Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 100. Seperti di Manuskrip


__ADS_3

Nyonya Jonathan melangkah ke dalam dia akan keluar dari pintu samping sekaligus berganti sandal super flat agar tidak sakit kaki nya.


Nyonya Jonathan tidak jadi menelepon sopir pribadi nya. Dia akan berjalan kaki saja sambil olah raga di pagi hari.


“Nyonya mau ke mana?” begitu sapaan para pelayan yang berpapasan dengan Nyonya Jonathan. Dan Nyonya Jonathan pun hanya menjawab dengan dua kata saja


“Ke depan.”


Beberapa menit kemudian Nyonya Jonathan sudah sampai di depan paviliun tamu. Setelah mengetuk ngetuk pintu dan pintu sudah dibukakan oleh Juna. Nyonya Jonathan sambil tersenyum ramah masuk ke dalam ruang tamu.


“Bagaimana kamu dan Kakek apa bisa tidur dengan nyenyak?” tanya Nyonya Jonathan sambil melangkah menuju ke kursi yang di dalam ruangan itu. Tuan Rangga tidak tampak di ruangan itu.


“Terima kasih Nyonya kami bisa tidur dengan nyaman dan nyenyak.” Jawab rangga sambil berjalan di belakang Nyonya Jonathan.


“Di mana Tuan Rangga?” tanya Nyonya Jonathan pada Juna, lalu Nyonya Jonathan mendudukkan pantatnya di salah satu kursi.


“Di taman belakang Nyonya, minta berjemur di sana.” Jawab Juna sambil duduk di kursi di depan Nyonya Jonathan tersekat oleh meja.


“Saya ajak masuk ke sini Nyonya.” Ucap Juna lalu bangkit berdiri.


“Hmmm biar aku yang ke sana, menemui beliau saja. Aku juga mau berjemur.” Ucap Nyonya Jonathan lalu bangkit berdiri.


“Ayo kita ke sana.” Ucap Nyonya Jonathan lagi dan terus melangkah ke belakang menuju ke taman yang berada di belakang gedung paviliun tamu itu. Juna pun turut mengikuti langkah kaki Nyonya Jonathan.


Tidak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di taman belakang, tampak sosok Tuan Rangga masih duduk di kursi roda dengan sinar matahari pagi yang bisa menerpa di seluruh tubuh nya.


“Selamat pagi Tuan Rangga....” sapa Nyonya Jonathan


“Ehh Nyonya, selamat pagi.. ada perlu penting dengan saya Nyonya?” tanya Tuan Rangga sambil menatap Nyonya Jonathan yang terus melangkah mendekati nya.


“Iya Tuan...” ucap Nyonya Jonathan sambil menarik salah satu kursi taman dan di dekat kan di kursi roda Tuan Rangga.


“Kita bicara di dalam Nyonya?” ucap Tuan Rangga, Juna pun sudah siap di dekat Tuan Rangga.


“Di sini saja Tuan, sambil berjemur dan melihat bunga bunga segar di taman belakang.” Ucap Nyonya Jonathan.

__ADS_1


Dan akhirnya Nyonya Jonathan pun mengatakan maksud kedatangan nya dan Nyonya Jonathan menanyakan pada Tuan Rangga,


“Tolong katakan pada saya Tuan, apa isi dari manuskrip itu. Jika Tuan tidak bisa mengatakan secara detail, katakan inti nya saja. Kenapa setelah mendengar cerita manuskrip itu kedua cucu saya begitu ingin ke pulau Alexandria dan tidak bisa ditunda.” Ucap Nyonya Jonathan dengan nada serius.


“Inti dari cerita di manuskrip itu. Di pulau itu dulu ada sebuah kerajaan yang subur makmur rakyat hidup sejahtera.....” ucap Tuan Rangga belum selesai sudah dipotong oleh Nyonya Jonathan.


“Hah? Kerajaan?” tanya Nyonya Jonathan dengan heran dan kaget kedua matanya terbuka lebar.


“Kerajaan apa Tuan?” tanya Nyonya Jonathan lagi dengan sangat penasaran.


“Benar Nyonya, kerajaan Asasta. Karena subur dan makmur banyak yang menginginkan pulau itu.” Ucap Tuan Rangga kemudian.


“Ooo.. okey okey Tuan. Terima kasih atas informasinya.” Ucap Nyonya Jonathan sambil tersenyum senang, lalu bangkit berdiri dan pamit akan kembali ke Mansion utama dengan alasan akan ada tamu yang datang.


“Kerajaan Abasta. Hmmm aku cari informasi tentang kerajaan itu di mesin pencarian.” Gumam Nyonya Jonathan sambil terus melangkah menuju ke Mansion utama.


