
“Alexa.” Gumam Vadeo saat melihat di layar hand phone miliknya sang istri tercinta sedang menghubungi dirinya.
Vadeo dan Bang Bule Vincent pun segera menerima panggilan suara dari Richardo dan Alexandria. Richardo dan Alexandria mengabarkan jika Pulau Alexandria dalam bahaya, ada kapal besar yang mendekat.
“Sial! Siapa lagi?” gumam Vadeo dan Bang Bule Vincent secara bersamaan setelah menutup sambungan teleponnya dengan lawan bicara.
“Anak buwah meyeta Pa. (Anak buah mereka Pa).” Ucap Valexa dan Deondria secara bersamaan.
“Ayo kita segera pulang. Biar mereka yang di sini diurus oleh pihak yang berwajib.” Ucap Vadeo sambil cepat cepat melepas baju seragam karyawan hotel bagian pantry itu. Demikian juga Bang Bule Vincent.
“Polisi Internasional juga sudah menuju ke sini.” Ucap Bang Bule Vincent dengan nada serius.
“Bul apa bisa kita minta bantuan polisi Internasional untuk masalah baru kita?” tanya Vadeo yang kini sudah kembali memakai pakaiannya sendiri bukan lagi pakaian seragam karyawan hotel bagian pantry.
“Sulit Bro kan pakai prosedur. Mereka sekarang yang ke sini kan dalam rangka menjemput Richie.” Jawab Bang Bule Vincent sambil menyisir rambutnya yang berantakan akibat habis melepas penutup kepala.
“Coba saja nanti aku usahakan.” Ucap Bang Bule Vincent selanjutnya. Mereka pun segera pergi meninggalkan ruang ganti itu. Saat mereka berempat pamit pada petugas hotel mereka mendapatkan lima kotak makanan untuk sarapan.
“Lumayan.” Gumam Bang Bule Vincent sambil melangkah menuju ke mobil yang sudah siap menunggu.
Bang Bule Vincent pun segera menghubungi Eveline agar dia dan anak buah lainnya segera menuju ke bandara. Mobil yang mereka tumpangi pun segera berjalan menuju ke bandara.
Di dalam mobil mereka semua makan nasi kotak yang mereka dapat dari hotel. Kecuali Pak Sopir yang terus fokus mengemudikan mobil.
“Ini makanan hasil kerja kita selama jadi karyawan hotel he... he...” ucap Bang Bule Vincent setelah menelan makannya. Sedangkan Vadeo hanya diam saja sambil makan sebab dia masih memikirkan nasib pulau Alexandria yang masih dalam mode bahaya. Valexa dan Deondria pun makan dengan tenang duduk di samping Vadeo dan Bang Bule Vincent. Setelah kedua bocah itu selesai makan tampak mereka tertidur sambil bersandar di tubuh Bang Bule Vincent dan Vadeo. Vadeo dan Bang Bule Vincent pun lalu memangku kedua bocah itu agar nyaman tidurnya. Mereka berdua pun lama lama juga tertidur.
__ADS_1
Sementara itu di Pulau Alexandria. Di ruang kerja Vadeo, tampak tiga orang duduk di sofa sambil mengamati layar lap top milik Alexandria.
“Kapal itu terus mendekat.” Gumam Alexandria sambil mengamati layar lap topnya yang sedang aktif menampilkan aplikasi pemantau pulau Alexandria. Warna alarm pun merah menyala.
“Bukannya Bos Pemburu Harta Karun yang akan merampok itu sudah ditangkap?” tanya Ixora yang juga fokus menatap layar lap top milik Alexandria. Sementara Richardo kini tampak sibuk menghubungi orang orang yang bertugas di perbatasan pulau Alexandria.
“Kalau aku lacak dari data hand phone milik bos pemburu harta karun itu, kapal ini bergerak ke sini atas perintah dia. Kemungkinan ini dikendalikan oleh anak buahnya.” Ucap Alexandria dan kini jari jarinya sibuk dengan tuts tuts keyboard lap top nya.
Akan tetapi sesaat kemudian Alexandria merasakan perutnya mual mual. Alexandria lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Kakak kenapa?” tanya Ixora sambil menatap Sang Kakak yang bangkit berdiri sambil menutup mulut dengan telapak tangannya.
