
setelah beberapa bulan mereka bekerja sebagai partner. entah mengapa, Kevin semakin dekat dengan Asti, bahkan dia semakin perhatian kepada Asti dalam hal hal yang kecil.
Kevin semakin nyaman dengan Asti, walaupun terkadang Asti membuat dia kesal, jelek, namun ada ke unikan Asti yang membuat Kevin tertarik.
suatu hari Kevin duduk di meja kantin, dia melamun memikirkan Asti. dia bingung apa yang terjadi dengannya.
"woy!!!!"
Billy dan Rafli mengageti Kevin dari belakang.
"astaga,,,, brengsekk Luh"
kesal Kevin.
"ya elah,, abisnya Luh ngelamun aja. ada masalah apa?"
tanya Billy introgasi.
"enggak ada"
"kalau gak ada elu gak akan ngelamun kek gini? jarang jarang juga gue lihat Luh ngelamun? baru kali ini. kek serius amat"
ucap Rafli yang memancing Kevin.
"enggak gue cuma, cuma lagi mikir aja?? dah lah itu gak penting!"
sebenarnya Kevin ingin menceritakan masalah nya, namun dia mengurungkan niat nya karena takut di ejek Billy.
"yaelah,, bilang aja kali?? kalau gak penting gak akan buat kamu ngelamun?"
ucap Billy.
"gimana ya,, gue masih ragu mau bilang?"
"ragu kenapa?"
tanya kompak Rafli dan Billy.
"ya ragu,, nanti kalian bully lagi aku"
"enggak bilang aja"
ucap Billy menyakinkan.
"janji gak ngejek?"
Rafli dan Billy pun mengangguk.
saat Kevin ingin menceritakan tiba tiba ada suara keributan. didengar dari suara nya suara keras ini milik Laras.
Kevin pun berlari dan mendekati sumber suara ternyata benar disitu ada Laras dan Asti.
"dasar ya,,, wakil ketua yang gak punya mata!! selalu saja kayak gini. hobi banget ya, nabrak orang?"
"maaf aku gak sengaja"
jawab Asti yang merasa bersalah.
"dari kemarin kamu bilang juga kayak gitu,, yang jelasnya tuh kamu tuh gak di pake matanya!!"
emosi Laras.
"maaf"
ucap Asti pelan merasa takut.
"diam!! kamu diam! dasar ya selain buta mata ternyata juga suka ngerebut laki orang!!"
sebuah tamparan ingin memukul pipi Asti, namun Kevin Dateng dan menahan tangan Laras.
__ADS_1
"apa apaan sih kamu Laras!! dia sudah minta maaf sama kamu!! masih kurang puas??!!"
bentak Kevin.
"oo,, sekarang kamu belain dia?"
ucap Laras dengan santai.
"wah,, hebat ya,, masih juga beberapa bulan jadi partner. sudah bisa ngerasain jadi ratu! kamu pakai pelet apa ke dia? kok cepat banget efeknya!!"
Laras menatap wajah Asti dengan kebencian.
"apa apaan sih kamu Laras!! kamu dengar, ucapan kamu, kamu jaga baik baik ya,, sekali lagi kamu ngomong kasar kayak gitu sama dia, lihat pembalasanku"
ancam Kevin.
"kenapa Vin? kok kamu yang marah, itu salah dia emang!! emang kamu siapa dia sih!!"
tanya Laras, membuat Kevin tidak bisa menjawab.
"jawab!! kamu siapa dia?!"
tanya Laras dengan kuat, membuat semua orang menonton kejadian ini.
"aku pacarnya,, kenapa? dia pantas untuk ku ketimbang kamu"
Kevin pun mengajak Asti pergi dari keramaian. sedangkan billy membubarkan semua orang yang melihat kejadian tersebut.
•••
"kev,, lepas!!"
bentak Asti saat mereka sudah jauh dari keramaian.
"kamu apa apaan sih, ngapain kamu ngaku ngaku sebagai pacarku!!"
"aku,,,"
"apa kev?? kamu gak perlu bilang kayak gitu!! kamu gak perlu bantu aku?"
