
Vadeo dan Alexandria kini sedang menunggu antrian di dokter mata anak. Sepasang suami istri itu memangku Raja dan Asasta, mereka berdua sangat terhibur oleh ekspresi wajah bayi bayi yang menggemaskan itu. Sambil tersenyum Alexandria membelai dengan lembut pipi Raja dengan ujung jarinya, sementara Vadeo terlihat mengajak berbicara dengan Asasta.
Sesaat dari dalam ruang praktek dokter mata anak itu muncul sosok sosok yang sangat tidak asing buat mereka..
“Hei, kamu orang kaya kenapa juga ikut duduk antri di sini.” Suara bang Bule Vincent yang menggendong baby Arendo dan Ixora tampak berjalan di sampingnya.
“Hmmm aku taat pada aturan dan menghargai orang yang lebih dulu datang.” Ucap Vadeo santai sambil masih menatap Asasta yang mulut mungilnya bergerak gerak bagai mengajak berbicara pada Sang Papa.
“Kamu kenapa periksakan Ado ke dokter mata? Apa mata Ado juga mengeluarkan cahaya?” tanya Vadeo kini menatap Bang Bule Vincent yang berdiri di depan nya.
“Mengeluarkan cahaya? Lampu kali.” Gumam Bang Bule Vincent yang tidak mengerti fenomena cahaya di sini hari.
“Kontrol biasa Kak, kontrol perkembangan organ tubuh Ado.” Ucap Ixora yang sudah duduk di samping Alexandria.
“Bagaimana perkembangan Ado?” tanya Alexandria
“Alhamdulillah semua bagus. Aja dan Ata kenapa?” jawab Ixora dan balik bertanya.
“Mereka juga sehat sehat Cuma mau cek perkembangan organ penglihatan mereka saja.” Jawab Alexandria sambil tersenyum menatap wajah tampan kedua bayinya.
__ADS_1
“Apa maksud yang Deo katakan tadi. Mengeluarkan cahaya? Apa seperti mahkota ular besar itu Deo ?” Tanya Bang Bule Vincent dengan suara agak pelan agar tidak ada orang yang mendengar. Alexandria dan Ixora spontan mendongak menatap wajah Bang Bule Vincent karena mereka berdua belum pernah melihat ular besar yang mengeluarkan cahaya.
“Lebih dari itu cahayanya menerobos sampai jauh ke atas langit.” Ucap Vadeo dengan suara pelan pula yang sebelumnya menarik Tshirt bang Bule Vincent agar Laki laki bule yang menggendong bayi itu duduk di sampingnya.
“Kalian jangan ceritakan ini pada Oma dan Opa William, pasti mereka akan lebih bingung dari pada Opa Jo. Dan membuat aku semakin pusing.” Ucap Vadeo
“Habis dari rumah sakit ini aku dan Alexandria disuruh ke rumah ibu Ami.” Ucap Vadeo lagi.
“Kalau Opa dan Oma William tahu aku harus membawa mereka ke mana lagi..” ucap Vadeo selanjutnya sambil mengerutkan keningnya sedangkan Asasta yang dipangkunya tampak bibirnya tersenyum.
“Bro, makanya ular besar itu mengizinkan pemugaran setelah Aja dan Ata bisa berjalan, mungkin dua anak ini nanti yang menjadi pemandu jalan. Kalau ular besar itu yang memandu akan banyak yang pingsan.” Ucap Bang Bule Vincent masih dengan suara lirih.
“Mungkin juga.” Gumam Vadeo dan sesaat mereka terdiam sebab nama Raja dan Asasta sudah dipanggil oleh petugas rumah sakit.
“Beres Bro, kami duluan ya...” ucap Bang Bule Vincent yang juga bangkit berdiri sambil menggendong Ado. Ixora pun juga turut bangkit berdiri. Dua keluarga kecil itu berpisah arah keluarga Vadeo menuju ke ruang periksa sementara keluarga Bang Bule Vincent menuju ke arah lift.
Waktu pun berlalu, selama beberapa menit Raja dan Asasta diperiksa oleh dua orang dokter mata. Dan dua orang dokter itu tidak menemukan kelainan di mata Raja dan Asasta.
“Semua baik baik saja Tuan dan Nyonya.” Ucap salah satu Dokter mata anak itu.
__ADS_1
“Tolong Dokter langsung telepon ke Opa mereka.” Ucap Vadeo sambil mengulurkan hand phone milik nya yang sudah terhubung pada Tuan Jonathan.
“Deo, bagaimana cucu cucuku?” suara Tuan Jonathan di balik hand phone milik Vadeo.
“Tuan ini saya Dokter mata yang baru memeriksa cucu Anda. Mereka baik baik Tuan.” Ucap Dokter mata itu.
“Apa sudah kamu periksa dengan baik? Kamu tidak tahu dan tidak dengar mereka menangis kejer!” suara Tuan Jonathan lagi dan membuat Dokter itu tampak panik dan bingung.
“Tapi Tuan ini mereka tidak menangis malah senyum senyum. Nanti kalau mereka menangis lagi panggil saya saja.” Ucap Dokter itu lagi. Dan buru buru Dokter itu menutup sambungan teleponnya.
“Tuan apa saat mereka menangis memejamkan matanya apa mata merah?” tanya Dokter itu karena tadi Vadeo dan Alexandria tidak mengatakan kalau Raja dan Asasta menangis kejer.
“Tidak Dok, mereka menangis karena ingin keluar dari kamar saja mungkin jenuh di kamar. “ ucap Vadeo yang yakin anak anaknya baik baik saja. Dua dokter itu pun mengangguk anggukkan kepalanya dan mengatakan sekali lagi jika ada masalah lagi dipersilakan Vadeo menghubungi mereka sewaktu waktu. Sebab mereka pun juga penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Vadeo dan Alexandria kalau mata kedua anaknya mengeluarkan cahaya. Bahkan mereka pun berniat untuk melakukan penelitian namun Vadeo dan Alexandria merasa keberatan dan tidak mengizinkan.
Sambil menggendong Raja dan Asasta, Vadeo dan Alexandria keluar dari ruang periksa. Dua pengasuh Valexa dan Deondria pun segera menggantikan menggendong dua bayi itu saat Vadeo dan Alexandria sudah keluar dari ruangan.
Sesaat terdengar suara dering hand phone milik Vadeo. Vadeo pun segera mengambil hand phone dari saku kemejanya.
“Pasti Opa Jo, belum puas.” Gumam Vadeo sambil merogoh sakunya.
__ADS_1
“Bang Bule Vincent. “ gumam Vadeo selanjutnya saat di layar hand phone tertera nama kontak Bang Bule Vincent. Vadeo pun segera menggeser tombol hijau.
“Bro, buka berita yang lagi viral, teropong canggih milik NASA tadi malam melihat benda asing melintas mendekati orbit bumi. Aku curiga dua ponakanku mendeteksi hal itu... jika benar ini hal luar biasa Bro, mereka melebihi Twins girl.. ha... ha... ha... besok Ado numpang beken ya....” suara bang Bule Vincent di balik hand phone milik Vadeo.