
tiba saat nya dimana sepasang kekasih kini akan bersatu setelah mendapatkan restu dari orang yang dilangkahi nya.
"saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar tersebut dibayar tunai!!"
ucap sang mempelai laki laki yang lantang.
"bagaimana para saksi, sah? sah?"
tanya pak penghulu kepada semua para saksi.
"sahh!!!"
jawab semua yang menyaksikan acara tersebut dengan rasa bahagia bercampur rasa haru.
saat jawaban sah di ucapkan, Asti merasa sangat bahagia walau ada secercah rasa sakit yang ia rasakan karena harus dilangkahi oleh adiknya. namun, ada rasa lega dalam hati karena dia tidak menjadi penghalang diantara dua insan.
ia pun memeluk sang bunda yang berada disampingnya, tanpa terasa pelukan itu meneteskan air mata. tak pernah dibayangkan oleh keduanya bahwa Reysa lah yang akan menikah duluan, apalagi mama Asti. ini tak pernah terlintas dalam hidupnya.
mereka pun saling bersalaman, pengantin mendatangi orang tertua satu persatu meminta restu dan wejangan. kini sampai lah dihadapan Asti. sungguh, Asti tak kuat jika harus tetap tegar dihadapan mereka. berpura pura kuat di depan mereka. Asti pun langsung memeluk kedua nya.
kini tangisan kakak adik lah yang pecah. momen itu terasa sangat mengharukan bagi mereka yang menyaksikannya.
"dek jadi lah istri yang baik, nurut sama suami, jangan bantah sama suami! walaupun kakak belum pernah merasakan rumah tangga gimana, tapi yang kakak tau dalam rumah tangga itu suami lah yang jadi kepala keluarga, suami lah yang sekarang menjadi surga mu. paham?"
ucap Asti memberi wejangan pada adik satu satunya itu.
Reysa pun mengangguk paham.
"dan kau adik ipar ku, aku harap kau bisa jaga dia dengan baik. bimbing dia ke jalan yang lebih baik lagi, kalau nakal ancam aja dengan pilih neraka atau surga? dan bahagia kan dia"
adik ipar laki laki Asti itu pun langsung mengangaguk paham, namun selangi dengan tawa canda dari mereka bertiga.
acara pun kembali normal seperti biasanya. Asti menjamu semua tamu yang hadir, karena memang beberapa tamu yang hadir adalah teman teman Asti dan rekan rekan Asti kerja.
sedangkan kedua mempelai sedang berfoto-foto di pandu dengan fotografer andalan.
"Asti!"
panggil Clara berbisik ditelinga Asti.
Asti pun sontak terkejut
"ayo ikut dengan ku, mama memanggil mu!"
Asti pun berjalan berdampingan dengan kakak iparnya itu. sesampainya disana.
"ada apa ma?"
tanya Asti.
"oo ini sayang, perkenalkan ini nak David, dia rekan bisnis Abang mu"
__ADS_1
jawab mama Asti memperkenalkan seorang laki laki yang tampan dan tampak berwibawa dengan penampilan yang formal.
"iya dek, dia juga salah satu rekan bisnis kita"
sambar Jaka.
Asti pun memberikan senyuman yang kaku, karena tak tau maksud dan tujuan dari perkenalan tersebut.
"oh iya nak, ini Asti putri sulung saya. ya, maklum lah dia belum nikah karena dia selalu saja sibuk dengan urusan perkerjaannya"
ucap mama Asti memperkenalkan balik putrinya pada laki laki tersebut yang tampak di dampingi oleh seorang paruh baya wanita.
"wah, cantik ya Bu anaknya"
puji wanita paruh baya tersebut.
lagi lagi Asti hanya bisa tersenyum kaku karena sekarang Asti tau tujuan ini semua kemana arahnya.
kedua paruh baya itu pun kini berbicara dengan asik meninggalkan Asti, Jaka dan laki laki itu atau David.
