
Asti memutuskan setelah pulang dari kampus dia akan pergi ke tempat dimana dia bisa menenangkan pikiran dan hatinya.
Asti pun pergi ke pantai sendiri, hp nya sengaja di mati kan data, dan volume nada deringnya sengaja tidak di hidupkan.
sesampainya Asti di pantai.
Asti pun berjalan di tepi pantai memainkan ombak ombak yang terus berkejar-kejaran, tak jarang juga Asti memainkan pasir pantai yang putih.
sejenak yang dia lakukan sangat sangat dapat membuatnya melupakan apa yang terjadi.
sesekali dia juga duduk di tepi pantai tanpa alas sama sekali, membuat celananya sedikit lembab.
Asti melihat sekelilingnya, ombak yang berkejar kejaran membuat hati dan pikirannya sangat tenang setenang ombak pantai.
burung yang berterbangan di langit biru cerah membuat nya tersenyum manis.
dan angin sepoi-sepoi membuatnya merasa aman dan nyaman, rasanya Asti tidak ingin meninggalkan pantai ini.
tapi, rasa lapar mengalahi rasa aman dan nyaman yang di berikan oleh alam.
Asti pun memutuskan untuk pergi ke sebuah cafe yang berada di pinggiran pantai.
sesampainya disana
Asti memilih tempat untuk duduk. dia mencari view yang bagus agar dia tetap bisa melihat ombak pantai yang berkejaran.
tak lama kemudian seorang pelayan pun Dateng menghampiri Asti dan membawa menu makanan cafe tersebut.
"kak mau pesan apa kak?"
sapa pelayan itu dengan ramah.
"saya mau pesan ayam geprek level dewa ya kak satu, minuman nya lemontea aja kak. sama botol air mineral deh satu yang besar ya kak"
pelayan tersebut pun segera mencatat pesanan Asti.
setelah selesai mencatat
"kak tunggu bentar ya kak"
Asti pun mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum, pelayan tersebut pun pergi meninggalkan Asti yang sendirian disana.
tak lama kemudian pun pesanan Asti sudah sampai di meja Asti, Asti pun langsung memakannya. karena jujur saat ini dia sangat lapar.
Asti memakannya sampai keluar semua keringatnya.
bolak balik Asti meminum air putih yang telah dia pesan tadi, karena pedasnya diluar dugaan Asti.
tapi begitulah Asti, disaat dia lagi down atau mood yang tidak bagus. pelampiasan dia hanyalah makanan.
terkadang makanan yang terlalu manis, terkadang juga makanan yang terlalu pedas.
itu adalah salah satu cara dia agar di saat down atau mood yang tidak bagus Asti tetap bisa menjaga kesehatan nya. setidaknya dia bisa membuat perutnya bahagia.
setelah makan Asti pun pergi ke toilet, dia meminta kepada salah satu pelayan cafe agar tidak mengangkat minuman nya, karena Asti akan segera kembali saat dari toilet nanti.
Asti berjalan sambil melihat-lihat sekeliling nya.
tiba tiba tak sengaja Asti menabrak seseorang.
__ADS_1
"maaf,, maaf"
ucap mereka serentak.
sesaat mereka diam, karena mereka sendiri tidak tau siapa duluan yang menabrak.
karena laki laki tersebut berjalan sambil sibuk dengan hp nya.
"yaudah saya tinggal dulu"
ucap Asti yang sudah tidak tahan untuk ke toilet.
Asti pun pergi dan segera meninggalkan laki laki itu sendiri.
selesai dari toilet, Asti kembali duduk sendiri masih dengan menikmati alam yang begitu membuatnya nyaman dan terpesona.
saat Asti mulai masuk dalam keheningan, tiba tiba seseorang memanggil Asti.
"mbak,, mbak,, saya boleh duduk bareng sama mbak?"
"oh, boleh boleh.. silahkan"
jawab Asti sambil tersenyum.
"oo,, ini mas mas yang saya tabrak tadi ya?"
