Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan

Terpaksa Pacaran Berakhir Kebahagiaan
menusuk


__ADS_3

"ma, Asti pergi dulu ya ma"


ucap Asti meminta izin untuk pergi.


"kemana?"


tanya papa Asti singkat, yang sedang menonton tv bersama dengan sang istri, anak dan juga cucu nya itu.


"Asti mau pergi untuk membeli keperluan rumah yang habis. kalau gak hari ini, bisa bisa besok gak sempat dan mungkin akan banyak puasa karena kulkas kosong"


jawab Asti sedikit bercanda.


"yasudah jangan lama lama ya"


peringat papa Asti sembari tertawa.


Asti pun mengangguk dan menyalami kedua orang tua dan juga kakak nya. lalu pergi meninggalkan rumah.


sesampainya di mall yang lumayan jauh dari rumah orang tua Asti, Asti pun langsung memilih barang barang mainan dan beberapa baju baju anak anak untuk kedua keponakan nya itu.


ya, sebenarnya Asti pergi untuk menepati janjinya sesuai dengan apa yang ia rencanakan tadi malam. ia sengaja berbohong karena ingin memberikan surprise kepada kedua keponakan yang sangat ia sayangi.


setelah selesai ia pun membayarnya dan meminta kepada sang kasir agar membungkusnya dengan kertas kado. selesai semuanya Asti pun memilih restoran untuk makan, karena waktu sudah menunjukkan sore hari.


••••••••••


"bunda pulang!!"


ucap Asti yang sedikit kuat.


membuat kedua keponakan nya itu mendekat menghampiri Asti.


"bunda bawa apa?"


tanya Rio.


"Lo, kok baru pulang dek? itu apa? kok banyak sekali paperbag di tangan mu?"


tanya Clara yang menyambut nya.


"ini, ambillah. yang ada bacaan Rio itu berarti punya Rio. yang ada bacaan Sela itu berarti punya Sela dan yang ada bacaan dedek bayi itu punya si bayi ku"


jawab Asti meletakkan paperbag tersebut di lantai.


dengan cekatan kedua makhluk kecil tersebut langsung membongkar nya dengan sangat antusias. saat membuka isi bungkusan kado nya membuat kedua malaikat kecil itu tersenyum bahagia dan langsung memeluk Asti dengan sangat hangat.


"makasih bunda"


ucap kedua nya serentak.

__ADS_1


"sama sama sayang"


jawab Asti dengan senang hati.


"yaudah sana, bawa ke dalam. baju nya boleh dipakai sekarang, mainannya tunjakkan ke Daddy!"


perintah Asti kepada kedua keponakan nya itu.


dengan segera mereka pergi dengan berlari lari kecil, membuat Asti merasa gemes melihat keduanya berlari.


"Asti makasih ya untuk semua ini. seharusnya kau tak perlu membelikan mereka sebanyak ini"


ucap Clara.


"gak perlu makasih lah kak. kalau bukan untuk mereka, lantas untuk siapa uang yang aku hasilkan ini?"


balas Asti yang tak menyukai kata ucapan terima kasih.


"kamu udah pulang"


sambar mama Asti dengan tatapan serius.


Asti pun mengangguk.


"mama ingin ngomong serius dengan mu"


seketika Asti langsung tau alur cerita nya.


"as, mau sampai kapan kau akan seperti ini? kau harus memikirkan masa depan mu nak?"


"ma, aku sudah memikirkannya. aku sekarang fokus dengan karier ku ma"


jawab Asti.


"bukan masa depan karir mu yang mama maksud, tapi masa depan membangun keluarga kecil mu sayang. membangun dunia kecil mu nak. sampai kapan kau akan sendiri terus? sampai kapan nak? umur mu sudah tidak muda lagi, jika kau tidak menikah apa yang akan orang pikirkan tentang mu nak?"


"ma, Asti sudah bilang jangan dengarkan.."


"masalahnya bukan jangan dengarkan tentang ucapan mereka!! tapi masalahnya adalah mama gak tau kapan ajal akan menjemput mama?"


jawab mama memotong ucapan Asti.


