini itu karena memang takdir ku yang harus melewati masa ini. jodoh ku belum dateng!! kenapa kalian menyangkut pautkan nya dengan Kevin? kenapa!!"
ucap Asti lagi yang mulai menangis.
"karena sudah empat tahun sejak kepergian Kevin, kau tak membuka hati mu untuk siapapun. kau menolak lamaran dari banyak pria dengan alasan yang tidak jelas. lagi lagi kau melakukan kesalahan Asti. kau selalu berhenti di masa lalu, hidup di masa lalu, berharap masa lalu mu itu akan menjadi masa depan mu"
sambar Hendrik yang mulai kesal mendengar perdebatan teman temannya itu.
"aku bukan hidup di masa lalu. tapi, dia pergi berpamitan dengan ku? dia berjanji akan kembali menjemput ku? ya, aku akui memang benar ini ada sangkut pautnya dengan Kevin!! tapi Kevin gak salah dalam hal ini"
balas Asti yang mengakui perasaannya sembari menangis terisak isak.
"kau mencintainya as?"
tanya Vivi perlahan.
Asti menganggukkan kepalanya sembari menangis.
"kau harus bisa melupakan nya as.. dia hanya masa lalu mu! bagaimana bisa kau bertahan hanya dengan harapan dan janji yang dia berikan? hanya karena cincin itu, kau bertahan? Asti, kau harus bisa melupakannya. buka lembaran baru, ini sudah empat tahun Asti!! empat tahun!!! kau menunggunya itu hanya membuang buang waktu mu"
ucap Vivi merasa sedih melihat kisah cinta sahabat nya.
"iya as, Vivi benar. kau harus bisa melupakannya. lagian juga aku yakin, sekarang juga dia melupakan mu? bahkan mungkin dia sudah memiliki keluarga kecilnya?"
sambar Dewi mengelus bahu sahabat nya itu.
"bagaimana bisa aku melupakan nya? sedangkan dia tidak pernah memberikan ku memori yang buruk? bahkan sebelum ia pergi seperti itu, dia sempat berpamitan dengan ku dan mengatakan bahwa dia akan kembali. bagaimana bisa aku melupakan nya? dia gak ngasih aku jejak buruk?"
balas Asti semakin terisak, melihat kisah cintanya yang tak semulus karirnya.
"tapi as.."
"aku tau kalian sayang sama aku, kalian ingin yang terbaik untuk ku. tapi percuma man jika aku harus menikah dengan orang yang tidak pernah aku sukai? menikah bagiku adalah menyempurnakan iman. jika pernikahan ku dilakukan dengan terpaksa, maka yang ada iman ku semakin tidak sempurna. dosa ku semakin menumpuk karena aku tidak menjalaninya dengan ikhlas. aku gak ingin pernikahan ku mala menjadikan ku ladang dosa"
potong Asti lagi.
"udah udah udah!! gini, dengerin aku as. apapun keputusan mu aku akan selalu mendukung mu. ingat as, ini kami lakukan karena kami sayang kamu, orang tua mu meminta tolong pada kami untuk membujuk mu menikah. jika kau tidak mau menikah, maka lihat saja apa yang akan dilakukan oleh orang tua mu as"
sahut Reza yang menengahi perdebatan tersebut.
__ADS_1