Alexandria tidak menjawab malah mempercepat langkahnya menuju ke kamar mandi yang ada di dalam ruang kerja Vadeo itu. Ixora terus mengikuti langkah kaki Kakaknya. Alexandria pun menumpahkan isi perutnya ke wastafel. Ixora tampak memijit mijit punggung Kakaknya.
“Aku padahal sudah minum obat Ix.” Ucap Alexandria yang sudah menumpahkan isi dalam perutnya lalu memutar kran wastafel.
“Siapa yang tidak cemas dalam situasi bahaya seperti ini. Suami dan anak anakku masih di pulau seberang.” Ucap Alexandria lalu dia keluar dari kamar mandi untuk mengambil air mineral. Ixora juga turut serta keluar dari kamar mandi. Dia hanya diam saja sebab dia pun juga cemas.
“Do tolong kamu pantau ya!” perintah Alexandria sambil melangkah keluar dari ruang kerja Vadeo.
“Kakak apa perlu obat mual lagi?” tanya Ixora sambil terus mengikuti langkah kaki Kakaknya.
“Tidak. Masih obat dari kamu. Aku mau ke dapur.” Ucap Alexandria sambil terus melangkah menuju ke dapur. Ixora yang mendapat tugas untuk menjaga Sang Kakak dan calon keponakannya yang masih di perut terus mengikuti langkah kaki Alexandria.
Saat sampai di dapur, Alexandria membuka pintu kulkas dan mencari cari sesuatu yang ingin dia masukkan ke dalam mulutnya. Akan tetapi sudah beberapa menit mencari tidak ketemu temu.
__ADS_1
“Nyonya mencari apa?” tanya Ibu pelayan sambil menatap sosok Alexandria.
“Entahlah Bu, mulut saya ingin sesuatu tetapi saya bingung.” Ucap Alexandria yang masih mencari cari sesuatu.
“Apa Nyonya ngidam yang asam asam lagi?” tanya Ibu pelayan itu sambil bibir tersenyum sebab dia sudah tahu jika Alexandria hamil lagi.
“Kakak jangan mencari buah asam lagi tidak ada Kak Deo di sini.” Ucap Ixora yang khawatir jika Alexandria ngidam buah yang sulit didapat lagi.
“Tenang Nyonya, saya sudah buat permen asam yang banyak.” Ucap Ibu pelayan itu sambil tersenyum lebar lalu melangkah menuju ke lemari dapur dan mengambil satu toples besar berisi permen asam.
“Bukan! Bukan itu Bu..” ucap Alexandria sambil telapak tangannya bergerak gerak ke kiri dan ke kanan..
“Oooo saya tahu...” ucap Alexandria yang tIba tiba matanya berbinar binar.
“Apa?” suara Ixora dan Ibu pelayan secara bersamaan.
“Saya ingin ikan laut bakar Bu. Ikan laut bakar dengan saus madu. Tolong buatkan ya Bu.. cepat.” Ucap Alexandria tampak menelan ludahnya sambil mengusap usap perutnya yang masih datar.
“Tapi persediaan ikan laut sedang kosong Nyonya. Sejak situasi dalam bahaya tidak ada nelayan sekitar pulau berani menangkap ikan.” Ucap ibu pelayan dengan nada sedih sebab tidak bisa menuruti keinginan Nyonyanya.
“Tuan Vadeo juga untuk sementara melarang hasil laut masuk ke gudang logistik takut ada memberi racun Nyonya.” Ucap Ibu pelayan itu lagi. Tampak wajah Alexandria langsung sedih bahkan air mata pun mulai meleleh.
“Tapi saya sangat ingin Bu.” Ucap Alexandria dengan wajah memelas.
“Kak, diganti ikan air tawar saja ya..” ucap Ixora. Dan Alexandria hanya menggeleng gelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ix, aku tahu kondisi sedang bahaya tetapi kenapa aku sangat ingin ikan laut. Bahkan sekarang aku ingin ke pantai.” Ucap Alexandria lalu melangkah pergi meninggalkan dapur. Ixora terus mengikuti langkah kaki Kakaknya.
“Hmmm ngidam yang pertama makanan yang diinginkan ada di atas bukit, yang sekarang ada di lautan. Hmmmm Anak anak Tuan Vadeo....” ucap ibu pelayan sambil geleng geleng kepala.