"mama gak tau kapan kematian akan dateng menjemput mama! mama hanya ingin sebelum ajal mama dateng, mama ingin melihat anak anak mama sudah bersama dengan orang yang tepat nak"


ucap mama yang kini meneteskan air mata.


"ma, kok ngomong nya gitu sih ma.. "


sambar Asti yang tak menyukai ucapan mamanya.

__ADS_1


"nak itu pasti akan terjadi nak"


seketika Asti terdiam, mendengar ucapan mamanya. menyadarkan nya, bahwa kematian itu memang benar adanya.


"ma, Asti juga ingin menikah. tapi apa daya ma, Allah belum mempertemukan Asti dengan jodoh Asti ma. semua sudah diatur oleh Allah ma, Asti hanya bisa pasrah, mama bisa lihat saja sendiri kan ma? banyak lamaran yang dateng untuk Asti, tapi ketika Asti memberikan syaratnya mereka pada bilang nanti dikabari, alhasil mereka menghilang"


ucap Asti mengeluarkan rasa sedihnya yang tertahan.


"nak, tapi sampai kapan kamu akan seperti ini? mereka menghilang itu bukan karena mereka tidak serius dengan mu nak, tapi itu karena syarat yang kau berikan terlalu berat, terlalu sulit untuk dicapai!!"


jawab mama tegas.


"dek apa yang dikatakan mama benar dek"


sambar Clara yang menyaksikan nya sedari tadi.


"ma, itulah Asti. terlalu sulit untuk di capai. hanya mereka orang orang yang benar benar bisa menggapai Asti yang bisa mendapatkan Asti! hanya mereka yang bisa menghargai dan membuat Asti luluh yang bisa mendapat kan Asti. bukankah dalam agama bahwa harga diri seorang wanita dimulia kan?"


jawab Asti penuh penekanan yang memberikan pertanyaan.


"ya itu benar. tapi mama yakin bukan itu alasan kamu untuk meminta syarat yang begitu sulit kepada mereka yang berniat baik untuk melamar mu!! ini semua pasti karena Kevin bukan?"


balas mama yang marah.


mendengar nama 'kevin' membuat jantung Asti seperti berhenti sebentar. matanya melotot sempurna


"ma!! Asti jelaskan dan Asti tegaskan sekali lagi, bahwa ini semua bukan karena Kevin!!! bukan karena Kevin!! Asti minta mama hentikan pikiran mama tentang penyebab ini semua karena Kevin!!"


bentak Asti yang tak terima.


"lihat lah, aku baru menjelekkan nya sedikit kau sudah berani membentak ku, mama mu, yang melahirkan mu dengan taruhan nyawa. yang mengandung mu selama sembilan bulan. Asti, ingat nak!! dia sudah mati. dia gak akan mungkin balik kepadamu"


ucap mama Asti yang kaget melihat bentakan Asti yang tak terima itu.


"mama yakin, dia juga disana sudah pasti bahagia? dia pasti sangat bahagia, mama yakin dia juga sudah punya keluarga kecilnya disana. mama yakin itu!!"


lanjut mama Asti lagi.


"ma, Asti capek. udah ya ma, jangan bahas lagi Asti gak mau bahas ini, dan Asti minta maaf karena sudah marah sama mama. Asti hanya tidak ingin mama selalu mengaitkan masalah ini dengan Kevin. permisi ma"


ucap Asti meninggalkan mama dan Clara disana.


"Asti!!"


panggil mama membuat Asti menghentikan langkahnya.


"sampai kapan kau akan terus menghindar! jika sudah menyangkut masalah nikah? umur mu sudah semakin dewasa Asti! jika kau masih tidak nikah juga maka bersiaplah dengan nama baru mu perawan tua. apa yang kau harapkan dari Kevin? hanya sebuah cincin yang masih melingkar di jari mu itu yang kau harapkan? apakah kau gak mau hidup dengan layak? hidup dengan pasti bukan kepastian yang menggantung? sampai kapan nak. cincin yang ia berikan itu sudah tidak berarti baginya. jika itu berarti bagi nya, sudah pasti dia akan kembali menemui mu"


ucap mama yang sedikit menusuk hati Asti, membuat Asti melanjutkan langkahnya dengan cepat menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2