
duar!!
suara pintu di banting dengan sedikit kuat, membuat dokter tersebut terkejut bukan main.
"apalagi yang akan kau lakukan? kau membantu orang lagi? sudah berapa banyak yang kau bantu?"
tanya seorang perempuan yang mendekati sang dokter yang masih terduduk di sana.
dokter tersebut hanya bereaksi datar. seolah tak berniat sama sekali untuk menjawab nya.
"kau ini bekerja untuk siapa sih as? kau kerja capek capek hanya untuk membantu mereka yang kesusahan. sementara dirimu, kau tak pernah mengenal kata lelah. kau tak pernah memperhatikan tubuh mu, kesehatan mu. kau terus bekerja demi mereka yang bukan siapa siapa mu"
ucapnya lanjut karena tak mendapat reaksi dari sang dokter.
"udah ocehan nya?"
tanya dokter singkat.
membuat perempuan tersebut merasa kesal.
"aku sudah katakan padamu, aku tidak akan mengurangi gaji mu. turuti saja kemauan ku. aku memang bukan keluarga mereka, aku bukan siapa siapa mereka. tapi, aku membantu mereka sesama manusia aku membantu mereka karena jiwa sosial ku yang muncul. jika bukan aku yang membantu mereka, lantas siapa lagi yang akan memperdulikan mereka? bahkan suara mereka saja tak pernah di dengar oleh orang orang yang tamak diluar sana"
ucap Asti panjang lebar.
"hm!! kau ini selalu saja menggunakan rasa sosial mu itu sebagai jawaban. aku muak mendengar nya"
sahut perempuan tersebut.
ya, percekcokan seperti ini sering terjadi di antara mereka berdua. perempuan tersebut adalah asisten pribadi Asti, ia sudah bekerja cukup lama bersama dengan Asti. tak jarang mereka beradu mulut karena masalah hal sepele seperti ini.
sebenarnya, bukan karena asisten pribadi Asti yang tidak suka dengan kebaikan yang Asti lakukan, hanya saja asisten pribadi Asti ini sudah muak dengan sifat Asti yang terlalu baik. uang yang harusnya bisa ditabung dan pergunakan dengan baik untuk masa depan Asti juga, kini selama ia bekerja dengan Asti ia selalu melihat Asti yang selalu memakai uang nya untuk membantu orang orang yang tak Asti kenal.
bukan apa apa, asisten pribadi Asti ini hanya mengkhawatirkan kebaikan hati Asti yang berlebihan. ia takut, jika kebaikan ini akan berimbas tidak baik pada Asti. ia takut banyak oknum oknum yang memanfaatkan kebaikan Asti. dan ia takut jika Asti sakit, karena terus saja di sibukkan dengan pekerjaan nya yang diluar profesinya sebagai dokter, demi uang agar bisa membantu mereka yang kesusahan.
"katakan pada ku, apa kau sudah mengurus semua nya?"
tanya Asti yang masih sibuk dengan laporan yang ada di mejanya.
"tenang saja, aku sudah selesai kan semua. besok pasien mu itu akan melakukan operasi"
jawab asisten tersebut yang berdiri di dekat meja milik Asti.
"oh iya as, nanti malam ada jadwal. kau harus dateng ke rumah ibu mu"
ucap asisten yang memberitahukan jadwal Asti.
Asti pun mengerutkan keningnya
"kapan mama..
__ADS_1
"sudah seminggu yang lalu. ia menyuruh ku untuk mengatur jadwal pertemuan mu dengan nya. dan aku gak mungkin bisa menolakny terus menerus kan as?"
potong asisten tersebut.
Asti pun memaklumi nya, benar kata asisten nya ini bahwa ia tak bisa terus menerus menghindar.
"untuk apa mama ingin bertemu denganku?"
tanya Asti penasaran.
"aku kurang tau as. tapi kata ibu, nanti malam kau wajib dateng. ibu bilang cuma acara makan malam bersama saja, mumpung Abang Jaka main main ke rumah ibu mu"
jawab asisten tersebut.
