Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 8. Keajaiban Sel Tubuh si Kembar


__ADS_3

Sementara itu, setelah selesai melihat kondisi Pak Sopir yang sudah tersadar namun belum bisa diajak komunikasi itu. Vadeo dan rombongan segera keluar meninggalkan ruang ICU dan menyerahkan penanganan medis pada Pak Dokter. Vadeo meminta fasilitas dan penanganan vip buat pak sopir, dia yang menanggung semua biayanya.


Vadeo, Tuan Jonathan dan si kembar segera masuk ke dalam mobil dan mobil segera melaju menuju ke dokter pribadi keluarga William sebab dia lah menangani Valexa dan Deondria sejak dalam kandungan, yang paham benar dengan kondisi tubuh kedua anak itu.


“Tita te tempat Opa Dokteng Pa...” ucap mereka berdua tampak bahagia.


“Hmmm ...” gumam Vadeo yang terus fokus mengemudikan mobilnya sementara Deondria duduk di sampingnya. Sedangkan Valexa duduk di samping Opa Jo di jok belakang kemudi.


“Atu tuh ga catit loh Pa.. tapi ya ndak papa talo di Opa Dokteng kan tita dapat es kim yadi.. ato cotat...” ucap Valexa sambil merebahkan tubuhnya dengan manja pada pangkuan Opa Jo. Opa Jo pun mengusap usap lengan Valexa sambil mengamati tangan kaki dan kepala anak itu jika ditemukan luka memar atau goresan. Akan tetapi tubuh anak itu mulus mulus saja tidak ada luka sedikit pun.


Mobil terus melaju dan beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman rumah Pak Dokter pribadi keluarga William. Setelah mobil berhenti dua anak itu segera berlari menuju ke ruang praktek.


“Opa Dokteng.....!” teriak mereka berdua sambil berlari lari.


“Aca.... Aya... jangan lari lari... tunggu Papa dan Opa Jo..” teriak Vadeo sambil menutup pintu mobil dengan cepat lalu dia pun melangkah dengan cepat menyusul kedua anak nya, sedangkan Tuan Jonathan baru keluar dari pintu mobil.


Saat Valexa dan Deondria sudah sampai di ruang praktek, perawat yang bertugas menyambut kedatangan mereka berdua.


“Hallo Sayang siapa yang sakit?” tanya perawat itu dengan ramah.


“Tida ada yang catit tapi mo te Opa Dokteng..” jawab mereka berdua yang kini sudah berjalan menuju ke meja Sang perawat.


“Tunggu sebentar ya.. masih ada pasien di dalam.” Ucap sang perawat dan si kembar pun menganggukkan kepala lalu kedua bocah itu berjalan menuju ke sofa tempat ruang tunggu. Sang perawat pun mengikuti mereka dan membantu dua bocah itu untuk duduk di sofa.


Tidak lama kemudian Vadeo sudah masuk ke ruangan itu dan mendaftarkan kedua anak nya pada sang perawat. Tuan Jonathan pun masuk dan berjalan menuju ke tempat di mana kedua cucu nya duduk manis menunggu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian pasien di dalam ruang periksa Pak Dokter keluar. Dan Vadeo dipersilahkan masuk bersama kedua anaknya. Tuan Jonathan yang penasaran dengan kondisi tubuh cucu cucu nya pun ikut masuk ke dalam ruang periksa.


“Ceyamat ciyang Opa Dokteng...” sapa mereka berdua..


“Selamat siang Nona Nona cantik....” ucap Pak Dokter sambil tersenyum dan menjabat tangan mungil mereka berdua. Lalu Pak Dokter mengambil coklat dari toples yang ada di rak di belakang nya. Dan memberikan dua bungkus coklat pada Valexa dan Deondria. Mereka berdua pun mengucapkan terima kasih lalu mencium coklat yang masih terbungkus rapi itu sambil tersenyum lebar.


“Dok, tolong periksa anak anak saya, baru saja mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan mereka terjatuh di lantai mobil dan terjepit jok.” Ucap Vadeo yang sudah duduk di kursi depan meja Pak Dokter sambil kedua tangannya mengusap dengan lembut kepala kedua anaknya.


“Apa yang Valexa dan Deondria rasakan?” tanya Pak Dokter sambil menatap Valexa dan Deondria yang berdiri di samping paha Vadeo.


