Valexa Deondria Kembar Ajaib

Valexa Deondria Kembar Ajaib
Bab. 34. Kekhawatiran


__ADS_3

Vadeo yang sudah mengambil hand phone nya tampak kembali berjalan menuju ke tempat tidur nya.


“Pa atu yan teyepon..” ucap Valexa sambil meraih hand phone dari tangan Sang Papa yang sudah duduk di tepi tempat tidur.


“Atu.. aja...” ucap Deondria berusaha merebut hand phone yang sudah dipegang oleh Valexa. Terlihat Valexa berusaha mempertahankan hand phone sang Papa yang sudah dia bawa. Demikian juga Deondria berusaha untuk mendapatkan hand phone sang Papa yang sudah dipegang oleh saudara kembarnya.


“Hmmm jangan berebut. Sini Papa aja.” Ucao Vadeo melerai kedua nya dan mengambil hand phone nya dari tangan mungil Valexa yang memegang dengan kuat hand phone milik nya.


“Ih daya daya tamu cih atu dadi ndak dadi teyepon Om Yicado.” Ucap Valexa dengan bibir mengerucut ke depan. Dan Deondria pun hanya tersenyum lebar.


Vadeo lalu merapatkan tubuh kedua anak nya itu pada tubuhnya.


“Sini kita telepon Om Ricardo bertiga.” Ucap Vadeo yang kini Valexa dan Deondria berada di dalam pangkuan Vadeo. Dan Vadeo pun segera mengusap usap layar hand phone nya untuk melakukan panggilan video pada Richardo.


“Yama cih... apa cudah bobok Om Yicado.” Ucap Deondria dengan tidak sabar sebab Richardo belum juga menerima panggilan video dari Sang Papa nya.


Dan tidak lama kemudian panggilan video pun terhubung.


“Ommmmm Yicado...” teriak mereka berdua saat melihat wajah Richardo di layar hand phone Sang Papa.


“Oooh Nona Nona kecil belum bobok.” Ucap Richardo sambil tersenyum


“Beyum......” jawab Valexa dan Deondria secara bersamaan.

__ADS_1


“Do, kamu harus lebih ketat menjaga Valexa dan Deondria dan kamu awasi pak sopir senior.” Ucap Vadeo selanjutnya dengan nada serius.


“Apa ada yang mencurigakan Tuan?” tanya Richardo dengan serius pula dan tampak kaget sebab selama ini pak sopir senior tidak pernah bermasalah.


“Baru saja Pak Sopir senior dengan sopir baru yang dicurigai oleh Aca dan Aya sebagai orang jahat, berada di dalam garasi mobil hanya berdua. Ada dan Aya yang mengetahui lalu menyuruh aku lihat tangkapan CCTV. “ ucap Vadeo dengan serius


“Besok aku akan ke rumah Bang Bule sehabis pulang kerja. Jangan kamu tinggalkan Aca dan Aya sedetik pun jika aku belum bisa menjaga mereka.” Ucap Vadeo selanjutnya


“Baik Tuan, apa perlu saya saja yang mengantar Nona Valexa dan Nona Deondria tanpa perlu sopir?” ucap Richardo memberi usul.


“Jangan. Biar tetap saja memakai pak sopir senior, coba kamu tanya tanya dia dan awasi gerak gerik nya apa ada yang mencurigakan. Kamu cek mobil yang dipakai untuk mengantar Valexa dan Deondria, pastikan semua aman.” Ucap Vadeo sambil mengusap usap kepala kedua anaknya, sedangkan hand phone nya kini sudah Valexa dan Deondria yang memegang nya, akan tetapi mereka berdua memegang dengan damai tidak berebut.


“Baik Tuan.” Ucap Richardo dengan sopan.


“Ya sudah aku tutup, agar anak anak ku segera tidur.” Ucap Vadeo selanjutnya akan tetapi dia belum menekan tombol merah.


“Selamat bobok Nona Valexa dan Nona Deondria.” Ucap Richardo sambil menatap layar hand phone nya yang menampilkan wajah Valexa dan Deondria.


“Tenapa Payeca duyu cih...” protes Deondria.


