
Waktu pun terus berlalu kini Bang Bule Vincent sedang berada di dalam kamar di rumah nya. Dia sedang duduk di kursi di depannya lap top yang ada di atas meja masih aktif menyala. Sementara dia sedang menerima panggilan suara dari kolega nya di Polandia.
Bang Bule tampak kesal saat mendapat informasi dari teman nya itu, yang mengabarkan tidak mendapatkan sosok Richie di hotel tempat yang diinformasikan oleh Bang Bule.
“Mana mungkin tidak ada. Ini dari hasil pelacakan hand phone milik Richie ada di kamar hotel itu.” Ucap Bang Bule dengan serius.
“Benar, ada hand phone Richie tetapi orang nya sudah melarikan diri sejak pagi. Di kamar itu juga ada dua wanita teman tidur nya yang belum dia bayar.” Jawab teman Bang Bule Vincent itu.
“Dua wanita itu pun sudah dimintai keterangan akan tetapi dari informasi mereka memang benar benar tidak tahu ke mana Richie pergi. CCTV hotel dan jalan raya pun sudah kehilangan jejak nya.” Ucap teman Bang Bule Vincent selanjutnya.
“Sial, licik juga orang itu.” Gumam Bang Bule dan dia memutus sambungan teleponnya
Bang Bule Vincent pun kini menutup layar lap top nya. Hand phone milik Amelia yang disimpan di dalam lemari kini sudah ada di dalam tangannya. Dia bisa melacak dan meretas nomor Richie karena hand phone Amelia itu. Akan tetapi tidak menyangka Richie akan meninggalkan hand phone begitu saja.
“Hmmm hanya kedua bocah itu yang bisa melacak tanpa alat apa pun.” Gumam Bang Bule Vincent sambil tersenyum sebab dia masih memiliki harapan untuk bisa menemukan Richie.
Sementara itu di Mansion Jonathan, suasana heboh luar biasa karena mereka akan menjemput Sang Mama tercinta. Mereka bertiga sedang di dalam kamar Vadeo. Valexa dan Deondria sudah berpakaian rapi lengkap dengan hiasan rambut di kepala nya. Sungguh tampak canfik dan manis. Sedangkan Vadeo masih berganti baju, karena dia tadi menyelesaikan merapikan anak anak nya lebih dulu.
“Atu nanti bobok cama Mama.. Papa bobok di copa aja... ( Aku nanti bobok sama Mama.. Papa bobok di sofa aja...).” ucap Deondria sambil menatap Sang Papa yang masih mengancingkan kancing kemejanya.
“Iya Papa bobok di copa aja.. ato di tamal ku Pa.. ya Pa... ( Iya Papa bobok di sofa aja ...atau di kamar ku Pa ya Pa... ).” Ucap Valexa juga menatap Sang Papa sambil tersenyum.
“Hah kok begitu.. Papa kan juga kangen Mama..” ucap Vadeo tampak kaget sebab malam ini juga dia sudah berencana untuk bergoyang enak enak dengan sang istri tercinta yang lama dia rindukan.
“Tapi na mayam ini cama atu duyu... (Tapi nya malam ini sama aku dulu).” Ucap Valexa
“Atu duyu ya.. ( Aku dulu ya...).” Ucap Deondria sambil mendorong tubuh saudara kembar nya.
“Tamu becok.. Becok na yagi cama Papa... (kamu besok .. besok nya lagi sama Papa..).” teriak Valexa yang berganti mendorong tubuh Deondria.
__ADS_1
“Hei kenapa jadi berebut. Kita tidak jadi jemput Mama saja kalau begitu.” Ucap Vadeo sambil menatap kedua anak nya yang saling dorong sementara dia masih menyisir rambut kepalanya .
“Atu yan atan jemput Mama... (Aku yang akan jemput Mama..).” saut Deondria
“Atu...(aku..).” saut Valexa pula yang kembali mendorong tubuh Deondria.
Sesaat hand phone Vadeo yang berada di atas meja rias berdering dan tampak di layar Alexandria sedang melakukan panggilan video.
“Papa bilang ke Mama kalau kalian selalu berebut dan tidak nurut pada perkataan Papa.” Ucap Vadeo sambil menggeser tombol hijau. Valexa dan Deondria pun tampak diam dan berjalan mendekat ke arah Sang Papa. Vadeo pun lalu mengajak kedua anaknya untuk duduk ke sofa. Kedua anak itu pun dengan rukun menggandeng tangan kiri Sang Papa sedang tangan kanan Vadeo masih membawa hand phone yang sudah terhubung dengan Alexandria.
