Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan

Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan
Was Was


__ADS_3

hari ini seperti biasa Asti akan berangkat untuk magangnya. kali ini dia Dateng lebih awal karena dokter Yani bilang sebelumnya bahwa dia yang akan menangani pasien selama beberapa hari ke depan.


ya gak tau sampai berapa hari dokter Yani izin.


Asti pun tidak membawa mobilnya dikarenakan mobilnya akan di pakai oleh kedua orang tuanya untuk pergi.


tampak masih pagi buta, mungkin dua jam lagi matahari baru menunjukkan sinarnya. ya, pagi buta seperti ini Asti sudah dateng. rumah sakit di pagi buta ini ternyata sangat sunyi.


hanya beberapa perawat yang berlalu lalang, berjaga menjaga pasien sepanjang malam.


"Asti, tumben kok dateng cepat?"


tanya seorang perawat yang menjaga resepsionis.


Asti tersenyum


"iya, aku hanya ingin melakukan tugas ku dengan cepat. beberapa hari ke depan kan dokter Yani tidak dateng, jadi aku ditugaskan untuk menangani pasiennya"


"wah, sigap sekali ya dalam bekerja. belum juga jadi dokter tapi udah siap siaga"


ucap seorang perawat yang berada di sampingnya.


Asti tertawa renyah, jujur ia merasa malu jika harus dipuji


"kamu bisa saja. bukankah seorang dokter harus siap siaga? walaupun dalam keadaan genting sekali pun?"


kedua perawat tersebut mengangguk.


"baiklah saya tinggal dulu ya, saya mau ke lemari saya untuk meletakkan barang barang bawaan saya ini"


ucap Asti tersenyum lalu berjalan meninggalkan mereka.


•••••••••••••••••


jam makan siang tiba, Asti pun hendak berjalan meninggalkan ruangan pasien. seperti biasa dia akan ke kantin untuk memakan bekalnya dan memesan minuman disana.


namun saat berjalan ke kantin, tiba tiba ada suara seseorang seperti suara bariton. menandakan itu suara laki laki, Asti pun melihat kebelakang dan ternyata itu adalah suara Alex.


"astaga bapak"


ucap Asti terkejut.


"kamu mau kemana?"


tanya Alex mengikuti Asti jalan.


"saya mau, ke kantin pak. kan sudah waktu nya makan siang"


jawab Asti yang merasa tidak enak. karena semua perawat menatapnya seolah olah sedang ingin mengajak bergelut.


"kamu ingin makan di kantin?"


Asti mengangguk.


"emm,, bagaimana kalau kita makan di tempat yang semalam kamu ajak saya makan. saya mau kesana tapi lupa dimana nya"

__ADS_1


bujuk Alex.


Asti yang merasa tidak enak pun semakin salha tingkah. ingin menolak, namun rasa ya itu tidak mungkin. karena Alex adalah atasan nya.


"emm,,,


"gimana ya pak, saya tidak mungkin pergi dari rumah sakit. karena dokter Yani sedang tidak masuk. saya takut dokter Yani memiliki janji dnegan pasien pasien lainnya. dokter Yani juga sudah memberikan saya tanggung jawab pak"


jelas Asti, yang mengarah pada penolakan.


Alex lagi lagi kecewa. namun bukan Alex jika menyerah.


"ayo lah as, kamu tenang saja untuk pertemuan janji dengan pasien. saya akan menyuruh beberapa dokter untuk menanganinya"


Asti sejenak berfikir lagi, sebenarnya Asti sangat ingin menolaknya. namun, alasan yang tepat tadi tidak mampu membuatnya menyerah.


Asti pun mengangguk.


"baiklah pak, tapi jangan lama lama ya pak. saya takut jika dokter Yani nanti nya kecewa"


Alex pun mengangguk dan tersenyum kemenangan di dalam hati.


mereka pun segera keluar dari rumah sakit, tampak jelas setiap mereka berpapasan dengan para perawat atau dokter muda disana, pasti seperti mengira bahwa mereka memiliki hubungan yang spesial.


bahkan saat berpapasan dengan seorang perawat pun, perawat tersebut masih bisa membisikkan sesuatu di telinga Asti dengan jelas.


