Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan

Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan
Penasaran


__ADS_3

"bagaimana?"


"baiklah segera kirim kan foto itu kepada ku, aku tunggu sekarang!"


mematikan telpon tersebut.


tak berapa lama sebuah pesan masuk disana. terlihat foto foto kemesraan di sana.


"baiklah. permainan akan segera dimulai. kita lihat seberapa kuat cinta mu kepada nya"


senyuman seringai jahat di wajah Alex kini tampak jelas.


ia memainkan ponsel yang ada pada tangannya dan duduk di bangku kebesaran nya.


"maaf kan aku Asti. kau harus terlibat dalam hal ini. ini bukan salah mu, tapi ini salah Kevin. yang memulai nya duluan dengan adikku. dan jujur saja aku gak rela jika kau bersama laki laki brengsek tersebut!!"


ucap Alex lagi menatap foto yang ada di layar ponselnya.


••••••••••••••••••


pagi tiba, cahaya matahari mulai memasuki jendela kamarnya yang tertutup dengan tirai.


"uaahhh"


Kevin menguap, rasa kantuknya seakan belum hilang. namun sinar matahari nya mampu membuatnya terbangun.


ia masih tengkurap dengan memeluk bantal guling nya. rasanya pagi ini Kevin tidak ingin beranjak dari kamar tidurnya. rasa capek dan kesal nya tadi malam, mampu menghabiskan tenaga Kevin.


"Kevin!!!! ayo cepat sarapan!! apakah kau tidak kuliah nak?! kau bilang kau ingin memberikan hasil revisi skripsi sebelum melanjutkan ke bab yang baru"


teriak mama dari bawah.


seketika Kevin langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk ritual mandinya.


"pagi ma"


sapa Kevin yang sudah turun dan menghampiri mamanya.


dia mencium ke dua pipi mamanya, lalu duduk.


"pagi Vin"


sapa kakak Kevin.


Kevin tersenyum.


"kemana bang Zain kak?"


"Zain sudah berangkat lebih awal. aku saja tidak tau kapan dia berangkat. karena tadi pagi dia tidak membangunkan ku sebelum berangkat kerja"


"hah. kebiasaan Kakak tuh mah. istri macam apa yang kayak gitu? aku yakin bang Zain sebenarnya sudah membangunkan mu, tapi kau masih sibuk dengan dunia mimpi mu"


balas Kevin ketus.


"enak saja!!"


kakak Kevin ingin melempar kan selembar roti selai yang berada ditangannya ke wajah Kevin. namun di tahan oleh mama Kevin.


"kak makanlah, itu makanan bukan barang yang harus kau lempar. Kevin, jangan ganggu kakakmu. jiwa sensitif nya akan dua kali lipat. apakah kau tidak tau jika kakakmu sedang mengandung keponakan mu?"


"iya ma"


jawab Kevin singkat.


dia pun kembali makan dan menikmati makannya.


•••••••••••••••••••

__ADS_1


"hei bro"


sapa Billy yang langsung merangkul bahu Kevin.


"kenapa?"


tanya Kevin cetus.


"Vin, ayo lah jangan kayak gitu. apa kau tidak kangen denganku. sudah lama sekali kita tidak bermain atau sekedar nongkrong bersama di cafe biasa langganan kita"


jawab Billy santai.


"ya suruh siapa, kau sibuk. aku sudah punya waktu kau nya sibuk! itu kan salah mu"


balas Kevin tak mau di salahkan.


"iya sih, aku akui itu. makannya hari ini aku ngajak kau nongkrong. aku traktir lah. oh iya sekalian ajak Asti"


ajak Billy.


Kevin menatap Billy dan menghentikan langkahnya


"aku mau nongkrong tapi aku tidak bisa pastikan Asti akan ikut. kau tau kan, dia sangat sibuk dengan magangnya. sampai sampai dia melupakan ku, yang kekasihnya"


jawab Kevin kesal.


"tenang lah. aku yakin kali ini Asti mau. soalnya aku akan ngajak dini juga. ada yang harus kami sampaikan saat nongkrong nanti"


Billy memberi semangat.


