
Waktu pun terus berlalu , persiapan acara pesta ulang tahun pernikahan Vadeo dan Alexandria sudah berjalan dengan lancar. Para pelayan dan barang barang yang akan digunakan sudah dikirim lebih dahulu dengan kapal.
Dan Kini keluarga Jonathan dan keluarga William yang akan terbang menuju ke pulau Alexandria, sedangkan Bang Bule Vincent dan Ixora terbang belakangan sambil mengantar para tamu tamu undangan.
Mobil mobil keluarga Jonathan dan keluarga William telah sampai di lapangan golf milik Tuan Jonathan yang akan digunakan untuk take off jet pribadi milik Vadeo.
Valexa dan Deondria yang sudah tidak sabar segera membuka pintu mobil dan terus berlari menghambur keluar dari mobil.
“Sayang... sabar... hati hati...” teriak Alexandria sambil melangkahkan kaki dari pintu mobil. Sedangkan Richardo yang duduk di jok depan di samping Pak Sopir sudah berlari mengikuti Valexa dan Deondria. Sementara Vadeo masih sibuk dengan hand phone nya untuk menghubungi sana sini berkaitan dengan acara nya.
“Ayo Mama...” ucap Valexa dan Deondria yang kini sudah duduk manis di mobil golf yang akan mengantar menuju ke tempat pesawat yang sudah terparkir menunggu kedatangan mereka.
Tampak Alexandria terus melangkah. Anggota keluarga lainnya pun yaitu Tuan dan Nyonya William, Tuan dan Nyonya Jonathan, dan juga Dealova sudah turun pula dari mobil dan melangkah menuju ke mobil golf yang lainnya.
“Aku mau ikut di mobil golf kedua cucu ku itu.” Ucap Nyonya William dan yang memisah langkah menuju ke mobil golf yang sudah diduduki oleh Valexa dan Deondria.
“Oma Tucing danan te cini... cana itut te cuami tan anakmu... (Oma Kucing jangan ke sini... sana ikut ke suami dan anakmu).” Teriak Valexa dan Deondria yang menyuruh Nyonya William ke mobil golf yang sudah di duduki oleh Tuan William dan Dealova.
“Hah.. aku juga mau ikut duduk di samping anakku ini.” Ucap Nyonya William sambil memeluk pundak Alexandria yang juga masih berjalan menuju mobil golf yang sudah diduduki oleh Valexa dan Deondria.
“Sayang tidak apa apa Oma ikut duduk di sini.” Ucap Alexandria sambil melangkahkan kaki naik ke atas mobil golf itu.
“Tapi na Oma Tucing ga boyeh natal ya... (tapi nya Oma Kucing tidak boleh nakal ya...).” ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan sambil menatap tajam ke arah Nyonya William yang juga mulai naik ke atas mobil golf itu.
__ADS_1
“Hah... harusnya Oma yang bilang begitu ke kalian.” Ucap Nyonya William sambil mendudukkan pantatnya dan selanjutnya memangku salah satu dari mereka berdua, sebab yang satu nya sudah dipangku oleh Alexandria.
Dan sesaat kemudian Vadeo pun turut naik ke atas mobil golf itu. Richardo pun juga demikian. Sedangkan pengasuh Valexa dan Deondria dan pelayan inti lainnya sudah naik di mobil golf lain dan sudah mulai berjalan.
“Bagai mana Deo, apa semua sudah beres?” tanya Nyonya William saat Vadeo yang sudah duduk itu memasukkan hand phone ke dalam saku kemejanya.
“Sudah Ma, semua tamu juga sudah konfirmasi kedatangannya.” Jawab Vadeo dan mobil golf pun mulai berjalan terlihat Valexa dan Deondria bertepuk tangan.
“Apa semua tamu yang kamu undang itu semua aman tidak membahayakan?” tanya Nyonya William dengan nada khawatir.
“Seperti nya tidak Ma, mereka orang orang dekat, kolega kolega baik.” Jawab Vadeo dengan nada serius.
“Saya juga mengundang tokoh agama pendamping spiritual Mama.” Ucap Vadeo selanjutnya.
Akan tetapi tiba tiba...
