
“Kalian itu ya.. suka menertawakan orang yang mendapatkan celaka.” Ucap Vadeo sambil membetulkan kain batik yang menutupi sebagian tubuhnya itu.
“Ha... Ha... Ha... Ha.. maaf Papa Cayang... atu tidak bica menahan mulut tu.. kik... kik.. kik. .. (Ha... Ha...Ha... Ha.. maaf Papa Sayang .. Aku tidak bisa menahan mulutku.. kik... .kik... kik.. ).” ucap Deondria yang masih tertawa terkekeh lalu berjalan cepat mendekati Bang Bule Vincent yang juga masih tertawa terbahak bahak.
“Papa tayo pate kain macam ditu ayus pake kain panjang tecil untuk itat pindang... (Papa kalau pakai kain panjang gitu harus pakai kain panjang kecil untuk ikat pinggang..).” ucap Valexa sambil menatap Sang Papa yang kini sudah berdiri sambil menggulung gulung kain batik panjang itu di pinggangnya.
“Iya kenapa tadi tidak aku kasih ikat pinggangku.” Gumam Vadeo sambil membetulkan kain batik panjang untuk menutupi bagian bawah tubuhnya yang tadi terlepas karena kain itu hanya dia lilit lilit pada tubuhnya seperti dia melilitkan kain handuk mandi dan digulung gulung bagian atasnya agar tidak sampai di mata kaki bagian ujung bawahnya. Yang tadi terlepas karena berlari untuk menjemput kedua buah hati nya yang berlari lari keluar dari bangunan istana kerajaan Asasta.
“Ha... ha... tapi tak apalah kalau hanya kalian yang tahu he... he....” ucap Vadeo yang kini bisa menertawakan dirinya sendiri. Ah.. rasanya juga lega jika bisa menertawakan diri sendiri.
“Ada apa kalian berlari lari dan bikin kaget Papa hmmm?” tanya Vadeo sambil tangannya memegang kepala Valexa yang berdiri di dekatnya, mereka berdua pun lalu berjalan menuju ke tempat Bang Bule Vincent yang sudah kembali lagi jongkok membakar ubi, Deondria pun juga sudah terlihat ikut jongkok dan tangan mungilnya sudah memegang daging kelinci bakar.
“Atu tan Aya cudah dapat ide Papa.. (Aku dan Aya sudah dapat ide Papa...).” Ucap Valexa sambil terus melangkah aroma daging kelinci bakar dan ubi bakar pun sudah menggoda perut dan lidahnya, apalagi dilihat saudara kembarnya sudah tampak asyik makan daging kelinci bakar dan ubi bakar yang tampak merekah dan mengepul asapnya, aroma harum tercium.
“Ide apa hmmm?” tanya Vadeo sambil berjalan dan memegang lembut kepala Valexa.
“Maem duyu Pa.. atu lapal... (Maem dulu Pa... Aku lapar).” Ucap Valexa lalu segera menyusul saudara kembarnya untuk menikmati daging kelinci bakar dan ubi bakar.
Tampak mereka berempat tampak menikmati makanan itu, rasa capek dan lapar membuat makanan yang dimasak secara sederhana itu terasa sangat nikmat.
__ADS_1
Akan tetapi sesaat kemudian mereka tampak saling pandang karena keempatnya merasakan perlu minum. Makan ubi bakar dengan tidak minum terasa leher mereka tercekik karena bagai makanan itu tersumbat di dalam kerongkongan.
“Bul, kenapa kamu tidak membuat air minum.” Ucap Vadeo dengan suara pelan pelan
“Aku pikir air dari mata air itu bisa kita langsung minum Bro. Tapi pakai tempat apa coba? Ular besar itu mungkin lupa kalau kita butuh peralatan untuk makan minum.” Ucap Bang Bule Vincent yang tampak berpikir pikir.
Di saat Bang Bule Vincent masih berpikir pikir, hand phone di dalam saku celana cargonya berdering.
“Ada spot jaringan.” Ucap Bang Bule Vincent lalu dia bangkit berdiri dan mengambil hand phone nya. Akan tetapi dering suara hand phone nya terhenti lagi, mungkin karena spot jaringan tidak begitu kuat.
“Richardo.” Ucap Bang Bule Vincent saat melihat di layar hand phone nya ada nama kontak Richardo yang melakukan panggilan tidak terjawab. Bang Bule Vincent pun segera berlari mencari tempat yang spot jaringannya kuat.
“Cuyuh tacih te Ulal becal.. Ante... (Suruh kasih ke Ular besar .. Uncle..).” teriak Valexa dan Deondria secara bersamaan. Vadeo tampak menatap kedua anaknya dengan pandangan mata dan ekspresi wajah heran.
“Bang, aku ini sudah di bawah pohon asam, aku bawa kiriman dari Nyonya Alexa. Aku sudah bicara pada ular besar itu untuk mengantarku tapi dia diam saja tidak bergerak, hanya melingkarkan tubuhnya di bawah singgasana Nona Valexa dan Nona Deondria.” suara Richardo di balik hand phone milik Bang Bule Vincent.
“Dia mungkin malas untuk mengantarmu ke sini Do.” Gumam Bang Bule Vincent
“Kamu berikan barang kiriman Alexa itu pada ular besar itu. Begitu perintah Aca dan Aya.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya.
__ADS_1
“Baik Bang.” Suara Richardo.
“Okey aku putus dulu dan kamu laporkan setelahnya.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya lalu dia memutus sambungan teleponnya.
Tampak Bang Bule Vincent masih berdiri di tempat yang jaringan sinyal hand phone nya kuat. Dia masih menunggu laporan dari Richardo. Dan tidak lama kemudian. Hand phone milik Bang Bule Vincent berdering lagi, Richardo menghubungi lagi pada dirinya. Dengan cepat Bang Bule Vincent menggeser tombol hijau.
“Bang, kiriman dari Nyonya Alexa sudah masuk ke dalam tubuh ular besar itu. Dan dia sudah pergi meninggalkan aku.” Suara Richardo di balik hand phone milik Bang Bule Vincent.
“Ya sudah kamu pulang ke rumah dan tetap pantau situasi.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya. Bang Bule Vincent pun segera memutus sambungan teleponnya dan kembali ke tempat Vadeo dan si kembar yang terlihat menunggu kabar dari dirinya.
Akan tetapi belum juga Bang Bule Vincent sampai di tempat Vadeo dan si kembar berada. Tiba tiba ada suara kresek kresek tleser tleser dari atas. Bang Bule Vincent mendongak mencari cari sumber suara itu akan tetapi suasana yang temaram dia tidak bisa melihat sumber suara itu. Dan tidak lama kemudian...
BUK
Suara benda besar jatuh dan ular besar itu sudah tampak di lokasi tidak jauh dari mereka. Tubuh ular besar itu tampak menggembung. Bang Bule Vincent tampak lega, demikian juga Vadeo. Ular besar itu terus menggeser tubuhnya menuju ke arah tempat si kembar berada. Bang Bule Vincent pun juga berjalan cepat cepat ke arah Vadeo dan si kembar.
Tidak lama kemudian ular besar itu sudah berada di dekat si kembar. Tampak si kembar menoleh dan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Dan sesaat kemudian ular besar itu mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya...
Dan....
__ADS_1
GLUNDUNG
Satu buah benda bulat besar keluar dari mulut ular itu. Dan tubuh ular itu masih masih menggembung tanda masih ada barang besar di dalam tubuhnya. Mata Vadeo dan Bang Bule Vincent tampak berbinar binar.