
malam hari yang sepi, ditemani oleh sinar bulan dan bintang yang bertaburan di atas langit, serta angin malam yang membuat malam semakin terasa dingin.
di balkon kamar terdapat seorang wanita yang sedang menikmati kopi hitamnya. ya siapa lagi jika bukan Asti? malam ini seperti biasa ia duduk di balkon menikmati udara malam yang kian menusuk tubuhnya, dengan pakaian tidur yang berkarakter katak.
jangan ditanya sejak kapan Asti suka dengan kopi hitam? Asti sendiri pun akan menjawab nya tidak tau. mungkin itu sejak, ia mengalami kepahitan dalam hidupnya tentang cinta yang tak berujung bahagia.
entah mengapa perkataan mama nya Asti kemarin, mampu membuat hati Asti terluka. entah kenapa malam ini ingin rasanya Asti menangis, menyerah, dengan hidupnya. ia bahkan merasa tidak kuat menjalani takdir yang telah tertulis untuknya.
terkadang ia ingin cepat mengakhiri kisah takdirnya yang pahit, tapi entah mengapa ia takut mati. bukan takut mati karena takut sendirian di kubur, atau karena takut masuk neraka.
tapi ia takut mati, karena bekalnya ke akhirat merasa belum cukup untuk bisa masuk ke surga Jannah. ia takut mati, itu karena ia memikirkan orang orang yang di sekitar nya, orang orang yang menggantungkan nasib kepadanya. terutama mama dan papa nya. namun, melihat sikap orang tua yang terus menekan untuk segera menikah membuat Asti juga frustasi.
Asti pun menangis sejadi-jadinya saat malam kini sudah mulai bertambah sepi dan senyap. semakin malam Asti semakin nangis, melihat kisah cintanya yang sangat menyedihkan.
terkadang Asti sempat membenci dirinya sendiri, yang melakukan kesalahan yang sama. ia membenci dirinya yang pengecut. yang tak pernah terbuka oleh siapa pun. ingin sekali Asti terbuka dengan orang orang yang berada di sekeliling nya, tapi entah mengapa itu tak bisa ia lakukan. setiap ingin melakukannya, entah kenapa harus berpikir berulang ulang kali.
membuat Asti mengurungkan niatnya.
"as, maaf lancang masuk ke dalam kamar"
ucap Apri yang menghampiri Asti di balkon kamarnya, yang melihat Asti menangis tadi saat ia berada di depan balkon bawah.
"eh, Lo? kapan dateng nya? sini kemari duduk lah!"
sahut Asti tanpa menoleh menghapus air matanya.
"barusan kok as. mata mu kenapa?"
tanya Apri yang pura pura tidak tahu dengan apa yang terjadi oleh Asti.
"oo ini, ini biasalah efek malam. mata ku udah ngantuk, tapi aku masih belum mau tidur. aku masih ingin menikmati udara malam. kapan lagi coba aku menikmati alam jika bukan di malam hari? aku kan sibuk dengan pagi siang dan sore, jadi jika bukan malam kapan lagi aku bisa berdekatan dengan alam?"
__ADS_1
jawab Asti yang sedang berbohong.
"kau sangat pandai as dalam berbohong. padahal tadi aku melihat mu yang sedang menangis seperti sedang patah hati, seperti sedang pasrah. kenapa kau masih berbohong dengan ku as? aku kan asisten pribadi mu, apa kau masih tidak bisa mempercayai ku?"
ucap Apri dalam hati sembari menatap tajam kearah Asti tanpa berkedip.
Asti yang merasa di lihatin oleh Apri pun merasa terganggu, ia takut kebohongan nya akan terungkap.
"Lo kok kesini? bukannya tidur?"
tanya Asti yang sengaja mengalihkan pandangan Apri.
"eh, iya maaf as. gue kesini karena gua tau Lo pasti gak bisa tidurkan, jadi gue kesini karena juga gue gak bisa tidur sama kayak Lo"
jawab Apri.
"oo, iya sih. oh iya besok jadwal gue apa?"
tanya Asti seperti biasanya.
jawab Apri mengingat ingat jadwal Asti.
