
Pagi pun telah tiba, kapal besar milik Tuan Njun Liong mulai menepi di suatu pelabuhan. Tuan Njun Liong sudah siap dengan pakaian rapi, setelah jas dan tangan kanannya membawa tas hitam. Sementara peta karya karun tetap dia simpan menempel pada perutnya yang dilapisi oleh baju rangkap tiga itu singlet, kemeja dan jas.
Tuan Njun Liong melangkah dengan cepat menuruni anak tangga. Di belakangnya berjalan dengan cepat pula satu orang pengawalnya seorang laki laki bertubuh besar dan tinggi, wajahnya tampak seram. Sedangkan Richie yang diizinkan ikut mendarat berjalan terpincang pincang di belakang pengawal Tuan Njun Liong.
Sesaat mereka bertiga sudah menginjakkan lantai kapal bawah. Tuan Njun Liong berjalan menuju ke mobilnya yang berada di dalam kapal. Tampak di dalam mobil itu di jok kemudi sudah duduk satu orang laki laki yang tidak lain adalah sopir pribadi Tuan Njun Liong.
Pengawal Tuan Njun Liong berjalan mendahului Tuan Njun Liong dan segera membukakan pintu mobil buat Tuan Njun Liong. Tuan Njun Liong pun segera masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang kemudi. Richie terlihat berjalan cepat sambil terpincang pincang dan cepat menyusul masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Tuan Njun Liong. Sedangkan sang pengawal duduk di jok depan di samping Pak Sopir.
Tampak pintu kapal sudah terbuka lebar. Mobil yang sudah menyala mesinnya sejak tadi langsung berjalan pelan pelan menuju ke pintu kapal yang sudah terbuka lebar itu.
JEGLEK JEGLEK JEGLEK
Terasa mobil bergoyang sedikit karena melewati jalan kayu jembatan dari tubuh kapal menuju ke daratan. Mobil masih berjalan sangat pelan pelan.
Sesaat kemudian mobil sudah memasuki jalanan mulus pelabuhan. Pak Sopir menambah laju kecepatan mobil yang dikemudikan itu menuju ke pintu keluar pelabuhan.
“Langsung ke bandara Internasional!” perintah Tuan Njun Liong pada pak sopir dan Pak Sopir itu menjawab dengan menganggukkan kepalanya. Dan mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Di saat Tuan Njun Liong mengusap usap layar hand phone nya akan memesan tiket pesawat untuk penerbangan ke Indonesia. Tiba tiba hand phone nya berdering, saat dilihat di layar hand phone nama kontak temannya sesama pencari harta karun.
“Hah? Siu Lie buat apa dia menghubungi aku.” Gumam Tuan Njun Liong saat melihat di layar hand phone nya tertera nama Siu Lie, tampak nada suara dan ekspresi wajahnya tidak suka. Karena bisa dibilang Siu Lie adalah saingannya dalam mencari harta karun. Siu Lie adalah seorang perempuan yang juga pencari harta karun terutama perhiasan perhiasan langka.
Tuan Njun Liong pun segera menggeser tombol hijau.
“Aku tahu Lie kamu pasti juga menginginkannya terutama emas pertama nya ha.... ha.... ha... tetapi tidak karena semua yang ada di pulau itu akan menjadi milikku. Aku sudah keluar modal besar. Jangan kamu mau mendapatkan dengan jalan pintas.” Suara Tuan Njun Liong sebelum lawan bicara di teleponnya mengucapkan satu patah kata pun.
“Ha.... ha.... Liong Liong... Aku hanya akan menyampaikan kabar jika kapal yang menuju ke pulau harta karun itu sudah tenggelam di dasar laut.. semua anak buahmu kocar kacir entah mereka sudah mati atau terdampar di mana...” suara seorang perempuan di balik hand phone Tuan Njun Liong.
