
menutup pintu sembari membawa gelas kosong di tangannya, Asti berjalan dengan langkah yang pelan. ia berjalan menuju dapur meletakkan gelas nya itu dan kembali ke kamar.
saat berjalan sepanjang perjalanan Asti terngiang dengan perkataan adiknya yang meminta restu untuk melangkahi nya. ya, siapa yang menyangka bahwa nasibnya harus dilangkahi oleh adiknya sendiri.
ada rasa sedih di lubuk hati Asti paling dalam, sedih karena kenyataan hidupnya yang tak sesuai dengan angan angan yang ia pikirkan. bisa dikatakan harapan nya kini hancur.
saat sampai di kamar, Asti pun tengkurap dengan bantal guling nya. pikiran nya masih terngiang dengan ucapan adiknya, sampai tak terasa air mata kian menetes di pipinya dengan mulus, membasahi bantal guling yang ia peluk erat.
entah mengapa Asti menangis histeris saat tiba di kamarnya, apakah tangisan itu adalah tangisan kebahagiaan? atau tangisan kesedihan? Asti pun tak bisa mengerti dengan makna tangisan yang ia lakukan.
yang ia rasakan adalah ia ingin menangis, mengeluarkan tekanan udara di dadanya yang terasa denyut, mengeluarkan semua emosional nya yang ia tahan sejak lama.
"ya Allah, apalagi ini.. apalagi cobaan yang akan kau berikan kepadaku, kenapa ucapan adikku, membuat hati ku sakit? kenapa ya Allah? padahal aku bahagia jika melihat adikku bahagia, lalu ini apa? rasa sakit apa ini? ya Allah aku berharap agar kau menghilangkan dan menjauhkan ku dari rasa sakit hati ya Allah.. aku tak ingin memiliki penyakit hati yang akan menjerumuskan ku pada neraka mu. aku ikhlas ya Allah, aku ikhlas jika memang ini takdir yang tertulis untukku. semua aku pasrahkan kepadamu ya Allah, aku yakin kau adalah pembuat skenario terhebat. skenario mu lebih hebat ketimbang rencana yang telah ku buat dan ku impikan"
keluh Asti dalam hati dengan tangisan isakan yang kian semakin berat.
jangan tanyakan lagi sekarang bagaimana mental Asti. sudah pasti mentalnya sangat down, terbesit dipikiran Asti bahwa dia adalah seorang hamba yang tak berguna. tak bisa membahagiakan orang orang yang ada disekitar nya, tak bisa menjadi pahlawan bagi orang orang yang berada di sekitar nya.
namun, saat rasa itu dateng entah kenapa hati nya selalu berkata bahwa itu tidak lah benar. hati nya selalu berkata bahwa Allah tak menyukai pemikiran nya itu, kembali lagi diingatkan dan di sadarkan oleh hati tentang kepercayaan kepada Tuhan.
Asti pun menghentikan tangisannya setelah air matanya tak bisa mengeluarkan nya lagi. sementara waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. suara azan berkumandang, membuat Asti pun segera menunaikan nya sebagai kewajiban dari seorang hamba yang taat.
selesai menunaikan ibadahnya, Asti memilih untuk tidak kembali tidur. ia memilih untuk pergi lari pagi mengeliling komplek perumahan yang tak jauh dari rumah orang tua nya di pagi buta.
lari dan terus berlari, dengan berlari pikiran yang kalut nya tadi perlahan kian menghilang. ucapan adiknya tadi malam, kini untuk sesaat tak menghantui nya.
••••••••••
"Asti!!! ayok nak kemari!! kita sarapan yuk!!"
teriak mama dari meja makan, yang sibuk menghidangkan makanan yang dibantu oleh Clara dan Reysa.
"iya ma sebentar"
teriak Asti dari dalam kamar.
__ADS_1
setelah selesai menghidangkan makanan mama Asti, Clara dan Reysa pun duduk di bangku mereka masing masing yang memang sudah seperti mengerti. mereka pun mengambil lauk pauk yang telah dihidangkan. sedangkan papa Asti dan Jaka bersama dua anaknya itu sudah sibuk dengan sendok dan garpu nya.
cekrek
suara gagang pintu terbuka, terlihat Asti yang baru keluar dari pintu. dengan wajah yang sedikit sembab dan mata panda.