"oh iya memang nya kau kemana saja? kenapa kau tidak bisa diajak nongkrong akhir akhir ini?"


tanya Kevin penasaran.


"sejak kapan kau jadi orang yang penasaran, Sahabat ku!!"


"heh. jawab saja pertanyaan ku jangan bertele-tele"


kesal Kevin.


"baiklah. sama seperti mu yang kalau di ajak selalu sibuk dengan urusan skripsi mu. aku juga sibuk, tapi bukan dengan skripsi ku. melainkan...


"apa?"


tanya Kevin tidak sabar.


"nanti malam akan aku jawab"


ucap Billy dengan senyuman yang genit.


Kevin pun kesal mendengar jawaban dari Billy. dia pun meninggalkan Billy di luar. dia masuk kedalam ruangan pak Josu dosen pembimbing Kevin.


••••••••••••••••


"selamat siang mbak. saya dini teman nya Asti. katanya beliau magang di sini"


ucap dini menghampiri resepsionis rumah sakit.


"oh iya mbak benar. ada perlu apa?"


tanya resepsionis dengan sopan.


"emm,, saya ingin berjumpa dengan Asti mbak"


"apakah sebelumnya sudah membuat janji?"


tanya resepsionis lagi.

__ADS_1


dini menggeleng.


"baiklah mbak. saya telpon dulu mbak Asti nya"


resepsionis tersebut pun menelpon Asti.


"baik mbak ikut saya ke tempat beliau"


resepsionis itu berjalan sejajar dengan dini. dia mengantarkan dini ke bangku taman. lalu meninggalkannya setelah memberitahu kan posisi Asti.


"dini?"


ucap Asti langsung memeluk teman nya yang sangat ia rindukan.


"aku kangen sama kamu! kamu kemana aja sih? jarang banget hubungi aku"


tanya Asti dengan seribu pertanyaan.


"baiklah as, tenang. gue akan jawab pertanyaan Lo satu satu. gue sibuk, sama kayak Lo. fokus gue sekarang terbagi menjadi dua. jadi sorry kalau gak bisa ngasih kabar"


jawab dini.


"tapi jujur gue kangen banget sama Lo"


ucap dini lanjut sembari memeluk Asti dan mengelus kepala Asti dengan lembut.


"katakan apa yang buat Lo kemari?"


tanya Asti penasaran.


"gue mau nyampaiin ke kamu secara langsung. nanti malam kita nongkrong yuk? disana juga ada Clara dan Jaka tak lupa juga sama kekasihmu Kevin"


ajak dini.


"ngapain? ah enggak lah! aku capek Din?"


"kali ini aja as.. ini hal penting. gue gak bisa katakan hal penting itu sekarang. karena teman gue yang mengetahui hal ini hanya Lo satu satu nya dan sahabat Billy. kalian orang pertama yang akan denger kabar ini. setelah keluarga ku. ayo lah as?"


bujuk dini.


"baiklah. aku akan ikut"


mendengar jawab Asti, dini pun refleks memeluk Asti.


"oh iya, Billy juga udah bilang sama Kevin. mungkin nanti malam dia akan jemput kamu"


ucap dini.


Asti mengangguk.


"baiklah. aku tidak ingin mengganggu kesibukan temanku. jadi aku harus segera pulang. bye,, sayang"


ucap dini, sebelum akhirnya meninggalkan Asti. dia memberikan ciuman di pipi Asti.


sontak Asti terkejut dengan hal yang dilakukan dini.


"dini!!!!"


bentak Asti kesal.


sedangkan dini berjalan terus sembari tertawa menatap wajah Asti yang marah seperti kepiting rebus.


ya, dari dulu memang Asti tidak pernah suka di peluk, dicium atau sekedar menarukan tangan di pahanya. itu membuat Asti merasa geli bahkan jijik.


namun, saat ini Asti sudah mulai terbiasa dengan berpelukan. jadi dini kira Asti juga terbiasa dengan ciuman. lalu dia iseng saja mencium pipi temannya itu. ternyata tetap tidak beda, Asti masih saja marah.


Asti pun segera mengelap ngelap bekas ciuman tersebut dengan tissue yang berada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2