Beberapa menit kemudian Nyonya Jonathan sudah masuk ke dalam mansion utama dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung duduk di sofa dan mengusap usap layar handphone nya.


“Coba aku cari informasi tentang kerajaan Asasta.” Gumam Nyonya Jonathan sambil mengetik kata kunci.


Akan tetapi tiba tiba layar hand phone nya berkedip kedip dan ada panggilan masuk dari Sang besan perempuan nya. Nyonya Jonathan pun segera menggeser tombol hijau.


“Aku sudah on the way menuju ke Mansion Jonathan.” Suara Nyonya William setelah Nyonya Jonathan menggeser tombol hijau.


“Sopir suruh menambah laju kecepatan mobil mu, aku sudah tidak sabar untuk mengatakan.” ucap Nyonya Jonathan


“Ada apa katakan saja sekarang. Bikin aku penasaran saja.” Suara Nyonya William


“Aku sudah tanya pada Tuan Rangga, ternyata pulau Alexandria itu bekas kerajaan yang menjadi rebutan.” Ucap Nyonya Jonathan


“Haaaahhhhh.” Teriak Nyonya William... namun selanjutnya sambungan teleponnya terputus.


“Oma William... Oma William.. kok diputus sih Oma Kucing. Aku belum selesai bicara.” Ucap Nyonya Jonathan sambil menatap layar hand phone yang sudah terhubung dengan sang besan perempuan.


Sementara itu, di lain tempat. Pesawat jet pribadi milik Vadeo sudah mendarat di pantai Alexandria. Kali ini setelah turun dari pesawat mereka langsung masuk ke dalam mobil yang akan mengantar menuju ke tempat tinggal.

__ADS_1


“Pa te butit duyu... (Papa ke bukit dulu...).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.


“Okey...” ucap Vadeo yang juga ingin segera melihat bukit pohon asam. Dia ingin melihat lihat lebih detail bukit yang dulu merupakan pusat kerajaan Asasta.


“Aku ikut Pa..” ucap Alexandria yang juga ikut di satu mobil dengan suami dan anak anaknya itu.


“Mama nanti capek.” Ucap Vadeo sambil menoleh pada Sang istri yang duduk memangku Deondria.


“Papa yang gendong he.. he...” ucap Alexandria sambil tertawa kecil dan menatap Sang suami dengan tatapan manja.


Dan seketika Vadeo teringat akan sesuatu...


“Hmmm bagaimana kalau Alexa sedang hamil sekarang..” gumam Vadeo dalam hati.


“Mama nanti nunggu di mobil dengan Pak Sopir saja ya..” ucap Vadeo sambil menatap Sang istri dari samping..


“Ihhh Papa baru mau dimintai gendong saja sudah takut..” ucap Alexandria. Sedangkan Valexa dan Deondria hanya tersenyum dan menyandarkan tubuhnya pada orang tuanya.


“Bukan begitu sayang.. Aku khawatir jika ada adiknya twins di perut mu.” Ucap Vadeo dan Alexandria hanya diam saja.


Mobil terus melaju menuju bukit pohon asam. Mobil yang ditumpangi oleh Bang Bule dan Ixora juga beberapa orang anak buah nya mengikuti laju mobil Vadeo. Bang Bule Vincent yang belum pernah ke bukit pohon asam pun penasaran dengan bukit itu setelah mendengar cerita manuskrip kuno.


Bang Bule Vincent duduk di dalam mobil sambil menatap layar hand phone nya mengamati gambar peta hasil karya Deondria sambil melihat lokasi sesungguhnya.


“Benar benar valid gambar peta ini..” gumam Bang Bule Vincent penuh kekaguman.


Dan setelah perjalanan tiga jam lebih. Dua mobil itu sudah berhenti di dekat batu besar. Dan setelah keluar dari mobil mereka semua berjalan menuju ke pohon asam, kecuali dua sopir yang mengantar.


Vadeo terlihat sangat posesif pada Sang istri. Sedangkan Valexa dan Deondria sudah berlari ditemani oleh Richardo.


Dan beberapa waktu kemudian Valexa dan Deondria sudah sampai lebih dulu di pohon asam itu. Tampak ular besar itu berada di bawah singgah sana Valexa dan Deondria. Akan tetapi berbeda dari biasanya, saat ini ular besar itu seperti yang ada di cerita di manuskrip kuno. Mengeluarkan air mata....


“Tamu cudah menundu ya... (kamu sudah menunggu ya...).” teriak Valexa dan Deondria yang terus berlari lalu duduk di tanah dan memeluk ular besar itu.


....

__ADS_1


__ADS_2