
hari ini adalah hari yang sangat di nanti nanti oleh Asti. hari dimana ia membuktikan kepada semua orang yang mencaci maki dirinya, kepada semua orang yang dulu sangat menyepelekan nya tertampar oleh gelar yang ia dapat.
ia jadi teringat saat di depan kaca hias, ia teringat dengan cacian setiap keluarga besarnya yang menyudutkan dirinya, yang menganggap bahwa dirinya tidak akan pernah jadi orang yang sukses. ia teringat hinaan teman temannya dulu, membuatnya terharu karena sampai di posisi sekarang, dimana nama belakang nya akan bertambah dengan sarjana dokter.
impian nya tercapai, lelah dan letih nya terbayar. semua terbayar dengan satu gelar yang akan menjadi miliknya itu. selama ini ia selalu ingin menjadi kebanggaan orang tuanya dan baru hari ini ia akan memberikan kebanggaan kepada kedua orang tua nya.
namun, tetap saja di balik kebahagiaan yang ia rasa tetap ada kesedihan di lubuk hatinya. walaupun kesedihan itu kalah dengan kebahagiaan, namun tetap saja kesedihan adalah kesedihan.ia tidak bisa menyatu dengan kebahagiaan.
"sayang,, kamu sudah siap?"
tanya mama Asti yang menghampiri anaknya di depan meja kaca rias.
Asti menoleh ke atas. terlihat jelas di sana senyuman mama yang sangat hangat. senyuman yang indah melebih seisi dunia, senyuman surga dunia yang tiada Tara.
"sudah ma"
jawab Asti sembari mengangguk kan kepalanya.
"ya sudah, kalau begitu kita keluar dan berangkat. sebelum acara wisuda mu selesai!"
perintah mama Asti sembari mengajak anaknya keluar kamar.
saat keluar kamar, semua nya sudah menunggu di ruang keluarga. mereka menatap Asti dengan wajah yang berseri-seri. papa Asti pun langsung menghampiri sang putri tercinta dan kebanggaan nya itu.
"selamat ya sayang.. papa sangat bangga sama kamu, kamu membuktikan kepada semua orang bahwa semua nya bisa dapat diraih, asal di dalamnya ada tekad yang kuat dan doa yang tidak terputus"
ucap papa Asti yang sangat bangga.
Asti tersenyum tipis, ia tak bisa mengekspresikan diri nya saat ini saat melihat keluarganya yang sangat bangga kepadanya.
"selamat ya dek. sekarang adek Abang udah besar. tinggal beberapa jam lagi, nama adek Abang satu ini akan bertambah. dulu Asti, sekarang dokter Asti"
ucap Jaka yang ikut bangga kepada adiknya tersebut dan sedikit menggoda sang adik.
mereka pun tertawa mendengar ucapan selamat dari Jaka.
"sudah lah. ayo pergi, nanti telat!!"
perintah Asti.
"cie.. yang udah gak sabar mau memiliki gelar dokter"
sahut Jaka yang menggoda adiknya tersebut.
••••••••••••
sesampainya di sana, banyak orang yang telah hadir menyambut hari kebahagiaan seumur hidup ini.
"Asti!!!"
teriak orang yang Asti kenal dari atas tangga sana.
__ADS_1
ya siapa lagi kalau bukan sahabat sahabat Asti yang sudah hadir lebih dulu dari pada si yang punya.
Asti pun menghampiri nya dan juga keluarga Asti.
"selamat ya, sahabat ku? aku senang deh, karena wisuda mu ini"
ucap Dewi memberikan selamat pada Asti dengan hamburan pelukan.
"iya, aku juga ngucapin selamat ya.. gak nyangka kau bisa bertahan juga dengan tugas tugas dokter yang hampir membuat kepala mu pecah"
sahut juga Vivi, yang tau bagaimana perjuangan Asti demi mendapatkan gelarnya. bahkan, tak jarang juga Asti selalu mengeluh kepada nya karena tugas nya yang menumpuk. dan seperti yang kalian tau, karena tekad nya yang kuat untuk gelar tersebut Asti jarang berkumpul dengan sahabat-sahabat nya itu.
"makasih"
jawab Asti dengan senang hati.