"haha,, iya mbak. sebenarnya saya Luan kok yang nabrak mbak,,, karena saya tadi sibuk dengan hp saya"
jawab laki laki itu.
"eh, tapi itu salah saya juga kok mas.. saya tadi juga terlalu fokus lihat lihat sekitar jadi gak fokus jalan"
Asti menolak ucapan laki laki tersebut.
mereka pun saling tertawa.
"mbak kalau boleh tau siapa namanya?"
tanya laki laki tersebut.
"nama saya Asti. nama mas siapa?"
tanya balik Asti.
"perkenalkan nama saya Hendrik"
ketika mendengar nama Hendrik, Asti seperti pernah kenal dengan seseorang ini.
begitu juga dengan Hendrik yang merasa pernah kenal dekat dengan Asti.
mereka pun sama sama berfikir, tak lama kemudian.
"Hendrik!!"
"Asti!!"
ucap mereka serentak.
"astaga,,, aku kira kamu siapa? eh sumpah aku gak kenal sama kamu yang sekarang. beda banget sama yang dulu"
__ADS_1
ucap Asti dengan riang.
"haha,,, iya lah masa aku mau kek gitu gitu aja, ya pasti aku mau kali kelihatan lebih keren"
jawab Hendrik.
"dasar ya gak mau kalah!"
ucap Asti sambil tertawa dengan sangat senang.
"eh,, ngomong ngomong kamu makin cantik aja ya as,, enggak kayak dulu yang keterlewatan tomboi nya"
tawa Hendrik mengingat Asti yang dulu.
Asti pun malu jika mengingat dia yang dulu.
"sejak kapan kamu disini Hen?"
tanya Asti.
"udah lama, dari tahun kemarin aku sudah disini"
"lah,, kamu ngapain disini?"
"aku,,, aku gelandang di sini"
jawab Hendrik kesal, membuat Asti tertawa terbahak bahak.
"serius,, Hen?"
"ya enggak lah,, aku kuliah disini. eh ngomong-ngomong kamu kuliah dimana?"
"aku kuliah di universitas favorit itu. kamu kuliah di mana Hen?"
"kalau aku kuliah di universitas yang tak jauh dari situ, ngambil jurusan apa as?"
"jurusan kedokteran. kamu ngambil jurusan apa ?"
"aku jurusan pertanian"
"oo melanjutkan yang kemarin?"
Hendrik pun mengangguk sambil tersenyum.
Hendrik dan Asti merupakan teman sekelas waktu dia duduk di bangku sekolah dasar.
dulu mereka tidak begitu akrab, akrab pun hanya sebatas teman dalam kelas.
dan memang karena Asti dulu pasal nya suka bermain dengan anak laki laki jadi membuatnya sedikit akrab dengan teman laki lakinya.
tak sampai disitu, karena perkembangan globalisasi yang semakin hari semakin maju membuat Asti dan Hendrik dapat berkomunikasi walaupun melalui hp dan aplikasi chatan saat kelas dua SMP.
namun ya begitu, sebatas komunikasi yang hanya menyapa saja tidak lebih, saat itu.
saat Asti dan Hendrik berbincang bincang tiba tiba dia teringat tentang rasa yang pernah timbul kepada Hendrik.
saat itu adalah saat yang membuat dirinya merasa tertampar kuat.
saat itu juga membuat diri nya berlarut-larut dalam kesedihan yang mendalam, namun karena itu dia jadi sadar bahwa itu semua terjadi atas kehendak pencipta.
__ADS_1
banyak pelajaran yang dia dapat disaat itu, salah satu nya sang pencipta ingin agar Asti tidak berharap kepada hambanya namun berharap pada-Nya. dengan kejadian itu mungkin sang pencipta merasa sangat cemburu karena Asti meninggalkan-Nya demi hamba nya yang lain yang mungkin sang pencipta tau bahwa itu bukan yang terbaik bagi diri nya kelak.
Asti semakin merasa bersyukur karena dia sampai pada titik dimana dia bisa menjadi Asti yang sekarang