“Kamu jangan sembarangan bicara Lie!” teriak Tuan Njun Liong tidak percaya akan tetap wajahnya mulai menegang mengingat jika semua anaknya di dalam kapal yang menuju ke pulau Alexandria tidak bisa dihubungi.
“Kamu hanya ingin menertawakan aku?” suara Tuan Njun Liong dengan nada kesal.
“Liong datanglah ke hotel tempat aku berada. Aku akan menawarkan kerja sama dengan kamu. Itu jika kamu mau. Kalau tidak mau ya sudah.. Aku sudah berada du Singapore. Kamu tahu kan pulau itu belum dijual dan belum menjadi milik kamu. Aku pun juga punya hak untuk berusaha mendapatkan pulau itu tidak hanya kamu saja Liong... Ha... ha... ha....” suara perempuan itu sambil tertawa lalu dia menutup sambungan teleponnya.
“Lie.. Lie...” teriak Tuan Njun Liong namun sudah tidak ada jawaban dari lawan bicaranya di telepon itu yang ada hanya nada tuttttttt tanda sudah tidak ada sambungan.
__ADS_1
Tampak Tuan Njun Liong mengusap usap layar handphone nya untuk mencari tahu kebenaran berita yang diucapkan oleh Siu Lie baru saja itu. Dan beberapa saat kemudian tampak wajah Tuan Njun Liong memerah dan tampak tegang. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya.
“Sial! Yang katakan Siu Lie benar, kapal tenggelam. Setengah kekuatanku hilang.” Ucap Tuan Njun Liong sambil mengepalkan tangannya.
“Apa Tuan?” tanya Richie dan Tuan Njun Liong pun menjelaskan pada Richie.
“Tuan bukannya kita masih punya kekuatan di dalam kapal besar itu. Anak buah Tuan juga masih banyak, senjata juga masih banyak. Tidak usah kerja sama dengan perempuan itu Tuan.” Ucap Richie sambil menatap Tuan Njun Liong memberi masukan pendapat.
“Hmmm tapi masih butuh waktu jika kapal besar itu masuk ke Indonesia. Siu Lie pasti juga akan menuju ke pulau itu. Meskipun dia perempuan tetapi dia juga licik kalau memburu perhiasan langka. Dia sudah sampai di Singapura.” Gumam Tuan Njun Liong sambil memijit mijit pelipisnya. Bingung dan pusing.
“Tapi kan peta harta karun di tangan Tuan.” Ucap Richie sambil masih menoleh menatap Tuan Njun Liong yang tampak kusut wajahnya.
“Hmmm dia bisa melakukan penyerangan pada kita atau pada pemilik pulau itu untuk mendapatkan manuskrip.” Ucap Tuan Njun Liong sambil masih memijit mijit pelipisnya. Richie pun tampak bengong sesaat setelah mendengar ucapan dari Tuan Njun Liong lalu dia tampak berpikir pikir.
“Kenapa cuaca memburuk dan nahkoda tidak mengetahui itu. Sial! Harusnya kan kalau cuaca memburuk bisa menunda atau berlabuh ke tempat yang aman.” Gumam Tuan Njun Liong menyesali nasib buruknya, karena modal dan separo kekuatannya sudah hilang.
Mobil terus melaju menuju ke bandara. Sementara Tuan Njun Liong belum jadi memesan pesawat menuju ke Indonesia tampak dia masih bingung menerima tawaran kerja sama Siu Lie atau bekerja dengan kekuatan sendiri yang tinggal separo dan masih menunggu waktu sementara saingan pemburuan harta karun sudah berada di Singapura. Tuan Njun Liong mengusap wajahnya dengan kasar. Dia lalu mengusap usap layar hand phone nya untuk menghubungi Siu Lie.
__ADS_1
“Hmmm sibuk nomor hand phone nya.” Gumam Tuan Njun Liong yang belum bisa terhubung lagi dengan nomor hand phone Siu Lie, teman namun juga saringan nya dalam memburu harta karun.
Tuan Njun Liong masih terus berusaha menghubungi nomor hand phone Siu Lie.