“He... he... Selamat bobok Nona Deondria dan Nona Valexa...” ucap Richardo sambil tertawa


“Ndak apa apa tamu duyu yan dicebut tapi becuk atu yadi yan yebih duyu dicebut.” Gumam Valexa dan Vadeo pun segera menekan tombol merah dan meminta hand phone nya untuk ditaruh di nakas.

__ADS_1


“Hmmmm apa suatu saat jika mereka sudah mengenal laki laki yang dicintai juga akan berebut seperti ini.” Gumam Vadeo dalam hati sambil membayangkan kedua anak itu beranjak menjadi gadis remaja. Vadeo menaruh hand phone nya lalu kembali ke tempat tidur dan mengajak kedua anak nya untuk segera tidur sebab hari semakin larut.


Sementara itu di lain tempat. Di sebuah bangunan yang tidak begitu luas yang digunakan untuk klinik kesehatan bagi pelayan dan karyawan yang ada di Mansion Jonathan. Lokasi bangunan klinik itu agak jauh dari Mansion utama atau pun mansion untuk tempat tinggal para pelayan. Di klinik itu lah Atikah kini ditempatkan.


Dia tadi sudah di bawa oleh petugas keamanan dan saat sampai di klinik langsung diperiksa oleh perawat dan dinyatakan baik baik saja dan sang perawat pun sudah bisa membuat Atikah tersadar dari pingsan pura pura nya. Akan tetapi Atikah masih mengatakan sakit kepala nya. Sang perawat pun sudah memberikan obat sakit kepala.


“Ini diminum obat sakit kepalanya agar cepat sembuh.” Ucap sang perawat sambil mengulurkan obat dan satu gelas air mineral.


“Tapi obat saya di dompet di dalam mobil. Tertinggal di sana belum sempat dicari saya pingsan tadi.” Ucap Atikah yang berusaha menolak obat pusing pemberian dari Sang perawat.


“Minum ini dulu. Dompet mu di cari besok saja. Tuan Vadeo memerintahkan kamu malam ini di sini. Dan semua karyawan dan pelayan harus beristirahat kecuali yang piket malam.” Ucap sang perawat itu terus saja menyodorkan obat dan air mineral pada Atikah. Atikah pun akhirnya mau tak mau harus menerima dan meminum obat sakit kepala dari Sang perawat klinik itu.


“Sudah bisa jalan? Kalau sudah aku antar kamu ke kamar.” Ucap sang perawat sambil menatap Atikah yang sudah selesai minum obat sakit kepala.


“Kalau tidak bisa berjalan ya sementara tidur di ruang periksa ini.” Ucap sang perawat kemudian. Tampak Atikah berpikir pikir.


“Hah.. tidur di kamar periksa yang bau obat dan tempat tidur sempit begini.” Gumam Atikah dalam hati. Lalu tampak Atikah dengan pura pura lesu berusaha untuk melangkah dari tempat pembaringan di ruang periksa itu. Sang perawat pun membantu Atikah yang berpura pura masih lemas untuk berjalan itu.


Dan kini Atikah terbaring di tempat tidur perawatan pasien di salah satu kamar di dalam klinik tersebut.


“Hmmm sial benar, dan kini aku hanya bisa terbaring di sini dan tidak bisa berbuat apa apa. Hand phone pun aku tidak membawa.” Gumam Atikah dalam hati dengan mata yang masih terpejam pura pura sakit kepala. Karena Sang perawat masih berada di kamar itu, sedang membuka lemari yang ada di dalam kamar itu untuk mengecek segala keperluan pasien. Padahal yang masuk adalah pasien pura pura.


“Hmmm bagai mana bisa petugas keamanan itu tahu aku dan Pak Sopir senior berada di garasi. Apa ada CCTV di setiap sudut Mansion ini.” Gumam Atikah dalam hati lagi dan dia masih saja terpejam mata nya sebab Sang perawat juga belum keluar dari kamar nya.

__ADS_1


Sesaat kemudian keringat Atikah mulai keluar di dahi nya mengingat akan hand phone yang berada di dalam kamar nya.


“Haduh bisa bahaya.” Gumam Atikah dalam hati dan secara spontan dia bangkit dari terbaring nya dan kini terduduk posisi nya. Sang perawat yang masih berada di dalam kamar itu pun terlihat kaget.


__ADS_2