Jaka terlihat sangat seru membicarakan hal bisnis dengan temannya itu David, membuat Asti tersingkir kan dan mulai dilanda kebosanan.
"emm, Asti. are you okey?"
tanya David untuk pertama kalinya.
Asti pun gelagapan dan menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
perintah Jaka pada Asti.
Asti pun melototkan matanya karena Jaka menitipkan temannya itu pada Asti.
"Abang mau kemana?"
tanya Asti berusaha lembut menahan kesalnya.
Jaka pun juga menahan tawanya melihat ekspresi Asti yang menahan kesalnya
"Abang mau jamu tamu yang lain lah, udah kamu disini aja. okey? bye.."
Jaka melangkah meninggalkan dua orang disana.
kini kecanggungan dapat dirasakan oleh Asti dan David. wajar jika Asti merasa canggung, karrna selama ini ia jarang berinteraksi dengan laki laki. kalau bukan karena urusan penting atau kerja, mungkin Asti tidak akan mau berinteraksi dengan laki laki. apalagi laki laki itu tidak Asti kenal. ditambah Asti tau maksud dan tujuan keluarga memperkenalkan Asti dengan David.
"aku dengar kau seorang dokter yang dermawan ya?"
tanya David membuat Asti terkejut.
Asti pun menggelengkan kepalanya
"tidak, itu berlebihan. aku hanya dokter biasa, tugas ku adalah membantu menyelamatkan nyawa mereka"
__ADS_1
"tapi, rumor yang beredar bahwa kau sering sekali membantu pasien yang kesusahan dalam masalah keuangan"
balas David.
"tidak. aku tidak membantu mereka, di sebagian rezeki ku ada rezeki orang lain juga. jadi aku anggap aku tidak membantu mereka, karena itu adalah hak mereka"
sahhut Asti yang tak terima.
"kau sangat berbeda ya, jarang sekali ada perempuan muda seperti mu yang berfikiran seperti itu"
ucap David yang kagum dengan sifat Asti yang rendah hati.
"oh iya, kata nya kau juga menanam kan saham di perusahaan Jaka?"
tanya David mengubah topik.
"iya, aku juga investasi dibeberapa perusahaan karena ga ada salah nya kan investasi. biar nanti dihari tua nya kita akan"
jawab Asti yang tertawa pelan di akhir kalimat nya.
David pun ikut tertawa melihat Asti yang tertawa juga. entah mengapa David ikut tertawa melihat Asti yang tertawa. mata David kini hanya tertuju pada Asti, yang sudah mulai tidak ada rasa canggung lagi padanya.
Tut... Tut..
Asti pun segera mengangkat telpon tersebut.
"halo, waalaikumsalam pak. ada apa ya pak?"
tanya Asti.
"oo, maaf pak saya tidak bisa hadir karena hari ini ada acara pernikahan adik saya pak. gimana kalau besok saja pak? besok kan sayang kemabli bekerja?"
"oh, yaudah pak okey. besok ya pak, di restoran biasa. okey pak, okey. waalaikumsalam"
jawab Asti mengakhiri telponnya.
"dari siapa?"
tanya David saat melihat Asti yang baru saja selesai menelpon.
"oh, ini dari direktur rumah sakit. pak direktur tadi menyuruh saya untuk ke rumah sakit karena ada orang penting yang ingin menemui saya. tapi saya bilang gak bisa, kan saya udah ijin. jadi saya bilang besok aja"
jawab Asti tanpa menatap David.
"OOO. oh iya, kapan kapan aku akan kenal kan kamu sama salah satu direktur perusahaan terkenal, mana tau kamu berminat untuk inves, atau nanam saham di perusahaan itu. kan lumayan, cuannya makin banyak"
Asti pun mengangguk sedikit tampak antusias.
"aku boleh minta nomor kamu? biar nanti kita bisa janjian"
pinta David.
__ADS_1