Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan

Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan
TPBK 172


__ADS_3

kini suasana dingin dapat dirasakan oleh kedua asisten yang masih setia berdiri di samping bos nya itu. bahkan sangat jelas terdengar suara peperangan sendok dan garpu disana.


"Joan" panggil Kevin dengan nada pelan.


Joan pun melangkah mendekati tuannya itu. lalu tampak Kevin berbisik pada asisten pribadi nya itu, membuat Asti merasa penasaran dengan apa yang dibisikkan oleh asisten pribadi nya Kevin.


"baik tuan"


jawab Joan setelah selesai berbisik.


"maaf nona, bisa kah kita meninggalkan mereka berdua? memberikan waktu luang untuk mereka berdua?"


tanya Joan pada asisten pribadi Asti.


"tidak, Apri tetap lah disini menemani ku!!"


jawab Asti langsung dengan tegas.


"kenapa kau usir dia? jika ada yang ingin dibicarakan bicarakan saja sekarang. tidak perlu mengusir mereka"


tanya Asti pada Kevin.


Kevin pun menghela nafas nya, ya dia tau kenapa Asti bersikap seperti ini padanya. ia tau kemarahan Asti saat ini.


"oke, kalau itu mau kamu gapapa. aku cuma mau tanya gimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah kabar ku baik, setelah semua yang terjadi. Alhamdulillah aku bisa melaluinya dengan baik, seperti yang kau lihat sekarang"


jawab Asti tanpa melihat kearah Kevin.


"kabar keluarga?"


"apa penting bagimu untuk mengetahui keadaan keluarga ku? setelah apa yang kau lakukan pada ku?"


tanya Asti balik pada Kevin, menahan rasa unek unek nya dalam hati.


"ya, aku memang tak pantas menanyakan itu"


jawab Kevin yang sedikit kecewa dengan sikap Asti.


"baiklah, jika tidak ada pertanyaan yang penting lagi aku akan pergi duluan. karena masa depan ku sudah menunggu ku didepan!"


ucap Asti berdiri dari bangkunya.


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


jawab Kevin yang hanya bisa diam mematung saat ini.


setelah tubuh Asti menghilang dari pandangan mereka, Joan pun segera menghampiri Kevin yang masih diam terpaku.


"tuan, apa tuan baik baik saja?"


tanya Joan memastikan keadaan bos nya itu.


namun Kevin tak menjawabnya, Kevin mala meneteskan air matanya. seperti ada rasa penyesalan yang berat di hati Kevin.


"tuan, aku tau dia adalah kekasih mu dulu. tapi yang gak aku tau, kenapa dia bisa sebenci itu sama tuan?"

__ADS_1


tanya Joan yang menenangkan hati Kevin dengan cara memancing Kevin untuk tidak memendamnya sendirian.


"wajar jika dia membenci ku Jo, dalam hal ini aku yang salah. ini kesalahan ku. mungkin jika itu wanita lain, pasti saat ini dia akan menampar ku dan mempermalukan ku di depan pak direktur tadi"


jawab Kevin dengan mata yang sembab.


"tuan, aku tak tau masa lalu mu dengan dia seperti apa. tapi, aku bisa melihat masih ada rasa cinta di mata nya. sebesar cinta tuan kepadanya. ingat tuan tujuan kita kesini adalah bisnis, jadi biar lah masa lalu berada di tempatnya"


balas Joan yang memberikan semangat kepada tuannya itu.


di sisi lain, sepanjang perjalanan Asti terus saja menangis di samping Apri yang sedang fokus pada jalanan. tangisan yang tak dapat ia hentikan, karena rasa sesak di dada yang kian menjadi jadi.


ya, hari ini adalah hari terburuk bagi Asti. karena hari ini ia bertemu dengan orang yang telah membuatnya terluka. pertemuan tadi masih terbayang bayang dibenak Asti. Apri, yang melihatnya merasa bingung harus bersikap apa. selama ini ia tak pernah melihat Asti yang menangis sehisteris ini, dan kali ini baru pertama kalinya Apri melihat hal itu.


"AKU BENCI DIA!!!!! BENCI!! BENCI!!!!"


teriak Asti keras.


"as, tenang lah. istighfar. istighfar. jangan seperti ini"


sahut Apri yang berusaha mengingatkan Asti.


