
Asti pun kembali merasakan detak jantung yang tak beraturan seperti beberapa saat yang lalu. dimana Ana menyebutkan kata 'ke' membuat Asti gelagapan merasa tak nyaman dengan apa yang ia rasakan. Asti masih membelakangi tempat duduk pemuda yang ia kenal suara nya itu.
ia takut jika dugaannya itu salah, ia harus bisa konsentrasi kembali ke tujuan awalnya yaitu bertemu dengan orang penting itu dan mengakhiri nya dengan cepat. tapi, Asti takut jika dugaannya itu benar. ia tak tau harus apa jika dugaannya itu benar.
"dokter Asti, ayo kita nikmati makanan nya sekalian saya perkenalkan bapak ini yang dari kemarin ingin bertemu dengan anda"
ucap pak direktur meminta Asti duduk berhadapan.
Asti pun duduk saling berhadapan, benar dugaannya tepat dihadapan nya Asti melihat sosok yang tak pernah asing baginya, ya siapa lagi kalau bukan masa lalu nya yaitu Kevin. kini kedua pasang mata itu pun saling beradu.
"apa ini ya Allah kenapa aku harus bertemu lagi dengannya"
lirih Asti dalam hati saat matanya saling beradu pada Kevin.
luka yang sudah lama tak ia rasakan, kini kembali ia rasakan. dimana Kevin menghilang selama bertahun-tahun, tanpa kabar sedikit pun seperti hilang ditelan bumi. dimana disaat hari bahagia nya Kevin tidak hadir.
luka yang sedang dalam masa penyembuhan kini kambuh lagi. garisan luka dihatinya kini terasa menyakitkan lagi.
"dokter Asti, beliau adalah orang terpenting di rumah sakit kita karena beliau menanamkan saham dirumah sakit kita 60%. alat alat canggih dalam medis beliau selalu kirim kan ke rumah sakit kita. nama beliau adalah Kevin Wijaya Nugroho. dan pak Kevin hanya lebih tua beberapa tahun dari mu"
ucap pak direktur memperkenalkan Asti kepada sosok yang ia banggakan.
Asti pun kembali fokus dan tersenyum kaku karena menahan air mata yang dari tadi ingin keluar dari matanya.
"senang bertemu dengan pak Kevin"
ucap Asti dengan nada penuh penekanan diakhir kalimat.
"pak, ini dia dokter Asti. salah satu dokter yang cukup hebat di rumah sakit kita. banyak pasien yang sembuh ditangan beliau, dan hebatnya lagi, saya dengar dari dokter dokter yang lain beliau suka membantu pasien yang kesusahan dalam hal biaya rumah sakit. beliau sangat sering menyelamatkan nyawa seseorang"
sambar pak direktur memperkenalkan Asti kepada Kevin.
"senang juga bertemu dengan kamu kembali"
ucap Kevin tak sadar dengan ujung kalimat nya.
sontak membuat semua mata tertuju padanya.
"maksud bapak gimana ya pak? bukankah ini pertama kalinya bapak berkunjung di negri ini?"
__ADS_1
tanya pak direktur yang bingung.
Kevin pun gelagapan sedangkan Asti berusaha tenang.
"maksud saya, semoga dilain waktu kita bisa bertemu kembali"
bohong Kevin.
pak direktur pun tersenyum dan tertawa begitu juga dengan Asti yang harus memasang topeng dihadapan direkturnya.
"pasti pak, jika Allah berkehendak pasti kita bisa jumpa lagi"
sahut Asti membalas ucapan Kevin.
"Asti, perlu kamu ketahui bahwa beliau lah yang suruh saya untuk berjumpa dengan mu secepatnya. karena saya menceritakan betapa kau dokter yang sangat perduli dengan pasien mu"
ucap pak direktur.