“Hallo Sayang... Mama sudah sampai Singapore, ayo cepat jemput Mama ya...” suara Alexandria setelah bisa melihat wajah kedua anaknya yang duduk di dalam pangkuan Vadeo.
“Iya Mama... atu atan cedeya datan.. ( Iya Mama .. Aku akan segera datang).” Ucap mereka berdua dengan nada suara ceria dan senyum an lebar nya.
“Ma, atu endak natal loh.. nuyut pada Papa tan endak beyebut cama Aca... ( Ma, aku endak nakal loh.. nurut pada Papa dan endak berebut sama Aca).” Ucap Deondria yang khawatir Papa nya lebih dahulu laporan pada Sang Mama.
“Iya Ma ... atu cudah tidak cabal tetemu cama Mama.. (Iya Ma.. Aku sudah tidak sabar ketemu sama Mama..).” ucap Valexa
“Pa, cepat ya segera ke bandara agar aku tidak harus menunggu.” Ucap Alexandria selanjutnya
“Siap Mama Sayang.... “ jawab Vadeo sambil tersenyum dan hati yang berbunga bunga karena malam ini bisa memeluk tubuh kekasih hati nya.
“Ciap Mama Cayang...” teriak Valexa dan Deondria.
Sambungan telepon pun terputus dan mereka bertiga segera bersiap siap untuk keluar dari kamar. Saat mereka akan berjalan keluar dari kamar tiba tiba hand phone Vadeo berdering kembali.
Vadeo segera mengambil hand phone yang sudah berada di saku kemejanya. Dia mengira Sang Istri menghubungi nya lagi. Akan tetapi saat dilihat di layar hand phone nya tertera nama Bang Bule Vincent sedang melakukan panggilan suara.
“Bro, Richie melarikan diri, agen rahasia dan polisi tidak bisa melacak nya. Aku hanya berharap pada kemampuan Aca dan Aya.” Suara Bang Bule Vincent di balik hand phone Vadeo.
__ADS_1
“Bul, aku mau jemput Alexa nih.. “ ucap Vadeo yang kini berdiri di.depan pintu kamar nya.
“Coba nanti aku tanya mereka saat di mobil ya..” ucap Vadeo berlanjut nya sebab tangan tangan mungil kedua anak nya sudah menarik narik celana nya.
“Benar ya Bro jangan sampai dia lari semakin jauh. Semua rekening nya sudah diblokir. Paling dia sudah minim amoniak.” Ucap Bang Bule
“Okey.. okey..” ucap Vadeo dengan cepat.
“Ayo Papa.. tepat danan campe Mama menundu.. (ayo Papa.. cepat jangan sampai Mama menunggu...).” teriak Valexa dan Deondria
Mereka pun segera berjalan dari kamar. Valexa dan Deondria sudah menarik narik tangan Vadeo agar melangkah dengan cepat. Sang pengasuh tampak sudah berada di dekat tangga dengan membawa dua tas mungil perlengkapan Nona Nona kecil nya.
Mereka terus menuruni anak tangga dua pengasuh itu pun turut berjalan di belakang mereka sambil masih membawa tas mungil milik Valexa dan Deondria.
“Non dibawa tas nya sekarang atau saya taruh di mobil?” tanya salah satu pengasuh sebab dua Nona kecil itu tidak menghiraukan mereka berdua sebab masih sibuk menarik tangan Sang Papa agar lebih cepat jalan nya.
“Cini.. (Sini).” Ucap mereka berdua sambil meminta tas mungil mereka. Vadeo pun membantu memakaikan tas mungil itu di punggung kedua anak nya.
Saat mereka sudah sampai di lantai bawah tampak Tuan dan Nyonya Jonathan sudah menunggu mereka.
“Sayang langsung pulang ya.. Kita tunggu makan malam bersama di sini.” Ucap Nyonya Jonathan yang berdiri berada di ujung tangga menunggu mereka .
“Iya Oma.” Jawab Valexa dan Deondria secara bersamaan.
Mereka pun terus berjalan menuju ke pintu utama. Tuan dan Nyonya Jonathan hanya mengantar di depan mansion. Setelah anak dan cucu cucunya masuk ke dalam mobil. Tuan dan Nyonya Jonathan kembali masuk ke dalam untuk menyiapkan makan malam guna menyambut sang menantu.
Sementara itu mobil sudah berjalan meninggalkan mansion Jonathan menuju ke bandara. Valexa dan Deondria duduk di jok belakang kemudi di samping Sang Papa.
“Sayang... Uncle Vin ada perlu sama kalian.” Ucap Vadeo sambil mengusap usap puncak kepala kedua anak nya.
__ADS_1
....