“Aduuuuhhhhh.... sakit....” teriak Nyonya William dengan keras. Semua menoleh ke arah Nyonya William, hingga pak sopir mobil golf itu pun mengerem mobil golf yang sedang dia kemudikan. Kecuali Valexa dan Deondria malah tertawa terkekeh kekeh sebab salah satu dari mereka sudah berhasil menggigit lengan Nyonya William.
“Ada apa Ma?” tanya Vadeo dan Alexandria secara bersamaan dengan nada khawatir.
“Anak kucing menggigit ku.” Jawab Nyonya William sambil mengusap usap lengannya.
“Aca, Aya.. jangan nakal.” Ucap Alexandria dan mobil golf pun kembali berjalan.
__ADS_1
“Iya Ma... maaf Oma Tucing cayang... (iya Ma... maaf Oma Kucing sayang...).” Ucap Valexa dan Deondria
“Oma tak ada yoh dahat di cana... (Oma tak ada roh jahat di sana).” Ucap Valexa dengan nada serius.
“Cemua baik Oma.. (semua baik Oma..).” sambung Deondria.
“Iya iya...” ucap Nyonya William.
Dan mobil golf pun tidak lama kemudian sudah sampai di dekat jet pribadi Vadeo. Mereka semua segera naik dan masuk ke dalam jet pribadi itu. Tidak menunggu waktu yang lama pesawat itu pun segera take off menuju ke pulau Alexandria. Semua tampak bahagia dan tidak sabar menunggu pesawat mendarat di pantai indah yang digunakan untuk lapangan terbang.
Setelah perjalanan penerbangan satu jam lebih. Jet pribadi milik Vadeo sudah mendarat dengan sempurna di pantai Alexandria. Valexa dan Deondria pun segera berlari menuju ke pintu pesawat. Richardo yang sudah hafal dengan tingkah laku kedua bocah itu dengan gesit sudah berada di dekat mereka berdua.
Tidak lama kemudian pintu pesawat sudah terbuka. Valexa dan Deondria pun turun yang pertama kali. Mereka berdua mau nya mereka yang pertama menginjakkan kaki nya. Bahkan kedua nya berebut untuk lebih dulu menginjakkan kaki nya. Akan tetapi selalu hasilnya mereka berdua secara bersamaan menginjakkan kaki. Dan mereka berdua pun tertawa bahagia, sambil bergandengan tangan mereka berdua berlarian di pantai yang hiasi pasir putih dan sebagian pasir berwarna merah jambu, sangat indah.. angin pantai pun berhembus sepoi sepoi memainkan rambut rambut kepala kedua bocah itu yang indah terurai.
Semua yang juga sudah turun dari pesawat pun menikmati indahnya pantai dan udara segar sehat di pulau Alexandria.
“Ma, nanti kita ikut mobil besar saja. Valexa dan Deondria pasti maunya langsung ke bukit pohon asam itu.” Ucap Alexandria pada Sang Mama yang berjalan jalan di pantai di samping nya. Sedangkan Dealova sudah ikut berlari menyusul kedua keponakan yang sudah menginjakkan air lautan bersama Richardo.
“Jauh Ma, tempat bukit pohon asam. Entahlah mereka berdua sangat senang bermain di sana. Sampai sampai keduanya minta dibuatkan kursi untuk tempat duduk di sana.” Ucap Alexandria yang sejak dulu tidak berminat untuk ikut ke bukit pohon asam, dan Vadeo pun juga melarang dengan mengatakan harus berjalan kaki jauh. Dan yang sebenarnya Vadeo khawatir jika Alexandria akan melihat ular besar teman kedua anaknya.
“Dan tidak sembarang kursi Ma. Dia memilih model kursi macam kursi kursi singgasana di dongeng dongeng cerita itu ha... ha.... dibuatkan kursi taman tidak mau.” Ucap Alexandria lagi sambil tertawa kecil mengingat lucu dan imutnya kursi yang diminta oleh kedua anaknya.
“Aku ingin ikut ke bukit pohon asam itu. Aku kok penasaran. “ gumam Nyonya William dalam hati.
__ADS_1