
setalah hampir tiga jam lebih Asti selesai menanganinya. ya walaupun makan siang sudah berakhir se jam yang lalu, namun tetap saja para dokter belum semua nya balik.
hanya beberapa dokter yang langsung balik untuk kerja, selebihnya masih dalam perjalanan. karena korban kecelakaan banyak, maka tetap saja Asti masih ikut berkutak Katik disana.
"wah untung tadi dok ada calon dokter Asti, kalau tidak kami kebingungan untuk menangani nya"
ucap perawat itu memuji Asti di depan salah satu dokter.
dokter itu tersenyum pada Asti, sedang kan Asti hanya tersenyum tipis sembari menundukkan kepala karena malu.
"terima kasih ya, kamu ternyata bisa di andalkan! kalau gak ada kamu entah bagaimana dengan pasien pasien ini. mungkin ada banyak nyawa yang akan terancam"
"tidak perlu terima kasih dok, itu memang sudah tugas saya dok. ini pengalaman paling berharga bagi saya dok, saya hanay mengikuti apa kata hati saya"
jawab Asti.
"ya, hati kamu adalah hati seorang nurani dokter yang besar, saya salut pada mu"
ucap dokter itu seraya pergi meninggalkan Asti untuk menangani pasien yang lain.
karena menangani kasus tadi membuat Asti lupabuntuk mengcheck keadaan pasien dia. dia pun segera mengeceknya mendatangi satu persatu ruangan pasiennya.
setelah selesai dia pun kembali duduk di taman. kini perutnya sudah mulai meremasnya. ya akibat lapar, karena sedari tadi jam makan siang sampai hampir sore ini dia belum makan apapun, hanya minum teh manis yang telah ia pesan sebelumnya tadi sebelum korban kecelakaan di bawah kerumah sakit.
"ini, makan lah! aku tau kau sedang lapar? jangan sampai seorang dokter sakit! kalau sakit apa kata pasienmu nanti"
Asti menatap makanan yang di berikan padanya, ia pun melihat wajah si pemberi ternyata tak lain adalah Alex.
"eh, iya pak Alex makasih"
Asti pun segera mengambilnya dan memaknya karena jujur dia merasa lapar, sedangkan Alex pun duduk di samping Asti.
"kenapa kau mengambil keputusan yang berbahaya itu? apakah kau tidak takut jika sesuatu terjadi pada pasien maka mau yang akan dituntut?"
tanya Alex sembari menikmati pemandangan taman.
Asti tersenyum
"kenapa saya harus takut? bukan kah itu sudah menjadi tugas seorang dokter pak?"
"ya saya tau, tapi tindakan mu tadi bisa saja membuat kamu di keluarkan dari kampus"
__ADS_1
Asti kembali lagi tersenyum
"lebih baik saya di keluarkan dari kamupus pak! dari pada saya harus melihat banyak nyawa yang terenggut karena saya tidak bisa melakukan apapun"
ucap Asti santai.
Alex pun langsung menatap Asti yang tersenyum dengan nya setelah menyelesaikan perkataannya. sesaat Alex merasa terpanah melihat Asti, jantung nya sesaat mulai berhenti mendengar jawaban Asti. bahkan, seakan akan dunia berhenti.
"kau yakin itu?"
tanya Alex.
"iya saya yakin pak. mungkin gini pak, saya dari dulu menginginkan menjadi seorang dokter. jadi ketika saya di hadapi dengan situasi seperti ini mungkin? mungkin nih ya pak,,, jiwa seorang dokter saya keluar. naluri dokter saya keluar, jadi saya mengambil keputusan yang lumayan Gilak"
Asti tertawa.
tanpa di sadari Alex juga ikut tertawa
"ya jiwa naluri mu sebagai seorang dokter sangat besar as. ternyata kamu juga enak ya di ajak ngobrol? pantas saja jika pasien pasien mu sangat menunggu mu untuk dateng memeriksa"
ucap Alex dalam hati.
"kau mau minta imbalan apa sebagai,, anggap saja ini sebagai hadiah dari hasil keputusan mu yang besar ka ambil hari ini?"
