
Saat mobil sudah sampai di depan halaman rumah mewah Mamah Mimi. Terlihat masih terjadi perkelahian antara para penjaga rumah mewah Mamah Mimi dengan Bang Bule Vincent, Eveline, dua anak buah Bang Bule Vincent. Tampak masing masing personil rombongan Deondria itu melawan tiga atau empat orang orang Mamah Mimi.
“Hmmm banyak juga para penjaga rumah perempuan tua itu.” Gumam Vadeo lalu dia segera membuka pintu mobil. Dua anak buah Bang Bule Vincent yang berada di dalam mobil pun dengan cepat segera berlari untuk ikut membantu teman teman dan pimpinannya.
“Di mana Deondria?” gumam Vadeo sambil menurunkan Valexa dari dalam mobil. Valexa turun dari mobil sambil membawa bola kristal yang sudah rusak retak retak.
Vadeo dan Valexa terus melangkah. Vadeo segera bergabung dengan rombongan Bang Bule Vincent untuk melawan para penjaga rumah mewah Mamah Mimi itu. Sementara Valexa sambil membawa bola kristal yang retak itu terus berlari menyelinap masuk ke dalam rumah mewah Mamah Mimi. Para pe jaga rumah Mamah Mimi yang sedang berkelahi itu tidak begitu memperhatikan adanya sosok bocah kecil yang ikut masuk ke dalam halaman rumah mewah Mamah Mimi.
Valexa terus berlari saat masuk ke dalam rumah mewah Mamah Mimi keadaan sudah berantakan dan ada beberapa orang yang terkapar atau ada yang gatal gatal sambil berjalan nabrak nabrak. Dan saat Valexa sudah sampai di kamar mewah Mamah Mimi tampak Deondria berkacak pinggang di depan dua orang pemuda penjaga pintu kamar Mamah Mimi yang sudah terkapar.
Tidak lama kemudian pintu kamar mewah Mamah Mimi terbuka dan muncul sosok yang sangat menakutkan.
“Hah? Kamu dua bocah nakal itu akhirnya muncul di depanku. Tapi kalian sudah mengacaukan acara ritualku dan mengacaukan rumahku ini!” teriak Mamah Mimi wajahnya tampak tegang merah akibat emosi tingkat dewa, tangannya pun terus saja menggaruk garuk badannya. Rambut panjangnya sudah berantakan acak acakan semakin menakutkan. Tubuh Mamah Mimi pun hanya terbalut kain hitam hanya untuk menutup bagian tubuh sensitifnya. Tubuh yang tidak tertutup oleh kain dan rambut panjangnya tampak luka luka baru goresan goresan bekas garukan dari kuku kuku panjangnya.
“Jangan kalian berdua senang senang dulu ya.. aku masih bisa membunuh kalian!” teriak Mamah Mimi lagi sambil menatap tajam wajah Valexa dan Deondria. Deondria masih berkacak pinggang balik menatap tajam Mamah Mimi. Sedangkan Valexa berdiri di dekat saudara kembarnya dengan tangan ke belakang membawa bola kristal Mamah Mimi yang telah retak. Jarak mereka berdua dengan Mamah Mimi kira kira tiga meter.
Dan sesaat kemudian.
__ADS_1
“Yiat ini Nenek... (Lihat ini Nenek).” Teriak Valexa sambil tangannya kini ke depan untuk memperlihatkan bola kristal milik Mamah Mimi yang telah retak.
“Hai itu bola kristal milikku kenapa ada di tangan mu? Dan ooohhhh kenapa bisa menjadi seperti itu!” teriak Mamah Mimi sambil berjalan mendekati ke arah Valexa.
Akan tetapi dengan cepat Valexa segera membanting bola kristal itu.
PPYYAAAAARRRR!!!
Bola kristal itu pecah berkeping keping.
