Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 191.


__ADS_3

“Papa sih tidak dari tadi mengambil.” Ucap Alexandria yang masih tidur tengkurap.


“Ya sudah kita tengkurap saja di sini nanti menyuruh Oma mengambilkan baju buat kita he... he... “ ucap Vadeo yang akhirnya juga tengkurap di samping istrinya mulutnya tertawa kecil dan tangannya memeluk tubuh Alexandria.


Beberapa saat kemudian.


“Ya... ampunnn dua orang ini, mata hari juga belum muncul mereka berdua sudah berjemur polos begitu biar tidak belang!” teriak Nyonya William yang kaget melihat tubuh polos anak dan menantunya.


“Kalian berdua itu sejak kapan di sini? Deo kamu itu tidak kasihan pada istrimu yang hamil muda matahari belum juga muncul sudah kamu ajak berjemur.” Suara Nyonya Jonathan yang tidak kalah kagetnya.


“Ma ini kemauan bayi.” Ucap Vadeo yang masih tengkurap dengan kepala menoleh ke arah Sang Mama.


“Ma, please ambilkan aku dan Alexa baju. Baju kami hanyut ke laut.” Pinta Vadeo dengan wajah memelas.


“Hais... Mama baru saja mau lihat sun rise disuruh balik lagi. Telat donk nanti. Ya nanti saja aku ambilkan baju buat kalian. Aku mau nunggu sun rise dulu. Tuh mau muncul, sayang kan kalau terlewat..”


“Iya, kalian tiarap dulu di situ.” Ucap Nyonya William sambil tersenyum.


“Ma... please Ma, kasihan cucu cucu mu ini. Mereka cucu cucu mu laki laki yang Mama nanti nanti loh.. tidak kasihan apa Ma mereka nanti kedinginan. Sun rise kan bisa Mama lihat lagi besok pagi.” Ucap Alexandria dengan nada memelas. Nyonya William yang mendengar kata cucu laki laki langsung membalikkan tubuhnya.


“Iya iya aku ambilkan kalian baju.” Ucap Nyonya William dan langsung berlari menuju ke bangunan Villa.


Vadeo dan Alexandria pun tersenyum masih dengan tubuh tengkurap mereka.


Waktu pun terus berlalu. Sementara itu siang hari , di tempat lain Tuan Jonathan dan Tuan William sudah menyiapkan keberangkatan menuju ke pulau Alexandria. Tim medis untuk Tuan Rangga juga sudah mereka siapkan. Dan kini mereka sedang berada di ruang meeting Gedung Jonathan Co.

__ADS_1


“Kasihan Tuan Rangga yang sudah menerjemahkan isi manuskrip itu jika justru dirinya belum pernah menginjakkan kaki di pulau Alexandria.” Ucap Tuan Jonathan pada Tuan Willam setelah mereka selesai mengadakan meeting dengan para petinggi Jonathan Co dan William Group.


“Maaf meskipun Tuan Rangga nanti kita ajak ke Pulau Alexandria, bukannya dia tetap tidak bisa menginjakkan kakinya.” Bisik lirih Tuan William.


“Benar, karena Tuan Rangga pakai kursi roda. Tapi siapa tahu beliau ingin menginjakkan kaki dengan cara duduk he... he... he...” ucap Tuan Jonathan sambil tertawa kecil.


“Jangan bercanda dengan orang tua. Besok kita juga akan seperti dia.” Ucap Tuan William dengan mata melotot ke arah besan laki lakinya.


“Siapa yang mulai bercanda. Bukannya Opa William duluan.” Ucap Tuan Jonathan tidak kalah melotot ke arah Tuan William.


“Aku tadi tidak bercanda aku serius tadi. Aku tidak tertawa.” Ucap Tuan William dengan nada dan ekspresi wajah serius. Akan tetapi bahunya langsung ditonjok oleh Tuan Jonathan.


Sesaat hand phone yang ada di saku jas Tuan Jonathan berdering. Tuan Jonathan segera mengambil hand phone miliknya dan saat dilihat di layar hand phone tertera nama kontak Pak Pilot. Tuan Jonathan pun segera menggeser tombol hijau.


