
“Mereka menginap di Mansion William, Bang.” Jawab Richardo.
“Hmmm kenapa masih di sana aku kalau menemui mereka harus bertemu dengan Mama Mertua lagi.” Gumam Bang Bule dengan nada sedih.
“Bang, aku besuk pagi menjemput mereka. Dan aku disuruh Nyonya William untuk membawakan oleh oleh dari Bang Bule tadi.” Ucap Richardo selanjutnya sambil menatap wajah Bang Bule.
“Hah tidak bisa gara gara Mama, aku jadi tidak bisa mendapatkan informasi apa apa dari dua bocah itu.” Ucap Bang Bule yang akan segera menutup lagi pintu kamarnya.
“Bagaimana kalau Bang Bule dipecat jadi menantu?” tanya Richardo sambil tangannya berusaha untuk menarik pintu agar tidak ditutup oleh Bang Bule.
“Tidak mungkin, Ixora sudah menjadi milikku resmi.” Ucap Bang Bule dengan tegas.
“Bang, tolong berikan padaku, aku besok tidak boleh masuk Mansion William.” Ucap Richardo dengan nada memohon.
“Tidak mungkin, Valexa dan Deondria membutuhkan kamu untuk mengantar mereka ke sekolah. Sudah aku mau istirahat nanti aku mau menjemput Ixora.” Ucap Bang Bule lalu menutup pintu kamar nya.
Sesaat terdengar hand phone Bang Bule berdering. Bang Bule Vincent pun segera melangkah menuju ke meja tempat hand phone berada.
“Vadeo.” Gumam Bang Bule saat melihat di layar hand phone nya tertera nama kontak Vadeo sedang melakukan panggilan suara. Dengan segera Bang Bule menggeser tombol hijau.
“Bro bagaimana? apa ada informasi penting yang kamu dapatkan dari Aca dan Aya?” tanya Bang Bule dengan cepat dan keras karena sudah tidak sabar menunggu kabar berita dari Vadeo.
“Jangan keras keras Bro, telinga ku sakit. Dan bisa membangunkan kedua anakku nanti.” Ucap Vadeo sambil menjauhkan hand phone yang dia bawa dari telinga nya.
“Oo maaf, mereka sedang tidur ya.. Okey aku bicara dengan suara lirih dan halus. Bagaimana?” suara Bang Bule yang kini tidak lagi keras.
“Bro, Aca dan Aya seperti nya melihat ada barang terlarang dalam jumlah banyak masuk ke Indonesia.” Ucap Vadeo selanjutnya
“Hah? Jadi benar sudah masuk ke Indonesia?” tanya Bang Bule dengan keras lagi dia sangat kaget dan khawatir sekaligus menyesal.
__ADS_1
“Sttt jangan keras keras!” suara Vadeo mengingatkan Bang Bule lagi.
“Sorry.. sorry .. terus di mana barang itu apa mereka bisa mengerti.” Ucap Bang Bule selanjutnya ingin tahu informasi selengkap nya.
“Mereka belum berkata lagi terus pusing tadi. Katanya ada cokelat juga.” Jawab Vadeo.
“Hmmm itu pasti barang barang dalam kamuflase makanan cokelat. Dan dalam perlindungan super hingga tidak bisa terdeteksi.” Gumam Bang Bule selanjutnya.
“Terus ada info apa lagi?” tanya Bang Bule lagi
“Hanya itu.” Jawab Vadeo.
“Okey aku infokan ke tim, agar mereka mengawasi di peredaran. Thanks Bro.” Ucap Bang Bule selanjutnya lalu sambungan panggilan suara dengan Vadeo pun sudah terputus. Bang Bule Vincent lalu segera memberikan informasi itu pada tim nya. Untuk mengawasi di tempat tempat pengiriman barang dan orang orang yang sudah dicurigai nya.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam. Dan pagi hari pun tiba. Atikah yang sudah mulai bekerja tampak tidak tenang hati nya. Dia menunggu Zulfa untuk datang mengirim barang yang sangat dinanti nya.
Saat Atikah berjalan menuju ke garasi mobil dia melihat sosok Pak Sopir senior yang sudah berada di garasi mobil.