"semoga langgeng ya as"


ya itu lah perkataan nya. Asti pun hanya merasa tegang dan kaget ketika mendengar nya.


kesal Asti dalam hati.


••••••••••••••••


"Asti apa yang ingin kamu pesan?"


tanya Alex saat sampai di warung sederhana langganan Asti.


"bilang aja seperti biasa pak. pasti abangnya tau kok pak"


jawab Asti masih merasa canggung.


Alex pun kembali dan memesan dua porsi makanan untuk mereka. lalu balik dan duduk tepat di samping Asti.


"Asti, kenapa kamu dari awal tidak jujur soal..


belum sempat Alex menjawab Asti sudah memotong


"oh soal itu ya pak. hubungan saya dengan Kevin. maaf ya pak, saya rasa itu hal pribadi jadi saya tidak perlu mengumbarnya"


Alex pun mengangguk.


"sejak kapan kamu dekat dengan Kevin? maksud saya sudah berapa lama hubunganmu dengan Kevin berjalan?"


tanya Alex pura pura tidak tau.

__ADS_1


"Alhamdulillah pak, sudah hampir tiga tahu lebih. sejak awal saya masuk kuliah pak. kebetulan Abang ipar Kevin itu dulu murid dari ayah saya"


jelas Asti.


namun fakta baru yang Alex dapat ternyata Abang ipar Zain, itu merupakan murid dari orang tua Asti. membuat Alex pun mengangguk


"pantas saja mereka bisa dekat saat awal masuk kuliah. ternyata dari keluarga pun mereka juga dekat"


tak lama pesanan makanan mereka telah sampai. saat mereka sibuk dengan meracik bumbu versi masing masing, tiba tiba tanpa sengaja Asti menjatuhkan sendok Alex ke lantai.


"maaf"


ucap Asti merasa bersalah.


"tidak apa"


jawab Alex tersenyum.


tanpa sengaja kedua mata mereka saling bertatapan walaupun hanya sebentar, hanya dalam hitungan detik.


Asti pun buru buru hendak mengambil, namun Alex ternyata juga melakukan hal yang sama. membuat mereka memegang sendok yang sama, dengan tangan yang saling berpegangan dan tatapan mata ke mata.


ya, lagi lagi itu hanya sebentar saja


"maaf pak, saya tidak sengaja"


ucap Asti yang tersadar dan langsung refleks menarik tangannya.


Alex pun mengangguk. ada rasa deg degan yang parah di hati Alex ketika semua itu terjadi walaupun hanya sebentar. namun itu berhasil membuat jantung dokter ini menjadi tidak karuan.


saat Alex hendak mengambil saus yang ada di meja ujung Asti, saat itu juga Asti sedang menyendok kan kuah tersebut ke dalam mulutnya, tanpa sengaja tersenggol dan membasahi jilbab Asti yang berada ditengah tengah gundukan.


"maaf maaf"


ucap Alex, sembari mengambil tissue.


"aku tadi hanya ingin mengambil saus itu"


sambung Alex lagi.


Asti pun mengambil tissue yang diberikan Alex dan membersihkan jilbab tersebut. refleks Alex ingin membantunya, membuat Asti tiba tiba menstop kan gerakan Alex.


"biar saya saja pak, gak papa ini masalah kecil kok"


ucap Asti sembari melanjutkan membersihkan tumpahan tersebut.


"maaf, saya benar-benar gak sengaja dan tadi hanya berniat untuk membantu mu"


ucap Alex yang merasa tidak enak.


Asti menarik nafas, lalu tersenyum perlahan kepada Alex.


"iya pak saya paham"


walaupun sebenarnya Asti sejak tadi sudah risih dengan sikap pak Alex. dia sangat risih bahkan rasanya ingin segera mengakhiri makanan ini dengan cepat.

__ADS_1


Asti pun memindahkan segala benda yang ada di samping mejanya ke tengah tengah, ia tak ingin hal hal seperti tadi lagi terjadi lagi. sebagai seorang wanita tentu saja ada perasaan yang was was.


__ADS_2