"baiklah. kau siapkan saja segala keperluan ku nanti disana, kau bisa pulang duluan untuk mempersiapkan keperluan ku. nanti aku pulamh dengan supir dan beberapa bodyguard
yang kau bawa"
perintah Asti, yang langsung di turuti oleh asisten nya itu.
asisten pribadi Asti bernama Apriana. Asti merekrut nya dengan sangat ketat karena ia ingin orang yang setia dengannya.
malam hari tiba, Asti pun sampai tepat di halaman rumah kedua orang tua nya yang sebelumnya ia pulang untuk membersihkan dirinya. jarak rumahnya dengan kedua orangtuanya cukup jauh, memakan waktu sekitar empat puluh lima menit. itu belum lagi kemacetan yang harus dilewati, sekitar satu jam juga mereka sampai di rumah kedua orang tua Asti.
"assalamualaikum ma"
ucap Asti memberi salam sembari masuk ke dalam rumah, karena melihat pintu rumah yang terbuka begitu saja.
teriak dua anak kecil yang lari menyambut kedatangan Asti.
saat melihat nya Asti pun langsung mensejajarkan tinggi nya setinggi kedua malaikat kecil tersebut, dengan sigap ia memeluk kedua nya.
"bunda.. Rio kangen dengan bunda"
ucap Rio yang tengah di peluk oleh Asti.
"sama Dede juga kangen sama bunda"
sahut anak perempuan kecil yang tak ingin kalah.
"bunda juga sayang"
jawab Asti mencium kedua keponakan nya itu dengan lembut secara bergantian.
"waalaikumsalam, wah anak mama udah nempel aja nih sama bunda Asti?"
sambar Clara dari belakang yang menggendong seorang bayi di pelukan nya.
perlahan mereka pun melepaskan pelukannya. Asti berdiri dan menghampiri Kakak ipar nya itu, ia memeluk nya dengan erat. dibalas dengan Clara namun tak bisa memeluk Asti begitu erat karena ia menggendong seorang bayi di pelukan nya.
__ADS_1
"gimana kabar mu dek?"
tanya Clara, yang melepaskan pelukannya.
"Alhamdulillah baik kok kak"
jawab Asti.
jujur semenjak Asti mendapatkan gelar sebagai seorang dokter, Asti jarang sekali berkumpul dengan keluarga nya. sekalipun itu acara penting. Asti tak bisa meninggalkan tugas nya sebagai seorang dokter hanya demi menghadiri acara penting tersebut.
semenjak itu Asti memang sibuk, ia bahkan jarang berbincang bincang dengan kedua orang tuanya karena kesibukan nya ini. ia selalu pergi pagi pagi buta dan pulang malam malam buta, sampai akhirnya dia pindah rumah dan itu semakin membuat Asti tak memiliki waktu kebersamaan dengan keluarga.
tak lama kemudian Jaka dateng
"lah udah dateng nih orang sibuk"
ucap Jaka menyindir adiknya itu.
"Abang..."
lirih Asti yang merasa tak enak.
dengan cepat Jaka pun langsung memeluk adik kesayangannya itu, Asti pun yang dipeluk perlahan meneteskan air mata. dilubuk hati nya yang paling dalam, sebenarnya ia sangat merindukan sosok seorang laki laki yang selalu ada untuknya yaitu abangnya Jaka. yang tak akan pernah membiarkan dirinya merasakan sakit.
"bunda nangis?"
tanya Sela yang memperhatikan Asti.
Asti pun segera melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.
"enggak. bunda gak nangis hanya saja tadi mata bunda kemasukan debu"
jawab Asti berbohong.
"apa kabar ma?"
tanya Asti, sembari memeluk wanita hebat yang telah melahirkan dan membesarkan nya.
"Alhamdulillah baik. gimana kabar mu nak?"
"baik kok ma"
jawab Asti sembari melepaskan pelukannya.
"pa, sehat kan?"
tanya Asti yang kini sudah berdiri tepat di depan Hero nya itu.
"Alhamdulillah sehat. putri papa sehat kan?"
__ADS_1
tanya papa Asti balik.
Asti pun menganggukkan kepalanya dan memeluk papa nya itu.