“Suka Opa Dokteng dapat cotat ..” jawab Valexa dengan senyum lebar nya.


“Tadi udah dapat es kim duda he... he...” tambah Deondria sambil tertawa kecil memperlihatkan deretan gigi putih, bersih dan rapi.


Pak Dokter dan Vadeo tersenyum datar mendengar jawaban mereka berdua.


“Baiklah, ayo sekarang siapa dulu yang mau Opa cek kesehatan nya?” tanya Pak Dokter sambil menatap Valexa dan Deondria secara bergantian. Dan tampak dua bocah itu lalu terlihat suit dan Deondria yang kalah, sambil tersenyum Deondria melangkah mendekati Pak Dokter.


Pak Dokter pun menggendong Deondria dan dia tidur kan di tempat tidur periksa. Dan beberapa menit sudah selesai lalu berganti dengan Valexa.


Setelah memeriksa kedua anak itu. Pak Dokter kembali ke tempat duduknya , sedangkan Valexa dan Deondria sudah duduk di pangkuan Vadeo dan Tuan Jonathan.


“Dari hasil pemeriksaan mereka baik baik saja. Coba nanti Tuan cek suhu badannya, jika demam ini saya beri obat penurun demam. Jika tidak demam tidak usah dimukimkan.” Ucap Pak Dokter sambil menyiapkan obat demam buat Valexa dan Deondria.


“Juga jika mereka muntah saya beri obat anti mual. Jika mereka baik baik tidak usah di berikan obatnya.” Ucap Pak Dokter lagi.

__ADS_1


“Dari bayi kondisi tubuh mereka baik baik saja, kami tim Dokter yang menangani mereka berdua sejak janin, sudah melakukan test pada sel sel tubuh mereka. Proses regenerasi sel tubuh mereka teramat sangat baik. Sel sel mereka sangat cepat memperbaiki diri jika ada masalah.” Ucap Pak Dokter dengan nada serius.


“Ooo benar Dok, saya pernah lihat saat mereka memar atau luka gores dalam hitungan menit sudah baik kembali.” Ucap Vadeo dengan nada serius pula.


“Iya itu Istri saya yang menangani persalinan mereka sudah melihat keajaiban itu saat memotong tali pusar nya.” Ucap Pak Dokter lagi


“Oooo maka saat itu isteri saya melihat sudah kering tali pusar mereka berdua. Kami mengira obat dari Dokter yang sangat bagus.” Sambung Tuan Jonathan. Sedangkan Valexa dan Deondria yang sedang dibicarakan hanya berkedip kedip mata nya sambil turut menyimak apa yang orang orang tua bicarakan.


“Apa tidak perlu di foto ct scan Dok?” tanya Vadeo yang masih khawatir dengan kondisi anak anaknya. Pak Dokter menjawab dengan menggelengkan kepala nya.


“Tunggu nanti malam dan besok pagi, cek suhu tubuh mereka berdua secara berkala. Saya lihat mereka pun bisa melakukan aktivitas tanpa merasa sakit.” Jawab Pak Dokter.


“Jika mereka demam dan muntah baru bawa lagi ke sini.” Ucap Pak Dokter lagi.


“Tida catit Papa cayang..” ucap Valexa sementara Deondria sudah asyik makan coklat pemberian Pak Dokter.


Setelah menerima obat penurun demam dari Pak Dokter mereka semua pamit untuk pulang.


Saat baru saja Vadeo melangkahkan kaki keluar pintu ruang Pak Dokter terdengar suara dering di hand phone Vadeo. Vadeo pun mengambil hand phone dari saku jas nya.


“Pak Polisi.” Gumam Vadeo lalu segera menggeser tombol hijau. Tuan Jonathan dan si kembar turut berhenti dan ikut mendengarkan percakapan apa yang akan dibahas oleh Pak Polisi.


“Tuan, kami sudah mendapatkan data tamu star hotel.” Suara Pak Polisi di balik hand phone Vadeo yang di mode speaker.


“Pa, minta data na cama pak poyici.” Teriak Valexa dan Deondria

__ADS_1


“Bagus segera kirim ke alamat email saya atau ke nomor saya.” Ucap Vadeo dengan nada serius. Vadeo pun segera memutus sambungan teleponnya.


__ADS_2