“Kok pagi sekali dia sudah siap. Dan aku tidak melihat dia waktu makan malam tadi. Sepertinya sejak siang juga tidak terlihat dia kemarin.” Gumam Atikah dalam hati sambil mempercepat langkahnya.
“Selamat pagi Pak, kok tumben pagi sekali sudah siap berangkat? Bukan nya jadwal sekolah play group Nona Nona kecil tidak sepagi ini.” Ucap Atikah saat sudah berada di dalam garasi. Pak sopir senior yang akan membuka pintu mobil pun segera menoleh ke arah Atikah.
“O... iya Neng, ini menjemput Tuan Richardo dulu. Mobil Tuan Richardo masih di sini, karena kemarin sudah malam Tuan Richardo minta diantar langsung ke rumah Bang Bule. Dan dari menjemput Tuan Richardo baru menjemput Nona Nona kecil di Mansion William. “ jawab Pak Sopir senior lalu segera masuk ke dalam mobil nya.
“Hmm mereka tidak berada di dalam mansion ini? Sampai kapan? Apa Tuan Vadeo juga menginap di sana?” tanya Atikah dalam hati pada dirinya sendiri.
Di saat Atikah masih berdiri mematung karena sedang berpikir pikir jika kedua bocah itu tidak ada berada di Mansion Jonathan. Tiba tiba pundaknya ditepuk dengan sangat keras.
“Hei, jangan melamun ayo segera berangkat agar dapat sayuran yang segar segar. Nanti juga lama kita ke pasar nya banyak belanjaan.” Suara pelayan bagian logistik mengagetkan Atikah.
__ADS_1
“Bikin kaget saja kamu itu.” Ucap Atikah dengan nada kesal
“Apa Tuan Vadeo dan Nona Nona kecil sering menginap di Mansion William?” tanya Atikah selanjutnya sambil membuka pintu mobil box.
“Ya begitulah.” Jawab Pelayan bagian logistik sambil masuk ke dalam mobil.
“Haduh aku belum menghubungi Zulfa lagi.” Gumam Atikah saat akan menyalakan mesin mobil nya.
Sesaat Atikah mengambil hand phone nya. Dia lalu mengusap usap layar hand phone nya untuk mengirim pesan chat pada Zulfa.
“Sebentar ada yang penting, saudara ku mau menjenguk aku sebentar nanti aku kabari dulu agar ke sini setelah aku sudah selesai kerja.” Ucap Atikah karena dia melihat pelayan bagian logistik menoleh ke arah dirinya dengan tatapan mata yang tidak bersahabat.
Setelah selesai mengirim pesan chat pada Zulfa yang isinya menyuruh Zulfa untuk datang ke Mansion Jonathan setelah ada kabar dari dirinya Atikah segera menaruh hand phone nya lagi ke dalam tas nya lalu dia segera menyalakan mesin mobil nya.
“Perasaanku kok tidak enak ya..” gumam Atikah saat menjalankan mobil ke luar dari garasi.
“Ah.. pasti hanya perasan ku saja, Richie sudah mengatakan kalau barang barang itu dalam perlindungan yang aman. Buktinya sudah sampai di rumah ku dengan aman.” Gumam Atikah dalam hati menenangkan diri nya sendiri.
Mobil berjalan pelan pelan meninggalkan halaman Mansion Jonathan. Saat mobil sudah sampai di jalan raya Atikah menambah laju kecepatan agar bisa segera sampai pasar dan pekerjaan nya mengantar belanja bisa segera usai. Dan menyuruh Zulfa untuk segera datang mengantar barang nya. Dia memang sudah menyuruh Zulfa cuti dalam bekerja hari ini.
Mobil terus melaju menuju ke pasar tradisional untuk mengusir gelisah hati nya Atikah bersenandung sambil mengemudikan mobilnya.
“Apa perasaan ku tidak enak karena kedua bocah itu menginap di Mansion William ya..” gumam Atikah lagi karena meskipun sudah bersenandung hati nya masih gelisah.
“Tuan Vadeo seperti nya juga menginap di sana. Mobilnya juga tidak tampak sejak kemarin. Huh sial, bagaimana jika mereka lama menginap di Mansion William.” Gumam Atikah dalam hati lagi sambil terus melajukan mobilnya..
Akan tetapi tiba.. tiba...
...
__ADS_1