Asti tersenyum dan membalas
"itu sudah menjadi tugas saya pak sebagai seorang dokter. menyelamatkan nyawa orang lain adalah tanggung jawab saya sejak saya dilantik menjadi seorang dokter. hanya saja ada satu luka yang tidak dapat saya sembuhkan pak"
"apa?"
tanya pak direktur
jawab Asti yang sengaja menyentil Kevin.
Kevin yang mendengar jawaban Asti pun hanya bisa diam. ia tak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan Asti secepat ini, dimana ia belum siap untuk menjelaskan semua yang terjadi dengannya empat tahun yang lalu.
"ya, dokter Asti benar. luka hati memang sulit di sembuhkan. tapi bisa kan kita menghindari luka hati itu? dengan cara tetap berfikir positif, mencari tau kebenaran yang ada, bukan dengan menyimpulkan langsung dengan apa yang terjadi tanpa mencari tau kebenaran nya"
ucap Kevin membalas sentilan Asti.
"mencari tau kebenaran? kebenaran apa yang ingin dicari pak Kevin? jika seseorang telah menyakini orang lain melebihi dirinya, lalu orang itu menghilang tanpa kabar, meninggalkan kita yang sedang terpuruk sendirian, masih bisa kah kita mencari kebenaran? dia menghilang bak ditelan bumi pak. bagaimana cara nya mencari kebenaran?"
balas Asti tak mau kalah.
"semua akses menuju orang itu sudah tertutup. apa salah pak, jika orang itu beranggapan bahwa orang yang ia yakini itu sebagai penjahat? tidak, tidak salah!! dari situ luka hati pun timbul pak"
__ADS_1
lanjut lagi Asti yang sudah dengan mata berkaca-kaca.
ingin rasanya unek-unek selama ini yang ia pendam dilontarkan nya langsung, namun sayang waktu an moment nya belum tepat.
"tunggu tunggu!! ini kenapa jadi bahas tentang sakit hati? berkaitan dengan cinta lagi?"
tanya pak direktur yang tak paham dengan topik pembahasan mereka berdua.
"oh bukan gitu pak. kan sekarang banyak orang sakit hati karena putus cinta pak, jadi lebih ngikuti perkembangan zaman aja pak"
jawab Asti yang langsung menghapus air matanya sebelum tumpah membasahi pipinya.
"ooo saya kira apa. saya kira kalian ini pernah sempat menjalin hubungan"
"mana mungkin pak, sayang menjalin hubungan dengan pak Kevin. beliau kan baru pertama kali kesini, dan baru pertama kali jumpa dengan saya, jadi gak mungkin lah pak. lagian bapak tau sendiri kan selama ini saya seperti apa?"
sambar Asti yang tak ingin masa lalunya terbuka.
"ya, kalau ada hubungan juga gapapa kok dok, beliau juga masih single belum punya istri. dokter juga masih single kan? jadi cocok. sama sama sendiri"
ucap pak direktur mulai jadi tukang comblang.
Asti pun hanya bisa tersenyum tipis begitu juga dengan Kevin.
"yaudah deh pak, saya duluan ya pak. karena saya ada rapat bersama beberapa rekan bisnis saya"
ucap pak direktur yang hendak berpamitan.
"oh iya pak. terima kasih ya pak, atas jamuan nya untuk saya"
balas Kevin ikut berdiri ketika direktur itu berdiri juga diikuti dengan Asti.
"iya pak Kevin sama sama, ini memang sudah menjadi tugas saya untuk menjamu anda. Asti, tolong temani pak Kevin ya?"
pinta pak direktur kepada Asti.
Asti pun mengangguk kan kepalanya walau dengan wajah yang terpaksa.
"yaudah saya pergi dulu"
__ADS_1
ucap pak direktur lalu berjabat tangan dengan semua orang yang ada disana, hanya dengan Asti pak direktur tak pernah berjabat tangan melainkan hanya memberikan senyuman.
Asti pun membalasnya dengan senyuman juga.