Asti pun berdzikir dalam hati mengucapkan istighfar berkali kali namun tetap saja air mata mengalir membasahi pipinya.


setelah di lihat keadaan Asti yang lebih tenang dari sebelumnya, Apri pun membuka pembicaraan supaya Asti merasa tak sendirian.


"as, aku baru pertama kali melihat mu bersikap seperti itu kepada orang lain. apalagi itu rekan kerja mu"


"ya, sekali sekali kita harus menunjukkan watak kita di depan lawan Ap"


balas Asti yang merasa lelah setelah menangis tadi.


tanya Apri lagi yang tak paham dengan maksud Asti dan menawarkan diri sebagai pendengar yang baik.


Asti pun langsung menatap Apri dengan ekspresi yang tak mampu di tebak.


"ya dia lawan. aku seperti ini karena dia. aku ingin membuktikan padanya bahwa tanpa dia aku masih bisa berdiri sendiri, aku masih bisa melanjutkan hidupku. dia adalah laki laki yang sangat kejam Apri"


"dia kejam, karena meninggalkan perempuan yang lagi sayang sayangnya sama dia. sampai sampai perempuan itu menyerahkan takdirnya sendiri kepada laki laki itu. dia pergi tanpa kabar sama sekali Apri, aku masih ingat betul dengan janjinya yang akan dateng secepat mungkin. ya cepat, empat tahun aku disuruh menunggu. bodoh bukan?"


lanjut lagi Asti dan menertawakan dirinya sendiri saat mengingat tingkahnya yang masih berpegang teguh pada janji Kevin.


ya, tau kan gimana rasanya? dalam satu hati adalah dua rasa yang berbeda. itu lah yang Asti rasakan, tertawa dan menangis.


"Apri, apakah pak David sudah menelepon mu?"


tanya Asti pada Apri.


"oh, sudah as. nanti malam aku akan menyusun ulang semua jadwal mu"


jawab Apri dengan antusias.


"kirim kan nomor pak David ke nomor ku. sekarang!!"


perintah Asti.


Apri pun segera mengirimkan nomor David kepada Asti. lagi lagi Apri dibuat tercengang oleh sikap Asti yang seperti ini. ya, jika Asti meminta nomor orang kepada Apri, itu tandanya orang tersebut sudah boleh masuk dalam dunia pribadi Asti.


"untuk apa nomor itu as?"

__ADS_1


tanya Apri tutup point langsung.


"ada hal penting yang harus aku bahas bersama nya"


jawab Asti yang mulai sibuk dengan hp di genggaman nya.


••••••••••


"assalamualaikum pak David"


ketik Asti saat sudah mendapatkan nomor David.


"waalaikumsalam"


"jangan panggil pak lah, terasa sangat formal sekali. panggil saja David"


balas David dengan cepat.


"itu tidak sopan pak"


"kalau begitu panggil saja aku Abang. aku kan seusai dengan abang mu"


"bay the way, makasih karena kau menyimpan nomor ku di nomor pribadi mu"


ketik David yang berterima kasih, karena tak percaya akan mendapatkan nomor pribadi Asti.


"iya sama sama bang David"


balas Asti sembari memberikan emoji senyum malu.


"oh iya bang, langsung saja ya ke intinya. apakah tawaran Abang itu masih berlaku?"


tanya Asti yang sebenarnya merasa ragu dengan ketikannya sendiri.


"tawaran apa as?"


tanya balik David.


"tawaran, Abang yang berniat untuk menjadi kan ku istri"


jawab Asti yang kali ini hatinya merasa berdebar lebih cepat.


"jika itu masih berlaku, emang kamu mau?"


tanya David yang tak percaya bahwa Asti akan menanyakan hal ini padanya.


"ya, saya terima bang. dengan syarat besok abang bawah lah keluarga Abang ke rumah untuk melamar ku. jika beneran serius. saya tidak ingin bermain main lagi bang"


jawab Asti yang berdebar bukan main.


"baiklah, tunggu aku besok di rumah mu. pasti aku akan datang bersama keluarga ku untuk melamar mu"


balas David membuat Asti merasa sesak yang bukan main.


"yaudah, makasih bang. assalamualaikum"


balas Asti mengakhiri pembicaraan.


"waalaikumsalam"

__ADS_1


balas balik David dengan perasaan yang senang dan bahagia.


__ADS_2