
di suatu rumah sejak dua hari yang lalu sudah di penuhi dengan orang orang yang berbondong bondong membantu menyiapkan segala keperluan pesta.
sedangkan di dalam kamar terdapat seorang mempelai wanita yang sedang menjalankan ritualnya sebelum menyambut hari esok. ya, siapa lagi jika tidak dini si mempelai perempuan nya. ritual yang ia lakukan pun, itu seperti sudah menjadi kebiasaan bagi setiap mempelai wanita, sudah seperti adat istiadat tersendiri. ya, apalagi kalau bukan ritual memakai hena di sekujur pergelangan tangan hingga telapak tangan dan kaki.
ditemani oleh sang penghias hena dan juga Asti dan Clara yang berada disana. ya, besok adalah acara pernikahan dini dan Billy. jadi Asti dan Clara memutuskan untuk menginap di rumah dini. karena itu juga permintaan sang mempelai wanita.
tampak sangat bahagia terlihat dari wajah mereka bertiga saat mengukir hena di tangannya.
"as, gue besok udah sah. Clara juga. kamu kapan?"
tanya dini sembari tertawa, membuat Clara ikut tertawa.
Asti yang merasa terpojokkan pun hanya diam tak menjawab. ia malas jika harus berdebat. mengingat besok teman nya atau bisa di bilang sahabat nya itu akan menikah. ia tidak ingin merusak mood sang mempelai wanita.
"terserah"
jawab Asti singkat akhirnya, untuk menghilangkan suara tawa mereka.
"oh iya, kak Ra. gimana pengalaman kakak saat jadi seorang istri di malam pertama kakak?"
tanya Asti penasaran, yang sebenarnya ingin membuat dini tersindir.
"emm,, malam pertama kakak. biasa aja sih. tapi kan setiap pasangan beda beda malam pertamanya"
jawab Clara.
"beda nya?"
tanya dini, karena selama ini ia hanya mengetahui bahwa malam pertama itu akan berakhir dengan buka bukaan.
"ya beda. ada nih yang pengantinnya malam pertamanya langsung blak blakan. ada juga yang malam pengantin pertama nya tidur satu sama lain karena kecapean. ada juga yang melakukan kompromi atau kesepakatan di malam pertamanya. itu semua tergantung dari pengantinnya. biasanya sih tergantung mempelai pria nya"
jawab jelas Clara, menghiraukan pengukir hena yang sedang mengukir tangan Asti setelah tangan dini siap.
"terus kakak yang mana?"
tanya Asti penasaran.
"ya, kalau kakak... mana boleh tau"
lanjut Clara setelah berhenti sesaat.
pendengar kecewa mendengar jawaban Clara.
"jadi gimana Din?"
tanya Asti menggoda.
"gimana apa nya as?"
tanya balik dini menatap Asti.
"gimana? udah ada bayangan tentang malam pertama mu nanti?"
tanya Asti jelas sembari tertawa. ya, pertanyaan nya sebenarnya hanya untuk menggoda dini.
__ADS_1
"apaan sih as"
jawab dini yang salah tingkah.
"yaelah pengantin baru lagi malu malu nih"
ejek Clara yang melihat raut wajah dini.
kini dini lah yang terpojokkan.
••••••••••
di satu sisi lainnya, ada mempelai laki laki yang terlihat tegang. karena waktu semakin lama semakin dekat mendekati acara pernikahan nya besok. ada gugup yang ia rasakan dalam hatinya.
ada nervous juga yang ia rasakan. entah lah gugup karena apa. baru pertama kalinya Billy mengalami gugup dan nervous yang bersamaan di campur lagi dengan rasa suka cita dan senang yang luar bisa.
ya, sebenarnya tadi siang ia sempat menelpon sahabat karibnya itu Kevin. untuk menginap dirumahnya, namun ternyata Kevin tidak bisa karena ada urusan penting satu dan lain hal. Kevin tidak mengatakan urusan penting apa kepadanya.
karena rasa gugupnya masih terasa dan semakin membuatnya frustasi, akhirnya ia pun mencoba menelpon Kevin dan Jaka melalui vidcall.
"assalamualaikum"
sapa Jaka ketika mengangkat nya, begitu juga dengan Kevin.