“Ya sama seperti semula. Kamu bawa Vadeo dan Bule itu pulang. Dan selanjutnya aku dan Opa William beserta rombongan yang kamu bawa ke Pulau Alexandria. Jadi pesawat tidak dalam keadaan kosong penumpang.” Jawab Tuan Jonathan dengan suara tegas.


“Besok pagi Vadeo harus sudah siap pulang.” Ucap Tuan Jonathan selanjutnya.


“Tuan yang memberi tahu pada Tuan Vadeo ya.” Suara sang pilot selanjutnya di balik hand phone milik Tuan Jonathan dan Tuan Jonathan pun menyanggupinya lalu sambungan teleponnya diputusnya.


Sedangkan masih di waktu yang sama di siang hari, Vadeo masih berbaring di kursi malas yang berada di teras Villa dengan ditemani oleh Sang istri dan anak anaknya. Valexa dan Deondria tampak masih asyik minum air kelapa muda. Alexandria terlihat membantu mengerukkan buah kelapa muda yang tampak putih dan masih lembut.


Sesaat hand phone milik Vadeo yang ada di meja berdering. Tangan Vadeo pun segera meraih hand phone miliknya yang ada di atas meja.


“Opa Jo.” Gumam Vadeo sambil menggeser tombol hijau.

__ADS_1


“Deo besok pagi kamu harus pulang dan langsung ke Jonathan Co. Kalau Alexa masih boleh istirahat Raymond sementara akan ke William Group.” Suara Tuan Jonathan di balik hand phone milik Vadeo.


“Terus tadi aku dapat informasi kalau Justin juga akan segera bebas. Kamu pikirkan juga itu saudara kamu. Wika juga datang ke aku minta pertanggung jawaban dari Justin. Katanya dia mau melakukan test DNA.” Suara Tuan Jonathan selanjutnya yang membuat kening Vadeo langsung berkerut. Dan sebelum Vadeo mengucapkan satu patah kata pun sambungan telepon sudah diputus oleh Tuan Jonathan.


“Masalah lagi Ma.” Ucap Vadeo sambil menaruh hand phone di meja.


“Apa?” tanya Alexandria sambil menyuapi daging kelapa muda pada si kembar.


“Justin sudah bebas, mau diberi pekerjaan apa. Terus Wika minta pertanggung jawaban Justin. Apa kamu tahu siapa ayah dari anaknya Wika itu?”


“Ante Dastin Pa...” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan. Vadeo dan Alexandria pun menoleh ke arah kedua bocah itu. Valexa dan Deondria pun mengangguk mantap.


“Kalau menurutku ya sudah lakukan saja uji DNA, kasihan juga anaknya jika tidak tahu siapa ayahnya. Anaknya semakin besar nanti akan dibully oleh teman temannya. Terus kita belum tahu pasti bagaimana Justin sekarang kasih pekerjaan tetapi jangan di tempat yang urgen. Dan harus ada pengawasan ketat.” Ucap Alexandria memberi saran dan masukan.


“Semoga saja sudah menjadi orang baik.” Doa tulus Alexandria


“Aammmiiinnnn.” Ucap Vadeo dan si Kembar secara bersamaan.


“Anaknya laki apa perempuan?” tanya Vadeo selanjutnya.


“Laki, kita kan pernah nengok. Mereka juga masih tinggal di rumah Ibu Rina. Aku masih memberi gaji Wika pakai uang pribadi. Wika belum kasih nama buat anaknya Cuma diberi nama Boy. Usianya sekarang sudah lima tahunan lah, mungkin untuk persiapan masuk Sekolah Dasar jadi Wika memikirkan hal itu.” Ucap Alexandria yang sebagai sesama perempuan menaruh empati pada nasib Wika meskipun dulu Wika sangat jahat pada dirinya.


“Boy doank?” tanya Vadeo


“Boy ga pakai doank.” Jawab Alexandria sambil tersenyum, Valexa dan Deondria pun ikut tersenyum lebar lalu minta disuapi lagi daging kelapa muda yang putih dan lembut.

__ADS_1


__ADS_2