"gue ada pertemuan dengan salah satu perwakilan mahasiswa. pertemuan apa? dan untuk apa?"
tanya Asti yang bingung dengan jadwal pertemuan nya.
"iya jadi semalam itu gue dapet kiriman email gitu. terus gue lihat email itu dari universitas favorit, jadi gue bukakan? pas gue baca intinya ia ingin bertemu dengan Lo, membicarakan kesepakatan dengan Lo, untuk memberikan motivasi kepada seluruh mahasiswa yang hadir nanti"
jawab Apri dengan jelas.
Asti mengeryitkan keningnya
__ADS_1
"maksud Lo, semacam acara seminar gitu?"
Apri mengangguk kan kepalanya sebagai bentuk jawaban nya.
"tapi kan Lo tau, gue gak berprofesi di bidang itu? gue gak ahli di bidang itu? kenapa Lo terima?"
tanya Asti yang protes.
"gue terima, karena Lo kan pernah bilang ke gue. kalau Lo ingin mencari atau melakukan sesuatu yang berbeda. Lo ingin mencoba sesuatu yang berbeda bukan? jadi gue rasa ini berbeda, makannya gue terima. lo juga belum pernah kan jadi seorang motivator? jadi gue rasa Lo mau mencobanya, makannya gue terima. ya hitung hitung cari pengalaman. lagian juga mahasiswa banyak yang menjadikan Lo sebagai panutan mereka"
jawab Apri panjang lebar karena menjawab pertanyaan Asti yang terlalu bercabang.
"tapi.."
"udah, gausah pakai tapi tapi. gini deh, aku janji jika nanti pas acara seminar itu performa Lo gak banyak disukai oleh orang maka aku tidak akan menerima tawaran motivator itu lagi. lagian juga mereka mengundang Lo karena memang banyak mahasiswa yang menjadikan Lo sebagai panutan mereka. mahasiswa banyak yang minta Lo untuk jadi motivator"
potong Apri yang memberikan janji kepada Asti, agar Asti tidak memberikan pertanyaan bercabang seperti tadi.
"baiklah. kalau gitu Lo bisa tidur. gue mau tidur"
perintah Asti yang dengan halus mengusir asisten pribadi nya tersebut.
dengan cepat asisten pribadi tersebut berjalan meninggalkan ruang kamar Asti. Asti pun tak lama kemudian berjalan menghampiri tempat tidur king size nya yang bermotif daun janda bolong tersebut dengan ukuran yang jumbo jumbo.
sebelum ia tidur, entah mengapa tiba tiba saja wajah milik Kevin terlintas dipikiran Asti. membuat Asti tersenyum saat melihat wajah Kevin yang tersenyum kepadanya. rasa kangennya kepada Kevin seolah sudah mendapatkan obatnya. namun, dalam persekian detik Asti tersadar jika itu hanya sebuah khayalan nya yang muncul karena dirinya sangat merindukan sang kekasih nya.
"Kevin, kau dimana? apakah kau tidak ingin bertemu dengan ku? apakah kau sudah melupakan ku, hingga kau tidak memberikan kabar padaku sama sekali? kenapa kau menghilang bak tertelan bumi bersama keluarga mu itu? kenapa? apa Asti mu ini sudah kau lupakan karena kesibukan mu? apa yang kau sedang lakukan sekarang Vin? apa kau pernah merindukan ku Vin? kau sedang apa sekarang? apa kau sudah memiliki keluarga kecil mu? aku merindu kan mu Vin, selamanya aku kan merindukan dirimu Vin"
tanya Asti dalam hatinyya tentang keberadaan Kevin yang sama sekali tidak ia ketahui.
sembari mengelus elus cincin yang masih setia melingkar di jari manisnya.
__ADS_1
"ya Allah maaf kan hamba mu yang masih berharap kepada ciptaan mu. kau pasti sangat marah kan? karena aku mengharapkan nya? maaf kan aku ya Allah.. tapi aku mohon tolong sampaikan rasa rinduku kepada nya ya Allah".
doa Asti dalam hati sebelum akhirnya ia tertidur dnegan nyenyak.