"waalaikumsalam"
jawab Billy.
"kenapa Lo bil?"
"iya macam orang stres aja karena banyak hutang? Lo pesta gak ngutang kan?"
tanya Jaka juga.
"hah bang Jaka. enak aja ngutang, enggak lah mana mungkin aku ngutang"
jawab Billy sebal.
"terus Lo kenapa? kok muka Lo kek frustasi gitu?"
tanya Kevin dari sana.
"gue,, bang masa Lo gak tau sih bang"
jawab Billy yang gugup.
"lah gue tau apa? orang Lo belum cerita"
protes Jaka.
"kenapa? katakan saja? disini hanya ada laki laki. ayo kenapa?"
paksa Kevin.
"Vin, sebenarnya gue frustasi karena besok"
__ADS_1
jawab Billy menunjukkan wajah sedih.
Kevin dan Jaka yang mendengarnya tertawa melihat ekspresi wajah Billy.
"hahaha ternyata Billy juga gugup jika harus di hadapan kan dengan hak yang beginian? sungguh aku tak percaya dengan Billy ku yang sekarang? hahahaha"
ejek Kevin.
ya, baru pertama kalinya ia melihat rasa cemas, frustasi, nervous jadi satu.
"kalian bukannya memberi ku solusi mala menertawakan ku"
kesal Billy melihat reaksi kedua orang tersebut melalui vidcall nya.
"baiklah baiklah. kalau kau tanya kan ini sama aku itu adalah hal yang salah. kau tanyakan saja kepada bang Jaka? mungkin dia akan memberikan mu tips. bang jak, tolong bantu teman saya ini"
ucap Kevin dari sana.
"baiklah Vin. aku siap menolongnya"
jawab Jaka menahan tawa nya.
"oke, bil. dengar baik baik, itu adalah hal yang biasa yang di alami seorang laki laki sebelum menikah. ya jadi gak perlu khawatir, yang penting kamu harus cukup siap kan mental buat besok. agar kamu bisa membalas lafalan ijab qabulnya dengan satu nafas"
jelas Jaka kepada Billy.
"tapi bang jak. aku merasa tidak bisa buat besok? aku merasa...
"iya bil, apa yang kamu rasakan. aku juga pernah merasakan nya sama di posisi mu. tapi aku lawan rasa itu. rasa itu ada karena saat kau mengucapkan ijab qobul nanti maka tanggung jawab mu akan bertambah. yang dulu nya mungkin kau hanya memikirkan dirimu dan keluarga mu, kini kau juga harus memikirkan istri mu juga"
potong Jaka, menjelaskan perlahan kepada Billy.
sedangkan Kevin hanya sebagai penonton disana. ya, Kevin menyerap apa yang dikatakan Jaka sebagai seorang yang lebih berpengalaman darinya, walaupun hanya terpaut beberapa tahun.
"sudah bil, aku rasa penjelasan bang Jaka sudah jelas. apa masih kurang untuk mu"
ucap Kevin yang mulai merasa mengantuk menyerang dimatanya.
"kau ini, sahabat lagi kesusahan mala di gituan. dasar sahabat yang tidak perduli"
sahut Billy yang merasa kesal dengan sikap Kevin.
"bukan begitu. tapi percuma saja ini akan membuang waktu mu. besok kau harus mengumpulkan tenaga untuk ijab qobul mu. aku hanya kasihan jika besok kau gagal"
jawab Kevin santai.
sontak Billy menggeram sedang kan Jaka terdiam.
"dasar brengsek Lo Vin. mala doain yang gak benar lagi"
ucap Billy yang emosi.
"aku gak doain bil. aku hanya ingin mengingat kan mu ini akan membuang waktu mu. seribu kali Jaka menjelaskan juga kau tetap tidak akan puas. karena yang bisa membuat diri tenang adalah diri mu sendiri. yang bisa mengusir rasa itu hanya lah diri mu sendiri tidak orang lain. kami disini hanya membantu otak mu agak bisa berfikir lancar"
jelas Kevin.
__ADS_1
tak berapa lama pun panggilan terputus, karena jika yang dibilang kevin juga ada benarnya. jadi Billy memutuskan untuk mengakhiri percakapan.