“Aku kenapa tidak bisa melihat apa apa dan kenapa sekarang wajahku juga gatal gatal.” Teriak Mamah Mimi yang kini sudah tidak lagi bisa mendekati Valexa maupun Deondria.
“Di mana orang orang ku? Hai kalian semua di mana? Tolong aku!” Teriak Mamah Mimi dengan suara keras.
“Nyonya Siu Lie keluarlah, ambilkan obat gatal dan obat tetes mata!” teriak Mamah Mimi dengan suara keras.
Sementara itu Nyonya Siu Lie yang berada di dalam kamar juga tidak bisa berbuat apa apa sebab dirinya juga mengalami hal yang sama gatal gatal dan tidak bisa melihat apa apa. Sedangkan Dokter kecantikan dan para karyawan klinik dari Korea itu ketakutan dan menutup kamar mereka rapat rapat tidak berani keluar. Demikian juga para pelamar pekerjaan melihat ada ribut ribut perkelahian apalagi melihat ada anak kecil ngamuk mengerikan mereka semua menutup rapat rapat kamarnya, takut mendapat amukan.
__ADS_1
Mamah Mimi masih terus berteriak teriak sosoknya semakin mengerikan, dia pun sudah tidak bisa lagi berdiri. Duduk di lantai sambil menggaruk garuk tubuhnya.
Valexa dan Deondria pun tampak saling pandang. Lalu menganggukkan kepalanya. Mereka berdua lalu berjalan menuju ke kamar mandi mewah milik Mamah Mimi. Kedua bocah itu lalu masuk ke dalam kamar mandi. Kamar mandi seluas lima kali lima meter itu tampak sepi. Aroma bau kemenyan yang dibakar masih menguar bercampur dengan aroma minyak wangi yang dituang ke dalam bath up. Bath up yang masih berisi full air kembang mawar itu tampak kosong tidak ada orang berendam sesuci di dalamnya.
Valexa dan Deondria terus melangkah menuju ke ruang kaca yang ada di pojok ruang kamar mandi itu. Tampak di dalam ruang kaca yang merupakan ruang khusus kloset itu ada empat pemuda tampan dan gagah utusan Bang Bule Vincent. Mereka dikunci dari luar oleh Mamah Mimi. Saat mendapat informasi jika ada penyerangan Mamah Mimi segera menyuruh keempat pemuda itu masuk ke dalam bilik kloset dan dikunci dari luar oleh Mamah Mimi.
Dengan tenaga supernya tangan mungil Valexa dan Deondria membuka pintu kaca bilik yang terkunci itu.
“Teluar Ante tan cedeya pate badu.. (Keluar Uncle dan segera pakai baju)” ucap Valexa dan Deondria dengan malu malu tidak berani menatap ke empat pemuda tampan dan gagah yang hanya memakai ****** ***** itu.
“Terima kasih Nona.” Ucap mereka berempat dan segera keluar dari bilik kaca itu sambil berjalan cepat kadang mereka berempat jari jarinya menggaruk garuk tubuhnya. Ah mungkin mereka juga terkontaminasi oleh senjata rahasia.
Valexa dan Deondria tampak mematikan kemenyan yang dibakar di dalam kamar mandi itu. Mereka berdua pun meniup lilin lilin besar yang masih menyala di dalam kamar mandi. Setelah selesai mereka berdua keluar dari kamar mandi itu.
Saat keluar dari kamar mandi. Tampak Vadeo berlari lari mencari mereka berdua.
“Aca... Aya....” suara Vadeo sambil mendekat ke arah Valexa dan Deondria yang baru saja keluar dari kamar mandi. Di belakang Vadeo tampak Bang Bule Vincent dan Eveline juga berlari lari mendekati mereka. Sedangkan Mamah Mimi masih terkapar sambil menggaruk garuk badannya dan berteriak teriak kain penutup tubuhnya pun telah terlepas. Benar benar mirip orang gila.
__ADS_1