"aku minta maaf, dengerin aku as"
Kevin pun memegang wajah Asti dengan kedua tangannya.
"kamu gak tau Laras, seperti apa? aku cuma mau ngelindungi kamu dari Laras. jika aku bilang kamu pacar ku, aku bisa jamin keselamatan kamu"
Kevin menjelaskan kenapa dia harus mengaku.
"tapi,, sekarang kamu lihat dampak nya kev??"
keluh Asti.
"as, aku yang berbuat. aku yang bertanggung jawab, aku janji hal ini tidak akan nyampai ke keluarga kita. tapi saat ini, kita harus melakukan nya. agar Laras percaya bahwa kamu pacarku"
Kevin menatap dalam dalam mata Asti, seakan Kevin ingin menyakinkan Asti.
"vin, apa benar sama yang kamu sampai kan tadi? tapi kenapa kamu gak bilang?"
tanya Billy menatap Kevin meminta kepastian.
"aku gak tau bill"
jawab Kevin lemas.
"kata kan padaku yang jujur, ada apa ini?"
tanya Billy.
"aku,, aku gak paham sama hati ku sekarang bil. aku sama sekali gak paham. entah kenapa aku semakin kagum dengan Asti, aku semakin ingin dekat dan selalu bersama dengan Asti. aku bingung, apa rasa ini? apakah rasa ini adalah rasa suka? tapi suka sebagai apa? banyak pertanyaan di benakku bil"
__ADS_1
jelas Kevin tanpa merasa ragu. karena kali ini mereka hanya berdua di taman.
"ye,, kamu kan playboy.. ya pasti rasa itu ya sama sudah biasa kan? udah lah sans aja"
jawab billy santai.
"ini tuh beda Ucok,, aku belum pernah ngerasain rasa ini sama sekali"
jawab Kevin yang kesal merasa tidak mendapatkan jawaban dari billy.
"yaelah Maimunah,, canda.. terus kamu mau nya giman? kalau aku rasa itu tanda nya kamu sedang suka dengan Asti. nah yang bisa jawab suka sebagai apa? tanyakan lagi dalam hati mu paling dalam"
jawab Billy serius.
"kalau aku gak bisa nemuin jawaban nya gimana bil?"
tanya Kevin menatap Billy.
"yaudah, berarti itu hanya rasa mengagumi"
setelah beberapa saat Kevin berfikir, dia fokus menanyakan pada hatinya.
"bil, aku dapat.. ini bukan rasa suka biasa bil?"
ucap Kevin membuat Billy kaget yang asik dengan gamenya.
"yaudah kalau gitu selanjutnya kau mau apa?"
tanah billy sambil bermain game.
"aku, aku mau dia menjadi milikku"
"maka kau harus nyatakan rasa suka mu padanya"
jawab Billy masih santai.
"kalau ditolak gimana?"
"maka, ya jurusan andalanmu, kamu pakai. jurusan memaksa"
jawaban Billy kali ini membuat Billy terkena satu pukulan di tangannya.
"brengsekk lu".
"apa dia mau dipaksa?"
tanya Kevin.
"coba saja dulu, kalau belum dicoba mana tau"
jawab Billy memberikan sedikit harapan bagi Kevin.
"lagian kamu juga sudah memaksa dia dalam kampus buat jadi pacar mu bukan? sekarang paksa dia beneran di ajak serius"
ucap Billy, membuat Kevin sadar.
Tuhan,, apakah ini jalanmu untuk bisa mempersatukan aku dengan nya..
ucap Kevin dalam hati.
"iya kamu benar juga, aku tinggal sedikit paksa dia lagi saja.. lagian mama juga suka dengan Asti, apalagi reysa dia sangat suka dengan Asti"
"yaudah apa lagi, orang tua mu juga ingin kau cepat cepat punya pacar bukan? tapi yang serius dengan mu! dan terkadang hati anak kecil itu suci dan tulus Vin. apalagi gas lah, aku tinggal tunggu kabar baik nya aja"
jawab Billy tawa senang.
"iya iya tapi aku harus ngumpulin dulu keberanian buat ngadapin dia"
ucap Kevin menarik nafasnya.
__ADS_1