Asti pun menghampiri Reza dan Hendrik. "apakah kalian tidak akan mengucapkan selamat pada ku?"
tanya Asti yang menatap mereka secara bergantian.
"selamat ya.. akhirnya si kecil ku ini sudah jadi dokter juga. pesan ku, jadilah dokter yang selalu ada disaat pasien membutuhkan. kerjakan dengan hati yang ikhlas"
ucap Reza pada Asti sembari mengelus ujung kepala Asti.
"Reza.. singkir kan tangan mu, atau itu akan membuat jilbab ku ini berantakan nanti"
balas Asti yang kesal dengan ulah Reza, karena jilbab nya yang rapi tadi, kini harus sedikit rusak akibat ulah temannya itu.
ucap Hendrik singkat.
"makasih"
jawab Asti.
"Asti! dimana keluarga Kevin?"
tanya mama Asti yang tak menemukan keluarga Kevin sedari tadi.
"iya, apakah Kevin dan keluarganya tidak akan dateng di acara wisuda mu ini?"
tanya Clara, yang memang tidak tahu apa apa tentang Kevin.
Asti menunduk enggan menjawabnya, begitu juga dengan Reza, Vivi, Dewi dan Hendrik yang membisu tanpa berniat menjawabnya. menurut mereka ini adalah masalah pribadi Asti, tak bagus bagi mereka jika harus ikut campur dalam urusan pribadi.
"dek?"
panggil Jaka yang meminta jawaban.
mau tidak mau Asti pun menjawab
"mereka tidak dateng ma, mereka sedang menjenguk Kevin. mereka keluar negeri ma, saat Asti kerumah kata bibi mereka sedang berada di luar negeri mengunjungi Kevin di sana"
__ADS_1
"lalu, bagaimana dengan Kevin? apakah dia sudah mengetahui bahwa kamu akan wisuda hari ini?"
tanya Jaka lagi.
"Kevin, Kevin udah Asti kasih tau kok bang. dia bilang dia gak bisa hadir karena kata nya dia lagi sibuk dengan urusan bisnis nya disana"
jawab Asti berbohong.
"o.. baiklah. kalau gitu mari kita masuk sebelum acara nya di mulai"
ucap Jaka.
"tunggu tunggu!! mas, sebaiknya kita foto foto dulu deh. mumpung adik ipar ku ini sangat cantik"
ucap Clara menghentikan langkah semuanya.
"baiklah. kita foto dulu"
ucap Jaka menyetujui saran istri nya itu.
mereka pun berfoto bersama. mereka mengabadikan momen tersebut bersama sama. momen dimana semua orang pasti akan mengabadikan nya. tak berapa lama mereka pun masuk.
saat di dalam gedung, terlihat acara nya begitu megah. terlihat dari dekorasinya, bangku dan meja yang telah di sediakan dan makanan yang berjejer rapi di setiap ujung gedung. lebih mewah dari acara Jaka.
"as, berapa biaya wisuda ini? soalnya sangat mewah sekali, beda banget dengan acara wisuda bang Jaka"
bisik Dewi di telinga Asti.
Asti tersenyum mendengar ucapan Dewi, ia pun menjawab
"aku tidak tau? soalnya selama ini aku hanya mengandalkan beasiswa ku saja, aku mempertahankan beasiswa ku itu. dan wisuda ini terjadi juga karena beasiswa, tidak ada uang sedikit pun dari orang tua ku untuk biaya wisuda ini. yang ada di dalam perut ku, karena uang jajan ku dari orang tua ku"
"hai Asti!!"
panggil seseorang menghampiri Asti.
"Sindi??"
tanya Asti yang kaget, mereka pun berpelukan. setelah itu Sindi menyalami punggung tangan kedua orang tua Asti.
"Lo duduk di bangku mana as?"
tanya Sindi.
"gue dapat VVIP. bangku gue di depan"
jawab Asti sembari menunjukkan tiketnya.
"ya.. gue kira duduk Lo di samping gue. yaudah gih sana, bentar lagi acara mau di mulai"
ucap Sindi menyuruh mereka untuk segera pergi ke bangku mereka yang terletak di paling depan.
__ADS_1