"ah,, itu tidak perlu pak. saya ikhlas dalam membantu orang, saya senang membantu mereka. jadi saya tidak butuh imblan apapun itu. lagian saya ingin menjadi seorang dokter, agar saya bisa menolong orang yang dalam kesusahan"
Asti tersenyum.
"ya sudah pak, saya ingin kembali ke ruangan ibu Yani. untuk membantu pekerjaan beliau. permisi pak"
Asti pun berjalan meninggalkan Alex yang masih terduduk di bangku taman.
•••••••••••••
"as gimana?"
tanya Sindi saat tak sengaja berpapasan dengan Asti.
"apanya gimana?"
tanya Asti balik sambil menatap malas keraha Sindi.
__ADS_1
"yang..
"oh yang itu? tenang saja kok besok aku akan di keluarkan dari kampus karena keputusan yang telah ku buat"
jawab Asti.
"loh yang benar as? kan udah gue ingetin jangan mengambil keputusan itu! kenapa loh ambil sih!!"
ucap Sindi shock ketika mendengar jawaban Asti.
"kenapa gue harus nuruti elo? ini hidup hidup gue? gue gak mau jadi penakut apalagi pengecut seperti kalian! setidaknya aku bahagian bisa mengambil keputusan yang tidak akan pernah aku sesali! karena aku bisa membantu mereka demi keselamatan mereka tidak seperti kalian yang hanya diam mematung tanpa mencoba untuk mengambil tindakan sesuatu!! apa gunanya kau jadi dokter jika kau saja takut dengan keputusan yang belum seberapa itu? pantas kah kau jadi dokter?"
ucapan Asti yang datar, namun menusuk ke dalam hati. pedas dan cetus itu lah yang di rasakan oleh Sindi. tepat sasaran, Sindi hanya terdiam mendengar ucapan Asti.
sedikit merasa bersalah akrena tidak mampu bertindak apapun, tidak seperti Asti yang berani mengambil keputusan besar bahkan itu mempertaruhkan masa depannya. dan benar yang dikatakan Asti? apa gunanya jadi dokter jika mengambil keputusan untuk mengorbankan jadi dokter saja kau harus berfikir dua kali? itu bukanlah seorang dokter.
Asti pun berjalan bergegas meninggalkan Sindi yang masih terpaku disana. ya Asti kaki ini merasa sangat kesal dengan keputusan apa yang mereka ambil di saat situasi genting seperti itu.
•••••••••••••••••
hari ini sungguh sangat melelahkan bagi Asti. karena untuk pertama kalinya dia turun tangan menangani korban kecelakaan. ya untuk pertama kalinya setelah seminggu dia magang di rumah sakit tersebut.
rasanya Asti ingin segera pulang dan mandi lalu tidur, karena ia sangat merasa capek yang sangat ditambah dengan badan yang lengket akibat keringat.
Asti menunggu taxi di pinggir sebrang. namun, tak ada satu pun yang melintas. Asti mulai kesal. dia tak mungkin menghubungi kedua orang tuanya yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka. dan tak mungkin juga menghubungi abangnya Jaka yang rumahnya jauh dari rumah sakit dia magang.
ingin rasanya menelpon Kevin disaat seperti ini, namun itu tak mungkin karena tiba tiba Asti teringat dengan janji dia dan Kevin. mulai kesal.
telpon saja sahabat mu as;v
ya, benar telpon Reza. eh, tapi itu tidak mungkin! itu pasti akan merepotkan Reza. dia pun mulai menarik nafas menenangkan diri.
dari kejauhan Alex melihat Asti yang sedang berdiri di pinggir sebrang, dia pun menghentikan mobilnya tepat di depan Asti.
"Asti! apakah kamu ingin saya antar? biasa nya di jam segini jarang ada yang lewat taxi"
Alex menawarkan diri.
Asti tak menjawab.
"anggap saja ini hadiah karena keputusan besar mu ini, ayo naik lah"
__ADS_1
Asti pun berpikir sejenak, dia pun masuk karena dia merasa bahwa apa yang dikatakan pak Alex benar, di jam segini akan jarang ada angkutan umum atau taxi yang lewat.
dia pun segera naik dan mobil pun segera berjalan.