Asti tanpa basa basi pun duduk di bangkunya , mengambil lauk pauk yang telah di sediakan, lalu menyantap nya seperti biasa.
"as, kau bergadang ya?"
tanya Jaka yang melihat raut wajah adiknya yang lesu, sedikit pucat, dan area kantong mata yang sedikit hitam.
"iya, tadi malam aku mengecek Email yang masuk di hp ku. aku tidak punya waktu untuk mengecek nya jadi aku pikir untuk memanfaatkan waktu yang ada"
jawab Asti tak bersemangat yang tentu saja berbohong.
"kan sudah papa bilang.."
sebelum papa Asti menasehati Asti, dengan segera Asti memotongnya
"pa, dari semalam Asti menunggu hal penting apa yang ingin papa bicarakan. karena kata Apri ada hal penting yang ingin kalian sampaikan. tapi sampai hari ini pun tak ada hal penting yang kalian sampaikan, jadi katakan sama Asti hal penting apa yang kalian ingin sampaikan?"
tak mendapat jawaban dan respon dari keluarga membuat Asti angkat suara
"Asti merestuinya kok pa, yang terpenting papa dan mama juga merestui pernikahan adik"
ucapan Asti kini sontak membuat semua nya mematung.
"ka kamu, tau dari mana as?"
tanya papa Asti gelagapan.
"Reysa sudah mengatakan semua nya kepada ku. dan aku minta maaf, karena seminggu yang lalu aku tidak dapat hadir di acara lamaran Reysa, ya ini kesalahan ku yang terlalu sibuk dengan kerjaan dan kewajiban Asti. jadi Asti merestui nya kok ma, pa. dan kau Reysa segera katakan lah kepada calon mu itu bahwa kau menerima nya. agar pernikahan mu bisa ditentukan"
jawab Asti dengan wajah datar.
__ADS_1
seketika seluruh mata tertuju pada Reysa.
"kamu yakin as?"
tanya Clara dengan hati hati.
"aku yakin kak, ini sudah yang terbaik. lagian juga aku tak ingin menjadi penghalang diantara mereka. ini sudah tulisan takdir kak, aku yakin dibalik ini semua ada kebahagiaan besar yang Allah telah siapkan untukku"
jawab Asti menatap dalam mata sang kakak iparnya itu.
"nak, terima kasih ya. karena kau telah memberikan restu mu kepada adikku"
ucap papa Asti tersenyum.
"tidak perlu terima kasih pa, ini memang sudah takdir ku. lagian tanpa restu ku juga pernikahan ini masih bisa berlangsung? kan ada mama dan papa yang akan merestui nya?"
jawab Asti dengan senyum lebar.
mendengar jawaban anaknya membuat sang papa sedikit terharu, ia tak menyangka gadis kecilnya yang kian hari bertambah usia, kini sudah dewasa. pemikiran nya kian hari kian dewasa. ada rasa lega dihari seorang papa kini, namun ada rasa sedih juga jika mengingat kisah cintanya.
"baiklah nak, ini sesuai dengan tradisi adat istiadat. dalam tradisi, jika seorang adik ingin melangkahi kakaknya maka seorang adik harus meminta restu terhadap kakaknya dan memberikan imbalan atas restu kakaknya. itu sebagai bentuk tanda terima kasih"
sambar sang mama yang menjelaskan tentang tradisi tersebut.
"maksudnya ma?"
tanya Reysa tak paham.
"kamu harus menuruti permintaan kakak mu, sebagai imbalan atas restu yang ia berikan untukmu karena telah melangkahi nya"
jawab mama Asti.
"itu perlu ma?"
tanya Clara penasaran, pasalnya ia baru tau. ya maklum saja dia kan anak tunggal.
__ADS_1
"iya sayang itu perlu. kalau kata orang orang itu sebagai penyemangat saja, Agara orang yang dilangkahi tidak putus asa dalam mencari jodohnya"
jawab mama Asti tersenyum.